Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 83


__ADS_3

Sherin sedang bersandar didada Ravin, sementara lengan Ravin memeluk Sherin. Satu tangan Ravin juga memeluk perut sang istri. Di tangan Sherin ada sebuah tablet, jarinya dengan lihai men-scroll tablet itu.


Sesekali dengan jahil Ravin mencium Sherin membuat wanita itu kesal. Ravin hanya terkekeh, meski begitu Sherin tak juga beranjak dari sana karena nyaman.


“Nanti kita pergi ke Zurich, di sana ada beberapa tempat wisata yang katanya wajib dikunjungi. Setelah menginap dua malam, kita pindah ke Moritz, tempat itu terkenal dengan pegunungan saljunya.” Sherin terus menjelaskan kemana saja mereka akan pergi.


“Jadi ... saat di Moritz kita tak perlu keluar dari kamar,” celetuk Ravin, membuat Sherin mengernyit bingung.


“Kenapa?” tanyanya sambil menoleh.


Ravin mendapat kesempatan, dia kecup bibir istrinya sementara Sherin mendelik kesal. “Bukannya di sana bersalju? Berarti dingin 'kan? Jadi, kita tidak perlu keluar kamar dan cukup pelukan dalam selimut,” ujar Ravin sambil tersenyum lalu mengaduh ketika Sherin mencubit perutnya.


“Di sana kita mau liburan! Bukan cuma di dalam kamar. Kalau mau berduaan di kamar sekarang kita sedang melakukan itu.” Sherin mendengus, kembali dia menatap tablet untuk mencari tempat yang mungkin cocok untuk dikunjungi saat bulan madu.


“Aku sudah menyerahkan semuanya pada Wildan, dia yang akan mengatur kemana saja kita akan pergi.”


Sherin terkejut. “Apa? Jadi sia-sia aku tadi melihat-lihat tempat wisata kalau sebenarnya Wildan sudah mengatur semuanya? Kenapa tidak bilang?!” protes Sherin.


“Ini aku sudah bilang,” Ravin tertawa. Kembali Sherin mencubit perut suaminya.


“KDRT!” gerutu Ravin.


“Kamu kebiasaan!”


Tak lama setelah itu ponsel di atas meja berdering, ponsel itu milik Sherin. Ada nama nenek Linda di sana, segera Sherin angkat.


“Ada apa, Nek?” tanya Sherin.


Tangan Ravin yang jahil itu mengusap punggung Sherin sehingga Sherin terpaksa menahan geli. Dia melotot tajam pada Ravin, ingin suaminya segera menghentikan tapi rupanya Ravin semakin menjadi.


“Kamu sama Ravin cepat datang ke rumah sakit, kakek sedang di rawat.”


“A— apa?! Bagaimana bisa, Nek?” Sherin yang terkejut reflek memukul tangan nakal Ravin. Ini sedang serius, bukan waktunya Ravin bercanda.


“Nanti Nenek jelaskan, sekarang kamu cepat datang ke rumah sakit!” perintah nenek Linda.


“Iya, Sherin ke sana sekarang.”


Setelah sambung telepon terputus, Ravin bertanya, “Ada apa?”

__ADS_1


“Kakek masuk rumah sakit, kita harus segera ke sana,” ujar Sherin lalu bangkit. Ravin melepas pelukan agar Sherin bisa berdiri. Lalu Ravin ikut berdiri, dia terkejut mendengar kakek masuk rumah sakit.


“Bagaimana bisa?” pertanyaan yang sama seperti yang tadi Sherin ajukan, namun Sherin hanya bisa menggeleng.


“Belum tahu, kata nenek akan dijelaskan di sana.”


Keduanya pun bersiap, Sherin mengganti pakaian dengan yang lebih sopan. Pasalnya tadi Sherin hanya menggunakan tank top dan celana pendek. Setelah semuanya siap, Ravin dan Sherin bersamaan menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Di sana mereka berpapasan dengan Dina.


“Kalian mau kemana?”


“Kakek masuk rumah sakit, Ma. Kami mau ke sana.”


“Ya ampun, kok bisa?” Dina sampai menutup mulutnya yang menganga.


Sherin kembali menggeleng tidak tahu. “Belum tahu, Ma.”


“Ya sudah, buruan kalian pergi. Nanti setelah papa pulang, Mama akan nyusul.”


Sherin dan Ravin kompak mengangguk, keduanya masuk ke dalam mobil dengan Ravin sebagai supir. Mobil melaju meninggalkan rumah menuju rumah sakit tempat kakek di rawat. Sherin memberikan alamat yang tadi dikirim nenek Linda pada Ravin.


Setelah sampai keduanya mempercepat langkahnya hingga tiba di mana ruangan tempat kakek Haris dirawat.


Kakek sedang berbaring dengan sebuah infus di tangan kirinya. “Biasa, darah tingginya kumat! Tadi Nenek sudah bilang jangan kebanyakan makan sup kambing tapi Pak Tua ini malah ngeyel,” omel nenek Linda.


Saat itu juga Sherin dan Ravin menghela napas lega. Mereka pikir kakek kenapa. “Memang siapa yang masak sup kambing?”


“Siapa lagi kalau bukan kakekmu yang nyuruh pelayan buat masak? Katanya kepengen, Nenek sudah kasih peringatan supaya makannya sedikit saja tapi malah nggak di dengerin.”


“Sup-nya enak,” kakek membela sup kambing.


“Iya, enak. Tapi gimana sama kesehatan kamu?!” nenek Linda melotot tajam seketika membuat kakek bungkam. Ternyata saat berhadapan dengan nenek Linda yang sedang marah, nyali kakek langsung menciut.


“Iya, Kek. Harusnya Kakek bisa menjaga napsu untuk jangan makan sup kambing terlalu banyak. Padahal walaupun makan sedikit bisa bikin Kakek kumat tapi kayaknya Kakek lupa.”


Siang itu Sherin terus di rumah sakit, sampai malam hari ketika keluarga suaminya datang menjenguk. Dina membahas tentang rencana bulan madu mereka.


“Jadi, kalian batal bulan madu?”


Sherin menggeleng lemah. “Belum tahu, Ma.”

__ADS_1


“Emang rencana kapan berangkat?” timpal nenek Linda.


“Besok.”


“Kenapa nggak bilang?! Sudah, mendingan kalian pulang dan siap-siap. Masa mau bulan madu di tunda? Ntar cucuku juga ketunda gimana?” omel nenek.


“Tapi Kakek—”


“Itu urusan Nenek, lagi pula di sini ada Arvin dan Laras, mereka sekali-kali harus berbakti sama orang tua! Selama ini hidup mereka terlalu enak.”


Arvin dan Laras yang sedang duduk berdua di sofa itu kontan mendelik.


“Iya, benar kata nenek. Lagian ada Mama juga di sini, Mama 'kan nganggur.” Dina mengusap rambut Sherin.


Sherin rasanya ingin menangis tapi di tahan karena malu. Akhirnya Ravin dan Sherin pulang malam hari itu. Sesampainya di rumah, Sherin langsung membereskan koper, mengisi dengan pakaian yang sekiranya di perlukan.


“Jam berapa kita berangkat?” tanya Sherin yang sudah hampir selesai memasukkan barang-barang miliknya juga Ravi ke dalam koper.


“Jam delapan pesawat take off, jadi kita harus sampai di Bandara satu jam sebelumnya.”


Sherin mengangguk dengan semangat, setelah merapikan semuanya Sherin segera naik ke atas ranjang. Ravin menyusulnya kemudian memeluk sang istri yang kini sudah berbaring berhadapan dengan Ravin.


“Perjalanan besok cukup panjang, jadi aku ingin tidur cepat,” kata Sherin.


Ravin mengembus napas pelan. “Tapi besok kita bisa tidur di pesawat.”


Sherin mengerti maksud dari ucapan Ravin. Wanita itu menangkup wajah suaminya. “Tapi jangan sampai bikin aku nggak bisa jalan,” ucapnya ketus.


“Siap, Sayangku ... ” Ravin kembali bersemangat.


Dia mulai mencium bibir istrinya dengan lembut, ciuman itu semakin lama semakin menuntut. Tanpa melepaskan ciuman, Ravin membuka kancing piyama Sherin hingga belahan dada milik Sherin terekspos.


Ravin menelan ludah, istrinya ternyata tak menggunakan bra. Dua gundukan itu selalu menggodanya apalagi di saat sedang panas seperti sekarang ini.


Ravin kembali mencium Sherin, ciuman itu turun ke leher dan Ravin membuat tanda kepemilikan di sana. Sedang yang berada di bawah hanya bisa pasrah, namun dia juga menikmatinya.


“Engh ... ” lenguh Sherin ketika penyatuan itu sempurna. Ravin terus menghujani Sherin dengan kenikmatan hingga keduanya bisa mencapai puncak secara bersamaan.


Malam semakin larut, setelah melakukan olahraga bersama, keduanya tertidur tanpa sempat membersihkan tubuh. Sebelum itu, Ravin terus mencium wajah Sherin sambil mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2