
“Bangun!!” bentak Iriana.
Mengguncang tubuh Rainer yang lemas, pria itu tak memakai baju juga resleting celananya terbuka. Membuat Iriana mempercayai bahwa wanita itu dan Rainer telah melakukan hubungan 'itu'.
Saking kuatnya Iriana mengguncang tubuh Rainer, pria itu terperanjat dan langsung terbangun dengan bingung.
“Iriana?” Rainer terkejut, kemudian matanya berkeliling mencari seseorang.
“Mencari siapa? Jala** yang telah melayanimu?” Iriana melotot ke arah Rainer.
“Apa maksudnya?” tanya Rainer tak mengerti, sekaligus gugup. Bagaimana jika Iriana tahu bahwa dia memang mempunyai wanita lain? Apalagi Grisel sedang hamil.
“Jangan pura-pura tidak tahu! Sudah ketahuan selingkuh masih berani berbohong. Pokoknya aku mau pertunangan kita di percepat! Atau kita langsung menikah saja!”
Rainer mematung, dia baru saja bangun tidur dan belum memahami situasi. Kenapa tiba-tiba Iriana minta pertunangan di percepat?
Rainer menggeleng. “Kenapa buat keputusan sendiri? Aku tetap tidak ingin bertunangan sekarang!!”
“Kamu tak punya hak menolak! Aku sudah membuat keputusan, kita akan bertunangan. Setelah Sherin menikah kita juga menikah! Sudah! Aku mau pulang, kamu jangan lupa mandi agar tubuhmu bersih. Aku tak mau ada aroma Jalan* di tubuhmu.”
Saat itu juga Iriana pergi meninggalkan Rainer yang masih kebingungan. “ARGHH!!!” Rainer mengacak rambutnya, kenapa tiba-tiba begini?
Ia menatap sekeliling, tak ada siapapun di sini. Rainer pun baru sadar kalau pakaiannya sudah terlepas, resleting celana juga. Yang Rainer ingat dia bersama Grisel sedang duduk di ranjang lalu tiba-tiba Rainer merasa ngantuk.
Ketika membuka mata, yang Rainer lihat hanya Iriana yang sedang marah-marah tanpa Grisel. Masih berada dalam kebingungan, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan terlihat Grisel di sana.
“Dari mana kamu?” tanya Rainer.
“Ah, Rai? Kamu sudah bangun? Aku tadi habis pergi ke toko buah di dekat supermarket depan. Tadinya mau minta tolong kamu tapi aku nggak tega bangunin kamu. Kamu nyenyak banget tidurnya,” Grisel menunjukkan kantong kresek yang di bawanya.
Benar, Grisel membawa sebuah mangga, kini Rainer semakin bingung. “Oh ya, kenapa kamu buka baju?” Grisel mendekati Rainer.
“Bukan kamu yang membuka bajuku?” Rainer balik bertanya.
__ADS_1
“Kapan aku buka baju kamu? Aku baru pergi setengah jam dan memangnya buat apa aku buka baju kamu? Kalau mau berhubungan kan kamu harus bangun dulu.”
Semakin bingung lah Rainer. “Apa kamu tidak lihat ada Iriana?”
Wajah Grisel berubah masam. “Iriana ke sini?”
“Iya.”
“Itu sebabnya kamu buka baju?” tuduh Grisel.
Rainer menggeleng cepat, kemudian mengusap wajahnya kasar. “Iya, dia datang tapi aku juga terkejut. Tiba-tiba dia menuduhku berselingkuh—”
“Kamu 'kan memang berselingkuh,” potong Grisel cepat. Rainer bungkam, benar apa kata Grisel.
“Lalu dia meminta pertunangan di percepat,” Rainer mengembuskan napas berat, sementara Grisel menjatuhkan kantong kresek yang di bawanya.
Grisel mematung. “Apa katamu? Mempercepat pertunangan? Lalu apa kamu setuju?”
Grisel menunduk, mengambil kantong kresek yang jatuh. Air matanya pun ikut jatuh, kehamilan ini membuat Grisel bertambah cengeng. Padahal dulu dia bisa memendam semuanya sendiri tapi sekarang tidak sama sekali. Sedih sedikit langsung menangis, Grisel tak suka keadaan begini.
“Jadi ... kapan rencana pertunangannya?”
“Satu minggu lagi.”
Bagai tersambar petir disiang bolong, Grisel mematung di tempat. Apakah ini rencana Sherin? Membuat Iriana marah sehingga mempercepat pertunangan Rainer dan Iriana?
Sherin tak bilang apa-apa pada Grisel. Hanya meminta Grisel untuk melakukan ini dan itu. Tujuan Sherin sebenarnya belum dia ketahui sama sekali. Air mata mengalir lebih deras, Grisel sesenggukan sementara Rainer terkejut dan langsung memeluk Grisel.
“Kenapa tidak di tolak? Aku tidak mau kalian menikah! Aku maunya kamu menikahi ku ... ” Grisel terisak.
Inilah yang membuat Rainer kebingungan. Dia terus memeluk Grisel dan menenangkan tanpa memberikan jawaban yang pasti untuk Grisel. Tak tahukah bahwa hati Grisel sangat sakit? Rasanya perih seperti di sayat oleh ribuan pisau.
***
__ADS_1
“Apa ini rencana kamu?”
“Iya,” jawab Sherin di ujung sana.
Grisel menyeka air matanya, lalu menoleh ke arah Rainer yang kini tengah tertidur lelap. Demi apapun Grisel sangat mencintai Rainer, bahkan dia rela menjadi yang ke-dua. Menjadi simpanan yang statusnya sangat rendah, bahkan kini Grisel tengah mengandung anak Rainer.
“Katanya kamu mau membantuku? Membuat aku menikah dengan Rainer tapi kenapa malah membuat Iriana mempercepat pertunangan?”
Sherin menghela napas. “Kamu tenang saja, rencanaku berjalan lancar dan kamu tidak akan kehilangan Rainer. Kamu hanya perlu mendengarkan apa kataku, jangan bertindak sembarangan dan malah membuat rencana yang sudah ku susun dengan baik hancur berantakan.”
“Apa aku harus mempercayai mu?” Grisel ragu.
“Kalau kamu tidak mau percaya juga tidak papa, tapi kamu harus merelakan Rainer yang akan bertunangan dengan Iriana. Apa kamu mau melihat mereka tunangan?”
Grisel menelan ludah, ia menggeleng meski Sherin tak dapat melihat. Ia tak bisa mundur lagi, kalaupun tidak mendengarkan Sherin maka sudah pasti Iriana dan Rainer akan bertunangan. Sedangkan Grisel tidak ingin hal itu terjadi.
Kini dia serakah, menginginkan Rainer sepenuhnya. Ingin membuat Iriana menjauhi Rainer, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya. Apalagi dia sedang hamil, dia butuh Rainer agar kelak status anaknya jelas.
“Jangan sampai gagal ... ” Grisel memohon.
“Hanya kalau kamu tak membuat ulah maka semuanya akan berjalan lancar. Tidak perlu khawatir, aku tidak seceroboh itu,” sinis Sherin. Grisel mengembuskan napas panjang, kini Grisel hanya bisa mempercayai Sherin.
Usai ber-teleponan, Grisel membaringkan tubuhnya. Memandangi wajah Rainer yang sangat tenang. Tak lama Grisel ikut memejamkan mata, mengistirahatkan pikiran yang sudah lelah.
Di tempat lain, Sherin sudah berada di rumah nenek Linda. Ada Ravin dan Hugo, mereka sedang mengobrol di ruang tamu.
“Jadi, setelah ini aku harus melakukan apa?” tanya Hugo.
“Kamu hanya perlu mengikuti Grisel dan setiap kegiatannya bersama Rainer tinggal di foto lalu kirimkan ke aku. Satu minggu lagi aku akan menghadiri pertunangan kakak tiriku dan memberinya hadiah yang tidak akan bisa di lupakan,” Sherin tersenyum, di mata Hugo itu sangat mengerikan.
Dan benar saja, beberapa hari berikutnya Hugo selalu mengikuti kemana Grisel pergi. Seperti di sengaja, setiap Grisel pergi keluar pasti selalu bersama dengan Rainer.
Hugo menebak, Sherin yang menyuruh Grisel agar membuat Rainer terus sibuk dengan Grisel. Menghabiskan setiap waktu bersama Grisel, menuruti kemauan Grisel, dengan alasan 'ngidam'.
__ADS_1
Rainer hanya bisa pasrah, terkadang melupakan panggilan telepon dari Iriana, terus sibuk dengan Grisel padahal hari pertunangan sudah dekat. Hal itu membuat Iriana uring-uringan, dia mondar-mandir di ruang kerja Ishana.
Sedang mencoba menghubungi sang kekasih tapi selalu tidak aktif. Pikiran buruk terus menghantui. Kemana Rainer? Kenapa teleponnya selalu tidak aktif? Apa Rainer kembali bermain dengan wanita lain? Rainer selingkuh?!