Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 93


__ADS_3

Findy menanyakan keluhan yang dialami Sherin, setelah Sherin mengatakan semuanya, Findy mengulas senyum lalu menanyakan beberapa pertanyaan terkait datang bulan Sherin.


Sementara Sherin malah bingung. “Apa ada yang salah dengan datang bulanku?” tanyanya khawatir.


“Tidak ada yang salah. Aku hanya ingin memastikan sesuatu.”


“Apa?”


“Sepertinya kamu hamil.”


Satu kata yang membuat Sherin mematung. Hamil? Dia hamil? Dalam perutnya ada bayi Ravin?


Dengan tangan gemetar Sherin menatap Findy. “Ka— kamu tidak bohong 'kan?” tanya Sherin gugup.


“Aku belum bisa memastikan, itu hanya dugaanku sementara. Bagaimana kalau kita USG? Dengan begitu kita tahu apakah dugaanku benar atau salah,” ujar Findy.


Sherin mengangguk cepat, lalu Findy menyuruhnya berbaring dan mulai mengoleskan gel di perut Sherin. Lewat layar monitor, Findy menunjukkan sebuah titik yang mirip biji kacang di sana.


“Lihat itu! Dugaanku tidak salah. Kamu benar-benar hamil,” kata dokter Findy antusias.


Sherin masih belum benar-benar pulih dari keterkejutannya. Ia hanya menatap layar monitor tanpa mengeluarkan kata. Jadi dia benar hamil? Anak yang di tunggu Ravin dan Sherin sudah hadir?


Tanpa sadar air mata Sherin menetes. Findy yang melihat itu langsung mengusapnya dan menatap Sherin lembut.


“Selamat, ya? Akhirnya yang kalian tunggu hadir juga.”


“Sudah berapa bulan?” tanya Sherin.


“Hasil pemeriksaan ku dan catatan terakhir kamu datang bulan, usianya sudah delapan minggu. Di usia kandungan ini kamu tak boleh terlalu lelah, apalagi bepergian jauh menggunakan pesawat, kandunganmu masih lemah,” pesan Findy.


“Mm ... aku akan ingat pesanmu ini,” Sherin mengusap perutnya yang masih datar.


Tangannya masih gemeter, menahan perasaan bahagia yang sudah meluap-luap. Rasanya ia sudah tak sabar ingin memberi tahu Ravin.


“Andai saja Ravin datang bersamamu pasti dia akan langsung memeluk dan menciummu,” kelakar Findy diiringi tawa yang membuat Sherin terkekeh pelan.


Setelah semuanya selesai, Sherin pulang bersama sopir yang sudah menunggunya sejak tadi. Sepanjang perjalanan, senyum Sherin tak luntur sedikitpun. Pandangannya terus tertuju keluar jendela, melihat kendaraan yang melaju kencang membelah jalanan kota.


Padahal cuaca pagi menjelang siang itu mulai terik, tak lupa asap knalpot menemani perjalanan Sherin menuju rumah. Namun, meski begitu tak membuat Sherin merasa panas, tapi justru Sherin merasa berbunga-bunga seperti ada musim semi di Indonesia.


Sesampainya dirumah, Sherin disambut oleh Dina— yang sudah menunggunya dengan raut wajah khawatir. Sherin menebak pasti Ravin yang telah meneleponnya.


“Ma? Kapan kesininya?” tanya Sherin begitu keluar dari mobil.


Dina menghampirinya dan menatap Sherin intens. Dia balik bertanya. “Kamu nggak apa, Sayang?”


“Aku nggak apa, Ma ... ” ucap Sherin menenangkan. “Aku barusan pulang dari tempat dokter,” lanjutnya.


“Kenapa nggak kabarin Mama? Biar Mama temani kamu.”


“Aku tidak mau merepotkan Mama terus,” lirih Sherin.


Dina mengembusksn napas berat, dia usap wajah menantunya dan menatap Sherin lembut. “Mama tidak pernah merasa direpotkan. Oh ya, tadi dokter bilang apa?”

__ADS_1


Seketika Sherin ingat kalau dia belum memberi tahu Dina mengenai kehamilannya. pertama, Sherin mengajak Dina untuk masuk terlebih dahulu lalu mengambil minuman dari dapur.


Lalu Sherin duduk disebelah Dina dan menggenggam tangan mertuanya dengan erat. Setitik air mata lolos hingga membuat Dina terkejut sekaligus khawatir.


“Kenapa nangis? Apa kamu berantem sama Ravin?”


Sherin segera menggeleng, dia tersenyum seraya mengusap air matanya. “Aku bukan lagi nangis karena berantem sama Mas Ravin, tapi aku lagi bahagia, Ma.”


“Bahagia karena apa?”


“Aku akhirnya hamil, Ma.”


Dina mematung sesaat lalu menatap Sherin antusias. “Beneran? Udah berapa bulan?”


“Dua bulan.”


“Akhirnya Mama mau punya cucu. Pasti Ravin bahagia, biar Mama telepon sekarang, suruh dia pulang.”


Mendengar itu Sherin mencegahnya, membuat Dina mengernyit bingung. “Aku belum mau kasih tahu Mas Ravin.”


“Kenapa?” Dina menyimpan kembali ponselnya di atas meja.


“Aku mau kasih dia kejutan. Bukannya bulan depan kami akan merayakan Aniversary? Saat itu juga kami akan tukar kado, dan aku akan kasih hadiah 'ini' buat Mas Ravin,” ucap Sherin panjang lebar.


Dina menghela napas, ia mengusap sisa air mata di pipi Sherin lalu memeluk menantunya dengan erat. “Nggak sabar nunggu hari itu tiba,” ucapnya.


Jadilah hari itu Dina dan Sherin menyusun rencana untuk aniversary Sherin dan Ravin yang akan diadakan satu bulan kemudian. Sore harinya, tepat pukul lima sore, Ravin pulang.


“Mama belum pulang?” tanya Ravin seraya mencium kening Sherin.


Ravin tertegun sesaat lalu menggeleng. “Bukan gitu, biasanya jam tiga sudah pergi.”


“Menantu Mama lagi kurang sehat masa mau Mama tinggal?” oceh Dina.


Seketika Ravin tersadar kalau tadi pagi Sherin tak enak badan. Segera Ravin menatap Sherin khawatir. “Kamu udah kedokter? Apa kata dokter? Kamu sakit apa?”


Sherin menahan senyum. “Aku baik-baik saja, hanya butuh istirahat.”


Namun Ravin tak akan percaya begitu saja, bagaimana mungkin Sherin baik-baik saja kalau pagi berikutnya Sherin muntah-muntah seperti kemarin?


Ravin terus memaksa Sherin untuk periksa kembali tapi Sherin juga terus menolak. Setiap bangun tidur, Ravin selalu melihat istrinya terkulai lemas di kamar mandi. Kadang, saat tengah malam Sherin mengeluh lapar, jadilah Ravin merasa semakin khawatir.


“Sayang ... lebih baik aku panggilkan dokter saja, ya? Lusa kita mau ada acara tapi kondisi kamu nggak membaik.” Ravin menghampiri Sherin yang tengah bersandar di headboard.


Sherin lagi-lagi menggeleng. “Aku sudah sering bilang kalau aku nggak apa-apa.”


“Tapi kamu muntah terus tiap pagi. Belum lagi keinginan kamu aneh banget akhir-akhir ini. Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dari aku?” Ravin menatap curiga.


Sherin menelan ludahnya kasar. Lusa rencananya dan Dina akan dilaksanakan, bisa gagal kalau Ravin sudah tahu duluan. “Memangnya apa yang mau aku sembunyikan?”


“Siapa tahu kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Aku lihat juga kamu semangat makan sampai berat badanmu naik drastis, tapi kenapa kamu masih muntah-muntah?”


Sherin tersenyum kecut. Ravin semakin curiga. Padahal lusa adalah hari yang dia tunggu. Sekarang, sebisa mungkin Sherin mengalihkan perhatian Ravin.

__ADS_1


Hingga hari yang di tunggu itu tiba, Sherin sudah bersiap dengan gaun yang bagian belakangnya menjuntai sampai lantai, hampir mirip dengan gaun tunangannya dulu.


Wajahnya cemberut saat melihat pantulan dirinya dicermin, ini gaun kedua setelah gaun pesanan pertama tidak muat di tubuhnya. Benar kata Ravin, berat badannya naik drastis padahal perutnya belum terlalu terlihat buncit.


Hanya saja lekukannya sudah terasa, tapi sepertinya Ravin tidak sadar. Saat ini, Ravin sudah siap dengan kemeja yang senada dengan gaun Sherin. Wajahnya tampan seperti biasa.


Acara dilakukan di rumah Sherin dan Ravin. Hanya dihadiri keluarga terdekat seperti keinginan Sherin beberapa waktu lalu. Terdengar suara pintu kamar di ketuk.


“Sayang ... kalian sudah siap belum? Sudah di tunggu di bawah.”


“Sudah, Ma.” Sherin yang menjawab.


Setelah dirasa semua siap, Ravin dan Sherin berjalan bersama menuju halaman belakang rumah yang luas. Tempat acaranya di mulai. Semua orang sudah hadir, hanya tinggal menunggu pemeran utamanya saja.


Acaranya tidak meriah seperti keinginan awal Dina namun berjalan dengan lancar. Dari mulai potong kue hingga diiringi tepuk tangan. Sampai tiba waktunya pasangan bertukar kado. Ravin yang pertama memberi pada Sherin.


Isinya adalah sebuah album yang berisi foto dirinya dan Ravin. Namun belum terisi penuh, masih tersisa setengah tapi sudah membuat Sherin senang.


“Ini ... indah,” ucap Sherin. “Tapi kenapa masih banyak yang kosong?” lanjutnya.


“Sisanya untuk masa depan saat anak kita sudah lahir. Apa kamu pikir album ini hanya akan diisi foto kita berdua saja?”


Sherin terenyuh. Benar apa kata Ravin. Selanjutnya, Sherin yang memberi Ravin kado. Ravin mengernyit menatap kado yang berukuran kecil, hanya sebesar telapak tangannya.


“Apa isinya?”


“Buka saja dulu.” Sherin terkekeh.


Ravin membukanya, namun yang ada di dalamnya adalah bungkus kado lagi. Ravin buka lagi, isinya sama. Hingga kado semakin kecil, Ravin semakin gemas. Dia menatap Sherin dengan bingung sementara sang pelaku hanya bisa menahan senyum.


“Mungkin ini yang terakhir,” ucap Ravin untuk yang ketiga kali.


Harapannya terkabul, kotak paling kecil adalah yang terakhir. Ketika dibuka, Ravin mematung dengan tatapan yang terus mengarah pada benda kecil dan tipis yang menampilkan dua garis merah.


“Sayang ... ” panggil Ravin lirih.


“I— iya?” balas Sherin sedikit gugup.


“Kamu hamil?” tanya Ravin sedikit linglung.


Sherin hanya mengangguk kecil sambil tersenyum, lalu mengangkat wajahnya. Matanya berkedip beberapa kali saat bibir Ravin menyentuh keningnya.


Semua orang gembira, di tambah mengetahui kabar kehamilan Sherin. Anak yang di tunggu akhirnya akan datang ke dunia. Sherin merasakan bibir Ravin terlepas dari keningnya, mata pria itu memerah.


“Terima kasih, Sayang. I love you.”


.


.


.


Tamat.

__ADS_1


Tamat? Iya. Alhamdulillah sudah tamat. Terima kasih yang sudah mau membaca novel ini. maafkan bila banyak kekurangan. Jangan di hapus dari fav ya? Nanti akan ada ekstra chapter tiga biji. Tunggu aja, nggk lama kok😚😚


makasih sekali lagi, salam sayang dari tukang halu🤗


__ADS_2