
Satu hari sebelum pertunangan tiba, barulah Rainer mempunyai waktu. Pria itu menerima panggilan telepon dari calon tunangannya, menuruti Iriana yang menyuruhnya untuk datang ke rumah.
“Kamu gimana, sih?! Satu minggu ini kemana saja? Mau tunangan tapi tidak membantu apa-apa,” protes Iriana.
“Aku sibuk,” jawab Rainer.
“Sibuk? Seberapa sibuknya kamu sampai acara penting kayak gini kamu nggak ikut andil?”
“Aku menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk supaya besok malam acaranya tidak tertunda!”
Mendengar itu Iriana bungkam, meski kesal ia tak bisa berbuat apa-apa. Beruntungnya semua sudah beres. Dengan uang semua bisa terlaksana, hanya tinggal menunggu besok malam.
Hingga tibalah waktunya, waktu yang paling di tunggu Iriana. Meskipun bukan pernikahan tapi dengan pertunangan dia bisa mengikat Rainer. Tak banyak tamu yang di undang, hanya teman-teman sosialita dan kolega bisnis ayahnya.
Tapi ada tamu yang paling Iriana sesali telah datang, yaitu Sherin. Datang bersama Ravin dan membuat orang-orang mengalihkan perhatiannya pada dua pasangan itu. Bagaimana tidak? Mereka tampak sangat serasi dengan pakaian couple.
Sherin tampak melambai padanya, tersenyum manis tapi menyebalkan di mata Iriana. “Semoga langgeng! Dengan do'a yang tulus aku berharap acaranya lancar ... ” teriak Sherin.
Membuat orang-orang memusatkan perhatian mereka pada adik kakak itu. Dengan terpaksa Iriana tersenyum karena ada banyak orang di sini. Ia balas lambaian dengan kaku.
“Siapa yang mengundang mereka?” decak Iriana, geram.
“Kau lupa dia adikmu? Bukankah aneh jika dia tidak datang?” kata Rainer, rupanya mendengar decakan Iriana tadi.
“Harusnya kan tidak perlu datang! Bikin malu saja, lagian aku tidak sudi punya adik sepertinya.”
Suara MC kembali mengalihkan perhatian orang-orang, acara di mulai dengan pembukaan lalu penyambutan. Hingga acara yang paling di tunggu Iriana tiba, pemasangan cincin pertunangan. Semua orang bertepuk tangan.
Semua itu tak lepas dari pandangan Sherin, dari sekian banyak tamu hanya dia dan Ravin yang tidak bertepuk tangan. Mereka akan bertepuk tangan saat tiba waktunya, tapi bukan sekarang.
“Walaupun acaranya akan bubar, tapi sayang kalau makanan di sini tidak di makan,” Sherin mengambil sepiring kecil cake.
Dia menyendok dan melahapnya, matanya ikut terpejam saat gigi mengunyah makanan manis nan lembut itu. Lelehan cream dan strobery menjadi pelengkap hidangan ini.
“Jangan banyak-banyak,” ucap Ravin, tangan pria itu terulur menghapus noda putih di bibir Sherin.
Sherin terkejut, ia mengangkat kepalanya dan kemudian mengangguk. “Mungkin ini memang sangat enak tapi aku tidak akan lupa kalau harus menjaga berat badan. Cintaku pada cake tidak sebesar cintaku pada tubuhku.”
__ADS_1
Ravin mengedip beberapa kali, kemudian tertawa. “Lalu bagaimana dengan cintamu padaku?”
Sherin diam, kembali mengunyah lalu telan. “Jangan tanyakan lagi, kamu bandingkan saja dengan lautan di dunia ini. Cintaku bahkan lebih luas dari lautan yang mengelilingi bumi. Seluas itu cintaku jadi jangan coba-coba kamu sia-siakan.”
Bukan apa-apa, Sherin sudah gagal satu kali jadi dia tak mau ada yang kedua kali. Janjinya pada diri sendiri kini hanya ingin mempertahankan Ravin. Menyingkirkan semua yang menjadi penghalang untuk mereka berdua bersama.
Ravin menahan senyum, kemudian mengusap kepala Sherin membuat perempuan itu mengerucut. “Kamu tahu berapa banyak waktu yang aku habiskan untuk membuat rambut ini indah?” tanyanya kesal.
Ravin menggeleng dengan bahu terangkat. “Kamu tidak perlu marah, lagian aku yang membayar MUA dan kamu hanya menikmati hasilnya. Tidak perlu susah-susah mengeluarkan uang satu peserpun.”
Sherin tertawa, setelah cake di piring habis ia ambil segelas juice dari atas meja dan meneguknya hingga habis. Kemudian melirik arloji di pergelangan tangan, bibirnya tersenyum melihat waktu yang di tunggu telah tiba.
“Saatnya drama di mulai ... ” Sherin menatap pintu masuk, acara ini di adakan di rumah Arvin. Hanya orang-orang yang mendapat undangan yang boleh masuk kecuali keluarga sendiri.
Tapi, dua satpam yang berjaga tak mampu mencegah kedatangan orang yang akan membuat keributan. Saat Iriana dan Rainer resmi bertunangan, saat itu juga kegaduhan di luar rumah terdengar.
Semua orang terkejut, tak terkecuali Iriana dan Rainer.
“Biarkan saya masuk! Saya harus membatalkan pertunangan mereka!!” teriak orang yang tengah berusaha masuk ke dalam rumah yang sedang ada acara.
“Maaf! Anda di larang masuk, Anda juga tidak seharusnya membuat keributan di sini. Teriakan Anda bisa mengganggu orang-orang penting di dalam.”
“Grisel?”
Iriana menoleh, menatap tajam Rainer. “Kamu kenal?”
Rainer gelagapan. “Tidak, aku tidak kenal.”
“RAINER!!” teriak Grisel, membuat suasana jadi tegang.
Orang-orang yang hadir sebagai tamu ingin melihat akan ada drama apa di sini. Sementara Rainer sudah pucat pasi. Lain halnya dengan Sherin yang tersenyum puas. Sambil menikmati buah apel, Sherin menonton pertunjukan dari arah yang cukup jauh.
Iriana maju, mendekati Grisel dengan wajah merah padam. “Siapa kamu berani masuk ke sini?!”
Iriana mengamati Grisel, sepertinya dia kenal dengan wajah itu. Tapi lupa dimana.
“Saya ingin meminta pertanggung-jawaban, sekaligus saya ingin pertunangan ini di batalkan!!”
__ADS_1
“Lancang!! Siapa kamu sampai punya hak berkata begitu?” Iriana mengepalkan tangan.
“Saya kekasih Rainer, saya ingin kalian tidak melanjutkan pertunangan ini. Saya ingin Rainer bertanggung jawab dan menikahi saya!”
Mata Iriana nyalang menatap Grisel. “Dia tunangan saya! Kamu tak punya hak memintanya menikahi kamu!”
Seminggu yang lalu bukan wanita ini yang ada di apartemen Rainer, apa pikiran buruknya selama ini memang benar? Rainer selingkuh darinya? Bahkan dia sudah bertemu dua wanita yang memperebutkan Rainer.
“Saya hanya ingin Rainer menikahi saya karena saya sedang hamil.”
Suasana ruangan tiba-tiba hening, Rainer dengan kedua bola mata membulat. Tak menyangka Grisel akan berkata begitu. Lalu Iriana yang merasa guntur sedang menyambar tubuhnya lalu Sherin yang hampir meledakkan tawa.
Para tamu jadi bertanya-tanya, mengenai siapa Grisel dan berbagai pertanyaan itu membuat kepala Iriana berdenyut. Seluruh keluarga Arvin nampak sangat terkejut, mungkin sebentar berita ini akan tersebar ke berbagai media. Membuat keluarga mereka malu, tapi Sherin tak peduli.
Bahkan kakek Haris dan nenek Linda tidak menghentikan hal itu.
Semuanya jadi kacau, Iriana terus menyumpahi Grisel dan Rainer. Tak menyangka dia akan di khianati begini. Tapi, ia juga tak akan terima begitu saja, mungkin itu hanya akal-akalan Grisel agar mereka tak bertunangan.
“JALA**” Iriana menampar Grisel, meninggalkan bekas kemerahan di sana.
Rainer segera menghampiri mereka berdua menarik Grisel ke belakang tubuhnya dan membuat Iriana bertambah marah. “Apa maksudnya ini?!” bentak Iriana.
Rainer balik menenangkan Iriana, wanita itu menghempaskan tangan Rainer. Dia melotot ke arah Rainer dan Grisel secara bergantian.
“Iriana, kamu jangan salah paham—”
Grisel memotong cepat. “Rai— Aku hamil dan kamu malah bertunangan dengan dia?” tangis Grisel pecah, jarinya menunjuk Iriana.
Rainer ingin marah dengan Grisel tapi sendirinya juga bingung harus bagaimana. Jika hal ini sampai menyebar keluar maka pekerjaannya dalam bahaya.
Hingga semua orang kembali di kejutkan oleh sebuah layar yang tiba-tiba menayangkan sebuah video tapi berisikan foto. Rainer berduaan dengan wanita lain yang bukan Iriana. Semua itu membuat Iriana semakin marah, hatinya sakit juga tak percaya.
“Jadi ini kerjaanmu selama ini?! Selingkuh dariku?!!”
Terjadi perdebatan hebat, antara Grisel dan Iriana, Rainer lebih membela Grisel meski rasanya ingin marah dengan wanita itu. Bisa-bisanya mengacaukan acara penting seperti ini.
Sherin tersenyum puas di sebuah tempat. Lalu maju sedikit, orang-orang yang berkumpul memberikan jalan agar Sherin bisa masuk dan menonton lebih jelas. Lebih dekat dengan orang-orang yang sedang melakukan drama.
__ADS_1
“Katanya cinta? Tapi kok mendua?”