Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 38


__ADS_3

Memasuki restoran, suhu tubuh Sherin semakin bertambah hangat, Ravin memesan privat room. Berada di lantai dua restoran ini. Sherin terus mengikuti Ravin tanpa protes, di sekeliling mereka banyak pelanggan yang juga datang berpasangan.


“Kenapa tidak di bawah saja?” tanya Sherin.


“Malam ini terasa berbeda, aku ingin makan dengan suasana yang berbeda juga,” jawab Ravin.


Ruangan yang di pesan Ravin ternyata mengarahkan ke balkon, meja berada di dalam tapi bisa melihat ke luar yang mempunyai pemandangan sinar rembulan. Taburan bintang di langit menambah kesan indahnya malam ini.


“Dinner?”


“Bisa di bilang begitu,” Ravin menarik kursi agar Sherin duduk, setelahnya baru dia yang duduk berhadapan dengan Sherin.


Gadis itu mengeratkan pelukan pada diri sendiri, debaran jantung yang berpacu dengan cepat datang lagi. Sekilas Sherin terpana pada ketampanan Ravin yang sedang menatapnya. Lalu, dia memalingkan wajah.


“Ternyata makan malam di bawah sinar bulan cukup menyenangkan, tenang rasanya apalagi hanya ada kita berdua, tidak berisik seperti di bawah,” kata Sherin.


Ia meminum jus yang tadi di pesan, sementara Ravin makan. “Kamu belum pernah merasakan hal ini?”


Sherin termenung sebentar, lalu menggeleng, ia menunduk dan berkata, “hidupku tidak pernah bisa sesantai ini, setiap harinya hanya bekerja dan bekerja, makan tidak bisa tenang apalagi nikmat. Terasa penuh tekanan jika terus di pikirkan.”


Ravin menautkan dua alisnya, ia bingung dengan perkataan Sherin yang terdengar seperti hidup Sherin selama ini hanya berputar di tempat, tidak ada yang menarik dan terasa flat. Setiap hari hanya melakukan kegiatan yang sama.


*****


Usai makan malam, Sherin dan Ravin segera keluar dari restoran. Hawa dingin kembali hadir tapi Sherin tak lagi kedinginan. Hoodie milik Ravin membuatnya hangat dan nyaman.


“Setelah ini kemana?” Ravin dan Sherin sudah berada di dalam mobil, hendak melaju tapi bingung tujuannya kemana.


“Aku dengar di depan sana ada penjual sosis bakar, aku ingin ke sana,” pinta Sherin.


“Sosis bakar? Kamu suka?” jujur Ravin belum pernah makan.


“Tidak tahu, aku belum pernah makan dan ingin mencoba,” Sherin terlihat antusias, ternyata mereka berdua sama-sama tidak pernah memakan yang namanya sosis bakar.


Ravin memenuhi keinginan Sherin, membawa mobil menuju tempat jualan sosis bakar. Ternyata ramai pengunjung, dan tidak hanya ada sosis bakar di sini, berbagai makanan di jual dan aromanya menggoda indra penciuman.


Tak jauh dari tempat jualan ada taman yang terlihat sedikit sepi. Ravin berencana makan sosis di sana nanti.


“Pesan yang banyak,” peringat Sherin.


Ravin menyipitkan matanya. “Kamu mau gendut lagi?”


“Sekali-kali,” Sherin nyengir sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


Atas permintaan Sherin, Ravin membeli lebih dari lima tusuk sosis bakar di tambah makanan yang lain, tak lupa dua botol kemasan air mineral untuk minum jika haus nanti.


Sherin sudah duduk di kursi taman, menunggu Ravin yang kini berjalan ke arahnya. Begitu sampai, Ravin langsung memberikan pesanan Sherin, dengan hati yang senang Sherin menerima.


“Emh ... enak, aku suka,” dua tusuk sosis tandas, Sherin buang tusuknya ke tempat sampah yang ada di sebelah kursi.


“Makanan ini kurang sehat,” celetuk Ravin.


“Kurang sehat tapi kamu habis banyak,” ucap Sherin sinis, mereka berdua sama-sama menyukai makanan yang baru pertama kali di makan.


“Kata penjualnya tadi ini namanya otak-otak,” Ravin menunjukkan satu tusuk otak-otak berwarna putih.


“Otak?” Sherin melotot.


Ravin mengangguk, Sherin bergidik. “Otak apa yang mereka pakai untuk membuat ini?” Sherin jadi takut untuk memakannya, pikirannya melayang jauh mengenai komposisi yang di pakai untuk membuat makanan berwarna putih ini.


“Aku tidak tahu,” Ravin angkat bahu.


“Kenapa tidak tanya?” protes Sherin.


“Aku lupa, tapi kata penjualnya rasanya enak, aku penasaran.”


Sherin menelan ludah, ia ikut penasaran dengan rasa otak-otak yang membuat pikirannya melayang. Dengan ragu Sherin menggigit kecil, ia memejamkan mata, mulutnya mulai mengunyah, merasakan otak-otak yang ternyata rasanya enak.


“Es krim,” Sherin menunjuk ke arah penjual es krim. Meski perut kenyang tapi mulut masih mau mengunyah.


“Tapi ini sudah malam, apa tidak dingin?”


“Aku sudah merasa hangat memakai hoodie milikmu, jadi tidak akan kedinginan hanya dengan memakan satu cone es krim.”Sherin manyun, ia ingin es krim dan juga ingin Ravin yang mentraktir.


Dengan berat hati Ravin membeli dua cone es krim, satu rasa coklat dan satu vanila. Sherin berterima kasih sampai mencium pipi Ravin yang sebelah kanan. Hal itu menimbulkan efek yang tidak baik bagi jantung Ravin.


Sherin menghabiskan tanpa ada yang tersisa, bibir Sherin sedikit belepotan dan refleks Ravin mengangkat tangannya, menghapus noda putih dari bibir merah sang tunangan. Kini Sherin lah yang mendapat debaran kencang di jantungnya.


“Ini tidak baik,” lirih Sherin.


“Eh, apa?” Ravin mendengar samar.


“Hah? Tidak apa-apa,” Sherin memalingkan wajah, rona merah muncul membuat bagian wajah terasa hangat.


Embusan angin menerpa, melewati dua pasangan yang sedang merasa canggung. Di bawah lampu temaram, Sherin mengangkat kepala, melihat bintang dan bulan yang bersinar terang.


“Katanya, bintang yang warnanya merah itu adalah planet Mars,” celetuk Sherin.

__ADS_1


“Iyakah?” Ravin ikut mengangkat kepala.


Mereka menghabiskan waktu berdua tanpa sadar sudah larut malam. Pukul sepuluh Ravin baru mengantarkan Sherin pulang. Sampai rumah Sherin senyum-senyum sendiri, hari ini terasa menyenangkan untuknya.


Bahkan Sherin sampai lupa untuk mengembalikan hoodie milik Ravin, tidur pun Sherin masih memakainya, seolah sudah terlalu nyaman hingga tidak ingin di lepas. Malam yang indah sampai terbawa ke alam mimpi, sepanjang malam Sherin tidur dengan senyuman yang menghiasi wajah.


...⚫⚫⚫...


Pagi ini Iriana bangun dengan mata yang terlihat sayu, lingkaran hitam menghiasi kantung matanya. Sampai membuat Laras mengira ada hantu yang mirip putrinya.


“Mamah pikir aku sudah mati?”


“Lagian kenapa kamu kelihatan begitu jelek?” Laras sedikit khawatir.


Mereka sedang di meja makan, hendak sarapan. Menunggu kepala keluarga yang masih berada di kamar. Iriana keluar dengan keadaan yang berantakan.


“Ini karena Sherin!” Iriana berdecak kesal.


“Kenapa? Sherin membuat ulah lagi?”


Iriana menggeleng. “Dia memang tidak membuat ulah, tapi aku selalu kepikiran Sherin yang sebentar lagi akan debut,” dia menghela napas.


“Bukankah kamu juga akan merilis lagu baru? Kenapa selalu memikirkan Sherin yang belum tentu berhasil?”


“Tapi lagunya belum jadi, Rainer janji akan secepatnya,” keluh Iriana.


“Secepatnya itu kapan? Lebih baik kamu tanya sekali lagi, temui dia dan desak dia agar cepat menyelesaikan lagu untukmu, kamu butuh itu sekarang,” saran Laras.


Iriana berpikir sejenak, merasa ucapan ibunya ada benarnya. Begitu sarapan selesai, Iriana bersiap untuk pergi. Sudah beberapa hari ini dia tidak ada pekerjaan, pihak agensi belum memberi kepastian.


Sesampainya di DY entertainment, Iriana langsung menemui Rainer di ruangan pria itu. Beruntung Rainer datang lebih pagi, Iriana bisa lebih leluasa mengobrol karena belum terlalu ramai karyawan yang datang.


“Ada apa, Sayang?” Rainer merentangkan tangan, bersiap menyambut Iriana ke dalam pelukan.


“Kamu kapan menepati janji?” Iriana memeluk Rainer erat, wajahnya masam membuat Rainer tidak enak melihatnya.


“Aku sedang berusaha. Lagian tidak mudah untuk membuat sebuah lagu. Baru beberapa hari kamu meminta dan aku terus berpikir keras sampai kadang aku tidur larut malam.”


Iriana jadi merasa tidak enak, ia mendongak, menatap wajah sang kekasih yang terlihat lelah. “Jangan begadang! Tidak baik untuk kesehatan kamu.”


Rainer mengusap pucuk kepala Iriana dan mengecupnya singkat. “Kamu tenang saja, aku tidak akan sakit hanya karena membuat lagu untuk kekasih tersayang ku.”


Iriana merasa senang mendengar itu. Tujuan utama datang ke sini adalah untuk mendesak Rainer tapi tak jadi karena melihat Rainer sepertinya kelelahan. Hati Iriana terlalu lemah jika melihat pria yang dia cintai tertekan apalagi sampai membuat pria itu sakit.

__ADS_1


__ADS_2