
Siang tadi, Grisel dan Rainer telah melangsungkan pernikahan. Sangat mendadak hingga pernikahan hanya dihadiri beberapa saksi. Begitu saja sudah membuat Grisel senang, meskipun pernikahan mereka tidak sah secara hukum. Tapi, tetap saja sekarang Rainer adalah suaminya.
Sayang, rasa senang itu hanya bertahan sesaat. Setelah menikah, Grisel di tinggalkan oleh Rainer yang entah pergi ke mana. Wanita itu setia menunggu di apartemen Rainer hingga matahari terbenam.
“Rainer ke mana? Harusnya dia di sini temenin aku,” gumam Grisel, mengusap cairan bening di sudut matanya.
“Apa kerja?” Grisel terus bergumam.
Padahal Grisel sudah sangat menantikan momen ini, di mana mereka sudah menjadi suami istri dan Rainer akan terus bersamanya. Tapi justru dia malah ditinggalkan sendiri bahkan Rainer tidak bilang ingin pergi ke mana.
Sore menjelang malam itu, Grisel memutuskan untuk memasak makan malam. Siapa tahu Rainer akan kembali sebentar lagi, kalau benar Rainer kerja maka sudah jelas pria itu akan kelelahan dan lapar. Jadi Grisel tidak perlu mendadak masak jika tiba-tiba Rainer minta makan.
Aroma masakan menyebar ke seluruh ruangan, Grisel menatap hidangan di atas meja dengan senyum mereka. Hingga lamunannya buyar saat mendengar suara pintu terbuka, dalam benak Grisel itu pasti Rainer.
Grisel berjalan keluar dengan cepat, dia sudah tidak sabar. Tapi langkahnya langsung terhenti saat melihat Rainer datang bersama seseorang. Senyum yang tadi merekah lenyap seketika, diganti dengan tatapan gelap dan tangan yang mencengkram kimono dengan erat.
“Sayang ... apa kau yakin istrimu tidak akan melihat?”
“Melihat pun tidak masalah, dia tidak akan berani berbuat ulah.”
Rainer memeluk pinggang seorang wanita dengan pakaian minim, berjalan menuju sofa sambil berciuman. Grisel yang melihat dari balik tembok itu sudah menangis, tubuhnya gemetar melihat suaminya sendiri sedang berciuman dengan wanita lain.
Jijik melihat pemandangan itu, Grisel maju dan menarik rambut panjang wanita yang sedang berciuman dengan suaminya itu.
“Arghh ...!!” pekik wanita itu, terpaksa melepaskan ciuman yang sudah membuat tubuhnya panas.
“GRISEL!” Rainer mencengangkan pergelangan tangan Grisel yang sedang menarik rambut wanita itu.
“Kamu jahat banget!!” Grisel berteriak.
“Lepaskan!!” wanita itu terus mengaduh sakit, tapi semakin Grisel tarik rambutnya.
“Grisel, apa-apaan, kamu? Lepas?!”
Terjadi tarik-menarik di antara Grisel dan Rainer, wanita itu semakin menangis saat merasakan rambutnya yang di tarik. Rasanya hampir lepas dari kulit kepala.
__ADS_1
Perjuangan Rainer untuk melepaskan tangan Grisel membuahkan hasil. Grisel melepas cengkeramannya dengan terpaksa. “Pergi kamu, wanita jala**,” usir Grisel. Napasnya memburu.
“Katamu dia tidak akan berani berbuat ulah?” tanya wanita itu pada Rainer, dia menunjuk Grisel.
“Heii!! Kamu ini siapa? Aku tidak akan diam saja melihat kamu menggoda suamiku. Dasar murahann,” Grisel ingin kembali menarik rambut wanita itu tapi wanita itu langsung menghindar.
“Rainer juga pacarku!”
Grisel mendelik, lalu menatap tajam Rainer. “Maksud kamu apa?!”
Semakin ribut dan kedua wanita itu saling tarik-menarik rambut satu sama lain. Rainer yang melihat itu kebingungan, ingin melerai tapi takut dia yang akan kena.
“Grisel! Cukup!!” akhirnya Rainer menarik tangan Grisel, menjauh dari wanita itu.
“Kamu pulang saja sana! Besok kita bertemu lagi,” Rainer menyuruh wanita itu pergi. Sementara Grisel melotot.
“Ingat, besok kita ketemu di hotel bintang lima,” wanita itu berkedip pada Rainer dan menatap sinis pada Grisel.
“Awas kamu, ya!!” Grisel hendak maju tapi Rainer menghalangi. Grisel menoleh dan menatap tajam Rainer.
Rainer menatap Grisel nyalang, ia cengkeram dagu Grisel hingga wanita itu meringis kesakitan. “Apartemen kita? Ini apartemen milikku, kamu hanya menumpang di sini!!”
Rainer hempaskan cengkeramannya, Grisel terkejut melihat perubahan Rainer. “Kamu kenapa?Aku kan istrimu.”
“Aku terpaksa menikahimu, tapi kalau kamu memang menganggap dirimu sebagai istri maka lakukanlah kewajiban kamu sebagai istri,” Rainer menyeringai lalu tanpa aba-aba menggendong Grisel dan menjatuhkan Grisel di atas ranjang.
“Pelan-pelan! Aku ini lagi hamil!” teriak Grisel.
“Lalu kenapa? Hanya hamil kan? Lagian ranjang ini empuk, tidak akan membuat kamu keguguran hanya karena di jatuhkan sedikit.”
Rainer segera melepaskan bajunya, sementara Grisel malah mencengkram kimono yang dipakainya, kini dia takut melihat Rainer yang seperti singa kelaparan.
“Kamu mau apa?”
“Melakukan hubungan suami istri,” Rainer menyeringai.
__ADS_1
Dia langsung menyerang Grisel dengan ciuman kasar, Grisel pikir lama-lama Rainer akan bersikap lembut. Tapi dia salah, justru Rainer bermain kasar. Sesekali mengikat kedua tangannya dengan ikat pinggang lalu mencekik lehernya.
Hanya Rainer yang menikmati permainan ini, lain dengan Grisel yang merasa tersiksa. Hanya air mata yang bisa keluar, menangis tanpa suara. Rainer tak peduli padanya, ingin memberontak tapi kalah tenaga.
“Rainer! Pelan-pelan ... ” Grisel memohon, tapi mulutnya malah di bungkam menggunakan telapak tangan Rainer. Ini sudah yang kesekian kali, lebih dari dua jam Rainer menyiksanya dengan bermain kasar. Grisel hampir tidak sanggup.
***
Arvin mengambil sampel darahnya, dibantu oleh suster dengan menggunakan suntikan. Pria itu mengikuti perintah dari sang ayah, melakukan tes DNA. Darah Sherin sudah di ambil, darahnya pun baru saja di ambil.
“Hasilnya akan keluar dua minggu lagi,” kata dokter.
“Apa bisa lebih cepat?”
Dokter pria itu membetulkan kacamata yang melorot. “Sulit, tapi akan kami usahakan. Tidak sampai dua minggu hasilnya akan keluar.”
Arvin mengangguk, setelah itu dia lekas pergi menuju tempat Iriana sedang di rawat. Peluru sudah di keluarkan, tapi tiba-tiba dokter mengatakan Iriana kehabisan banyak darah.
“Dia cukup terlambat di bawa ke rumah sakit, belum lagi ada dua peluru yang membuat darah terus mengalir dan hal itu juga yang membuat kondisinya sekarang kritis”
“Golongan darahnya cukup langka, stok di rumah sakit tidak mencukupi," ujar dokter.
Laras yang mendengar itu menangis kencang, di peluk dengan erat oleh Arvin. Menenangkan sang istri yang kini merasa terpukul akan musibah yang menimpa putri mereka berdua.
“Apa ada cara lain agar putriku bisa mendapatkan donor lebih cepat?”
“Bisa, kalau ingin lebih cepat kita bisa mendapatkan donor darah dari keluarga kandung, kalau tidak ada yang cocok terpaksa kita harus mencari pendonor lain, tapi mungkin butuh waktu yang sedikit lebih lama.”
“Pakai darah saya saja, saya ayahnya,” Arvin mengajukan diri.
“Saya juga ibunya, kalau cocok cepat berikan pada putriku,” Laras menyodorkan tangannya, dia ingin putrinya selamat.
“Baik, mari ikut saya.”
Arvin dan Laras melakukan pemeriksaan, hasilnya sesuai dengan keinginan Arvin. Golongan darahnya sama dengan Iriana, dan itu sudah pasti karena Iriana adalah putri kandungnya.
__ADS_1
Sedangkan Laras menunggu dengan cemas saat melihat suaminya ikut masuk ke dalam ruangan untuk melakukan transfusi darah.