
Memulai hidup baru dengan tubuh dan wajah baru, serta suara baru. Karier kembali di mulai dari bawah, itu yang Sherin alami. Dan Ravin berjanji akan membuat Sherin jadi artis terkenal.
“Tidak mudah untuk memulai karier sebagai penyanyi, jadi aku akan mencarikan kamu seorang manajer dan menyuruh produser perusahaan untuk membuat 'kan kamu sebuah lagu,” kata Ravin ketika mereka masih berada di ruangan Ravin.
Sherin berpikir sejenak, apa yang Ravin ucapkan itu termasuk sudah mempermudah jalannya. Lalu ia mengangguk. “Tapi, apa aku boleh minta satu hal lagi?” tanya Sherin ragu.
“apa?”
Sherin menunduk dan mengatur napas, karena permintaannya mungkin sedikit sulit untuk Ravin kabulkan. tangannya meremash pakaian hingga kusut. “Aku ingin memilih manajer ku sendiri,” ucap Sherin membuat Ravin menatapnya lekat.
“Apa kamu punya hak untuk tawar-menawar?” Ravin memicingkan matanya, segera Sherin menggeleng.
“Bukan begitu, aku--” belum selesai berucap, Ravin sudah memotongnya.
“Terserah kamu saja lah, tapi kamu harus pintar dalam memilih seorang manajer. Dia bukan hanya akan membimbing mu, tapi kamu juga akan terikat kontrak dengannya sampai batas waktu yang tidak bisa di tentukan,” jelas Ravin sambil menghela napas.
Sherin tersenyum sumringah, ia mengangguk dan langsung berdiri menghampiri Ravin. Pria itu menatap tunangannya bingung tapi seketika melotot saat merasakan bibir kenyal milik Sherin menyentuh pipinya yang di sebelah kanan.
“Makasih Ayang ... ” Sherin tersenyum geli, dan sedetik kemudian ia mendapat tatapan tajam dari Ravin.
****
Tanpa terasa hari berlalu begitu cepat, matahari mulai turun dan akan terbenam, menyisakan sunset di ufuk barat. Ravin yang baru menyelesaikan pekerjaannya itu pun meregangkan kedua tangan, ia mengusap wajah yang mulai kusam karena belum mandi.
Ravin mengamati sekeliling, ia kaget ketika melihat Sherin sedang tertidur pulas di sofa. Sherin tertidur dengan posisi duduk sehingga lehernya menekuk ke bawah, Ravin tebak pasti rasanya pegal.
Ia pun menghampiri Sherin, duduk di samping wanita itu. Tangannya terulur memindahkan rambut Sherin yang menutupi wajah ke belakang telinga. Sekilas Ravin terpaku, mengamati wajah Sherin yang sebenarnya cantik jika dalam keadaan tenang begini.
Sherin punya bulu mata yang lentik, hidungnya mancung dan kulitnya putih. Apalagi di tambah sekarang ini body Sherin sudah mulai bagus dan tentunya menarik untuk di lihat.
Tiba-tiba ingatan Ravin berputar, ketika ia menerima perjodohan ini. Ravin yang saat itu masih di landa kesedihan karena wanita pujaannya pergi untuk selama-lamanya pun langsung mengiyakan permintaan kakek tanpa pikir panjang.
Ia pikir kakeknya bercanda dan jika tidak bercanda pun pasti akan menjodohkannya dengan wanita cantik. Tapi, saat pertama kali melihat Sherin, Ravin jadi ragu apakah ia bisa menikahi wanita yang wajahnya pas-pasan seperti Sherin. Namun, kini hanya dalam beberapa hari Ravin melihat banyak perubahan dalam diri Sherin, selain bertambah kurus, Sherin juga bertambah cantik.
Saat ini isi pikirannya sedang berkecamuk, antara menyesal dan tidak telah menerima Sherin sebagai tunangan. Walaupun ia akan tetap menikah dengan Sherin, ia masih sulit untuk membuka hati karena ia masih menyimpan perasaan untuk seseorang yang selama ini bukan untuknya bahkan hingga wanita itu telah tiada.
“Apa yang aku lakukan ini benar atau tidak?” gumam Ravin yang masih memandangi wajah tenang Sherin.
Ravin mengelus pipi Sherin dengan telunjuknya, halus saat di sentuh sehingga Sherin pun merasa terganggu dengan sentuhan itu. Ravin yang tersadar segera menarik tangannya dan muncul rasa bersalah karena telah membangunkan Sherin.
Sherin menguap sambil mengamati sekeliling, saat itu juga matanya terbuka lebar. “Astaga ... aku tidur berapa lama? Jam berapa sekarang?” tanyanya panik.
“Jam setengah enam,” ucap Ravin.
__ADS_1
“Setengah enam?” Sherin kaget, refleks Sherin melihat ke arah jendela. Sherin terkejut untuk yang kedua kalinya ketika melihat cuaca di luar sudah gelap.
“Aku harus pulang,” kata Sherin, ia bangkit dari duduknya hendak pergi tapi Ravin mencegah.
“Sebentar,” Ravin menahan lengan Sherin.
“Kenapa?”
“Kamu mau pulang naik apa?” tanya Ravin.
“Naik taksi,” jawab Sherin yang lupa kalau ia tidak punya uang.
“Lalu, kamu akan bayar pakai apa? Daun?” ledek Ravin membuat Sherin terdiam seketika.
“Aku lupa, jadi apa kamu mau antar aku pulang?” Sherin mendongak, menatap Ravin yang juga sedang menatapnya.
Sherin baru menyadari kalau ia dan Ravin semakin dekat, mereka sering bertemu bahkan hampir setiap hari. Ada sebuah getaran aneh di sudut hati Sherin ketika menatap Ravin dalam jarak yang dekat. Getaran yang sama ketika ia bersama Rainer dulu, Sherin jadi berpikir, apa ia sudah jatuh cinta lagi?
Ia menggeleng, tidak mungkin karena mereka belum lama kenal. Sherin menepis rasa itu.
“Hmmm ... sekalian aku juga mau pulang,” Ravin pun segera pergi meninggalkan Sherin. Sherin langsung mengejar Ravin agar tidak di tinggal sendiri. Para karyawan banyak yang sudah pulang hingga kantor nampak sepi, cukup mengerikan bagi Sherin hingga bulu kuduknya berdiri.
Mereka sampai di rumah kakek Haris ketika pukul enam, matahari hampir terbenam sempurna dan bintang-bintang mulai terlihat di atas langit. Sherin dan Ravin bersama-sama masuk ke dalam, di sana sudah ada nenek Linda yang hendak pergi ke meja makan.
“Iya, Nek. Aku tadi ketiduran waktu mas Ravin kerja. Jadi, tak tahu kalau ternyata sudah mau malam,” Sherin nyengir sambil menggaruk kepala.
“Ya sudah, lebih baik kamu mandi. Bau asem,” nenek berucap sambil mengibaskan tangannya di udara. Hal itu membuat Sherin mengerucut.
“Iya ... ” Sherin ngambek, segera ia pergi dari sana. Tapi, sebelum itu Sherin berbalik dan menatap Ravin, lalu ia tersenyum dan melambai kecil membuat Ravin tergelak.
“Nak Ravin mau langsung pulang atau makan malam di sini?” tanya nenek.
Ravin menoleh dan berkata, “Langsung pulang saja, Nek. Papa sama mama sudah nunggu.”
Nenek mengangguk, “Kalau begitu hati-hati di jalan.”
Ravin mengangguk, ia pun pergi dari rumah kakek Haris. Sebenarnya ia pulang bukan karena kedua orang tuanya sudah menunggu, melainkan ada hal lain yang harus di urus.
Ketika di mobil, Ravin mengeluarkan ponsel dan saku jasnya. Ia menelpon seseorang. Di panggilan ke tiga baru tersambung.
“Halo, Pak!”
“Zi, bisa ketemu sekarang?” Ravin bicara sembari menyalakan mobil, ia pun melaju meninggalkan halaman rumah kakek Haris.
__ADS_1
“Bisa, Pak! Dimana?”
“Rumah papa.”
“Baik, Pak. Saya segera ke sana,” ucap pria itu dan teleponnya di matikan.
***
“Dari mana saja kamu? Tumben pulang malam?” tanya mama Dina begitu Ravin memasuki rumah.
Pria itu hendak mandi dan berganti baju, tapi ia bertemu mama ketika ingin menaiki tangga.
“Dari kantor,” jawab Ravin.
Dina memicing, “Mama pikir kamu pergi sama Sherin,” ucapnya kecewa.
Ravin memutar bola matanya, “Ia tadi aku juga bareng Sherin, Mama tak usah khawatir kalau aku tak memenuhi tanggung jawab sebagai seorang tunangan.”
Dina pun tersenyum mendengarnya, “Nah gitu, dong. Kamu harusnya udah buka hati, jangan lagi mikirin orang yang nggak di takdir 'kan buat kamu, apalagi sekarang dia sudah meninggal,” ujar Dina membuat Ravin diam seketika.
“Mama tahu?”
“Ngobrolin apa, nih. Kok Papa nggak di ajak.” Farid, papa Ravin datang dari arah belakang Dina. Ia baru keluar dari ruang kerja setelah menyelesaikan pekerjaan dan berniat untuk makan malam, tapi ketika di meja makan ia belum melihat satu pun manusia penghuni rumah yang duduk.
“Lagi ngobrolin calon menantu, Pa,” ucap Dina.
Farid menaikkan sebelah alisnya, “Oya? Papa baru ingat kalau Papa belum ketemu sama Sherin.”
“Cantik, Pa. Mirip sama ibunya, Mama jadi kangen,” Dina menunduk sedih, kenangan bersama sahabat lamanya hampir hilang seiring berjalannya waktu apalagi sudah puluhan tahun, namun begitu melihat Sherin, kenangan itu seakan kembali lagi.
Ravin yang masih berdiri di ujung tangga itu mengerutkan dahi, ia memikirkan kata-kata Dina yang bilang kalau Sherin mirip ibunya. Itu berarti, mama Dina kenal dengan ibu kandung Sherin?
“Vin!” panggil Farid, Ravin tersentak menatap papanya. “Kenapa, Pa?”
“Mikirin apa sih kok serius banget? Tadi, Papa sudah bilang 'kan kalau Papa belum bertemu Sherin,” ucap Farid yang di balas anggukan kepala.
“Iya, Pa. Besok pagi aku jemput Sherin buat ketemu Papa,” Ravin menghela napasnya, ia cukup lelah sekarang ini. Selain pekerjaan, menyetir mobil menjadi salah satu faktor lelah di tubuhnya.
“Bagus, sekarang kamu mandi lalu turun untuk makan malam, Papa sudah lapar,” Ravin mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam kamar.
Tiba di kamar, Ravin membuka ponselnya dan mengetik sebuah pesan.
“Zi, tak jadi bertemu malam ini, besok saja. Aku sudah mau istirahat.”
__ADS_1