
Sherin termenung di balkon kamar, memandang bulan yang bersinar terang. Bintang-bintang menghiasi langit. Angin berembus lembut, menyapu wajah Sherin yang terlihat banyak pikiran.
Perkataan Findy terus terngiang di benak Sherin. Semenjak kariernya melonjak, Sherin memang tak punya kesempatan istirahat. Istirahat hanya di malam hari, itupun jika tak ada jadwal. Untung saja Ravin tak protes meski dia sangat sibuk.
Sebuah tangan melingkar di perut Sherin, membuatnya tersentak dan menoleh ke belakang. Ada Ravin yang sedang menenggelamkan wajah di lehernya dan itu menimbulkan rasa geli karena embusan napas Ravin menyapu kulitnya.
“Lagi mikirin apa?” tanya Ravin.
“Tak ada ... ” jawab Sherin.
Ravin mengangkat wajah, lalu melepaskan pelukan. Pria itu berdiri di samping Sherin dan menatap netra Sherin yang terlihat bersinar di bawah cahaya rembulan.
“Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Sudah aku bilang berkali-kali— kamu tak perlu terlalu sering memikirkan masalah anak. Kita menikah belum lama, lagipula aku masih mau menikmati masa berduaan dengan kamu ... ” jelas Ravin, membuat Sherin tak bisa berkata-kata.
“Tapi—”
Lekas Ravin merengkuh tubuh Sherin, memeluk istrinya dengan sangat erat. Sherin tak bisa melanjutkan kata-katanya. Pelukan itu terasa sangat hangat, seakan menyalurkan kekuatan agar Sherin tak perlu bersedih akan apa yang terus mengganjal di benak Sherin.
Lantas, Sherin membalas pelukan itu. Meresapi kehangatan dari pria yang dia cintai. Saat ini, Sherin tak ingin banyak pikiran. Besok pagi baru dia akan pikirkan solusi agar hatinya bisa tenang.
***
“Kamu tidak ada jadwal?” tanya Ravin sembari mengancingkan kemejanya.
“Tidak, hari ini aku ingin istirahat. Aku sudah minta izin dari Anika,” jawab Sherin.
Sejak tadi dilanda kebingungan dengan dasi yang akan Ravin pakai hari ini. Sudah ada tiga warna dasi dan itu diletakkan di atas ranjang. Sementara Ravin, setelah mengancingkan kemeja, pria itu menyisir rambut di depan cermin.
“Mama hari ini mau ke sini katanya,” cetus Ravin.
“Jam berapa?” Sherin memilih dasi yang menurutnya cocok, lalu menghampiri Ravin yang kini sudah berdiri menghadapnya.
“Jam sepuluh. Mungkin mau mengajarimu cara memasak lagi ... ”ujar Ravin sedikit terkekeh.
Sherin mengerucutkan bibirnya. Ia memasangkan dasi di leher Ravin dengan gesit. Setelah di rasa rapi, Sherin menepuk dada Ravin beberapa kali dengan pelan.
__ADS_1
“Aku malah lebih suka Mama datang dan mengajariku memasak daripada di suruh Anika menyanyi di atas panggung,” curhat Sherin.
“Oh ya? Bukannya itu hobi dan cita-citamu?”
Sherin tak langsung menjawab, dia malah pergi untuk mengambil jam tangan Ravin yang ada di kamar mandi. Kata Ravin, dia kelupaan saat keluar kamar mandi tak membawa jam tangan.
Setelah itu, Sherin pasangkan jam itu di pergelangan tangan Ravin.
“Udah, ayo sarapan ... ” ajak Sherin, berjalan lebih dulu dan di ikuti Ravin di belakangnya.
“Tunggu, Sayangku ... ” Ravin menarik pergelangan tangan Sherin hingga Sherin menabrak tubuh Ravin.
Wanita itu berdecak kesal, kemudian Ravin merangkul Sherin dan keluar kamar secara bersamaan.
Untuk catatan, sekarang Ravin dan Sherin tak lagi tinggal di rumah Dina. Ravin sudah membeli rumah sendiri dari saat pernikahan mereka baru menginjak tiga minggu. Seminggu setelahnya baru di tempati karena harus mengisinya dengan barang-barang.
Kini sudah lebih dari setengah tahun mereka menikah, rumah dua lantai dengan halaman luas yang hanya di tinggali mereka berdua terasa sangat sepi. Meskipun ada beberapa pekerja, tapi mereka tidak tinggal di sana setiap saat. Kecuali, pelayan yang yang memang di tugaskan bersih-bersih, memasak atau membantu pekerjaan Sherin yang lain.
Setelah sarapan, Sherin mengantar Ravin sampai depan pintu. Melambaikan tangan ketika Ravin hendak masuk mobil. Tak lupa sebelum itu Ravin mencium Sherin dulu. Setelah mobil melaju hingga tak terlihat, Sherin kembali ke dalam dan menuju dapur.
“Biar saya bantu ... ” tawar Sherin.
Pelayan itu lantas menggeleng. “Nggak usah, Non. Ini kerjaan Bibi ... ”
Meskipun Sherin memaksa, tapi pelayan itu tetap keukeuh tak ingin di bantu. Akhirnya Sherin menyerah. Ia masuk ke dalam kamar dan merebahkan dirinya sambil menatap langit-langit kamar.
“Apa aku berhenti saja, ya?” tanyanya pada diri sendiri.
Helaan napas panjang Sherin keluarkan berkali-kali. Saat ini ia merasa hati dan pikirannya sedang berperang. Sudut hatinya berkata, lebih baik Sherin meninggalkan pekerjaan supaya bisa mempunyai banyak waktu istirahat tapi lain dengan otaknya.
Pikirannya berkelana. Bagaimana dengan hobi dan cita-citanya?
Sampai pukul sepuluh pagi, Sherin tak juga beranjak. Dina datang dengan membawa senyuman hangat yang mampu mengalihkan sedikit perhatian Sherin. Tapi, tetap saja, ketika malam hari Sherin terus memikirkan nasihat dari dokter Findy.
Hingga dua hari kemudian Sherin berhasil membuat keputusan yang tidak akan merugikan dirinya maupun orang lain. Meski sulit, tapi Sherin mau tak mau harus melakukan ini.
__ADS_1
“Aku mau bicara,” cetus Sherin saat berada di ruangan milik Anika.
Manajer Sherin itu melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya lalu menatap Sherin yang tengah menatapnya dengan serius.
“Bicara apa?”
“Aku ingin mengakhiri kontrak kerja ... ” sebuah keputusan yang mendadak hingga membuat Anika terkejut.
“Kenapa tiba-tiba?”
“Aku sudah lelah ... ”
“Tapi kontrakmu masih ada tiga tahun lagi disini, jika ingin membatalkan kontrak dan berhenti. Kamu harus bayar denda!” Anika mengetuk-ngetuk meja kerjanya hingga menimbulkan suara.
“Apa kamu lupa kalau suamiku bosnya? Jadi aku tidak perlu bayar denda ... ”
Pernyataan itu membuat Anika menatap Sherin datar. “Lalu aku bagaimana?” tanyanya, bingung dengan nasib sendiri kedepannya.
“Perusahaan masih akan menggaji mu, lagian di sini masih banyak artis yang membutuhkan manajer seperti dirimu ... ”
Anika menghela napas. “Beri aku alasan lain!”
Sherin duduk di kursi yang berhadapan dengan Anika. Wajahnya kini berubah sendu. “Aku terlalu lelah hingga mempengaruhi aku untuk mempunyai anak. Dokter sudah bilang padaku untuk jangan stres dan lelah, diet berlebihan dan kurang istirahat.”
Anika manggut-manggut, mengerti dengan perasaan Sherin. Akhirnya dengan berat hati Anika menyetujui pengunduran diri Sherin. Dia yang akan mengurus semuanya. Kabar ini langsung sampai ke telinga Ravin. Begitu pulang, Ravin langsung menanyakan keputusan mendadak Sherin.
“Kenapa tiba-tiba berhenti? Bahkan aku sendiri tidak tahu kamu akan mengundurkan diri ... ” tanya Ravin bingung.
“Aku sudah cukup lelah. Dokter bilang aku harus banyak istirahat dan jangan stres.”
“Tapi bukannya ini hobi dan cita-citamu? Lantas, kenapa malah memilih mundur padahal kamu sedang ada di puncak?”
Sherin tersenyum, lalu memeluk Ravin dengan erat. Ravin membalasnya, memeluk tak kalah erat.
“Iya, memang itu hobi dan cita-citaku, tapi dulu, sekarang cita-citaku hanya ingin memiliki keluarga lengkap dan bahagia bersamamu ... ”
__ADS_1
Sebuah jawaban yang membuat Ravin mematung.