
“Sayang .... ” panggil seorang wanita dengan nada manjanya.
“Ada apa?” tanya pria itu. Ia menatap wanita yang kini sedang berada dalam pelukannya.
Wanita itu memainkan dada bidang yang tidak terbungkus oleh pakaian, dengan jarinya, ia membuat bulatan-bulatan seolah sedang menggambar.
Dia cemberut, mengerucutkan bibirnya hingga pria itu merasa gemas. Lekas ia menciumnya dengan sedikit me****t.
“Ada apa hmm ...??”
“Aku mau jalan-jalan, aku bosan selalu nemenin kamu di kamar. Boleh, yaa ... kamu jarang lho ajak aku pergi berdua. Kamu terlalu sibuk sama Iriana, sampai aku di lupain,” ucap wanita itu, ia bicara dengan nada sedih seolah ia merasa tersakiti sekaligus cemburu.
“Mana ada begitu? Aku tidak pernah pilih kasih, aku sayang kalian berdua. Aku hanya tidak ingin ada yang tahu hubungan kita,” pria yang bernama Rainer itu mencoba memberi pengertian.
“Bohong! Cuma alasanmu 'kan? Pokoknya hari ini aku mau jalan-jalan bareng kamu, habis itu kita makan siang di restoran mewah,” pintanya sedikit memaksa, Rainer menghela napas lalu mengangguk.
“Untuk sayangku apa yang enggak? Tapi, aku punya satu syarat,” Rainer menatap Grisel, pacar keduanya dengan lekat.
“Apa?” tanya Grisel tidak sabar.
“Beri aku satu ronde lagi, lalu aku akan penuhi semua keinginan kamu hari ini.”
Dengan cepat Grisel mengangguk. “Berapa pun yang kamu asal kamu ajak aku jalan-jalan,” Grisel berbinar senang, tanpa menunggu Rainer yang memulai duluan, ia langsung mengalungkan lengannya di leher Rainer.
Posisi awal mereka bersandar pada headboard kini berubah jadi Rainer menindih Grisel. Pria itu menatap selingkuhannya dengan tatapan lapar penuh nafsu, padahal mereka baru selesai melakukannya lima belas menit yang lalu.
Rainer mulai mencium bibir merah milik Grisel, tangannya tidak tinggal diam, dari telinga turun ke leher sampai tepat di atas dada. Rainer meremas dua bukit yang menegang, membuat Grisel tak bisa menahan untuk tidak mengeluarkan suara.
Rainer melepas ciuman itu, ia menatap Grisel dengan lekat lalu berkata, “Beri aku service terbaikmu.”
****
“Se-berengsek itu 'kah dia?”
Sherin, dari lantai dua butik mengamati dua pasangan yang sedang kasmaran di lantai bawah. Matanya kini memanas, terlihat merah menahan marah. Perasaannya saat ini campur aduk, antara menyesal, terluka dan benci.
“Berapa banyak yang tidak aku ketahui tentangnya selama ini?” tanyanya pada diri sendiri.
Genggaman erat pada pagar besi ia eratkan, sampai kuku-kukunya memutih. Tatapannya terus mengamati Rainer dan Grisel yang sedang berkeliling mencari pakaian.
__ADS_1
Sementara Ravin, pria itu baru sadar kalau Sherin sudah terlalu lama memilih gaun. Ia mematikan ponselnya dan menaruh di saku jas. Tatapannya berkeliling mencari sosok tunangannya.
Ravin melihat Sherin sedang diam berdiri berdiri dengan pandangan mengarah ke bawah. Karena penasaran, Ravin pun menghampiri Sherin. Ia melihat Sherin seperti sedang menahan sesuatu, lalu ia ikuti arah pandangan Sherin.
Seketika kedua bola matanya terpaku pada satu objek, yaitu Rainer dan seorang wanita yang tidak ia kenali wajahnya.
“Bukankah dia pacar adikmu?” tanya Ravin tiba-tiba, Sherin terperanjat sampai melompat saking kagetnya.
“Kamu mau tanggung jawab apa kalau aku sampai jantungan?” Sherin balik bertanya, ia mengusap dadanya yang berdebar tak karuan.
“Tentu aku tanggung jawab, karena kamu sudah menjadi tanggung jawab ku 'kan?” Ravin menoleh dan menatap Sherin lekat.
Kemudian pandangan mereka bertemu, keduanya diam dengan pikiran masing-masing. Suara bising di sekitar seolah tak terdengar ketika tatapan mereka terkunci.
Sherin dan Ravin sama-sama tersadar saat mereka mendengar bunyi benda jatuh dengan suara lumayan keras. Sherin membuang pandangan, ia melihat seorang pegawai yang sedang membenarkan vas bunga yang tak sengaja tersenggol.
“Kamu belum menjawab pertanyaan ku,” Ravin memegang kepala Sherin dan membuat Sherin menatapnya.
“Pertanyaan yang mana?” tanya Sherin.
“Bukankah dia pacar adikmu?” tunjuk Ravin ke arah bawah, Rainer dan pacarnya masih ada di sana.
“Iya, dia pacar Iriana. Tapi, kenapa bisa bersama-sama dengan wanita lain?” Sherin kembali pada fokusnya yaitu mengamati apa yang Rainer lakukan bersama seorang wanita.
“Sudahlah, dari pada mengamati orang lain, lebih baik kamu cepat pilih gaun model apa yang mau di pakai untuk acara pernikahan nanti,” ucap Ravin sambil mendorong Sherin agar tak lagi menatap ke bawah.
“Kamu benar-benar mau nikah sama aku?” Sherin membalik badan, membuat ia berhadapan dengan Ravin.
“Kalau bisa aku mau batalkan saja, tapi aku tidak mau jadi cucu durhaka,” kata Ravin sambil bersedekap.
Sherin mendengus, ia pun berbalik lagi dan pergi meninggalkan Ravin sambil mengoceh. “Apa aku terlalu jelek di matanya? Padahal aku merasa aku sudah cukup cantik. Memangnya perempuan seperti apa yang menurutnya cantik? Iriana? Cih, cantik dari kolong jembatan kalik.”
*****
“Yang ini saja,” Sherin sudah memilih model pakaian yang menurutnya sangat bagus, dari segi model dan bahan apalagi harga.
“Baik, biar aku bilang sama tante Zanna dan dia akan mencoba membuat gaunnya dengan ukuran tubuhmu,” Ravin mengangguk-angguk kecil, ia merasa sedikit lega karena Sherin telah menetapkan pilihannya.
Hampir setengah jam di habiskan hanya untuk berpikir. Sherin benar-benar menguji kesabaran Ravin, kakinya sudah kesemutan karena berdiri cukup lama.
__ADS_1
“Setelah ini kamu ikut aku, ada seseorang yang mau bertemu,” ujar Ravin, Sherin mengangkat sebelah alis.
“Siapa?”
“Manusia.”
Sherin mendesis kesal, ia merasa gatal ingin menonjok pria tampan itu.
Pukul sebelas siang, Sherin dan Ravin sudah sampai di sebuah restoran. Setelah memilih model gaun yang cocok, butuh waktu setengah jam lagi untuk mengukur tubuh Sherin. Di tambah setengah jam lagi untuk Sherin belanja pakaian karena wanita itu memaksa. Lalu lima belas menitnya di habiskan di perjalanan.
Ravin sepertinya kapok, ia tak mau lagi menemani seorang wanita berbelanja apalagi untuk hal formal seperti ini.
“Sekaligus makan siang?” tanya Sherin, di tangannya ada tiga paper bag dengan isi yang berbeda.
“He'em.”
Ravin memesan private room, karena ia mengundang seseorang untuk di ajak berdiskusi. Letaknya di lantai dua restoran ini, dan ternyata ketika masuk sudah ada seorang pria yang nampaknya sedang menunggu mereka berdua.
“Zi, sudah lama?” tanya Ravin begitu sudah mendaratkan bokongnya di atas kursi.
“Cukup lama, sepuluh menit,” jawab pria yang Ravin panggil Zi, karena nama aslinya adalah Enzi, produser musik ternama sekaligus musisi. Seorang yang menciptakan sebuah lagu.
“Sepuluh menit tidak lama,” bantah Ravin, Enzi tidak peduli.
Kini tatapan Enzi beralih pada Sherin, ia mengamati Sherin dengan kening berkerut.
“Dia siapa?”
“Calon Diva di masa mendatang,” ucap Ravin membuat kerutan di dahi Enzi semakin dalam.
“Maksudnya?”
“Ah, aku belum memperkenalkan ya? Dia Sherin, aku berencana mengangkatnya menjadi seorang penyanyi di Star entertainment,” jelas Ravin.
Enzi nampak terkejut. “Kenapa aku tidak tahu? Kamu ini mendadak sekali.”
“Karena aku belum mengumumkannya secara resmi,“ ucap Ravin enteng dan Enzi hanya bisa menggelengkan kepalanya karena sudah terbiasa dengan sifat sang bos.
“Jadi, untuk apa kamu memintaku kemari?”
__ADS_1
Ravin membenarkan posisi duduknya, kini ia menatap Enzi dengan serius. Sementara Sherin hanya diam menyimak.
“Aku mau kamu ciptakan sebuah lagu untuknya, dan dia akan merilis album pertama.”