
Ravin dengan cepat menggendong tubuh lemah Sherin, rasa khawatir semakin memenuhi dada saat melihat Sherin sudah tertidur. Itu artinya, Sherin sudah tak sanggup menahan sakit, dia pingsan.
“Cepat bereskan dia! Aku ingin dia di penjara!!” tegas Ravin, Hugo mengangguk.
Ravin berusaha untuk secepat mungkin sampai ke mobil, sepuluh menit berjalan barulah dia sampai. Sudah ada polisi di sana, mereka terkejut melihat kedatangan Ravin.
“Sudah di temukan?” tanya salah satu polisi.
“Cepat buka pintu mobil, dia pingsan. Harus segera di bawa ke rumah sakit!” Ravin tak mempedulikan pertanyaan polisi itu.
Setelah Ravin dan Sherin masuk, salah satu polisi ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di samping supir. “Mereka masih menunggu di sana, kalian cepat bantu mereka! Jangan sampai perempuan itu lolos,” perintah Ravin pada polisi.
Supir membawa mereka keluar dari hutan, Ravin terus memandangi Sherin dengan khawatir. Keadaan Sherin lebih buruk dari yang dia kira. Kepalanya berdarah, sudut bibir terlihat biru juga ada darah yang sudah mengering.
Bagian tubuh yang lainnya juga memar, dalam hatinya Ravin menyumpah serapahi Iriana.
Sementara di tempat Hugo, pria itu masih berdiam diri memperhatikan Iriana yang mulai bangkit. Darah terus keluar dari telapak tangan kanannya, air mata Iriana mengalir karena menahan rasa sakit.
Iriana menoleh kanan dan kiri, saat melihat ada sebuah jendela dia berusaha lari. Menutup luka dengan tangan satunya, Iriana berusaha kabur.
“Mau kabur?” Hugo menyeringai, pria itu berjalan mendekati Iriana.
Iriana panik, tubuhnya semakin lemah seiring darah yang keluar semakin banyak. Satu tangannya meraih dauh jendela tapi tiba-tiba berhenti kala timah panas itu kembali masuk ke dalam bagian tubuhnya.
“Arghh! Apa yang kau lakukan?” teriak Iriana, terduduk lemas ketika kakinya yang terkena tembakan ke-dua.
“Pelaku berusaha kabur, aku hanya mempermudah jalan polisi untuk menangkapmu,” ujar Hugo dingin, tatapannya datar. Tangan kanannya menutar pistol, meski ada polisi di sana, Hugo tidak merasa takut.
Iriana semakin kesakitan, tangan dan kakinya terus mengeluarkan darah. Sudah tak bisa berdiri lagi, sekarang dia hanya bisa pasrah. Tak lama kemudian ada empat polisi yang datang, memandang mereka satu persatu.
“Tangkap tiga orang pelaku itu, satu perban kaki dan tangannya lalu kita bawa ke rumah sakit dulu. Jangan sampai dia mati.”
Hugo serta para polisi lainnya meninggalkan tempat dengan membawa Iriana dan dua rekannya. Dua rekan Iriana tak bisa melakukan pembelaan meski mereka memohon sampai besok pagi.
Sementara Iriana yang sudah pingsan akan di rawat di rumah sakit dulu, setelah peluru di keluarkan barulah kasus yang menjerat Iriana akan langsung di urus. Hugo juga berencana ingin menghubungi kedua orang tua wanita itu.
***
__ADS_1
Ravin mondar-mandir di depan ruang UGD, khawatir kalau luka yang di alami Sherin sangat parah. Wildan yang melihat itu pusing sendiri, tapi dia tak bicara apa-apa.
“Pak, lebih baik Anda mandi dan ganti pakaian,” celetuk Wildan, lidahnya sudah tak tahan lagi untuk tidak mengomentari Ravin.
“Kenapa?” Ravin menoleh ke arah Wildan.
“Selain bau keringat, pakaian Anda juga kotor. Sebelum nona Sherin keluar dari dalam lebih baik Anda membersihkan diri terlebih dahulu.”
Ravin berdecak kesal dengan bola mata yang memutar. “Aku lagi khawatir dan kamu menyuruhku membersihkan diri?”
“Setidaknya, jika nona Sherin bangun dia tidak akan pingsan lagi karena mencium aroma yang tidak sedap dari tubuh Anda,” Wildan menahan tawa saat mengatakannya.
Hanya dia yang berani bicara begitu selain orang tua Ravin. Hubungan persahabatan yang sudah terjalin belasan tahun tak membuat mereka menjauh satu sama lain. Melainkan menjadi lebih erat. Bahkan mereka bekerja di tempat yang sama meski Ravin yang menjadi atasan sementara Wildan bawahan.
“Jangan mencoba menghiburku, kalau bukan kabar Sherin sendiri aku tak akan bisa di hibur,” decak Ravin, tapi pria itu tetap melakukan saran Wildan.
“Saya sudah membawa pakaian Anda, ada di ruang rawat yang akan di tempati nona Sherin. Mari saya antar ... ”
Usai membersihkan diri, Ravin kembali ke ruang UGD, Sherin belum juga selesai di obati. Selain Sherin, ternyata Iriana juga sedang di rawat, dokter sedang mengeluarkan peluru dari dalam tangan dan kaki Iriana.
Hugo dan Wildan juga ada di sana, dua polisi pun sama. Ravin duduk di kursi tunggu dengan helaan napas yang terdengar panjang.
“Kita lihat nanti, tapi menurutku akan lebih dari sepuluh tahun. Kasus Iriana terkena pasal berlapis, satu penculikan dan satu penganiayaan. Kita bisa minta dokter memberikan hasil visum, itu akan lebih mudah untuk memasukkan Iriana ke dalam penjara.” Hugo menjelaskan.
Sudut bibir Ravin sedikit terangkat meski tak terlihat. “Kalau bisa aku ingin dia mendekam lebih lama di sana!”
Tiga jam kemudian, Ravin duduk di kursi samping brankar. Tangannya menggenggam erat tangan Sherin yang dingin, pria itu tak sekalipun berpaling dari wajah Sherin yang kini tak terlihat cantik karena luka lebam.
Beberapa detik kemudian jemari Sherin yang di genggam Ravin terasa bergerak. Pria itu terkesiap, matanya berkedip beberapa kali untuk meyakinkan diri sendiri bahwa Sherin akan segera sadar.
Perlahan kelopak mata itu terbuka, menyipit untuk menyesuaikan cahaya dari lampu. Sherin melenguh, meringis nyeri ketika hendak bangkit.
“Jangan bangun,” Ravin segera menahan tubuh Sherin.
“A— aku di rumah sakit?” tanya Sherin lirih.
“Iya, kamu tidak perlu khawatir lagi. Sekarang kamu aman,” ujar Ravin.
__ADS_1
“Lalu Iri—”
“Jangan pedulikan dia, aku sudah menembaknya tadi dan dia sudah tidak bisa memukulmu lagi!”
Sherin terkejut, “Kamu menembaknya?”
“Meskipun aku bukan polisi atau mafia yang selalu memegang pistol, tapi bukan berarti aku tidak bisa menembaknya.” Ravin bersedekap, khawatir ya berlebihan tadi kini sudah berkurang.
Sherin sudah terlihat lebih segar dari pada saat pingsan tadi.
“Kamu tidak akan di penjara kan?” tanya Sherin khawatir.
Ravin mengulas senyum tipis, dia usap pipi Sherin yang terlihat biru. Sherin meringis pelan, hal itu membuat Ravin merasa sesak.
“Aku tidak membunuhnya, paling aku hanya perlu mengeluarkan uang sedikit karena sudah mengambil pistol polisi itu,” Ravin terkekeh.
“Syukurlah,” Sherin menghela napas lega.
“Harusnya aku yang bilang begitu, aku bersyukur kamu bisa bertahan. Salahkan aku yang terlalu lama menemukanmu, aku sangat takut tadi saat melihatmu seperti mau mati.”
Mendengar itu Sherin langsung mencubit perut Ravin, membuat pria itu meringis kesakitan.
“Apa maksud dari perkataanmu itu?”
.
.
.
bersambung
jadi, kemarin ada beberapa yang nanyain visual, akhirnya setelah sekian lama ku mencari aku nemu juga yang menurut aku cocok😭
menurut kalian gimana? Cocok gak? kalau kurang cocok silakan berimajinasi sendiri bagaimana rupa mereka wkwk🤣
Happy Reading All😘
__ADS_1