
Pindah ke tempat lain, di rumah besar yang sepi penghuni, ada Kael bersama Meylin sedang makan malam. Di meja makan yang besar hanya ada mereka berdua.
Kael terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya, tapi pikirannya sedang berkelana. Ingatannya terus tertuju pada gadis yang menangis di gedung belakang sekolah.
Ada sesuatu yang mengganjal sehingga membuat Kael tidak bisa konsentrasi jika mengerjakan sesuatu. Ketika makanannya hampir habis, ia melihat ke arah Meylin.
“Kak,” panggil Kael.
“Apa?”
Kael sedikit ragu, ia menelan makanan terakhir di mulut. “Sebentar aku minum dulu.”
Kael mengambil gelas dan segera meminum air agar tenggorokannya tidak kering. “Aku mau tanya.”
Meylin pun yang sudah selesai itu langsung mengambil gelas. Ia mendengarkan Kael bicara.
“Mbak, kalau misalnya Mbak punya orang yang di sukai, tapi ternyata orang itu suka sesama jenis, pendapat Mbak gimana?”
“Uhuk!” Meylin tersedak, dadanya jadi sakit. Beberapa kali ia pukul agar mendingan.
“Kenapa tanya begitu? Kamu suka seseorang yang suka sesama jenis?” tanya Meylin.
“Hah? Bukan aku, Mbak! Ada temen yang curhat ke aku,” bantah Kael.
Meylin menaruh gelas, ia menatap Kael dengan bingung. “Kalo aku baru tau ternyata orang yang aku suka ternyata gay, aku pasti udah teriak sambil nangis-nangis karena kecewa. Nggak nyangka ternyata gebetan aku belok.”
“Ah, gitu ya. Ternyata sama,” gumam Kael.
“Aku turut berduka cita buat temen kamu, rasanya tuh nggak enak banget dapet kenyataan yang kayak gitu. Udah ya, aku mau ke kamar.” Meylin hendak bangkit tapi tertahan kala ia mengingat sesuatu.
“Oh ya, aku lupa mau kasih tahu kamu. Aku sudah dapat kerjaan,” kata Meylin.
“Kerjaan apa?”
“Jadi asisten artis bau kencur.”
Kael mengerutkan dahi, heran. “Kalau artisnya masih bau kencur kenapa di terima?”
“Aku di ajak sama dia, ada Mbak Anika juga, dari pada aku nganggur nggak ada kerjaan apa-apa.”
“Kamu mau tahu siapa yang jadi artisnya?” lanjutnya.
“Nggak, ah. Nggak penting,” Kael mengangkat bahu.
Walaupun Kael menolak, Meylin tetap memberi tahu. “Dia Sherin, yang sok kenal sama kita, kamu ingat 'kan?”
Kali ini Kael mengangkat kepala, melihat Meylin yang lebih tinggi darinya karena posisi Kael saat ini sedang duduk sedang Meylin berdiri. “Nggak nyangka, tapi suaranya emang bagus. Tapi, sayang orangnya begitu—”
Meylin kesal karena Kael menggantung ucapannya. “Begitu gimana?”
Kael malah mengangkat bahu, ia pun berdiri dan hendak pergi. “Ya begitu.”
__ADS_1
Meylin berdecak, dia ikut meninggalkan meja makan meski masih sedikit penasaran. Tapi mungkin tak penting untuk dia tahu.
Sedangkan Kael segera masuk ke kamarnya, ia kembali merenung memikirkan ucapan Meylin mengenai bagaimana responnya jika tahu orang yang di sukai ternyata suka sesama jenis.
“Ah, nggak nyangka ternyata sama aja,” gumam Kael.
Ia masih ingat dengan apa yang di ungkapkan gadis itu kemarin lusa. Sambil sesenggukan Cahaya bercerita mengenai alasannya menangis cukup lama.
“Gue patah hati,” ungkap gadis itu.
Kael memutar bola matanya. “Yaelah, patah hati doang sampai di tangisin lama banget, nggak guna!”
“Masalah ini lebih dari patah hati— eh, siapa nama, lo?”
“Kael.”
“Nah, Kael. Masalahnya ini lebih sakit dari patah hati kebanyakan.”
“Lah? Emangnya kenapa?” Kael jadi penasaran dengan cerita Cahaya.
“Lo tau wakil ketua OSIS 'kan?”
Kael menggeleng dengan polosnya. “Nggak tau,” sambil angkat bahu.
Cahaya melongo, bisa-bisanya Kael tidak tahu siapa wakil ketua OSIS di sekolah. Cahaya merasa kalau Kael selama ini terkurung di sebuah kandang dan baru keluar sekarang.
“Lo tuh anak pindahan, ya?”
“Serius lo tuh kayak baru keluar dari kandang. Masa wakil ketua OSIS di sekolah nggak tahu. Namanya tuh Dzaka, murid terkenal kayak dia lo beneran nggak tau?” Cahaya geleng-geleng kepala.
“Gue nggak pernah perhatiin apa-apa kecuali pelajaran. Nggak penting!”
Cahaya mengembus napas, ia terduduk lemas sambil memeluk lututnya sendiri. “Ya udah, kalau nggak tau, dengerin aja cerita gue. Gue itu suka sama Dzaka, tapi belum pernah pacaran.”
“Cinta diam-diam ya? Ugh, pasti cakit,” Kael mengangguk paham.
Cahaya melirik kesal. “Dengerin dulu lah, jangan dipotong.”
Kael nyengir, Cahaya melanjutkan. “Nah, tadinya gue mau kasih hadiah ulang tahun ke dia hari ini, gue cari kemana-mana tapi nggak ketemu orangnya. Terus pas gue ke belakang ruang OSIS, gue kaget banget,” Cahaya menangis lagi, tenggorokannya terkcekat dan tiba-tiba merasa haus.
“Jangan setengah-setengah kalau cerita,” protes Kael terlanjur penasaran.
“Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, Dzaka— Dzaka lagi ciuman sama laki-laki, hiks ... ” Cahaya tak kuasa menahan air matanya, ia merasa apa yang di lihat hari ini akan menjadi mimpi buruk baginya.
Sedangkan Kael malah ngelag, dia bengong sekaligus terkejut. “Hah? Kok bisa?”
...⚫⚫⚫...
Waktu terus berputar, malam semakin larut, dua insan yang masih ada di atas kasur terus saling memeluk dari beberapa jam yang lalu. Tubuh lemas Iriana masih terbungkus selimut tebal agar tidak kedinginan, pasalnya, Iriana belum pakai baju.
“Sayang, aku harus pulang,” ujar Iriana.
__ADS_1
“Apa tidak akan menginap saja?” Rainer masih memeluk erat, menghirup dalam-dalam aroma keringat hasil gelut tadi sore.
Iriana menggeleng. “Aku maunya gitu, tapi aku takut mamah dan papah curiga.”
“Tapi, besok pasti kita ketemu. Tak apa ya?” Iriana memasang wajah seimut mungkin agar Rainer tidak marah.
“Janji?” Iriana mengangguk. “Aku akan merindukanmu malam ini.” Rainer mengecup dahi Iriana lembut, sedang Iriana memejamkan mata.
“Aku yang paling merindukanmu,” Iriana dengan cepat mengecup bibir sang kekasih, lalu ia bangkit dan segera memakai pakaian. Tak lupa menyisir rambut dan memakai parfum, sampai rumah Iriana harus segera mandi, tubuhnya lengket.
“Apa kamu tidak mau makan dulu, Sayang,” tanya Rainer, ia ikut memakai celana yang tergeletak di ujung tempat tidur.
“Sekarang sudah malam, aku tidak mau jadi gendut jika makan sekarang. Mungkin, sampai rumah nanti aku makan buah saja,” jawab Iriana, ia ambil tas di atas nakas dan memakai heels-nya.
“Hati-hati, ya. Kabari aku kalau kamu sudah sampai di rumah,” Rainer memeluk Iriana sebagai tanda perpisahan sementara.
“Iya, Sayang.”
Iriana pun lekas pergi, ia berjalan dengan langkah cepat. Setibanya di lantai paling bawah, tak sengaja Iriana bertabrakan dengan seorang wanita yang baru saja akan masuk ke dalam lift.
“Hati-hati kalau jalan!” bentak Iriana.
“Maaf ... ” wanita itu menunduk, sedang Iriana mendengus kasar. Ketika Iriana tak terlihat lagi sebab pintu lift sudah tertutup, wanita itu mengepalkan tangannya.
“Mau apa dia malam-malam ke sini? Apa bertemu Rainer?”
Grisel jadi panik, begitu lift berhenti, Grisel berlari dan segera masuk ke dalam apartemen Rainer tanpa mengetuk pintu. Ia masuk ke dalam kamar dan mendapati Rainer sedang merokok di balkon.
Ia menatap sekeliling kamar. Berantakan. Grisel jadi kesal karena tahu ada sesuatu yang terjadi tadi sebelum dia ke sini. Apalagi ketika melihat Rainer hanya menggunakan celana tanpa pakaian.
Dada bidangnya terekspos begitu saja, di biarkan kedinginan oleh sentuhan lembut angin malam. Grisel mendekati Rainer.
“Rai ... ” panggil Grisel.
Rainer menoleh, ia terkejut melihat Grisel datang ke apartemennya.
“Sayang, kamu di sini?” Rainer mematikan rokoknya dengan cara menekan ujung rokok di atas asbak.
Kedua mata Grisel berkaca-kaca, ia taruh makanan yang di bawanya tadi di atas meja. “Apa yang kamu lakukan dengan Iriana?”
Meskipun Grisel paham, tapi ia tetap bertanya. Dadanya akan bertambah sakit jika Rainer berbohong.
“Ah, itu tadi— Iriana datang dan membawa kabar baik, dia merindukanku juga,” Rainer hendak memeluk Grisel namun di tahan oleh Grisel.
“Aku tidak mau di peluk kalau kamu belum mandi, pasti masih ada aroma Iriana di badanmu. Aku tidak mau,” kesal Grisel, ia melipat tangannya di dada sambil mengerucutkan bibir.
Rainer gemas, ingin ia peluk dan cium pacar keduanya tapi di tahan. Lalu ia melirik ke arah kotak makanan di atas meja. “Kamu bawa apa?”
“Aku tadi masak dan mau ku antar ke kamu. Tapi sepertinya kamu sudah kenyang,” Grisel berucap sinis.
“Ah, kamu salah. Sekarang malah aku sedang lapar. Beruntung sekali kamu datang dan bawa makanan untukku. Sebentar ya, Sayang. Aku mandi dulu,” seketika Rainer pergi menuju kamar mandi.
__ADS_1
Sedangkan Grisel mengamati Rainer yang kini telah hilang di balik pintu, dengan perasaan yang campur aduk dan pikiran yang bercabang kemana-mana.