Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 60


__ADS_3

“Supir ku sudah datang, aku duluan.” Sherin membereskan barang-barang, ada tas dan ponsel.


“Hmm ... ” sahut Anika, melirik Sherin sekilas lalu ke arah pria yang baru saja datang sedang menuju arah mereka.


“Sudah selesai?” tanya Pria itu, keduanya mengangguk kemudian Sherin bangkit dari posisinya.


“Sudah! Aku lapar dan mau makan berdua sama kamu,” kata Sherin.


“Tidak bisa, kakek Hari menyuruh kita agar cepat pulang. Mereka sudah menunggu untuk makan malam,” Rajin menarik tangan Sherin hingga tubuh Sherin membentur dadanya lalu mencium dahi Sherin.


Anika memutar bola matanya, kesal. “Mohon ingat tempat, dan apa kalian lupa kalau Sherin sekarang sudah jadi artis? Jangan sampai ada paparazi yang memotret kalian berdua. Kalau mau bermesraan lebih baik di hotel saja, pergi sana!”


Anika mengibaskan tangan, menyuruh Ravin dan Sherin pergi dari hadapannya. Wanita itu masih duduk di kursi meja makan sebuah restoran. Sambil bermain ponsel tanpa ingin melihat Ravin dan Sherin.


“Ck! Kamu juga jangan lupa kalau di sini ruang VIP, tak sembarangan orang bisa masuk,” decak Ravin.


Pria itu langsung mengajak tunangannya pergi, Sherin memakai topi dan masker hitam. Menghindari fans dan paparazi nakal. Setelah sampai ke dalam mobil, Sherin dan Ravin lekas memasang sabuk pengaman.


Sherin melepas masker dan topinya. “Kapan kakek menyuruh kita pulang cepat?”


“Tadi, sebelum aku ke sini. Beliau menelepon ku.” Ravin menyalakan mesin, mulai melaju meninggalkan restoran tempat Sherin dan Anika menemui orang yang akan bekerjasama dengan Star entertainment.


Janji pertemuan mereka hanya dua jam tapi ini malah lebih dari tiga jam. Harusnya sebelum malam sudah pulang tapi di undur setengah jam, Sherin sampai merasa lelah. Ia bahkan sampai tertidur di dalam mobil.


Ketika mobil mulai memasuki halaman, Ravin memarkirkan mobil di garasi rumah kakek Haris. Pria itu melihat sekeliling, ada lebih dari tiga mobil di sini. Salah satunya sangat Ravin kenali.


“Apa Mamah dan Papah juga di sini?” gumamnya.


Ravin melepas sabuk pengaman, kemudian menoleh ke arah Sherin, Ravin tersenyum melihat Sherin tertidur. Rupanya sang tunangan kelelahan.


“Sherin ... ” Ravin menepuk pipi Sherin.


Beberapa kali baru berhasil membuat wanita itu bangun. Sherin menggeliat, merentangkan kedua tangannya. Ia tak sadar ada Ravin di sana, posisi Sherin membuat Rsvin menahan napas.


“Sayang ... ” panggil Ravin membuat Sherin terperanjat.


“Ravin?” Sherin terbata, kemudian tersadar. Ia memalingkan pandangan.

__ADS_1


“Maaf,” ucapnya lalu segera turun dari mobil.


Ravin mengikuti Sherin yang sudah berjalan lebih dulu, mereka masuk bersama. Kata pelayan Sherin dan Ravin sudah di tunggu di meja makan. Akhirnya mereka segera menuju ke sana.


Sherin lihat ada banyak orang, selain calon mertuanya juga ada ayahnya beserta saudara tirinya. Iriana menatap kesal ke arah Sherin.


“Lihat! Mereka tidak merasa bersalah sama sekali sudah membuat kita menunggu lama, cih!” decih Iriana.


Sherin dengan santainya angkat bahu lalu duduk di tempat yang kosong. Di ikuti Ravin, mereka duduk bersebelahan.


“Aku tadi sibuk.”


Iriana mendnegus. “Ada apa, Kek? Kenapa ramai orang?” tanya Sherin.


Kakek menghela napas, lalu melipat tangan di atas meja. Kakek Haris menatap orang-orang yang ada di sana dengan serius.


“Kalian tidak lupa kan kalau besok adalah hari peringatan kematian anak pertamaku dan menantuku, ibunya Sherin. Aku ingin kita semua pergi ke makam mereka.”


Semuanya diam, tak lama setelah itu Arvin menggeleng tanda tak setuju. “Maaf, Pa. Aku bukannya tidak mau, tapi aku tidak ada waktu,” ucap pria itu.


Iriana ikut menggeleng. “Aku sibuk! Beberapa hari lagi aku akan mengadakan konser untuk album baruku.”


“Terserah kalian! Memangnya selama ini aku meminta kalian, apa pernah kalian menurut? Sekarang aku punya besan, aku malah lebih kecewa jika mereka tak ikut,” timpal kakek Haris.


“Tentu kami akan ikut, ibunya Sherin adalah sahabat kami dulu. Sudah lama kita tidak bertemu walaupun dia sudah tiada. Selama ini kami hanya tahu bahwa dia sudah meninggal tapi tidak tahu dimana pemakamannya,” ujar Dina.


Sementara Sherin malah mengerutkan dahi. “Aneh, kenapa Arvin tidak mau menghadiri peringatan kematian istrinya sendiri?”


...⚫⚫⚫...


Setelah puas menangis di samping ibunya yang terbaring lemah, entah akan kembali sadar atau tidak, Grisel merasa lebih lega. Perasaannya lebih enteng di banding saat dia menangis sendirian di kosan.


Hari sudah malam dan dia belum makan. Memangnya ingin makan apa? Rasanya malah mual jika mencium bau-bau makanan walaupun tidak basi. Grisel jadi bingung sendiri.


Akhirnya wanita itu memilih pamit dan pergi dari rumah sakit. Sudah minta izin dengan ibunya walaupun tidak akan di dengar. Sepanjang jalan Grisel menghela napas panjang.


Ia pergi bukan ke kosan melainkan ke apartemen Rainer, ada hal penting yang ingin di bicarakan. Sesampainya di sana, Rainer menyambut dengan senang hati.

__ADS_1


“Sayang, apa kamu sudah sembuh?” tanya Rainer setelah Grisel masuk ke dalam apartemen.


Grisel hanya mengangguk. Ia duduk di sofa sementara Rainer menyusul di sampingnya. Sejenak pria itu terpaku. “Sayang, apa kamu habis menangis?”


Rainer mengusap kedua mata Grisel yang bengkak, wanita itu langsung menepis membuat Rainer tertegun. Tak biasanya Grisel menolak untuk dia sentuh.


“Ada apa?”


Grisel menarik napas panjang sebelum tangisnya kembali pecah. Dia tatap Rainer dalam, sekali lagi mencoba untuk tidak menangis.


“Aku mau tanya sesuatu—” Grisel menjeda. “Jika kita punya anak bagaimana?”


Rainer tertegun. “Tentu aku senang, tapi tidak untuk sekarang. aku masih harus mencari uang untuk menghidupi anak kita kan? Memangnya ada apa?”


Grisel sudah menduganya, saat ini Rainer tak ingin punya anak. Lalu dia harus bagaimana? Tapi, mengenai kehamilan ini Grisel harus memberitahu Rainer. Dia tak mau menanggung beban ini sendiri.


“Aku hamil,” ungkap Grisel.


Rainer mematung. Telinganya sepertinya salah dengar. “Ha— hamil? Maksudnya gimana?”


“Apa aku kurang jelas? Aku sedang hamil.”


Keringat dingin mengucur di dahi Rainer, terkejut? Sangat. Bagaimana bisa tidak terkejut? Selama berhubungan dia selalu menggunakan pengaman.


“Tidak mungkin! Selama ini aku selalu memakai pengaman, kamu juga sering minum pil kontrasepsi kan?” bantah Rainer, tak mengakui anak yang di kandung Grisel.


“Kamu lupa dengan dua bulan yang lalu? Kamu mabuk dan datang ke kosan ku lalu kita tidur bersama? Kamu tidak pakai pengaman, dan juga aku lupa minum pil-nya.”


Rainer tak bisa berkata-kata, dia lupa lupa tentang malam itu. Hanya ingat dia terbangun di kosan Grisel tanpa busana, di sampingnya ada Grisel tertidur sambil memeluk. Tidak berbusana juga, ia tak habis pikir kalau kejadian satu malam tanpa pengaman bisa menghasilkan anak.


“Kamu yakin itu anakku?” Rainer hampir kehilangan akal sehatnya.


Grisel tentu marah mendengar itu. “Apa maksud kamu?! Kamu meragukan anak kamu sendiri?! Ingat ini! Aku hanya pernah tidur dengan satu orang pria dan itu kamu! Tidak mungkin aku tidur denganmu lalu yang menjadi ayah bayiku ini tukang bubur di depan gang!!”


Rainer bungkam, menyadari kata-katanya sudah menyinggung Grisel. “Maaf, aku tidak bermaksud—”


“Kalau kamu memang tidak ingin mengakuinya juga tidak papa, dua minggu lagi dia sudah berusia dua bulan. Kamu bisa tes DNA,” teriak Grisel, cairan bening yang sejak di tahan sudah tak bisa tertahan lagi.

__ADS_1


Rainer merasa bersalah. Grisel tak mungkin bohong padanya. Ia peluk tubuh Grisel meskipun mendapat penolakan. Grisel terisak dan membuat Rainer ikut merasa sesak.


“Aku mau kita menikah.”


__ADS_2