
Kael berdecak kesal saat melihat kulkas kosong, tak ada makanan ataupun sesuatu untuk dimasak. Hanya ada es batu dan botol air mineral. Kael berteriak hingga pelayan yang mendengar langsung mendekat.
Kael berkacak pinggang. “Kalian ini gimana sih! Masa nggak tahu kulkas kosong dan kalian malah santai aja. Terus kalau aku mau makan gimana?”
“Maaf, Mas Kael, tadi sudah ada pelayan yang pergi ke pasar tapi belum pulang. Mungkin lagi dijalan, kalau Mas Kael lapar biar saya buatkan kue saja, ya?” ujar salah satu pelayan perempuan.
Kael mendengus. “Huh! Nggak usah! Biar saya keluar sendiri cari makan.”
Akhirnya sore itu Kael pergi keluar rumah menggunakan motornya untuk mencari makanan. Padahal sudah makan siang tapi perutnya masih terasa lapar, efek main game terus mungkin.
Tibalah Kael di restoran cepat saji, Kael memesan untuk dibawa pulang. Setelah membayar makanan yang dia pesan, Kael kembali memacu motornya untuk pulang ke rumah. Sebenarnya bisa makan ditempat tapi Kael tidak terbiasa karena dia hanya sendiri.
Tak ada kawan, memang sudah nasib Kael begini. Belum sampai di rumah, Kael tiba-tiba melihat ada seseorang yang dia kenal. Kael memelankan laju motornya, mengamati seseorang yang dia lihat itu.
“Cahaya ngapain di sini?” gumam Kael lirih.
Remaja itu memarkirkan motor di pinggir jalan depan toko kue yang sedang viral. Terus mengamati Cahaya yang jaraknya tidak begitu jauh darinya, Cahaya tidak sadar. Tapi, ada yang aneh, Cahaya mengenakan sebuah celemek dan seragam kerja.
“WOIII!!! Cahaya!” panggil Kael sedikit berteriak sampai membuat Cahaya terperanjat.
Cahaya menoleh dan terkejut melihat Kael, dia hampiri pemuda itu. “Lo ngapain di sini? Ngintilin gue ya?” tebak Cahaya asal.
Kael memutar bola matanya. “Kayak nggak ada kerjaan gue ngintilin, lo. Gue cuma kaget lihat lo di sini, lagi kerja ya?”
Cahaya mengangguk. “Iya nih, tadi baru buang sampah. Gue kerja di toko kue itu, ini juga udah waktunya pulang kerja.” Cahaya menunjuk toko kue di depan mereka.
Kael mengangguk paham, dia standarkan motornya dan membuka helm lalu di taruh di spion. Setelahnya Kael turun dan berjalan menuju kursi panjang di depan toko. Cahaya mengikuti.
“Loh, kok malah duduk di sini? Nggak jadi jalan?” tanya Cahaya heran.
Kael menggeleng lalu menunjukkan sebuah kantong kresek yang berisi makanan cepat saji. “Buruan lo beresan, terus bungkusin satu kotak kue cokelat, ya?” pinta Kael.
“Terus lo nunjukin kresek itu buat apa?” Cahaya menggaruk belakang kepalanya.
“Buat kita makan bareng. Tadi gue keluar gara-gara lapar, mana di rumah nggak ada makanan. Ya udah, gue cari makan di luar. Mendingan lo buruan beresin kerjaan!” titah Kael yang sudah merasa kesal.
Cahaya tak menyahut, secepat kilat Cahaya membereskan sisa kerjaannya lalu setelahnya dia mengganti pakaian. Menyemprotkan parfum dibeberapa titik tubuhnya, paling penting adalah ketiak. Setelah dirasa tubuhnya sudah tidak ada bau asem, Cahaya pamit untuk pulang.
__ADS_1
Tak lupa kue pesanan Kael dia bawa.
“Lama, ya?” Cahaya jadi tidak enak.
“Engga, kok. Cuma gue hampir ketiduran aja,” kekeh Kael. Cahaya manyun.
Kael menyuruh Cahaya duduk di sebelahnya, lalu membuka kresek dan mengambil salah satu kotak yang berisi nasi serta lauknya. Dia berikan pada Cahaya.
“Buat gue?”
“Iya.”
“Kok tumben lo baik?”
Kael mendelik. “Emang sebelumnya gue jahat?”
“Ya nggak juga.”
“Ya udah, buruan di makan. Nanti gue tarik lagi kotaknya.”
Giliran Cahaya yang mendelik. Dengan cepat melahap makanan yang diberikan Kael. Rasanya enak, jujur saja Cahaya pun sudah merasa lapar.
Sementara Cahaya tersenyum getir. Ia telan makanannya lalu berkata, “Orang kaya cuma kelihatannya doang, tante gue yang nguasain semuanya. Gue cuma jadi babu di sana, cuma bisa memohon supaya tante nggak stop biaya pengobatan bunda.”
Kael bungkam, makanan yang baru akan di telan tiba-tiba tersangkut di tenggorokan. Sulit masuk juga keluar, dengan cepat Kael mengambil botol air mineral dan segera meminumnya.
“So— sorry, gue nggak bermaksud—”
“Hahaha ... santai aja, gue juga masih bersyukur tante masih punya hati nurani. Nggak usah ngerasa bersalah gitu ... ” Cahaya tertawa tapi Kael tahu itu terpaksa.
Mereka kenal belum lama, baru kali ini Kael tahu sedikit mengenai Cahaya. Hubungan keluarga gadis itu kacau, hampir sama sepertinya. Bahkan dia harus bekerja saat masih sekolah, Kael merasa iba. Apalagi ketika melihat sorot kesedihan dan lelah di kedua mata Cahaya, sudut mata gadis itu juga berair. Menahan tangis.
...⚫⚫⚫...
Sementara ditempat lain, Sherin masih bungkam. Belum mengerti maksud dari perkataan Ravin. Pria itu menatap Sherin lekat. Membuat Sherin sedikit tak nyaman, sesekali menelan ludah.
“Maksudnya gimana?”
__ADS_1
“Saat kamu tidur di kamarku, aku dengar kamu ngelantur. Saat di apartemen ku juga kamu ngelantur. Kamu bahkan sampai menangis. Apa kamu mimpi buruk? Atau ... ada yang lain?”
Sherin diam, ia mengingat kembali saat ia tertidur di kamar Ravin. Sherin bermimpi tentang Rainer, saat mabuk juga ingatannya masih tentang Rainer. Dan, apa kata Ravin tadi? Dia juga menangis?
Sherin tersenyum kecut, dia sendiri tidak tahu kenapa bisa memimpikan pria itu. Mungkin masih ada rasa sakit di hatinya jadi terbawa sampai ke mimpi.
“Hanya mimpi buruk.”
Ravin memicing, belum percaya. “Kenapa bisa sampai menangis? Waktu itu kamu sampai memeluk, mencium dan mencengkram tanganku kuat. Kamu jangan bohong, atau aku bisa menyelidiki sendiri,” ancam Ravin.
Sherin menghela napas, dia memang berbohong tapi ancaman Ravin tak akan mempan. “Aku tidak bohong, hanya mimpi buruk biasa. Kalau tidak percaya kamu bisa selidiki, selama ini aku jomlo. Memangnya ada yang mau dengan aku yang gendut seperti waktu itu?”
Ravin membenarkan sedikit ucapan Sherin. Meski masih curiga dan penasaran Ravin tak lagi menanyakan hal itu. Tapi tetap saja, ada yang mengganjal dibenaknya. Kenapa mimpi buruk bisa sampai seperti itu? Apalagi ketika Sherin mabuk.
“Sudah sore, waktunya kita pulang. Aku juga belum mandi,” Sherin mengalihkan perhatian.
“Aku antar,” ujar Ravin.
“Memang itu tujuanku meminta jemput, aku malas naik taksi,” Sherin tertawa sementara Ravin mendengus.
Keduanya keluar dari cafe, angin berembus kala keduanya sedang berjalan menuju parkiran. Banyak pohon kelapa di sana karena areanya dekat pantai. Beberapa helai rambut Sherin berterbangan, Ravin menoleh ke samping.
Sherin bertambah cantik, berbeda jauh ketika saat mereka pertama kali bertemu. Meski saat itu bentuk tubuh Sherin tak terlalu gemuk, tapi masih terlihat bulat ketika dipandang.
Semua bermula dari permintaan kakek yang tak bisa di bantah, menyetujui pertunangan dengan orang yang belum pernah di lihat. Sampai akhirnya hatinya kini terisi penuh oleh satu nama, Sherin. Sang tunangan, mengganti nama yang dulu bersemayam. Kini nama Prisha tak ada lagi di dalam hati Ravin.
Tiba-tiba Ravin menarik tangan Sherin dan membawa Sherin ke sudut tembok. Hampir sampai parkiran dan hal itu membuat Sherin bingung. Ravin mengunci tubuh Sherin yang bersandar di tembok, sehingga Sherin tak bisa lari kemanapun.
“Kenapa ke sini?” Sherin mendongak, menatap Ravin yang lebih tinggi darinya.
“Aku mau— ” belum sempat menyelesaikan ucapan, Ravin langsung bertindak.
Melahap bibir Sherin yang sejak tadi membuatnya kehilangan fokus. Merah dan kenyal, lembut ketika dikecup. Sementara Sherin membola, terkejut dengan tindakan Ravin yang tiba-tiba.
Ravin menggigit kecil bibir Sherin agar Sherin membuka mulutnya. Sherin sampai terbuai ke dalam ciuman itu, keduanya berciuman cukup lama. Saling memejamkan mata, kedua tangan Sherin melingkar di leher Ravin. Saling bertukar saliva dan membelit lidah.
Hingga— PRIIIT!! PRIIIIT!!
__ADS_1
Suara peluit milik tukang parkir mengejutkan keduanya, reflek Sherin dan Ravin saling menjauh, mengelap bibir yang basah oleh air liur. Mereka pikir tukang parkir melihat apa yang sedang mereka lakukan tapi ternyata hanya sedang membantu sebuah mobil truk yang ingin keluar dari area parkir.