
Grisel tak menyangka hubungannya dengan Rainer semakin tidak karuan. Harusnya dia merasa bahagia karena sebentar lagi akan melahirkan anak dari Rainer. Pria yang sangat Grisel cintai.
Saat terbangun di malam hari karena tangisan bayi, maka Rainer yang akan memenangkan. Menggendong dan memandikan bayi mereka. Menyanyikan lagu tidur sampai sang anak terlelap, kemudian memeluk dirinya ketika waktunya tidur.
Mencium kening di pagi hari, membawanya jalan-jalan agar tak bosan karena selalu di rumah. Ketika pagi kerja, maka sebelum matahari terbenam Rainer sudah pulang. Grisel bisa menyambut Rainer di depan pintu sembari membantu membawa tas kerja.
Ah, itu hanya angan-angan Grisel saja. Pikirannya sudah terlalu jauh, sangat banyak berharap padahal sudah jelas tak akan terwujud. Setiap hari bukannya semakin mesra malahan semakin tak jelas.
Sekarang yang Grisel inginkan hanya bercerai dengan Rainer. Ya, setelah melahirkan nanti dia akan meminta cerai. Biarlah dia mengurus anak mereka sendiri, tanpa Rainer Grisel tidak akan mati.
Seperti malam ini, sudah berulang kali Grisel mencoba menahan Rainer supaya tak pergi. Namun, suaminya itu sangat keras kepala.
“Rai! Bisa nggak, sih, kamu dengerin omongan aku sekali saja?!” bentak Grisel.
Rainer tetap bersikukuh. Pria itu tak mempedulikan ocehan istrinya dan terus memakai pakaian hingga lengkap. Mulai dari kemeja, jas dan dasi. Padahal sekarang malam hari, namun Rainer sangat rapi.
“Rai! Kamu kenapa sih? Kenapa nggak mau dengerin omongan aku?” Grisel berdiri di samping Rainer yang tengah memakai jam tangan.
Pria itu menoleh sekilas laku berpaling. “Buat apa? Kamu tak berhak mengatur hidupku,” cetusnya dengan dingin.
Grisel mengepalkan tangan. Dia mengeratkan giginya hingga terdengar suara. “Tapi aku istrimu!” tekan Grisel.
“Hanya istri 'kan? Tugasmu hanya melayani ku dan patuh padaku. Sudah. Gampang, tak usah kamu buang tenaga hanya untuk mengomel.”
Grisel mematung, kini ia tak dapat berkata apa-apa. Setelah siap, ia melihat Rainer mulai berjalan pergi. Sekali lagi Grisel mencoba menghalangi suaminya.
“Tapi perasaan aku nggak enak. Please! Aku mohon, malam ini kamu tetap di sini. Aku punya firasat bakal terjadi sesuatu sama kamu ... ”
Grisel sampai mengatupkan kedua tangannya, memohon. Sambil menahan air mata yang hendak keluar. Situasi ini sangat sulit untuk Grisel. Firasatnya mengatakan, Rainer tak boleh pergi. Seperti akan terjadi sesuatu malam ini. Namun, Rainer sepertinya tak mau mendengarkan.
“Memang apa yang akan terjadi padaku?” sinis Rainer.
Tanpa kata lagi pria itu melangkah pergi, Grisel hanya bisa terduduk lemas dengan menahan perut yang sudah buncit. Ia tak bisa lagi menahan suaminya yang entah akan pergi ke mana.
“Aku cuma berharap firasat ku salah ... ” gumam Grisel lirih, air mata yang di tahan tak mampu lagi untuk tidak mengalir.
Setelah puas menangis, Grisel bangkit dari lantai yang dingin. Sekarang perutnya lapar. Grisel mengelus perut buncit yang mengandung bayi perempuan. Ia tersenyum getir memandang perutnya sendiri.
__ADS_1
“Ternyata hidupku semakin menyedihkan.”
“Mendingan kita makan ya, Sayang. Jangan sedih terus, capek juga nangis tapi nggak ada guna. Mendingan kita makan yang banyak sampai kenyang.” Grisel terus bicara.
Terasa tendangan dari bayinya dan membuat Grisel sedikit tertawa. Setelah itu Grisel mulai memasak, tentu untuk dirinya sendiri. Pasti Rainer kalau pulang tidak akan menyentuh masakannya. Namun, ketika hendak mengambil air minum, Grisel tanpa sengaja menjatuhkan gelas hingga membuatnya terkejut.
“Ck! Aku ini kenapa, sih? Padahal udah hati-hati tapi masih aja jatuh.”
Grisel mengambil sapu dan membersihkan pecahan gelas. Setelah semua beres, Grisel menuju kamar dan merebahkan dirinya. Niatnya ingin pergi tidur, tapi entah kenapa matanya tak juga terpejam.
Semakin lama perasaan Grisel semakin tidak tenang. Tiba-tiba muncul Rainer dalam pikirannya, Grisel kembali bangkit dan mengatur napasnya yang memburu tanpa alasan yang jelas.
“Kenapa perasaan aku semakin nggak enak?” gumam Grisel.
Dengan tangan gemetaran dia mencoba menghubungi Rainer, namun nomor pria itu sedang sibuk. Tiga kali mencoba tapi tak membuahkan hasil. Akhirnya Grisel memilih untuk tidur.
Mencoba memejamkan mata walaupun sulit. Hingga pukul dua pagi Grisel tak juga bisa tidur. Pikirannya terus tertuju pada Rainer. Suaminya belum juga pulang, padahal biasanya pukul dua belas sudah ada di rumah.
Namun, perlahan kelopak matanya mulai terasa berat dan tertutup. Hingga suara alarm kembali membangunkan Grisel. Wanita itu melihat jam, ternyata sudah jam lima pagi. Menoleh ke samping, namun Rainer belum juga kembali.
Belum bangkit dari ranjang, ponsel di atas nakas berdering. Grisel tahu nomor ini. Milik Rainer dan membuat Grisel tersenyum. Namun, terdengar suara seorang wanita di sana.
“Mohon maaf, ini dengan ibu Grisel. Apakah benar?”
“Iya, dengan saya sendiri. Anda siapa?”
“Kami dari rumah sakit XX ingin mengabarkan bahwa bapak Rainer, selaku pemilik ponsel sedang berada di rumah sakit setelah mengalami kecelakaan.”
Deg.
Grisel mematung, ponsel terjatuh dan air mata mengalir tanpa di suruh.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Grisel setelah menetralkan perasaan yang membuat tubuhnya gemetar.
“Sedang di periksa—”
“Kalau gitu saya ke sana sekarang.” Grisel memotong ucapan wanita di telepon.
__ADS_1
Grisel langsung bangkit dan bersiap. Dia hanya gosok gigi dan cuci muka. Memakai pakaian tebal dan memesan taksi online. Perasaan Grisel semakin tidak karuan. Firasat buruknya benar-benar terjadi.
Sesampainya di rumah sakit, Grisel langsung mencari di mana tempat Rainer di rawat. Ternyata masih di ruang operasi. Ada pihak kepolisian juga di sana yang kemudian menanyakan tentang identitasnya. Grisel menggenggam tangannya yang terasa dingin.
“Sebenarnya suami saya kenapa, Pak?”
“Pak Rainer mengalami kecelakaan, di duga berkendara dengan kecepatan tinggi dan keadaannya sedang mabuk, hingga tidak melihat bahwa di depannya ada sebuah mobil truk yang juga melaju dengan kecepatan tinggi. Mobilnya terpental dan kembali menabrak pagar pembatas jalan.”
“Kejadiannya terjadi setengah jam sebelum dia di bawa ke sini.”
Grisel semakin gemetar mendengar penjelasan polisi. Tak lama setelah itu dokter keluar, membuka masker dan membuangnya ke tempat sampah.
“Gimana keadaan suami saya, Dok?” tanya Grisel pada dokter pria paruh baya.
“Mohon maaf, pasien tidak bisa di selamatkan. Dia terlambat di bawa ke rumah sakit hingga kehilangan banyak darah. Kepalanya terbentur sangat keras hingga melukai tengkorak.”
“Dan Juga keadaan pasien saat itu sudah sangat kritis. Walaupun bisa di sembuhkan kalau tidak terlambat di bawa kemari, kemungkinan akan mengalami koma dan sulit untuk bangun. Kami sudah berusaha. Ikhlaskan beliau, ya?” Dokter itu menepuk pundak Grisel beberapa kali.
Grisel tak tahu lagi harus bagaimana. Ia hanya bisa terduduk di lantai dengan air mata yang mengalir. Tangannya menutup wajah. Menangis tanpa suara sehingga hanya Grisel yang bisa mendengar isak tangisnya.
Kini semuanya telah pergi, meninggalkan dirinya dalam kesendirian. Hidupnya kembali sepi. Padahal harusnya mereka bahagia karena anak mereka akan segera lahir. Tapi, seakan takdir tidak menyetujuinya.
“Sudah ku bilang jangan pergi, tapi kamu tetap pergi! Dasar keras kepala!” Grisel memukul lututnya sendiri.
Ia memang mulai membenci Rainer, tapi bagaimanapun juga Rainer adalah ayah dari bayi yang dia kandung. Juga dulu pria yang sangat dia cintai. Tapi, sekarang sudah pergi.
Cukup lama terduduk, ketika hendak bangun Grisel merasakan mulas di perut. Sensasi yang luar biasa hingga Grisel tak mampu berdiri. Rasa sakit yang kian bertambah seakan membuat tulangnya hampir patah.
“Tolong ... ” Grisel memohon pada siapa saja yang lewat.
Sampai seorang suster melihatnya yang langsung panik, kemudian memanggil petugas medis yang lain. Grisel di bantu masuk ke dalam ruangan dan ternyata ketubannya sudah pecah.
Malam itu, Grisel melahirkan seorang bayi perempuan. Lebih cepat dari perkiraan. Bayi perempuan mungil yang sekarang sudah jadi yatim. Kelahirannya bertepatan dengan ayahnya meninggal dunia.
Grisel memandang bayinya sendu juga terharu. Kejadian pagi ini cukup menguras tenaga. Sekarang, bayi di dekapannya tengah tertidur pulas setelah di bersihkan.
“Mama nggak tahu lagi harus ngomong apa. Mama juga bingung harus sedih atau senang. Hanya saja, Mama ingin mengucapkan selamat datang untukmu, putriku, Rashel.” Grisel mengecup kening putrinya.
__ADS_1