Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 31


__ADS_3

“Apa belum ada keputusan juga?” Sherin mengembus napas lelah, dua puluh menit berlalu dan Anika belum juga memberikan keputusannya. Bahkan, kini makanan yang mereka pesan telah habis tak tersisa.


“Begini saja, kamu ajak aku bertemu dengan ... siapa namannya?” Anika lupa.


“Ravin,” ucap Sherin.


“Nah dia, sekarang juga kamu ajak aku, biar kami bisa berdiskusi. Kalau aku merasa kurang cocok untuk bekerja di sana, maka kamu bisa cari orang lain untuk jadi manajer kamu.”


“Tapi aku maunya kamu, meskipun galak tapi kamu yang terbaik,” Sherin mengerucutkan bibirnya sambil membuang napas untuk yang kesekian kali.


“Oh, kamu tahu dari mana kalau aku galak?” Anika memicing curiga.


Sherin yang baru sadar itu langsung duduk tegap, ia menggeleng cepat. “Biasanya 'kan gitu, di lihat dari tampang mu saja aku sudah tahu,” Sherin berucap sedikit hati-hati, tadi dia keceplosan.


Anika mendengus, ia bilang, “Sudahlah, kalau kamu butuh aku maka langsung gerak cepat. Sekarang kita pergi, atau langsung aku batalkan saja?”


Sherin menggeleng lagi, ancaman Anika tidak main-main, maka Sherin harus melakukan apa yang Anika bilang. “Ayo,” ajak Sherin.


Mereka bertiga pergi menggunakan mobil Anika, tidak butuh waktu lama untuk sampai di tempat Ravin. Sherin berjalan cepat di depan untuk memimpin jalan, sementara dua perempuan itu mengikuti Sherin sambil sesekali melihat sekeliling.


Tiba di depan ruangan, ada sekretaris yang langsung membukakan pintu membuat mereka bertiga masuk dengan cepat.


“Pak, Ravin,” panggil Sherin.


Mendengar namanya di sebut, Ravin mengalihkan pandangan, ia mengernyit tapi hanya beberapa detik. Sherin mendekati Ravin, ia berdiri di sebelah Ravin yang saat ini sedang duduk di kursi kebesarannya.


“Aku sudah membawa orangnya,” ucap gadis itu.


“Dia Anika?” Ravin memastikan.


Sherin mengangguk, ia menunjuk ke sebuah sofa yang artinya menyuruh dua tamunya untuk duduk. “Iya, tapi Anika mau bicara denganmu dulu,” tuturnya.


“Mau bicara apa?”


Ravin bangkit, ia menghampiri Anika dan Meylin, sementara Sherin mengikuti Ravin sehingga mereka berdua duduk bersebelahan.

__ADS_1


“Kamu Ravin?” Anika mengamati Ravin.


“Aku tidak tahu ternyata pemilik Star entertainment setampan dirimu, dan juga sepertinya aku pernah melihat kamu tapi di mana ya?” Anika mencoba mengingat, Ravin asing tapi sepertinya ia pernah bertemu tapi tidak tahu dimana.


“Ketemu sama yang mirip doang mungkin, muka dia 'kan pasaran,” celetuk Sherin.


Ravin memandang Sherin tajam, tak terima di katai mukanya pasaran. “Jangan sembarangan kamu!”


Sherin tersenyum kecut, ia mengatupkan kedua tangannya di hadapan Ravin meminta maaf. “Maaf, Bebeb,” ucapnya lirih tapi masih bisa di dengar Ravin, tidak dengan Anika dan Meylin.


“Maaf, tapi aku perlu bicara denganmu mengenai tawaran Sherin. Aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba datang dan meminta aku menjadi manajernya, bukan aku tidak mau, tapi apa kamu yakin kalau Sherin punya kemampuan?” Anika bertutur dengan serius.


“Aku belum tahu, tadinya mau ku carikan manajer lain tapi dia bersikeras mau kamu saja yang jadi manajernya. Mengenai kemampuannya, aku sudah mendengar sendiri suaranya saat bernyanyi, dia butuh bimbingan lebih dan pasti bisa kalau dia juga mau berusaha,” jelas Ravin.


“Aku belum mengumumkan dia sebagai pendatang baru di sini karena aku membuat keputusan secara mendadak. Tapi, jika kamu mau membantu, secepatnya aku mengatur surat-surat kontrak untukmu dan Sherin,” lanjut Ravin.


Sherin berkali-kali menelan saliva dengan susah, tenggorokannya tiba-tiba kering. Di saat seperti ini ia malah haus dan juga perutnya mendadak mulas. Dia pernah mengalami hal serupa saat dulu masih awal memulai karier sebagai Prisha dan tentunya membuat jantung berdebar-debar saking gugupnya.


“Asal semua bisa berjalan lancar, aku mau bekerja di sini,” Anika mengangguk tanda ia menyetujui ajakan Sherin.


“Selamat bergabung,” Ravin dan Anika berjabat tangan.


Anika menunggu perkataan Ravin selanjutnya. “Bukankah kamu bekerja di DY entertainment? Tapi, kenapa kamu tiba-tiba mau bergabung di sini?”


Pertanyaan itu sangat penting bagi Ravin, ia tidak mau jika di lain hari ada yang menuduhnya telah mengambil orang dari DY entertainment.


“Kamu tenang saja, kemarin aku sudah menyerahkan surat pengunduran diri dan aku minta secepatnya untuk di urus. Lagi pula aku sekarang senggang, tak ada kerjaan.”


Sherin yang mendengar itu seketika berkomat-kamit, tadi ketika di restoran Anika bilang dia sibuk tapi nyatanya sekarang Anika memang pengangguran.


Ketersediaan Anika membuat Sherin amat senang. Bahkan, tanpa menunggu hari lain Anika akan langsung membantu Sherin untuk mengubah sedikit penampilannya.


“Pilihlah pakaian yang cocok dengan lagumu, aku lihat kalau lagu ini menggunakan nada rendah dan tinggi, liriknya bermakna dalam. Untuk itu lebih baik kamu cari pakaian berwarna biru atau abu-abu,” titah Anika.


Mereka sedang melakukan pemotretan untuk cover album pertama Sherin. Masih di Star entertainment, Sherin sedang di bingung kan dengan pakaian yang akan di pakai.

__ADS_1


Setelah mendapat instruksi dari Anika, Sherin mulai mencari pakaian yang cocok dibantu oleh Meylin. Ada banyak pakaian di ruangan ini, makanya Sherin bingung.


“Biru, abu-abu,” gumam Sherin terus meneliti pakaian yang ada.


Lalu, netra Sherin menangkap sebuah dress berwarna abu-abu yang panjangnya selutut. Sherin mengambilnya dan ia bawa untuk menunjukkan pada Anika. Saat itu juga, Meylin datang membawa dress berwarna biru yang juga cantik tapi panjangnya hampir sampai mata kaki.


“Pilihan kamu pasti lebih panjang dari pada pilihan ku,” ucap Sherin.


“Dari mana kamu tahu?” Meylin mengernyit, apa yang Sherin katakan memang benar.


Jika ia di suruh membantu memilih pakaian, pasti selalu berbeda dengan Prisha. Jika pilihan Prisha hanya sebuah dress yang panjangnya selutut maka lain dengan Meylin yang memberinya dress panjang bahkan bisa saja menjuntai ke lantai.


“An, coba kamu pilih antara punyaku dan Meylin lebih cocok yang mana?” Sherin menyodorkan dress pilihannya, di ikuti oleh Meylin.


Anika mengamati, dress yang di ambil Sherin memang bagus tapi terasa kurang cocok karena terlalu pendek dan tidak sesuai dengan tema meski warnanya sudah benar.


Lalu beralih ke Meylin, punya Meylin berwarna biru laut, jika di teliti maka dress ini hampir mirip dengan dress yang ada di film Cinderella.


“Sepertinya Meylin sudah lebih pintar dalam memilih pakaian dan kamu masih kurang pemahaman dalam hal ini,” kata Anika langsung membuat Sherin terkena pukulan mental.


“Jadi, aku akan memakai pilihan Meylin?” Sherin tersenyum kecut, jika begini percuma ia memilih.


“He'em, punya Meylin lebih cocok untuk lagu ini. Cepat kamu pakai dan segera di make up, kita tidak punya banyak waktu untuk hari ini,” titah Anika.


“Lagian kenapa kamu nekat sekali, belum juga resmi keluar dari DY tapi kamu langsung bekerja di tempat lain. Aneh,” Sherin melengos, ia mengambil pakaian dari Meylin dan langsung menuju ruang ganti.


“Nekat, hmm? Jika bukan karena bos mu yang juga memberi perintah untuk lebih cepat mana mungkin aku langsung mau, sepertinya akan menyenangkan membimbing mu, aku tak akan merasa bosan. Selain Prisha, kamu ternyata yang kedua,” Anika tersenyum mengerikan di mata Sherin, dengan langkah seribu Sherin langsung kabur.


Anika tidak berubah, dia masih keras ketika dalam mode serius. Sherin sudah biasa menghadapi kemarahan Anika jika dia ada melakukan kesalahan. Tapi, ini yang Sherin sukai.


*****


Di tempat lain, ada Ravin yang sedang berdiskusi dengan seseorang. Ini masih mengenai Sherin, pria itu sedang mencoba mencari cara yang tepat untuk membuat pengumuman resmi mengenai Sherin yang akan di angkat menjadi artis pendatang baru di perusahaan ini.


“Begini saja, kamu masukkan nama Sherin ke dalam list artis pendatang baru. Jangan lupa tampilkan fotonya agar peserta yang lain tidak curiga,” Ravin bertutur pada asisten yang jarang menampakkan wujud, namanya Wildan.

__ADS_1


“Tapi, Pak. Bukannya akan lebih mencurigakan kalau Sherin di masukkan ke list peserta, masa baru daftar langsung debut,” timpal Wildan kembali membuat Ravin mendesah bingung.


“Benar juga,” siang menjelang sore itu mereka habiskan untuk membahas mengenai Sherin yang akan masuk ke Star entertainment, pasalnya Sherin berbeda dengan peserta lain yang mendaftar lewat seleksi audisi, sedangkan Sherin mendaftar lewat orang dalam, yakni langsung dengan bos, pemilik perusahaan hiburan.


__ADS_2