Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 43


__ADS_3

Rencana tinggal rencana tapi wanita yang menentukan. Dengan wajah ditekuk Ravin mengikuti langkah Sherin yang begitu aktif ke sana kemari. Rencana awal ingin bersantai selama satu hari jadi gatot alias gagal total.


Itu karena Sherin memelas minta di belikan baju, katanya dia tidak punya baju bagus. Ravin mendesah kasar, belum menikah saja Sherin sudah berani minta ini itu, apalagi kalau sudah nikah nanti?


“Pelan-pelan,” peringat Ravin.


Mereka sedang di mall, Sherin memilih gaun untuk ke pesta nanti malam. “Kamu jalannya lambat!” dengus Sherin.


Gadis itu berbalik dan menarik tangan Ravin, membawa ke manapun dia melangkah. Ravin sudah pasrah, tak ingin berdebat karena di sini tempat umum. Ia hanya bisa menghela napas.


“Sudah setengah jam tapi kamu belum memilih satu pun?” keluh Ravin, dia sudah lelah.


“Kamu tahu? Malam ini cukup spesial, aku juga ingin pakai baju yang spesial,” Sherin di landa kebingungan, banyak baju yang menarik perhatiannya tapi kurang cocok.


Ravin yang kesal pun segera berdiri dari duduknya, ia berjalan menuju deretan gaun yang terpajang di dalam lemari kaca transparan. Dari situ sudah bisa di tebak bahwa harganya tidak murah.


“Yang ini,” Ravin menunjuk gaun berwarna biru dongker, Sherin yang melihat itu pun protes.


“Itu memang bagus, tapi terlalu ribet karena panjang sampai bawah.”


“Malam hari hawanya dingin, ini juga lengannya pendek, kamu bisa masuk angin kalau pakai gaun yang kurang bahan,” alasan Ravin, padahal sebenarnya dia tidak ingin Sherin pergi dengan gaun terbuka karena di hotel tempat pesta banyak pria dan tentunya Sherin akan menarik perhatian mereka.


Sherin terperangah. “Mana ada kurang bahan? Kamu ini tidak tahu itu namanya model.”


Ravin tetap tidak mau menukar pilihannya, alasan lain yang membuat Sherin pasrah adalah karena dia yang bayar. Jadi, Ravin yang menentukan.


Setelah membeli satu buah gaun, perut Sherin mendadak bunyi. Asli Sherin malu, karena suara perutnya cukup keras.


“Hahaha ... rupanya sekarang sudah jam makan siang, perutmu jadi alarm pengingat agar kita harus segera makan,” Ravin tak kuasa menahan tawa.


Saat itu juga Sherin tak ingin bicara, bingung ingin menaruh wajahnya di mana. Hari ini terasa penuh drama. Membuatnya merasa kehilangan muka karena malu.


Ravin membawa Sherin ke sebuah restoran di mall, meja hampir penuh karena ramai pengunjung. Pilihan Ravin jatuh di pojok, dekat jendela yang mengarah ke jalanan di luar.


“Kenapa duduk di pojokkan itu lebih nyaman di bandingkan di tengah-tengah?” tanya Sherin.


Ravin mengangkat bahu, ia sendiri tidak tahu. Sementara Sherin mendengus sebal, tak lama kedua netranya menangkap sosok makhluk yang jumlahnya dua orang dan sedang suap-suapan.

__ADS_1


Ide jahil muncul, ia ambil ponsel di tas lalu memotret pasangan itu. Mau tahu siapa? Mereka Rainer dan Grisel, pasangan yang selingkuh dari Iriana. Dalam hatinya dia menjerit senang.


“Kamu kenapa?” Ravin heran.


“Sedang memotret pasangan selingkuh yang sedang selingkuhi.”


...⚫⚫⚫...


Beralih ke tempat lain, di sekolah ada Kael yang sedang duduk di kantin. Bel istirahat baru saja berbunyi. Seperti biasa, Kael yang tak punya teman itupun memilih mengobrol dengan ibu penjaga kantin.


“Kan sudah ibu bilang, kamu cari pacar atau teman biar nggak selalu sendirian,” saran ibu penjaga tapi selalu mendapat penolakan dari Kael.


“Tau nggak, Bu? Punya pacar itu ribet. Nggak sebebas waktu jomlo, kalau punya banyak teman apalagi, pasti waktu ke kantin alasannya nggak bawa duit atau dompet ketinggalan di kelas, jadilah si 'ini' tukang traktir teman. Habis itu mereka ketagihan, lama-lama yang suka traktir bisa bangkrut.”


“Kayak kamu sudah pernah ngalamin,” ibu itu menggelengkan kepalanya. Kael itu unik, bisa menghibur orang walaupun diri sendiri sedang butuh dihibur, kadang lewat mulut pedas Kael mampu menghadirkan tawa untuk orang lain walau terasa menyebalkan.


“Ya nggak pernah, sih. Tapi yang aku dengar begitu,” Kael menyedot jus jeruknya, ada rasa asam dan manis bercampur di lidah, segar.


Ibu penjaga kantin tertawa, ia sudah biasa mengobrol dengan Kael bahkan mereka berdua tidak peduli dengan tatapan siswa-siswi yang menatap mereka heran sekaligus bingung. Topik apa yang di bicarakan sampai ibu penjaga kantin tertawa?


“Ngobrolin apa sampai ketawa begitu?” tepukan di pundak Kael mendarat, membuat remaja itu tersentak. Ia yang sedang menyedot jus jeruk tersedak hingga akhirnya terbatuk-batuk.


“Oh, sorry ..., ” Cahaya mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Tanpa kata lagi dia duduk di sebelah Kael, lalu memesan minuman yang sama seperti punya Kael. Hal itu justru membuat Kael kesal.


“Ngapain lo ke sini?” tanyanya ketus.


“Nyari temen ngobrol, sekaligus mau ngucapin terima kasih sama lo karena udah nolongin gue kemarin.”


Kael tak merespon, ia terus meminum jus jeruknya yang tinggal sisa sedikit.


“Eh, ini Kael punya teman? Atau pacar?” goda ibu penjaga.


“Bukan siapa-siapa,” cetus Kael.


Tiba-tiba Cahaya menyela. “Calon teman, Bu.”

__ADS_1


Kael mendelik kesal. “Idih, siapa yang mau temenan sama lo?”


“Banyak kok yang mau temenan sama gue, cuma gue-nya aja yang lagi males jalan bareng mereka,” jelas Cahaya, ia mengambil jus jeruk yang di sodorkan ibu penjaga kantin dan langsung meminumnya.


“Iya, masih calon teman nanti setelah jadi teman naik pangkat jadi calon pacar, naik pangkat lagi jadi pacar sampai menikah, ya,” ibu penjaga kantin bisa saja bercandanya, Cahaya jadi malu-malu kambing lain dengan Kael yang mendengus kasar.


“Ih, Ibu bisa aja! Berdo'a saja, Bu, kalau jodoh nggak akan kemana,” ucap Cahaya yakin.


“Emang siapa yang mau jadi jodoh lo?” tunjuk Kael, ia semakin kesal karena waktu istirahatnya di ganggu oleh kedatangan Cahaya.


“Gue yang mau jadi jodohnya Cahaya,” celetuk seseorang yang sudah ada di belakang Kael dan Cahaya.


Kontan keduanya menoleh, Kael memutar bola matanya malas, sementara Cahaya jadi kesal. Wajahnya menampakkan raut tidak suka laki-laki itu ada di sini.


“Ngomong apa sih, Kak Dzaka!”


“Ngomong fakta! Ca, maafin aku ya, kamu masih salah paham, aku nggak seperti yang kamu lihat waktu itu,” Dzaka mendekati Cahaya, mencoba meraih pergelangan tangan Cahaya tapi langsung di tepis oleh Cahaya.


“Salah paham gimana, sih!” Cahaya pusing sendiri, masalahnya tak juga kelar sampai saat ini.


“Gue sama Dio nggak sengaja ngelakuin itu. Waktu itu gue sama Dio lagi bahas masalah di belakang ruang OSIS, tapi tiba-tiba ada anak lari terus nyenggol gue. Dan selanjutnya kan lo tahu sendiri,” Dzaka mendesah pasrah.


Cahaya belum bisa percaya sepenuhnya, Dzaka terus mencoba membuat Cahaya mengerti. Mereka tidak sadar ada Kael yang sejak tadi diam seakan sedang menonton sebuah pertunjukan.


“El, mereka itu kenapa dari tadi nggak selesai-selesai berantemnya?” tanya ibu penjaga kantin.


“Biasa, Bu. Namanya anak muda zaman sekarang.” Kael menyedot jus jeruknya hingga tandas, hanya tersisa beberapa buah es batu kecil.


“Lha, kamu juga anak muda zaman sekarang kok, tapi kenapa Ibu nggak pernah lihat kamu berantem kayak mereka.”


Kael mendengkus, katanya, “Aku orangnya nggak suka cari masalah, apalagi masalahnya soal perasaan, tambah ruwet kayak benang kusut.”


“Eh, tapi kalau hidup kita terlalu lurus juga bosenin lho, El.”


“Ibu nyindir saya?” Kael mendelik kesal, ia tunjuk dirinya sendiri. Sementara ibu penjaga kantin hanya terkekeh.


“Ibu nggak nyindir siapa-siapa, tapi kalau kamu ngerasa ya sudah, pikirkan baik-baik. Kamu masih muda, carilah kesenangan dulu sebelum benar-benar sudah dewasa. Ibu kadang kasihan lihat kamu sendiri terus kayak begini,” beliau meringis.

__ADS_1


“Tapi, jangan mentang-mentang di kasih kebebasan mencari kesenangan kamu malah ngelunjak. Pokoknya jalani sebisa kamu lah, Ibu jadi pusing mikirnya,” lanjutnya.


“Siapa suruh Ibu mikir?” kata menyebalkan itu keluar juga dari mulut Kael. Kemudian dia berdiri, membayar sebelum pergi lalu meninggalkan kantin untuk menyendiri. Tak mempedulikan dua orang yang masih adu mulut di kantin.


__ADS_2