Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 26


__ADS_3

Pagi harinya.


Pukul setengah enam, Sherin sudah terbangun dan bersiap untuk joging, dia mulai berlari kecil mengelilingi komplek meski belum hapal betul area di sini. Rata-rata perumahan di komplek ini isinya orang kaya, bahkan rumah-rumah pun hampir mirip.


Cuaca cerah meskipun matahari masih malu-malu untuk menampakkan wujudnya, hawa dingin menyeruak dan menusuk kulit putih milik Sherin yang memakai pakaian olahraga berlengan pendek. Celana jogger di bawah lutut, tapi Sherin tidak masalah.


Hampir satu jam lamanya, barulah Sherin kembali lagi ke rumah. Ia mengelap keringat di dahi menggunakan handuk kecil yang ia bawa sepanjang jalan. Ketika tiba di halaman, dahinya mengerut, menyatukan dua alis yang terpisah oleh jarak.


“Mobil siapa? Kok kayak kenal,” gumam Sherin lirih, ia mengamati mobil mewah berwarna abu-abu gelap.


Karena otaknya sedang lola alias loading lama, Sherin tidak merasa ingat mobil ini milik siapa tapi ia pernah melihat. Sherin mengangkat bahu tanda ia benar-benar lupa, kemudian Sherin kembali melangkah untuk masuk ke rumah.


Masih terlihat sepi, hanya ada beberapa pelayan yang sedang bersih-bersih. Ketika ingin menaiki tangga, seseorang memanggil namanya.


“Lho? Sherin, kamu dari mana?” tanya nenek Linda sembari mendekati Sherin.


Sherin menoleh lalu berkata, “Aku baru selesai joging, Nek. Habis ini pengin mandi terus sarapan,” jawab Sherin.


“Oalah, pantesan tadi Nenek cariin tapi kamu nggak ada. Ya sudah, buruan mandi. Ada yang nunggu kamu dari tadi,” ujar Nenek.


Sherin mengerutkan dahi, “Siapa, Nek?”


“Ada deh, buruan ih kamu mandi, nanti juga tahu sendiri.”


“Ih, Nenek mah udah tua juga masih main rahasia-rahasiaan,” Sherin berucap kesal, nenek Linda tertawa kecil melihat ekspresi Sherin.


Karena Sherin tidak tahu siapa yang menunggunya, maka Sherin dengan cepat mandi dan bersiap. Memakai pakaian yang rapi seperti hendak pergi, tapi Sherin sendiri bingung ingin pergi kemana.


Pukul tujuh kurang Sherin sudah keluar dari kamar, rambutnya sedikit basah dan terlihat hitam sedikit bergelombang. Rambut Sherin panjang, sampai menyentuh pinggangnya, walaupun dulu Sherin gendut, tapi rambutnya tetap terawat.


Sherin sampai di meja makan, dari arahnya ia melihat punggung seorang pria yang nampak tidak asing bagi Sherin sedang mengobrol dengan kakek dan nenek.


“Nah, itu Tuan Putri sudah siap. Dari tadi di tungguin lama banget,” celetuk nenek, Sherin hanya bisa tersenyum kikuk.


“Siapa, Nek yang mau ket— emu,” Sherin terdiam ketika pria itu berbalik ke arahnya.


Ravin memandang Sherin yang baru datang dengan tatapan dalam, Sherin jadi tidak bisa bergerak melihat tatapan itu. Tajam namun penuh makna. Untuk menetralkan raut wajah, Sherin berdehem beberapa kali.


“Ternyata Mas Ravin, kenapa Mas cari aku pagi-pagi begini?” Sherin melanjutkan langkahnya, ia duduk berhadapan dengan Ravin yang di batasi oleh meja, di sebelah kirinya ada nenek Linda.


“Tadi Ravin bilang kalau dia mau ajak kamu ke rumahnya, Dina yang nyuruh, katanya papa Ravin pengin ketemu kamu,” Nenek yang menjawab, Sherin mengangguk paham.


“Habis sarapan?” tanya Sherin pada Ravin.

__ADS_1


“Enggak! Sekarang,” jawab Ravin membuat Sherin membulatkan mata.


“Harus sekarang? Nanti saja, ya. Aku mau makan dulu, lapar nih,” bujuk Sherin, tapi Ravin tetap menggeleng.


“Sarapan di rumah mama, mereka sudah menunggu. Sekalian mau ajak kamu liat baju pengantin biar di pesan,” ucap Ravin, Sherin kembali membulatkan mata.


Kenapa mendadak begini?


“Sherin ikut Ravin saja, biar kalian semakin dekat. Kalian masih punya waktu pacaran selama kurang dari dua bulan. Dua bulan itu sebentar lho, kasian juga orang tua Ravin sudah nunggu dari tadi buat sarapan,” ujar kakek Haris setelah dia diam dan hanya menyimak.


Sherin mengangguk lesu, mereka berdua pamit untuk pergi ke rumah Ravin. Sesampainya di sana, Ravin langsung mengajak Sherin menuju meja makan. Dan, benar ternyata kalau orang tua Ravin belum menyentuh sarapan mereka.


“Ma, Pa,” panggil Ravin, keduanya duduk bersebelahan di berhadapan dengan kedua orang tua Ravin.


“Akhirnya kalian datang, Papa pikir Papa nggak bakalan bisa ketemu sama calon istrinya Ravin pagi ini, ternyata Ravin bisa bawa kamu,” Farid tertawa kecil, Sherin membalas dengan senyuman malu.


“Kalau tadi Papa tak menyuruh Ravin pergi ke rumah Haris, mungkin dia sudah lupa. Padahal masih muda tapi sudah pikun, kalau tidak dia memang tak mau mengajak kamu datang ketemu Papa.” Farid terus bercerita sampai lupa apa tujuan mengajak Sherin ke rumahnya.


Sedangkan Sherin hanya bisa manggut-manggut dan sesekali menjawab pertanyaan yang di lontarkan Farid. Karena merasa bosan, Dina pun mencubit lengan Farid, membuat papa Ravin meringis sekaligus terkejut.


“Kenapa sih, Ma?” Farid mengusap lengannya yang panas.


“Pa, kalau Papa mau terus ngomong, kapan kita sarapannya? Mama sudah lapar, Ravin juga sudah gelisah pengin cepat-cepat pergi, itu Sherin juga belum sarapan,” kata Dina kesal.


“Ya sudah, ayo kita sarapan. Kalau papa kalian masih pengin cerita, jangan di dengerin. Percuma, entah kapan bakal selesai,” Dina membalik piring dan mulai mengambil nasi.


“Yah 'kan Papa lupa, Ma. Kenapa harus di ingat lagi?”


“Mama bukannya pengin terus mengingat, tapi emang udah melekat di otak. Nggak bisa lupa.”


“Emang yah, tiap kesalahan Papa pasti di ingat, Papa cuma lupa taruh handuk di atas kasur aja masih di ingat Mama sampai sekarang, giliran kebaikan Papa aja nggak ada yang Mama ingat,” keluh Farid sambil mengembus napas berat.


“Emang kapan Papa berbuat kebaikan sama Mama?” Dina mengerutkan dahi.


“Tuh 'kan,” lirih Farid, mereka berdua tidak sadar kalau masih ada dua orang yang sejak tadi hanya menyimak.


“Nasib ngontrak di bumi,” gumam Sherin lirih tapi masih bisa di dengar oleh Ravin.


Ravin menahan senyum. “Kita juga bisa buat dunia serasa milik berdua.”


...⚫⚫⚫...


“Sudah buat janji?” tanya Sherin, ia mengamati sekeliling gedung tiga lantai namun luas.

__ADS_1


“Sudah, tadi malam mama yang buat janji,” jawab Ravin, mereka pun berjalan beriringan memasuki gedung itu.


Sherin berjalan sambil menatap binar pada sekelilingnya, mereka sedang ada di butik tempat langganan keluarga Ravin. Sherin baru pertama kali menginjakkan kakinya ke sini, meski dia seorang artis terkenal, jarang-jarang Sherin bisa pergi berbelanja dengan bebas.


Hampir setiap pakaiannya, Anika yang menyiapkan. Karena kesehariannya hanya bekerja dan terus bekerja.


“Tempat ini megah sekali,” puji Sherin.


“Tentu, butik ini sudah berdiri lebih dari sepuluh tahun. Pemiliknya pun sahabat mama.” Sherin manggut-manggut paham.


“Ravin, akhirnya kalian datang, Tante sudah nunggu dari tadi,” seorang wanita cantik yang seusia dengan Dina menghampiri mereka berdua.


“Halo, Tan,” sapa Ravin.


“Tadi malam Dina telepon, katanya kamu mau ke sini buat liat-liat baju pengantin, yah?”


Ravin mengangguk di selingi senyum, Sherin yang melihat itu pun merasa terpukau. Ravin termasuk orang yang dingin, tapi sekalinya senyum bikin hati meleleh, manisnya sampai kelewatan.


“Kenapa nggak bilang-bilang kalau mau nikah? Padahal Tante sudah punya rencana mau ngelamar kamu buat anak Tante, eh, malah keduluan.” Wanita yang bernama Zanna itu menunduk lesu, walaupun perkataannya sebenarnya hanya bercanda.


“Mana nih calonnya, cantik nggak?” Zanna kembali mengangkat wajah.


“Di sebelah aku, Tan,” ucap Ravin, Zanna pun langsung menoleh.


“Nama kamu siapa?” Zanna meneliti penampilan Sherin dari atas sampai bawah, hal itu membuat Sherin merasa sedikit risih, namun ia mencoba menahannya.


“Sherin, Tante—”


“Zanna,” ucapnya, Sherin pun mengangguk.


Setelah beberapa saat berbincang, Zanna membawa Sherin dan Ravin ke lantai dua. Di lantai ini Sherin kembali terpukau, apalagi melihat baju-baju yang modelnya sangat membuat Sherin tertarik, begitu pun harganya.


“Di sini kalian bebas mau pilih model yang seperti apa, nanti sama pegawai Tante di ukur badannya biar waktu fitting kita nggak buat ulang,” Zanna menunjukkan beberapa gaun yang terlihat cocok untuk Sherin.


“Tante lihat, badan Sherin ini bagus, seksi dan lumayan tinggi. Cocoklah buat jadi istri Ravin,” puji Zanna yang mana membuat Sherin sedikit malu.


“Ya sudah, Tante tinggal dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa tinggal panggil Tante,” Ravin dan Sherin mengangguk serempak. Zanna pun bergegas pergi karena ia mendapat panggilan telepon.


“Kamu tinggal pilih, biar aku duduk di sana. Tapi, jangan lama-lama karena kita masih harus pergi ke tempat lain,” ujar Ravin, tanpa kata lagi ia pun duduk di sofa yang tersedia.


Sementara Sherin dengan semangat memilih gaun pengantin, ada lebih dari lima gaun yang sangat menarik perhatiannya. Tapi, lebih dari itu Sherin lebih memperhatikan seorang pria dan wanita yang ada di lantai bawah.


Matanya memicing, apalagi ia melihat tangan wanita itu bergelayut manja di lengan pria yang sangat Sherin kenali.

__ADS_1


“Se-berengsek itukah dia?”


__ADS_2