
Usai mengucapkan janji suci, Sherin dan Ravin saling tatap. Ravin memajukan wajahnya kemudian mencium kening Sherin. Tepuk tangan dari para tamu menggema, ikut bahagia dengan pasangan baru ini.
Rangkaian acara demi acara dilalui dengan lancar, satu persatu para tamu memberi selamat. Hingga tiba giliran Anika, Meylin dan Kael. Mereka bertiga maju menuju pelaminan, menyalami pengantin baru.
“Kalau banyak wartawan di sini bisa heboh,” celetuk Anika sembari terkekeh.
“Heboh kenapa?” heran Sherin.
“Artis dan atasannya menikah. Yang pasti, berita ini akan membuat banyak komentar positif juga negatif, jadi kamu harus siap-siap saja.”
“Baiklah, sekarang waktunya libur, bukan membahas pekerjaan,” gerutu Sherin.
Lalu tatapan Sherin berpindah ke Kael, bocah itu sejak tadi hanya diam. “El, kemana pacarmu?” tanya Sherin.
Kael mendelik. “Siapa? Aku tidak punya pacar,” Kael sewot.
“Lalu Cahaya?” goda Sherin.
Wajah dan telinga Kael memerah setelah mendengar nama itu. Dia menggaruk belakang kepalanya. “Dia hanya teman, bukan pacarku,” kilahnya.
Sherin menahan senyum, sudah beberapa hari dia tidak bertemu Kael. Itu karena kesibukannya, kalau saja Kael tahu bahwa dia kakaknya, Sherin pasti akan membuat Kael terus disisinya. Tapi dia sadar, hubungan mereka tidak sedekat saat memiliki hubungan darah, Kael bisa lebih bebas sekarang.
Siang berganti sore, Sherin sudah terlihat lelah. Tapi masih ada resepsi untuk nanti malam, dia harus menahannya. Para tamu undangan sudah pergi, Sherin dibantu Ravin dan Dina pergi ke kamar pengantin.
“Dua jam lagi MUA datang, kalian jangan ngapa-ngapain didalam sebelum acara resepsi selesai,” peringat Dina.
“Iya, Ma. Emangnya mau apa? Aku capek, lapar juga,” kata Sherin.
“Siapa tahu Ravin sudah nggak sabar,” kekeh Dina, Ravin yang sedang melepaskan dasi itu hanya bisa mendelik.
“Ya sudah, kalian lebih baik bersih-bersih. Sebentar lagi ada pelayan datang bawa makanan.” Dina segera berlalu setelah mengatakan itu.
Sherin menutup pintu, dia lepas sepatu hak tinggi yang membuat kakinya pegal. Lalu dia taruh asal dilantai, tanpa alas kaki Sherin berjalan menuju kasur. Dia rebahkan tubuhnya di sana.
Aroma mawar masuk kedalam indera penciuman Sherin, kasur dengan sprei putih ini ditaburi bunga mawar berbentuk hati di tengahnya. Sherin memejamkan mata hingga tanpa sadar hampir masuk ke alam mimpi.
“Bersihkan dulu tubuhmu,” ujar Ravin, pria itu melepaskan jaz yang dipakai.
“Aku ingin tidur,” Sherin membuka mata lalu mendesah berat.
“Tidak bagus tidur jam segini, sebentar lagi makanan akan datang. Lalu kita harus segera membersihkan tubuh sebelum MUA datang,” Ravin mengambil handuk di koper.
“Kamu mau kemana?” Sherin bangkit menatap Ravin.
“Mandi. Kenapa? Mau ikut?” Ravin menyeringai.
Sherin menggeleng cepat, telinganya jadi panas. “Mandi sana! Aku nanti saja setelah kamu selesai,” ucap Sherin sambil mengibaskan tangan.
Ravin terkekeh lalu segera masuk kedalam kamar mandi. Tak lama setelah itu pintu kamar diketuk, Sherin tebak itu pasti pelayan yang datang membawa makanan. Benar saja, setelah pintu dibuka, dua orang pelayan datang membawa beberapa hidangan lalu disajikan di atas meja.
“Silakan dinikmati, Nona,” ujar pelayan itu.
“Hm ... ” respon Sherin.
Setelah dua pelayan itu itu pergi, Sherin langsung ingin menyantap makanan, tapi karena gaun pengantin yang dia pakai membuatnya sulit untuk duduk dengan kaki menekuk.
“Haish ... ” Sherin mengembus napas kesal.
__ADS_1
Sherin berniat membuka gaun itu, pertama dia ambil kimono dari koper lalu mulai membuka resleting gaun yang berada dibelakang. Sayangnya tangan Sherin tidak sampai, berkali-kali Sherin mengumpat karena resleting ini.
Hingga tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, Ravin keluar dari sana. Pria itu menatap bingung Sherin, dia berjalan menghampiri sang istri yang terlihat sedang kesusahan.
“Kamu kenapa?”
Sherin menoleh. “Aku ing—” kalimatnya terhenti saat ia tepat berada di hadapan Ravin.
Sherin menelan ludah, pandangan matanya lurus kedepan. Dimana fokusnya adalah di bagian perut Ravin yang kotak-kotak. Ravin keluar hanya dengan memakai handuk, Sherin ingin berpaling tapi entah kenapa kepalanya terasa berat apalagi di bagian mata.
Ravin yang melihat itu hanya bisa menahan tawa. “Apa yang membuatmu kesal?” tanya pria itu.
Sherin tersadar lalu segera memalingkan wajah. “A— aku mau membuka gaun ini, tapi resleting ada dibelakang. Jadi, bisa bantu aku bukakan?”
Ravin terkesiap, saat itu juga Sherin berbalik badan. Membelakangi Ravin. Pria itu melihat Sherin yang menyingkirkan rambut agar bagian punggung kelihatan. Ravin menahan napas, dengan pelan dia tarik resleting hingga perlahan bagian punggung Sherin terekspos.
Sungguh menggoda dimata Ravin, bagaimanapun juga dia adalah pria normal. Melihat yang bening seperti ini membuat imannya lemah. Setelah resleting di buka, bukannya melepaskan malah Ravin mengelus punggung mulus milik Sherin menggunakan telunjuk.
Jelas saja Sherin terkejut, ada rasa geli. Darahnya berdesir, seperti mendapatkan sengatan listrik membuat Sherin tanpa sengaja mengeluarkan suara.
“Engh ... ”
Ravin terkejut, dia menelan ludah berkali-kali. Naluri sebagai pria bangkit, dia memajukan wajahnya. Mencium punggung Sherin, sementara Sherin hanya bisa menahan napas. Dia bingung.
“Ra ... Vinn,” Sherin melenguh. Hal itu membuat Ravin semakin tidak bisa berkonsentrasi untuk tetap sadar.
Ravin mencium leher bagian belakang milik Sherin, mengecupnya dan membuat Sherin melemas. Titik lemahnya ada di sana. Ravin memutar tubuh Sherin dan membuat wanita itu menghadap Ravin.
“Kamu cantik,” puji Ravin, menatap netra Sherin dan dengan lekat.
Pria itu menunduk, mencium bibir Sherin dengan lembut. Sherin membalas dengan melingkarkan tangan ke leher Ravin, ikut menikmati ciuman yang diberi. Setelah beberapa saat, Ravin melepaskan bibir mereka, wajahnya sayu.
“Kenapa?” pembaca kecewa.
“Aku lapar ... ”
***
Sherin dan Ravin menyalami para tamu yang hadir malam ini. Rata-rata yang datang adalah sahabat, rekan kerja juga teman-teman bisnis orang tua mereka. Pernikahan Ravin dan Sherin tidak disembunyikan ke publik, hal itu langsung membuat heboh.
Dimana mereka mengenal Sherin sebagai artis biasa dan Ravin adalah atasannya. Kini dua orang itu resmi menjadi suami istri, banyak yang mendukung juga banyak yang mencibir tidak suka.
Saat melihat Ravin sibuk berbincang dengan temannya, Sherin memanggil Calysta.
“Kenapa, Mbak?”
Sherin menyuruh Calysta mendekat padanya. Lalu membisikkan sesuatu yang membuat Calysta terkejut.
“Lho? Kenapa?”
“Jangan banyak tanya, pokoknya aku minta tolong banget sama kamu,” pinta Sherin memelas.
Calysta tak bisa menolak meski heran. Selepas acara itu, Sherin semakin merasa lelah. Padahal hanya duduk dan berdiri tapi membuatnya sangat tersiksa. Apalagi dengan riasan yang sangat mengganggu juga sepatu hak tinggi yang membuat tidak nyaman.
Pakaian tidur telah menempel ditubuhnya, tak ada lingerie atau apapun itu. Sherin ingin langsung tidur. Ketika hendak menarik selimut, tiba-tiba Ravin datang dan mencegahnya.
“Kenapa?”
__ADS_1
“Jangan tidur dulu,” pinta Ravin, suara pria itu sudah berubah menjadi lebih serak.
Ini hal yang paling Sherin takutkan. “Memangnya kenapa aku tidak boleh tidur?”
“Kamu lupa?”
“Apa?”
“Ini malam pertama kita.”
Deg.
Sherin terdiam, dia sudah tahu Ravin akan mengatakan ini. Lebih tepatnya, pria itu ingin melanjutkan hal yang tadi sore tidak terlaksana. Sherin menelan ludah dengan gugup, bukan dia tak siap tadi dia benar-benar lelah.
Ravin mulai mencium bibir Sherin, m*****tnya dan membuat Sherin ikut menikmati. Setelah bibir, Ravin berpindah ke setiap sudut wajah Sherin. Dimulai dari kening, pipi, hidung dan seterusnya.
Tangan Ravin sudah tak bisa diam, mulai membuka kancing piyama milik Sherin. Masih saling berciuman bibir, Ravin meraba bagian dalam tubuh yang masih dilapisi sebuah kain.
Tok Tok.
Hal yang paling tidak disukai Ravin adalah mengganggunya saat sedang fokus pada satu hal. Pria itu berdecak, ingin sekali menghajar orang di balik pintu itu.
“Buka saja, siapa tahu mama. Mungkin butuh bantuan,” saran Sherin.
Ravin bangkit dari atas tubuh Sherin. “Mana mungkin itu mama, kalau mama ada masalah di sana kan ada papa. Memangnya apa gunanya papa kalau mama ada masalah tapi malah minta bantuanku?” gerutu Ravin.
Pria itu membuka pintu dan terkejut melihat siapa yang datang mengganggunya. “Calysta?”
Calysta nyengir. “Anu, Kak.”
“Apa?” tanya Ravin sewot.
Calysta menelan ludah. “Anu ... kran shower di kamar mandi ku mati. Bisa tolong benerin nggak?”
Mata Ravin menyipit. “Bisa minta bantuan pihak hotel.”
“Ini sudah malam, nggak enak kalau tiba-tiba bikin ribut.”
“Memang yang ngajak bikin ribut siapa? Hal kayak gitu tanggung jawab mereka, kenapa malah minta bantuan sama aku. Lagian kamu juga ganggu banget,” ketus Ravin.
Pria itu meski ketus juga tetap ikut dengan adiknya untuk melihat masalah dikamar Calysta. Sesampainya di sana Ravin tak melihat ada yang bermasalah, malahan dia merasa ada yang salah.
“Calysta!!” teriak Ravin.
Calysta langsung kabur, masuk ke kamar lainnya untuk bersembunyi. Dengan marah Ravin kembali ke kamarnya, ia pikir bisa anu sama Sherin, tapi kenyatannya Sherin malah sudah tertidur pulas.
.
.
.
bersambung.
akhirnya anak-anakku nikah juga, jangan lupa amplopnya ya😁
info sedikit, pernikahan Sherin dan Ravin nggak pake ijab kabul atau yang lain, aku sengaja karena nggak mau bawa agama meskipun cuma formalitas. lebih enak gitu menurutku xixi😁😅
__ADS_1
gk masalah kan?
Happy Reading ❤❤