Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 42


__ADS_3

Jika saja pintu kamar tak di ketuk dan tidak terdengar suara burung yang berkicau, maka Sherin akan terus tertidur dalam posisi mencengkram pergelangan tangan Ravin.


Sherin mulai membuka mata, ia merasa terganggu karena suara ketukan pintu yang tidak mau berhenti. Cahaya matahari pun masuk melalui celah jendela. Sherin mengerjapkan kedua matanya, mengamati sekeliling sampai saat nyawanya sudah terkumpul, Sherin menelan saliva dengan susah payah.


“Astaga ... ” tubuh Sherin gemetar, ia baru sadar kalau tangannya mencengkram sesuatu.


“Tolong bilang kalau ini bukan kenyataan ... ” gumam Sherin, ia mengembuskan napas lalu menoleh ke samping.


Saat itu juga rasanya Sherin ingin masuk ke dalam lubang semut. Ia tak kuasa menahan malu ketika melihat Ravin yang tengah tertidur pulas. Tepat di sampingnya, berdekatan dengannya, bahkan hampir berpelukan.


Tok ... Tok ...


Ketukan pintu tak mau berhenti. “Iya! Saya keluar ...” ucap Sherin sedikit berteriak, sayang hal itu justru membangunkan pria tampan yang tengah tertidur.


“Emh ... ” Ravin menggeliat. Kedua kelopak mata pria itu mulai terbuka.


Sherin mengamati Ravin, lalu memalingkan wajah. Dalam hati dia menangis. “Aku baru sadar ternyata kalau dia tidur itu lucu sekali, ganteng pula,” Sherin bergumam dalam hati.


“Eh, kamu sudah bangun?” Ravin mengucek kedua matanya, wajah polos itu membuat Sherin menjerit dalam hati. “Sekarang jangan bilang kalau ini cuma mimpi.”


“Hmm ... ” Sherin mengangguk kecil. Lalu, tatapan mereka bertemu, hening beberapa saat.


“Oh, jantung!” batin Sherin terus menjerit.


Ravin menatap Sherin lekat, hal itu membuat debaran jantung Sherin berpacu dengan cepat. Tidak! Sherin tidak bisa di tatap seperti itu.


“Kamu tidak pa-pa?”


“Eh, apa?”


“Kamu tidak pa-pa?” ulang Ravin.


“Memangnya aku kenapa?” tanya Sherin heran, dia baik-baik saja, hanya jantungnya yang saat ini tengah kritis karena Ravin.


Ravin berpikir sejenak, lalu ia menggeleng. “Tidak pa-pa,” ucapnya berbohong.


“Aneh,” Sherin menggaruk tengkuknya.


Tok ... Tok ...


“Sherin!!” kini suara Dina yang terdengar, Sherin tersentak, ia panik.


“Lepas!” Sherin menarik tangannya.

__ADS_1


“Hey! Kamu yang memegang tanganku kenapa harus aku yang lepas?”


Sontak Sherin melirik ke bawah, dengan wajah dan telinga memerah dia menarik tangannya. Astaga, malu sekali, Sherin ingin kabur rasanya.


“M— maaf,” Sherin segera bangkit, ia buka pintu kamar tapi Sherin lupa kalau masih ada satu makhluk lagi di sana. Sherin tidak tahu kalau hal itu akan membuat penghuni rumah salah paham.


“Pagi, Ma,” sapa Sherin.


Dina berkacak pinggang, sedikit kesal karena Sherin lama sekali membuka pintu. Sebenarnya tadi itu pelayan tapi karena tak kunjung di buka maka Dina turun tangan.


“Kamu tidurnya nyenyak banget sampai di panggilin dari tadi nggak dibuka juga ini pintu.”


“Maaf, Ma,” Sherin merasa bersalah.


Dina memaafkan, kemudian ia teringat sesuatu untuk di tanyakan pada Sherin. “Oh ya, Rin. Kamu lihat Ravin tidak? Perasaan dia lari pagi lama banget, harusnya 'kan sudah pulang.”


Sherin menelan saliva, ia lirik Ravin yang masih duduk di atas kasur dengan muka bantalnya. Melihat tatapan itu, Ravin mengangkat alis seolah bertanya ada apa?


Sherin memberi kode agar Ravin segera pergi, posisinya masih di pintu sedangkan Dina di luar. Jadi tak kelihatan karena Sherin menutup pintu setengah. Sayang seribu sayang, Ravin tidak mengerti akan kode yang Sherin berikan.


Pagi ini, Sherin sudah senam jantung. Pertama karena terkejut melihat Ravin tidur di sampingnya, kedua karena wajah polos nan tampan milik calon suaminya, ketiga karena pertanyaan calon mertua.


“T— tidak, Ma. Sherin tidak lihat Ravin, memang biasanya Ravin pulang jam berapa?” dusta Sherin.


“Biasanya jam setengah tujuh sudah di rumah, tapi pagi ini Mama tidak lihat dia pulang,” Dina bingung, sementara Sherin masih panik sedangkan yang di dalam kamar tak beranjak juga.


“Ah, iya, Ma. Sherin belum buka tirainya, mendingan Mama duluan ke bawah, biar Sherin beresin kamar Ravin baru nyusul Mama,” Sherin mencoba mengalihkan perhatian Dina.


“Kelamaan, sini Mama bantu,” Dina mencoba masuk tapi Sherin menghalangi.


“Sudah, Ma. Biar Sherin saja, Sherin tidak enak kalau Mama yang beresin, 'kan itu dari Sherin tiduri jadi biar Sherin yang beresin.”


Dina malah jadi curiga, ia tatap Sherin menyelidik. Kemudian Dina berbalik, melihat itu Sherin lega tapi siapa sangka, di saat Sherin lengah Dina menerobos masuk ke kamar.


Sherin sudah pasrah, apalagi melihat tatapan terkejut dari Dina.


“Astaga, Raviiinnn!!”


*****


Sarapan pagi hanya ada keheningan, Sherin menundukkan kepalanya sambil mengunyah. Wajahnya kini masih memerah dan telinganya juga. Sementara Ravin biasa saja, malah terkesan santai.


“Kalian berdua tadi ngapain di kamar?” celetuk Farid, papa Ravin.

__ADS_1


“Tidur,” jawab Ravin apa adanya, Sherin pun menyenggol lengan Ravin. Ia masih merasa malu padahal tidak ada yang terjadi di antar mereka.


“Tuh 'kan, Pa. Mama juga bilang harusnya kita percepat tanggal pernikahan, kayaknya mereka sudah nggak sabar. Apalagi hari H-nya masih satu bulan lagi.”


Farid mengangguk, menyetujui ucapan istrinya. Sementara Sherin ingin menangis. 'Bukan begitu, kalian salah paham', begitu isi hati Sherin.


“Tapi, Ma—” Sherin ingin bicara, tapi Dina langsung menyela.


“Sherin diam! Tadi saja kamu sudah berbohong, bilang tidak tahu dimana Ravin tapi ternyata ada di dalam kamar.”


Sherin menunduk lagi. Ravin pun menghela napas. Setelah diam sejak tadi barulah ia buka suara. “Ma, Pa, Kakek, kalian salah paham, aku dan Sherin tadi hanya ketiduran, kami tidak melakukan apa-apa.”


“Tapi, kenapa kalian tidur di kasur yang sama?” Dina belum percaya.


“'Kan aku tadi bilang ketiduran, Ma. Aku tidak sengaja ... ”


Perdebatan itu terus berlanjut selama beberapa saat, sarapan mereka hampir selesai tapi di jeda sementara. Alhasil, kakek memutuskan untuk mempercayai Ravin, dan tidak akan memajukan tanggal pernikahan.


Di satu sisi Sherin merasa lega dan di sisi lain Sherin jadi tidak punya keberanian untuk menampakkan wajahnya di depan keluarga Ravin. Malunya setengah hidup, batin Sherin.


Waktu terus berlalu, pagi menjelang siang. Sherin belum di perbolehkan untuk pulang. Sementara Ravin, pria itu mengikuti rencana awalnya untuk cuti satu hari. Lagi pula dia bosnya dan bebas mau cuti berapa lama.


Mereka tengah menonton televisi di ruang tengah, Ravin duduk di sofa sambil bersandar di sandaran sofa. Sementara Sherin dan Dina sedang memotong sayur, mereka duduk di lantai.


“Ma, ini namanya apa? Kok merah banget, kayak buah,” Sherin menunjukkan satu buah yang warnanya merah dan berbentuk bulat.


“Itu memang buah, namanya tomat.”


Kedua alis Sherin hampir bersatu, ia bingung. “Aku baru dengar ada namanya buah tomat, ku pikir cuma sayuran,” ucapnya sambil menggaruk tengkuk.


“Tomat 'kam sejenis buah, tapi untuk di sayur,” ujar Dina.


Sherin manggut-manggut mengerti. Tak berapa lama terdengar bunyi ponsel berdering. Ravin yang merasa sofa sedikit bergetar itu lantas mengambil ponselnya.


“Halo?”


“Kapan? Nanti malam? Kenapa mendadak sekali?”


Sherin tak tahu apa yang sedang Ravin bicarakan. Terdengar helaan napas panjang pria itu keluarkan.


“Kenapa, Vin?” tanya Dina.


“Wildan bilang aku dapat undangan untuk malam nanti, tapi harus membawa Sherin,” kata Ravin.

__ADS_1


“Kenapa aku?” Sherin menunjuk dirinya sendiri.


“Selain untuk pasangan, mereka juga mengundangmu agar hadir. Suksesnya debut pertamamu membuat mereka ingin melakukan kerja sama dengan kita. Bukannya itu baik bagi kariermu?”


__ADS_2