
Entah sejak kapan perasaan itu datang, tapi yang kini Ravin rasakan adalah dia nyaman bersama dengan Sherin. Meskipun mereka baru kenal satu bulan lebih, waktu yang singkat untuk bisa jatuh cinta yang kedua kalinya.
Ketika pernyataan cinta itu lolos dari mulutnya, Sherin malah menanyakan hal yang tidak mungkin bagi Ravin dan bukannya menjawab. Ia melepas pelukan, menatap netra Sherin dengan dalam.
“Walaupun kamu sampai sekarang masih jelek aku tetap mencintaimu. Waktu itu karena kita baru pertama kali bertemu, tak ada perasaan apapun. Sekarang setiap melihatmu, jantungku selalu berdebar tak karuan. Lagian kalau aku tak menyukaimu karena jelek tidak mungkin aku menerima perjodohan yang kakek rencanakan.”
“Benarkah?” Sherin berkaca-kaca.
Ravin mengangguk yakin, kembali ia memeluk gadis yang sekarang sangat ia sayangi. “Cuma kamu yang bisa membuat jantungku berdetak lebih lambat dan lebih cepat pada saat yang sama.”
Ravin masih menunggu jawaban Sherin dengan jantung yang sudah berdebar tidak karuan. Sebenarnya ia takut di tolak, tapi ia tepis karena merasa Sherin juga mencintainya.
Terbukti saat tiba-tiba Sherin membalas pelukannya, semakin menenggelamkan wajahnya di dalam dekapan. Ravin menghela napas lega, cintanya tak bertepuk sebelah tangan.
“Apa cuma ini?”
“Memangnya apa lagi?” gadis itu terlihat semakin nyaman.
“Kamu belum menjawab.”
“Emh ... apa ya, aku mau merangkai kata dulu,” ucap Sherin seakan ingin mempermainkan dirinya.
“Jangan lama-lama, kita harus cepat pulang.”
Ravin tidak sabar, sementara Sherin terkekeh. Keduanya tidak tahu sejak kapan sudah menjadi lebih dekat sampai bisa seperti ini.
“Iya, aku juga mencintamu,” kata Sherin mengulangi kalimat Ravin yang tadi.
Ravin sangat bahagia. Rupanya mencintai seseorang itu harus mendapat balasan. Jika hatinya terus tertanam nama Prisha yang jelas sudah jadi milik orang lain dan sekarang sudah meninggal akan terasa sesak.
Bagai ingin menggapai asa yang abu-abu, tak bisa mendapat kepastian hingga rasanya sangat sulit ketika ingin menyampaikan perasaan. Tersimpan dalam hati tanpa bisa di keluarkan. Sekarang Ravin merasa lega, perasaannya jauh lebih baik saat Sherin membalas pengakuan cintanya.
“Di sini semakin dingin, apa tidak ada tempat yang lebih hangat?” suara Sherin menyadarkan Ravin dari kenyamanan yang sedang di rasa. Pria itu mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat.
“Di sana ada warung. Oh ya, apa kamu sudah makan malam?”
“Belum.”
__ADS_1
“Belum?” ulang Ravin.
Sherin mengangguk. Ravin menghela napas, kalau tahu Sherin belum makan maka akan Ravin ajak untuk makan lebih dulu.
Ravin akhirnya membawa Sherin ke warung yang ada di dekat parkiran. Di sana tidak hanya ada satu lapak, tapi ada beberapa. Mereka duduk di kursi, kemudian Ravin pergi membeli makanan.
Hanya ada jajanan membuat Ravin memilih membeli sosis bakar. Makanan yang mereka berdua sukai.
“Kita makan ini dulu, nanti sebelum pulang mampir ke restoran untuk mengisi perut.”
Sherin mengangguk, menerima uluran styrofoam berisi sosis bakar dan langsung memakannya dengan lahap. Saking lahapnya sampai belepotan. Ravin menyeka ujung bibir Sherin yang terkena mayonaise.
“Makasih,” Sherin tersenyum.
“Ah iya, kalau sudah selesai lebih baik kita cepat pergi.”
Ravin sadar ada yang aneh. Seperti ada kecanggungan di antara mereka. Tapi, mungkin karena belum terbiasa maka Ravin tak ada masalah.
Malam ini terasa sangat indah bagi Ravin dan juga Sherin. Sepanjang jalan mereka terus bergandengan. Saling menghangatkan satu sama lain. Ravin menggenggam erat jemari Sherin yang hangat, padahal sebelumnya dingin.
“Aku tadi kaget, ku pikir hanya ingin jalan-jalan tapi tiba-tiba kamu bilang 'itu' ke aku tanpa persiapan.”
“Haruslah. Biasanya orang nembak itu pakai bunga atau cincin, tapi kamu malah main cium dan kasih hadiah sosis.” Sherin tersenyum mengingat itu, hingga tiba-tiba sekelebat bayangan dimana Rainer menyatakan cinta di bawah pohon sakura.
Tiba-tiba wajahnya jadi suram. Ingatan yang paling ingin dia lupakan terlintas lagi.
“Buat apa pakai bunga? Nanti juga layu, tak bisa jadi kenangan hanya tersimpan dalam ingatan bahkan bisa saja di lupakan. Kalau cincin 'kan sudah ada di jari kamu, bahkan dengan itu hubungan kita terikat makin dekat. Kalau sosis itu karena kamu belum makan. Yang penting keseriusan aku, jangan lupa ciuman itu juga tidak akan mudah di lupakan, bisa jadi akan diingat selamanya.”
Ravin tersenyum. Mengingat tadi itu pertama kalinya dia berinisiatif untuk mencium seorang gadis. Dan itu Sherin, yang mencuri ciuman pertamanya saat mabuk. Tapi dia tidak tahu apakah malam itu juga ciuman pertama Sherin atau bukan.
“Kamu tahu? Saat malam itu, kamu mabuk dan mencium ku tiba-tiba, itu ciuman pertamaku,” Ravin mengaku.
Sherin terkejut. “Ah, yang benar?” tanyanya seakan tidak percaya.
Ravin hanya mengangguk. Ia masih fokus pada jalanan di depannya, hendak ke rumah Sherin dan tidak jadi mampir. Sekarang sudah malam dan takutnya nenek Linda mengomel lagi.
“Aku pikir kamu sudah pernah,” lirih gadis itu.
__ADS_1
Ravin menggeleng. Mana dia pernah berciuman. Dekat perempuan saja tidak pernah, saat itu harapannya hanya ingin bersama Prisha yang sedang bersama orang lain. Dia benar-benar menjaga dirinya, sehingga Sherin adalah orang pertama.
Tak ada percakapan lagi, setelah mengantar Sherin sampai rumah dengan selamat, barulah Ravin pulang ke rumahnya. Tak lupa mengingatkan Sherin mengenai besok yang akan meninjau lokasi prewedding. Tepat pukul setengah sepuluh malam Ravin sampai di rumah.
Ketika masuk, ada Calysta yang sedang menonton televisi sendrian.
“Ck! Ck! Ck! habis ngapelin anak orang mukanya kelihatan seger banget. Mana pulang malem banget, awas ada setan lho,” tatapan adik Ravin itu meledek.
“Iya, setannya kamu,” Ravin mendudukkan dirinya di sofa, tubuhnya cukup lelah. Ia sandarkan kepalanya di sandaran sofa.
“Ceritain dong gimana perjalanan kecan kalian tadi,” Calysta tak lagi fokus pada televisi di depannya. Dia lebih tertarik dengan cerita Ravin dan Sherin.
“Buat apa? Itu bukan urusan kamu.”
“Ya elah, Kak. Ceritain dikit aja.”
“Nggak!”
Calysta mengerucut, dalam hatinya ngedumel dan menjelekkan Ravin. Lalu beranjak pergi setelah tak mendapat informasi.
Ravin hanya menggeleng. “Besok kita pergi bareng ke pantai,” ucap Ravin sedikit berteriak.
Calysta tak menanggapi. Dia terus berjalan membelakangi Ravin sambil mengacungkan jari tengahnya membuat Ravin tergelak.
Ravin rindu dengan tingkah adiknya, mereka sudah lama tak bertemu. Sekitar satu tahun karena Calysta sekolah di luar negeri. Usia gadis itu sudah tujuh belas tahun tapi kadang tingkahnya seperti anak-anak.
Ravin lekas pergi ke kamar untuk mandi dan beristirahat. Keesokan harinya dia bersiap untuk menjemput Sherin. Pagi-pagi sekali sudah rapi membuat Calysta menatap curiga.
“Pagi-pagi gini sudah rapi mau kemana, Kak?” tanya Calysta. Anak itu membandingkan dirinya dengan Ravin yang berbeda jauh.
Kalau Ravin sudah rapi maka Calysta masih berantakan. Dia baru bangun dan masih memakai piyama, celana pendek. Rambutnya di kuncir asal bahkan sepertinya belum cuci muka juga.
“Tadi malam Kakak sudah bilang mau ke pantai, kamu nggak mau ikut?”
“Hah? Aku lupa,” Calysta menepuk keningnya, sedetik kemudian dia ngacir masuk kamar. Ingin bersiap takut di tinggal Ravin.
Setelah sarapan, Ravin dan adiknya segera pergi untuk menjemput Sherin. Terlihat Calysta begitu antusias. Katanya kangen jalan-jalan di kampung halaman. Setibanya di rumah nenek Linda, Ravin dan Calysta masuk bersamaan.
__ADS_1
Ravin baru menyadari kalau ada mobil lain di halaman, begitu masuk di meja makan ternyata ada ayah, ibu dan kakak tiri Sherin sedang sarapan bersama. Tapi, terlihat raut wajah masam di wajah Sherin.