
Rainer sudah di beri izin untuk membawa Iriana keluar di malam hari asal Rainer harus mengantarkan Iriana kembali dengan selamat. Dia membawa Iriana ke sebuah restoran untuk makan malam, sekaligus menghibur Iriana yang kini di landa emosi dan gelisah.
Iriana menurut saja, lagi pula memang perutnya sudah terasa lapar. Sesampainya di restoran, mereka langsung memesan makanan yang cukup banyak.
Rainer pikir malam ini akan berjalan dengan baik, tapi siapa sangka? Tiba-tiba saja Grisel datang menghampiri mereka berdua dengan membawa sebuah nampan berisi makanan pesanan Rainer dan Iriana.
“Selamat malam ... ” sapa Grisel sambil tersenyum.
“Hmm ... ” Iriana menjawab malas.
Sedangkan Rainer sedang menatap tajam ke arah Grisel, tapi wanita itu malah terus tersenyum padanya dan Iriana.
“Silakan di nikmati, kalau begitu saya pergi dulu, jika ada apa-apa silakan panggil saya di lewat resepsionis,” kata Grisel.
Iriana hanya mengangguk paham sementara Rainer tak merespon, ada rasa gugup di hatinya karena tiba-tiba saja dia bertemu dengan kekasih keduanya di saat dia sedang bersama kekasih pertama.
“Cepat makan, Sayang. Kamu pasti lapar,” buru-buru Rainer membantu Iriana memotong daging, tak ingin ketahuan kalau dia sedang gugup. Bahkan kini tangannya menjadi dingin.
“Kamu ini kenapa?” Iriana merasa aneh.
Rainer menggeleng. “Aku tidak pa-pa, aku hanya khawatir kalau kamu telat makan malah bisa jadi kamu akan sakit,” alasan Rainer.
“Tak perlu khawatir, aku bukan anak kecil lagi, lagi pula makanan sudah di pesan mana mungkin aku buang?”
Hampir lima belas menit mereka menghabiskan makan malam, setelah di rasa kenyang, Iriana segera membalik sendok. Mengambil tissu untuk mengelap mulut agar tak belepotan.
Lalu Iriana berdiri, membuat Rainer mengernyit. “Kenapa, Sayang?”
“Aku ke toilet sebentar, ada panggilan alam,” ucap Iriana, ia lekas pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan sesuatu.
Sementara Iriana sedang pergi, maka kesempatan bagi Grisel yang ingin berduaan dengan Rainer. Ia menghampiri Rainer yang sedang dalam duduk sendiri sembari bermain ponsel.
Ada satu pelayan yang mengikutinya. “Kamu bereskan meja ini sekarang,” titah Grisel yang di jawab anggukan kepala oleh pelayan itu.
Rainer mendongak. Terkejut akan kedatangan Grisel ke mejanya. “Kamu kenapa di sini?” tanya Rainer sedikit panik.
“Aku mau bicara, aku juga kangen kamu,” Grisel segera duduk di kursi yang tadi di tempati Iriana, ia memasang wajah cemberut tapi beberapa kali mengedipkan sebelah mata.
“Kita baru berpisah kemarin malam 'kan?”
“Tapi hari ini kita belum bertemu,” Grisel semakin cemberut. Mengerucutkan bibirnya membuat Rainer gemas ingin mencomot bibir merah itu.
“Terus kenapa kamu bisa ada di restoran ini?”
Grisel menunduk, wajah cemberutnya sudah berganti jadi wajah sendu. “Aku sedang cari uang, ibuku 'kan sedang sakit.”
“Ibumu sakit? Ah, aku baru tahu kamu ternyata masih punya ibu,” ucap Rainer sedikit tidak enak.
__ADS_1
“Bagaimana kamu akan tahu kalau kamu saja tidak pernah serius berhubungan denganku. Aku sadar diri kalau kamu hanya memanfaatkan tubuhku saja,” mengatakan itu sudah membuat dada Grisel nyeri.
Ia sadar diri di mana posisinya. Lebih rendah dari pada Iriana yang seorang selingkuhan. Tapi, satu hal yang membuat Grisel bertahan untuk tetap bersama Rainer meski dia hanya di manfaatkan saja. Yaitu, Grisel mencintai Rainer.
Rainer adalah penolongnya, cinta pertamanya bahkan sejak pandangan pertama.
“Mana ada aku memanfaatkan kamu? Aku sayang sama kamu,” kilah Rainer.
“Iya, aku tau kamu sayang sama aku. Kamu juga sayang sama Iriana, bahkan jika ada makanan jatuh saja akan di bilang sayang,” ucap Grisel menohok.
“Kamu kenapa, sih? Cemburu dengan Iriana? Bukannya aku hampir setiap hari menemanimu? Atau kamu sedang butuh uang? Akan aku berikan,” Rainer membuka dompetnya dan mengambil kartu berwarna gold.
Tapi, segera Grisel tahan, membuat Rainer semakin bingung dengan Grisel yang tiba-tiba bersikap aneh. “Aku tidak butuh uangmu, jika aku terima sama saja aku merasa seperti orang murahan. Menjual tubuh hanya demi uang, aku cuma mau bilang aku cinta kamu. Aku harap kamu mengingatnya.”
Grisel segera bangkit, ia berdiri di hadapan Rainer dengan sedikit membungkuk. Dari situ Rainer tahu bahwa Iriana sudah kembali.
“Kenapa kamu di sini?” tanya Iriana pada Grisel dengan tidak suka.
“Saya di sini hanya mau membersihkan meja, Nona.”
“Membersihkan meja bagaimana? Di sini sudah bersih,” Iriana berdecak kesal. Menunjuk meja yang sudah bersih dari piring bekas makan.
“Maaf, kalau begitu saya pergi dulu,” Grisel sedikit membungkuk, lalu segera pergi dari sana dengan dada yang terasa sesak.
Ada air mata di sudut matanya, lekas ia seka agar tidak jatuh.
Rainer segera menggeleng. “Sejak kamu pergi aku hanya main ponsel.”
Rainer menunjukkan ponsel di tangan kanannya, Iriana percaya saja.
“Aku sudah kenyang, lebih baik kita pulang,” ajak Iriana, di angguki oleh Rainer.
Setelah membayar, Rainer segera mengantarkan Iriana pulang ke rumah, ia mencoba bersikap biasa saja meski pikirannya saat ini sedang terganggu oleh kedatangan Grisel tadi.
...⚫⚫⚫...
Di tempat lain, Sherin baru saja menyelesaikan konsernya. Tetes keringat jatuh membasahi kulitnya. Dinginnya AC tak mampu membuat keringat di dahi Sherin tidak jatuh.
Sherin turun dari panggung, menuruni empat anak tangga lalu menuju ruang istirahat. Di sana, dia sudah di sambut oleh Ravin, Anika dan Meylin.
“Selamat!! Kamu hebat!” puji Anika sambil bertepuk tangan.
Sherin mengangguk. Ia senang konser berjalan mulus, sesuai keinginannya.
“Untuk permulaan kamu sudah sangat bagus, aku tidak kecewa,” kata Ravin.
“Tentu, bahkan aku bisa lebih dari itu,” ucap Sherin bangga.
__ADS_1
Usai istirahat setengah jam, Ravin berniat mengantarkan Sherin kembali pulang. Tapi, begitu keluar dari kantor, Sherin di serbu banyak orang-orang. Mereka adalah fans baru Sherin.
“Sherin! Suaramu bagus sekali ... ”
“Sherin aku minta tanda tanganmu.”
“Jangan lupa folback instagram saya, ya.”
“Sherin! Jadi pacar saya hayu ... ”
Awalnya Sherin panik karena jarum jam sudah menunjukkan angka dua belas malam, pasti nenek Linda akan marah. Setelah selesai tanda tangan, dengan bantuan petugas keamanan, Sherin berhasil kabur dari orang-orang itu.
“Kenapa kamu panik sekali?” tanya Ravin bingung.
“Lihat! Ini sudah jam dua belas, pasti nenek Linda akan khawatir,” Sherin menunjukkan arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
Benar saja, sampai rumah Sherin langsung di hadang nenek Linda di depan pintu. Kali ini Sherin menunduk, tak berani menatap sang nenek.
“Baru pulang, hmm?”
Nada bicara nenek cukup menyeramkan, apalagi di tangannya ada panci penggorengan, mungkin jika terkena wajah akan lebih terasa sakit di banding sebuah tamparan.
“Nenek belum tidur?“ Sherin mencoba mencairkan suasana, sesekali ia menyenggol lengan Ravin tapi pria itu diam saja, tak mau membantu sama sekali.
Nenek mendengus, beliau bilang, “Bagaimana Nenek bisa tidur kalau kamu belum pulang sampai jam segini?”
Kemudian nenek berkacak pinggang, lalu tatapannya beralih ke Ravin.
“Kamu bawa kemana cucuku?”
Dengan santai Ravin menjawab, “Nek, Sherin sekarang sudah terkenal. Kami baru pulang konser, dan kedepannya Sherin tidak akan menganggur lagi.”
Mendengar itu Sherin melotot kesal, ia cubit pinggang Ravin yang berefek ringisan keluar dari mulutnya.
“Sayang, kamu galak sekali,” ucap Ravin sambil mengelus bagian yang di cubit Sherin.
“Benarkah Sherin tidak akan menganggur lagi?” celetuk nenek, Ravin mengangguk cepat.
“Iya, Nek. Aku bisa jamin, apa Nenek tidak lihat Sherin di televisi tadi?”
“Mana Nenek tahu, Sherin akan masuk televisi, dia saja tidak bilang kalau mau menjadi terkenal,” nenek memelototi Sherin.
“Maaf,” Sherin merasa bersalah.
“Sudahlah! Lebih baik Sherin masuk, dan Nak Ravin kamu mau menginap apa langsung pulang?”
“Pulang saja, Nek. Aku juga khawatir kalau Mama akan marah aku belum pulang.”
__ADS_1
Nenek mengembuskan napas, “Ah, kalian berdua ini sama saja, tidak ada yang benar.”