Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 30


__ADS_3

Sherin sekarang sudah berada di lantai paling bawah gedung Star entertainment, Ravin tidak bilang harus sampai jam berapa, jadi Sherin datang tepat pukul sembilan pagi.


“Maaf, ada keperluan apa?” tanya resepsionis.


“Saya mau bertemu mas Ravin,” jawab Sherin.


Resepsionis itu memandang Sherin dengan heran, dalam benaknya ia berpikir kalau Sherin berani sekali datang-datang mau bertemu dengan bos. Apalagi saat Sherin memanggil Ravin dengan sebutan 'Mas', seperti sudah kenal lama.


“Apa Anda sudah membuat janji?”


Sherin berdecak kesal, hanya ingin bertemu Ravin saja harus membuat janji. Buang-buang waktu pikirnya. “Sudah,” kata Sherin.


Resepsionis itu sedikit ragu, akhirnya ia menelepon Ravin yang saat ini ada di ruangannya. Setelah beberapa saat, resepsionis berwajah cantik mengangguk dan mempersilakan Sherin untuk naik.


Awalnya ingin di antar tapi Sherin menolak, Sherin sudah hafal di mana letak ruangan Ravin. Setibanya di sana Sherin langsung di pernkenankan masuk. Ia lihat Ravin sedang duduk di meja kebesarannya.


Sherin sumringah, ia mendekat. “Ada apa memanggil aku kemari? Kangen yaa?” tebak Sherin dengan pedenya.


Ravin memandang Sherin malas, ia menaruh sebuah kertas di hadapan Sherin. “Lagu untukmu sudah jadi,” ucapnya.


Sherin terperangah, ia ambil kertas itu dan membaca isinya. Lalu ia tatap kembali Ravin dengan tatapan kagum, Sherin bilang, “Cepat sekali, bukankah baru kemarin tapi dalam satu hari sudah langsung jadi?”


“Harusnya belum jadi, tapi Ravin sangat memaksa sampai aku terpaksa kerja lembur,” celetuk seseorang.


Sherin menoleh, ia sedikit terkejut melihat ada seorang pria yang duduk di sofa dengan lemas. Tatapannya sayu, mukanya pucat dan terdapat lingkaran hitam di sekitar mata.


“Enzi?” Sherin berusaha menahan tawa, ia tutup mulutnya dengan kertas yang berisi sebuah lirik lagu.


“Harusnya kamu berterima kasih padaku, karena kamu— aku sampai tidak tidur semalaman,” ucap Enzi lemas, Sherin jadi kasihan.


“Kamu kejam juga,” bisik Sherin pada Ravin.


“Aku tak mau buang-buang waktu,” balas Ravin.


“Hey! Kalau mau bermesraan jangan di sini, di kamar saja sana. Ah, aku ngantuk sekali,” Enzi menutup mulutnya yang menguap, Ravin berdehem sekali.


“Lebih baik kamu yang masuk ke dalam kamar, kamu aku bebaskan satu hari ini. Aku juga akan beri kamu bonus untuk bulan ini,” Ravin ternyata masih punya hati, Enzi mengangguk senang walau lemas.


Kakinya terasa berat untuk melangkah, ia seret pelan saking mengantuknya, bahkan saat mau masuk kamar kepalanya harus berciuman dulu dengan daun pintu.


Sherin kembali menahan tawa sedangkan Ravin sudah terpingkal-pingkal.

__ADS_1


“Ehem! Aku sudah membantumu sejauh ini, sekarang giliran kamu buktikan kemampuan kamu. Enzi itu produser terkenal, kamu lihat sendiri 'kan dalam satu malam dia berhasil membuat lagu.”


Sherin mengangguk paham, pembicaraan ini cukup serius, jadi Sherin duduk di kursi yang berhadapan dengan Ravin. Ia menatap tunangannya serius tapi seketika hilang fokus.


Sherin jadi tidak bisa serius saat menatap Ravin, hari ini Ravin sangat tampan, dia memakai kemeja biru muda yang di gulung sampai batas siku, sedangkan jasnya di letakkan pada sandaran kursi.


“Sudah! Jangan menatapku lagi, aku tahu aku tampan, tapi kita sedang serius,” ucap Ravin menyadarkan Sherin dari lamunannya.


Wajah Sherin memerah, ia memberengut. “Siapa yang menatapmu?”


“Terserah kamu. Aku hanya ingin kamu jangan sampai mengecewakan aku ataupun Enzi. Sekarang kamu tinggal menghafal lagunya dan aku akan mencarikan seorang manajer untukmu.”


“Tapi, bukannya kamu bilang aku boleh memilih manajer ku sendiri?” Sherin berujar pelan.


“Aku tidak yakin dengan pilihanmu. Memangnya siapa yang mau kamu pilih untuk jadi manajer?” Ravin menatap Sherin remeh.


“Anika.”


“Anika?” dahi Ravin berkerut. “Sepertinya aku pernah dengar.”


“Tentu, dia manajer profesional, Anika adalah manajer Prisha saat itu,” Sherin berucap dengan antusias.


“Kamu tahu dia manajer Prisha, tentu sulit untuk membujuknya.” Sherin mengangguk paham, tapi Sherin tetap ingin mencoba.


“Bari aku waktu, aku akan cepat memberimu kabar,” pinta Sherin.


Ravin hanya bisa mengangguk, Sherin tentu senang. Saat sudah waktunya untuk makan siang, Sherin menelpon Meylin.


“Halo.”


“Meylin,” panggil Sherin.


“Anda siapa?”


“Aku Sherin,” ucap Sherin sedikit lesu, ia pikir Meylin mengenali suaranya.


“Ah, ya. Ada apa?”


“Bisa tolong bantu aku?” ucap Sherin penuh harap.


*****

__ADS_1


Sherin sudah duduk manis di sebuah restoran, dia sedang menunggu kedatangan Meylin dan Anika. Sejak lima menit yang lalu mereka berdua belum datang, Sherin membuang napas mencoba bersabar.


Di menit berikutnya barulah dua orang yang ditunggu Sherin datang, mereka berjalan santai sementara Sherin sudah mencak-mencak dalam hati, ia kesal harus menunggu lama.


“Apa kalian sibuk sampai telat lebih dari lima menit?” dengus Sherin.


“Hanya lima menit,” Anika pun duduk di hadapan Sherin, di lanjut oleh Meylin di sebelah Anika.


“Kamu tau aku sibuk 'kan? Ada perlu apa mencari ku?” Anika berucap.


“Sibuk darimana? Bukannya kamu sekarang pengangguran?” ejek Sherin menohok, sementara Anika mendengus, itu artinya ucapan Sherin benar.


“Kamu ini sebenarnya mau apa? Kita baru bertemu satu kali dan kamu bersikap seolah kita saling kenal.”


Tiba-tiba waiters datang membawa menu, Sherin, Anika dan Meylin memilih makan siang mereka sambil mengobrol.


“Aku tahu sekarang kalian berdua butuh pekerjaan, bagaimana kalau kalian bekerja di Star entertainment?” tawar Sherin, Anika berhenti melihat menu lalu menatap Sherin.


“Bekerja apa?” tanyanya sedikit ragu.


“Jadi manajer ku,” ucap Sherin membuat Anika tersedak ludahnya sendiri.


“Ka-- Kamu mau aku jadi manajer mu?”


Sherin mengangguk, ia sungguh berharap bahwa Anika menerima tawarannya. Tatapan memohon Sherin sebenarnya membuat Anika sedikit iba. Anika menarik napas dan mengembuskannya.


“Sebentar, biar aku pikirkan dulu,” Anika memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa pusing, sementara Sherin mendesah pasrah.


“Kamu mau jadi penyanyi?” celetuk Meylin.


Sherin mengangkat wajah, lalu ia mengangguk. “Aku tahu kamu ragu kalau aku bisa bernyanyi atau tidak, tapi demi masa depanku yang cerah aku bisa jamin kalau suaraku bagus, aku ini titisan Dewi Prisha.”


Meylin menatap Sherin ragu, sedetik kemudian ia tertawa. “Titisan Dewi Prisha apaan?” tawa Meylin terkesan mengejek, Sherin hanya bisa mendengus.


Sementara Anika, wanita itu sedang berpikir mengenai ajakan Sherin. Ia tidak tahu dari mana keberanian Sherin berasal sehingga berani memintanya untuk jadi manajer.


Padahal Sherin tahu, Anika mantan manajer Prisha. Itu berarti Anika tidak akan sembarangan memilih orang untuk dia bimbing menjadi seorang artis. Tiba-tiba sekelebat ingatan dimana ia mendengar percakapan seseorang, ketika hendak mengundurkan diri dari DY entertainment muncul membuat Anika benar-benar menimang ajakan Sherin.


Ya, Ingatkan kalau ada seseorang yang mendengar percakapan antara Iriana dan Ishana, itu adalah Anika. Anika tidak sengaja mendengar ucapan Iriana yang memang mempunyai niat jahat pada Prisha, saat itu Anika hendak ke ruangan atasan dan mengajukan surat pengunduran diri.


Karena Anika tidak ingin bekerja di DY entertainment lagi. Dan, sekali lagi Anika merasa ada yang aneh dengan kematian Prisha, rasanya seperti ada yang belum ia ketahui, tapi Anika tidak tahu apa itu.

__ADS_1


__ADS_2