
Pagi itu, Grisel terbangun seorang diri. Tak ada Rainer di sampingnya, tapi terdengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Grisel mengucek kedua matanya lalu meregangkan kedua tangan.
Dia turun dari ranjang, bertepatan saat itu Rainer keluar dari kamar mandi. Mata mereka bertatapan, kemudian Rainer lebih dulu mengalihkan pandangan. Grisel menghela napas, ini yang terjadi setiap hari. Hubungan mereka terasa semakin jauh.
“Mau sarapan apa?” tanya Grisel.
“Aku makan diluar.” Rainer memilih pakaian di lemari.
“Aku buatkan saja, ya. Dari kemarin kamu selalu makan di luar, bukannya kamu belum dapat pekerjaan? Takutnya tabungan kita menipis,” jelas Grisel, membuat Rainer menoleh padanya dengan tatapan tidak suka.
“Kamu mengejekku?” Rainer menghampiri Grisel dan menekan kedua pipi Grisel. Wanita itu meringis kesakitan, dia tidak tahu kalau ucapannya akan membuat Rainer marah.
“Sa— sakit! Aku tidak bermaksud—”
Rainer menghempas Grisel kesamping. Wanita itu hanya bisa menahan tangis, dia tidak bermaksud mengejek atau membuat Rainer tersinggung. Pria itu salah menangkap ucapannya.
“Kamu kenapa sih, Rai? Apa aku punya salah sampai sikap kamu berubah kayak gini?”
Kini Grisel menatap Rainer tajam, ia usap air mata di pipi. Rainer mengalihkan pandangan, tak mau menatap istrinya. Grisel semakin terluka.
“Masih pagi, aku tak mau berdebat. Aku akan sarapan diluar,” Rainer melanjutkan memilih pakaian, setelah dapat langsung dia pakai.
Hanya kemeja dan celana jeans, setelah itu tanpa sepatah katapun dia pergi dari apartemen. Meninggalkan Grisel yang kini hanya bisa menatap nanar kepergian sang suami.
“Sudahlah, jalani saja,” Grisel menyemangati dirinya sendiri. Setelah itu dia bergegas pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Usai berpakaian, Grisel pergi kedapur untuk membuat sarapan. Grisel mendesah berat saat melihat kulkas yang isinya hampir kosong, untung saja dia masih punya simpanan uang hasil kerja di restoran. Mungkin setelah ini dia harus mencari pekerjaan lagi.
Belum sempat memakan sarapannya, ponsel diatas meja berdering. Grisel menatap benda pipih itu, tertera nama seorang dokter yang sudah sejak lama membantu merawat ibunya. Tanda tanya muncul dibenak Grisel karena dokter itu tiba-tiba meneleponnya pagi-pagi begini.
__ADS_1
“Ada apa, Dok?”
“Dek, tadi saya ngecek kondisi ibumu dan saya kaget lihat dia tiba-tiba sadar. Sejak sadar beliau selalu memanggil nama kamu, bisa kamu datang ke sini secepatnya?”
Grisel sampai menjatuhkan sendok, buru-buru dia ambil dan menaruh kembali di piring. Senyum haru di iringi air mata membuat suara Grisel bergetar.
“Sa— saya kesana sekarang, Dokter.”
Grisel mematikan sambungan telepon dan dia tak jadi menyantap sarapannya, secepat kilat Grisel bersiap. Dia bahkan menggunakan taksi untuk datang ke rumah sakit, tak peduli meski biayanya mahal.
Grisel mempercepat langkahnya, seakan lupa kalau sekarang dia sedang hamil. Tangan Grisel bergetar saat akan membuka pintu, perlahan dia menarik handle pintu dan di dalam sana sudah ada dokter serta suster yang tengah memeriksa kondisi ibunya.
“Ibu ... ” Suara Grisel tercekat, air matanya sudah mengalir sejak dia melihat kedua mata ibunya telah terbuka. Penantian yang cukup lama akhirnya terbayar pagi ini.
“Dek Grisel sudah datang? Saya mau pastikan kondisi ibunya sudah lebih baik atau belum. Jadi, saya masih disini lima menitan lagi,” ujar dokter pria yang usianya sudah setengah abad itu.
Grisel hanya mengangguk. Dia menghampiri ibunya dan duduk di kursi yang berada disamping brankar. Grisel mengambil punggung tangan ibunya lalu dicium.
“Belum lama, baru setengah jam yang lalu. Saya pikir ibu tidak akan sadar lagi walaupun detak jantungnya masih ada. Syukurlah Tuhan masih berbaik hati. Sekarang kondisi ibunya belum stabil meskipun sudah sadar, jadi jangan diajak banyak bicara, ya,” pinta dokter itu.
“Iya, Dok.”
“Kalau begitu saya permisi.”
Setelah kepergian dokter itu, Grisel tak bisa menahan tangis lagi. Dia kecup punggung tangan ibunya berkali-kali. Tak jauh berbeda, sang ibu pun ikut meneteskan air mata.
“Ibu, kenapa lama banget sadarnya? Aku kangen ngobrol sama Ibu,” protes wanita itu.
“Ibu sakit, Nak. Ibu nggak kuat ... ”
__ADS_1
Grisel mengusap hidungnya yang keluar cairan, dia menggeleng kuat. “Ibu harus sembuh, Grisel butuh teman.”
“Bukannya kamu sudah menikah? Suamimu yang akan jadi teman terlamamu, bukan Ibu.”
Grisel tertegun. Dia usap air mata di pipi dan menatap ibunya lekat. “Ibu tahu aku sudah menikah? Bukannya Ibu sedang—”
“Nak, meskipun Ibu koma, tapi Ibu bisa dengar setiap kamu mengeluh di sisi Ibu. Ibu ikut sedih mendengar keluhan kamu dan keadaan kamu sekarang, tapi tak ada yang bisa Ibu lakukan. Sekarang, Ibu hanya ingin bilang, kalau Ibu sudah lelah.” Wanita separuh baya itu mengusap lembut rambut putrinya.
Kembali air mata Grisel mengalir. “Ibu jangan bilang kayak gitu ... Ibu pasti sembuh, jangan tinggalin Grisel.”
“Tapi Ibu lelah, Nak. Ibu tak sanggup lagi menahan sakit. Jaga diri baik-baik ya?” pinta ibunya Grisel.
Grisel menangis kencang saat ibunya mengucapkan selamat tinggal. Grisel rela kehilangan semuanya tapi tidak dengan ibu. Hanya ibu yang dia punya, selain ibu Grisel tak punya siapa-siapa.
Napas ibu naik turun, sekali lagi ibu mengusap kepala Grisel meski hanya sedikit tenaga yang dia punya. “Ibu sayang kamu, jangan menyerah dan juga jaga cucu Ibu. I ... Ibu pa ... pamit. Kamu ... harus ba ... bahagia.”
Saat itu juga Grisel memencet tombol agar dokter segera datang. Dia menggeleng berkali-kali, ini bukan yang dia inginkan. “Jangan tinggalin aku!”
Grisel semakin panik saat napas ibu mulai tak stabil. Tak lama setelah ini itu dokter datang dan memeriksa kondisi ibu, sementara Grisel menunggu di luar ruangan. Mondar-mandir Grisel di sana dengan kekhawatiran yang memenuhi dada.
Begitu dokter keluar dari sana, Grisel langsung menyerbu dengan pertanyaan. “Ibu saya gimana, Dok? Pasti Ibu saya nggak papa kan?”
Dokter menggeleng seketika membuat Grisel melemas. “Maaf, Dek. Kamu yang sabar, ya. Sekarang Ibu kamu sudah tidak akan merasakan sakit lagi, saya pikir kondisi Ibu kamu akan stabil tapi ternyata Tuhan berkata lain.”
Grisel terduduk lemas di lantai yang dingin. Dia menangis tanpa suara, tangannya mencengkram erat pakaian hingga kusut.
Siang itu, tanpa ditemani oleh siapapun termasuk suami, hanya ada beberapa orang yang membantu, Grisel mengantarkan ibunya ketempat peristirahatan terakhir. Melihat gundukan tanah dengan taburan bunga di atasnya, membuat Grisel tak bisa menahan tangis meski tanpa suara.
Ibunya sadar bukan karena akan sembuh melainkan untuk mengucapkan selamat tinggal pada putrinya. Benar kata dokter, ibunya kini tak akan merasakan sakit lagi, tapi sungguh Grisel tak ingin ibunya pergi.
__ADS_1
“Sekarang aku beneran sendiri,” gumam Grisel lirih, memeluk lutut dengan mata menatap nisan yang tertulis nama ibunya.