
Sampai rumah, Ravin membawa istrinya masuk ke dalam kamar. Sejak diperjalanan, wajah Sherin terlihat murung. Ravin hanya diam tanpa mau mengutarakan pertanyaan meski dia sangat penasaran.
“Cepat ganti baju lalu istirahat,” kata Ravin.
Sherin menoleh dan mendongak, tatapan matanya sendu. “Aku nggak apa,” ucapnya, mengerti maksud dari tatapan Ravin yang terlihat khawatir.
“Iya, aku tahu. Tapi sekarang kamu harus mandi, pasti kamu bau keringat,” ledek Ravin dan mendapat cubitan di perut.
Sherin menurut saja, dia ambil handuk dari tempatnya dan masuk ke kamar mandi. Sebelum itu, Sherin sempat menyembulkan kepalanya keluar untuk melihat Ravin. Terlihat pria itu sedang membuka pintu walk in closet.
“Kamu mau kemana?” tanya Sherin.
“Mandi.”
Dahi Sherin mengerut. “Di mana?”
“Kamar mandi di kamar tamu.”
“Kenapa nggak di sini aja?”
Ravin lantas menoleh, seringai tipis terlihat di bibirnya. Wajah tampan itu menjadi sedikit menyeramkan di mata Sherin.
“Kamu mau mandi bareng?”
“Nggak! Udah, pergi sana.” Sherin mengibaskan tangan, kemudian memasukkan kembali kepalanya ke kamar mandi dan hendak menutup pintu.
Namun, sebelum itu Ravin dengan cepat menahan pintu membuat Sherin tak bisa menutupnya. “Kebetulan kamu tanya itu tadi, mendingan kita mandi bareng. Aku bisa bantu kamu gosok punggung, gratis kok tanpa di bayar,” ujarnya.
Sherin mendelik, menyesal tadi sudah menanyakan hal itu. Segera dia menggeleng dan ingin lekas menutup pintu, tapi Ravin sepertinya tak mau kalah. Suami Sherin itu dengan paksa membuka pintu, tenaga keduanya berbeda jauh, jelas Sherin tak dapat menahan Ravin untuk tidak masuk ke kamar mandi.
“Aku bisa gosok punggung sendiri,” sewot Sherin.
“Biar lebih mudah, sini aku bantu.” Ravin menawarkan sembari melengkungkan sebuah senyuman, hal itu membuat Sherin goyah dan seperti terhipnotis Sherin akhirnya mau mandi bersama Ravin.
Jelas pikirannya terlalu naif kalau Ravin hanya akan membantunya menggosok punggung, yang jelas ucapan pria itu sulit di pegang. Bilang cuma gosok punggung, ujung-ujungnya lanjut ke gunung. Tangan Ravin sangat nakal, apalagi bibir.
Sherin berusaha menahan sesuatu tapi akhirnya tak bisa, suara yang merdu di telinga Ravin lolos dari mulut Sherin.
“Katamu cuma gosok punggung?” protes Sherin.
“Siapa bilang? Aku cuma bilang bantu kamu gosok punggung, bukan berarti nggak ngelakuin hal lain.” Ravin menyeringai, merasa menang sementara Sherin mendengus.
__ADS_1
Ritual mandi siang itu menjadi lebih lama dari biasanya, setengah jam berlalu barulah Sherin bisa membersihkan tubuh. Wajahnya di tekuk sejak tadi, menyadari hal itu Ravin hanya bisa senyum-senyum.
Usai mandi, Sherin tak langsung mengenakan pakaian. Sherin memilih memakai kimono dulu lalu mengeringkan rambut. Dia merasa sedikit kedinginan karena tadi Ravin mengajak ciuman di bawah shower. Ciuman itu tak terjadi satu sampai dua menit, melainkan lebih dari sepuluh menit.
Pasalnya, bukan cuma bibir yang Ravin cium, tapi tempat lain yang menjadi favoritnya.
Setelah mengeringkan rambut, Sherin mengambil ponsel di atas meja rias. Dari pantulan cermin, terlihat Ravin baru saja keluar dari walk in closet dengan pakaian rumah. Pria itu berjalan mendekat dan duduk di atas ranjang.
“Mau menelepon siapa?” tanya Ravin.
“Meylin.”
Sherin menempelkan benda pipih itu di telinga kanan, tak lama telepon itu tersambung dan terdengar suara Meylin di ujung sana.
“Gimana keadaan Kael?” Sherin bertanya sembari menatap dirinya di cermin, menepuk-nepuk pipi beberapa kali.
“Dia baik-baik saja, hanya sejak tadi terlihat lebih murung.”
Sherin mengembuskan napas, sudah dia duga hal ini akan terjadi. Dia menarik napas, katanya “Kalau wanita itu bagaimana?”
“Dia masih di rawat, ternyata ibu Tira punya penyakit yang lumayan parah. Tapi itu masih dalam pemeriksaan, dokter sedang mengeceknya.”
“Apa sangat parah?”
“Lalu Kael dimana?”
Meylin menoleh ke arah kursi tunggu depan ruangan. “Dia sedang mengobrol dengan Cahaya. Sepertinya anak itu mulai punya perasaan dengan gadis yang sering bersamanya,” ungkap Meylin.
“Biarkan saja, itu hak dia. Bukankah seperti itu akan lebih baik? Dia akan mempunyai teman. Hanya saja, tolong bilang padanya kalau pacaran jangan sampai melewati batas.”
***
Beberapa bulan berlalu, hidup Sherin bahagia seperti awal pernikahan. Kariernya semakin sukses, bahkan beberapa kali dia pergi ke luar negeri untuk mengisi sebuah acara dan menjadi bintang tamunya.
Hubungan Sherin dengan Arvin juga semakin membaik. Bukan tanpa alasan Sherin memaafkan pria yang menjadi ayah kandungnya itu. Hanya saja, hampir setiap hari Arvin datang ke rumah hanya untuk sebuah kata maaf.
Tentu saja Sherin jadi pusing, Arvin selalu mendekatinya meski dia mencoba menghindar. Dua bulan setelah itu akhirnya Sherin yang kesal pun memaafkan Arvin. Maaf yang terpaksa, ia ucapkan agar Arvin tak lagi mengganggunya.
Tapi di antara bahagia itu ada satu masalah. Masalah yang membuat Sherin terkadang tak bisa tidur dan selalu kepikiran. Sampai saat ini, Sherin belum juga hamil padahal sudah setengah tahun lebih menikah.
“Sabar, lagi pula kita menikah belum satu tahun. Banyak pasangan di luar sana yang sudah menikah bertahun-tahun tapi belum juga dikaruniai anak. Mungkin ini ujian awal pernikahan kita,” jelas Ravin, meyakinkan Sherin yang hampir setiap hari mengeluh akan masalah satu ini.
__ADS_1
“Tapi mereka semua menunggu anak dari kita.” Mereka yang dimaksud adalah dua keluarga mereka.
Kakek Haris dan istrinya sudah menginginkan cicit, kata kakek Haris, sebelum berpulang ingin sekali melihat anak Sherin dan Ravin. Mungkin karena kondisi kakek sekarang yang kurang baik makanya kakek sangat berharap bisa melihat cicitnya.
“Tapi mereka tidak menuntut kita.”
Sherin ingin sekali untuk tidak kepikiran, hanya saja entah kenapa dia tidak bisa. Besok adalah jadwalnya untuk ke dokter, memeriksa apakah sudah isi atau belum.
Jadi, malam ini Ravin harus menemani Sherin agar istrinya itu tenang. Seperti sekarang, Sherin tak bisa tertidur. Ravin jadi pusing melihatnya. Dia peluk tubuh sang istri lalu mengecup keningnya.
“Tidurlah, ini sudah hampir larut. Kalau besok masih tidak ada hasil, kita bisa menunggu. Pernikahan kita belum sampai sepuluh tahun, kamu jangan terlalu khawatir.”
Ravin mengusap kepala Sherin lembut, dalam dekapannya, Sherin merasa sangat nyaman. Hangat dan menenangkan. Perlahan, matanya mulai mengantuk dan tak lama setelah itu Sherin terlelap dalam pelukan Ravin.
Ravin menatap Sherin sendu, ia peluk tubuh istrinya erat. Menyalurkan kekuatan agar istrinya semakin tenang. Terkadang sedih saat melihat Sherin murung karena masalah anak. Padahal sudah berulang kali dia bilang, tidak apa-apa. Tapi, Sherin tetap tidak tenang.
Keesokan paginya, Sherin sudah siap untuk pergi ke tempat dokter Findy. Dokter yang dulu pernah mengobatinya saat demam, ternyata adalah seorang dokter kandungan.
Ravin tak bisa menemani sebab ada urusan di luar kota. Akhirnya Sherin pergi sendiri di antar supir. Sesampainya di klinik tempat Findy praktek, Sherin langsung masuk ke dalam ruangan.
Sherin sudah di tunggu oleh Findy. Mereka cipika-cipiki baru mulai pemeriksaan. Hasilnya tetap sama, membuat Sherin menghela napas.
Findy memegang tengan Sherin. “Jangan sedih, kalian belum lama menikah, mungkin tidak lama lagi.” Findy menyemangati.
“Tidak lama laginya itu kapan?” Sherin mendesah, hari ini dia tidak ada jadwal dan akan dia gunakan untuk istirahat.
“Ya aku juga tidak tahu. Tapi jangan menyerah, tetap berusaha dan berdo'a. Hanya saja, satu pesanku yang harus kamu ingat. Kamu jangan terlalu lelah. Terlalu lelah juga bisa menghambat kita untuk memiliki anak.”
“Aku tidak pernah lelah.”
“Tapi kata Ravin kamu sering pulang malam, jarang istirahat dan makan tidak teratur. Kamu juga sering diet. Jadi, kali ini berusahalah untuk lebih banyak istirahat dan jangan selalu begadang. Kamu juga jangan stres.”
Sherin mengangguk, ia pulang setelahnya. Sampai di rumah sudah ada Dina rupanya.
“Kapan Mama ke sini?” Sherin melepas sepatu hak tingginya lalu ganti dengan sandal rumahan.
“Barusan datang. Kamu pasti dari dokter, ya?” tebak Dina.
“Iya, Ma.” Sherin menunduk lesu.
Dari raut wajah Sherin, Dina sudah bisa menebak. Ia usap kepala Sherin. “Jangan sedih gitu dong. Itu artinya kalian harus berusaha lagi supaya lebih giat buat anak.”
__ADS_1
“Kok Mama mikirnya ke situ, sih?!” Sherin menunduk malu, tapi setelahnya sudut bibir Sherin tertarik ke atas.