
Iriana meletakkan ponsel milik Rainer kembali di atas nakas, keningnya berkerut setelah telepon dimatikan. Tak lama pintu kamar mandi terbuka, nampak Rainer keluar dari sana hanya dengan menggunakan handuk yang melilit sampai batas pinggang.
“Kenapa?” tanya Rainer, pria itu berjalan menuju lemari pakaian.
“Tadi ada yang menelepon mu, katanya tukang antar makanan. Dia tanya alamat tempatmu, memangnya kamu pesan makanan?”
Rainer berhenti memilih pakaian, tertegun sejenak lalu berdehem. “Laki-laki atau perempuan?”
“Suaranya perempuan,” Iriana mendekati Rainer lalu memeluk pria itu dari belakang. Menghirup aroma Rainer yang membuatnya selalu merindukan pria itu.
Rainer tahu itu adalah Grisel. Beruntungnya Rainer tak memberi nama khusus pada kontak Grisel di ponselnya. Dalam hati bertanya-tanya kenapa Grisel menghubunginya secara tiba-tiba. “Iya, aku hampir lupa kalau tadi sebelum kamu aku datang memesan makanan. Aku malas pergi keluar,” alasan Rainer.
Iriana hanya mengangguk percaya bahwa yang menelepon tadi itu adalah tukang antar makanan. Wanita itu mendesah berat, pelukan semakin erat.
“Rai, kita tunangan, ya,” pinta Iriana. Frustasi karena Rainer terus menolak, padahal ini demi kebaikan mereka berdua. Supaya tak ada orang lain lagi dalam hubungan mereka.
“Aku 'kan sudah bilang, jangan dalam waktu dekat ini. Aku sibuk, kamu juga sedang sibuk 'kan? Karier mu baru mulai naik.”
“Lagian hanya tunangan. Satu malam selesai, untuk persiapan aku minta orang tuaku yang mengatur. Kenapa kamu selalu menolak?” Lama-lama Iriana kesal, alasan sibuk kurang masuk akal baginya tapi setiap ia membujuk Rainer hanya alasan itu yang keluar dari mulut kekasihnya.
“Kamu lupa dengan Prisha? Semua orang tahu aku adalah kekasihnya, dia meninggal belum ada tiga bulan dan kalau orang-orang tahu aku sudah tunangan dengan orang lain apa kata mereka? Aku khawatir mereka akan menghujatmu.”
Alasan Rainer yang satu ini membuat dada Iriana kembang kempis. Ia lepas pelukan dan menatap Rainer tajam. “Kamu masih punya perasaan dengan orang yang sudah mati?!” tuduhnya.
Rainer terkejut. Pria itu balik badan dan menatap Iriana dalam. “Bukan begitu maksudnya. Kita tunggu sebentar lagi, minimal lebih dari seratus hari kematian Prisha baru kita umumkan hubungan kita ke publik. Atau mau langsung menikah? Aku tak masalah.”
Mendengar itu Iriana bernapas lega, tapi masih ada rasa kesal di hatinya. Ternyata selain sibuk alasan Rainer adalah Prisha. Iriana membenci semua yang berhubungan dengan wanita lain di dalam hubungannya dengan Rainer. Walaupun dulu dia yang ke-dua, tapi Iriana ingin tetap menjadi prioritas Rainer.
Nomor dua hanya angka, status yang sebenarnya adalah dia yang pertama. Terbukti dengan hubungan mereka yang jauh lebih dalam di banding hubungan Rainer dan Prisha. Rainer sudah lebih dulu jadi miliknya.
“Janji, ya. Jangan ingkar, setelah lebih dari seratus hari Prisha mati kita akan umumkan hubungan kita ke publik.” Iriana kembali memeluk Rainer, menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Rainer.
__ADS_1
“Iya, Sayang.”
...⚫⚫⚫...
Semakin lama tubuh Grisel semakin lemas, padahal tadi pagi sudah lebih baik. Makan bubur tidak terasa mual sehingga perutnya kenyang, tapi siang ini dia kembali lemas. Perutnya seperti di kocok-kocok, kalau tidak di periksa Grisel tidak akan tahu dia terkena penyakit apa.
“Apa aku ke rumah sakit saja, ya? Sekalian jenguk ibu,” gumam Grisel.
Akhirnya ia memutuskan untuk datang ke rumah sakit, memeriksakan diri sekaligus menjenguk ibunya yang masih belum sadar dari koma. Grisel bangkit dari tidurnya, tubuh yang lemas membuatnya sedikit terhuyung saat berjalan.
Dengan memakai sweater tebal, Grisel pergi menggunakan busway. Tak jauh tempatnya, sekitar dua puluh menit sudah sampai di rumah sakit. Segera Grisel mendaftarkan diri dan menunggu antrean.
Cukup lama menunggu, nama Grisel baru di panggil. Dokter menanyakan keluhan yang di alami Grisel. Wanita itu menceritakan semuanya, dari mual di pagi hari yang sudah terjadi sekitar seminggu. Keinginan makan sesuatu di malam hari hingga dia tak bisa tidur nyenyak. Tubuh lemas seperti tidak bertenaga juga pola makannya.
Dokter mengangguk. Mencatat semuanya. “Saya sarankan kamu pergi ke dokter kandungan, saya lihat semua keluhan yang kamu sebutkan mirip dengan orang hamil. Tadi saya juga sudah memeriksa, kamu sehat. Tak ada penyakit yang berbahaya.”
Satu kata yang membuat Grisel mematung. 'Hamil'. “A—apa, Dok? Saya hamil?” Grisel terbata, masih tidak percaya.
Dokter wanita itu sedikit terkekeh, ia taruh catatan di atas meja lalu membantu Grisel turun dari brankar dorong atau tempat tidur stretcher rumah sakit. Membawa Geisel duduk di sebuah kursi yang berhadapan dengan meja kerjanya.
“Saya punya kenalan dokter kandungan, kebetulan hari ini dia tidak sibuk. Saya bisa bantu kamu membuat janji. Oh ya, di mana suami kamu?” tanya dokter itu membuat Grisel menunduk.
“Lagi kerja, saya juga tidak bilang kalau akan datang ke sini,” dusta Grisel sembari tersenyum kecut, namun berusaha dia tutupi.
“Begitu, saya juga sering bertemu dengan pasien seperti kamu. Nah, saya sudah kirim pesan ke teman saya, kamu bisa ke sana sekarang. Ruangannya tidak jauh dari sini, tinggal lurus lalu belok kanan. Ada nama dokter Findy di depan pintu.”
Grisel mengangguk, tak lupa mengucapkan terima kasih. Dengan harapan yang besar Grisel ingin tebakan dokter wanita tadi salah. Ia tidak mungkin hamil, selama berhubungan dengan Rainer, pria itu selalu memakai pengaman.
Ah, dia lupa kalau pernah satu kali saat Rainer mabuk mereka berhubungan tanpa pengaman. Grisel tetap berharap bahwa tebakan dokter tadi salah, dia tidak hamil.
“Selamat datang, saya Findy yang sudah di kenalkan oleh dokter Dela tadi, kamu Grisel betul?” dokter Findy memastikan pasien yang datang benar adalah pasien yang di bilang temannya.
__ADS_1
“Iya, Dok. Saya Grisel.”
“Silakan berbaring, biar saya periksa.”
Grisel melakukan apa yang dokter Findy suruh, setelah berbaring Findy membuka sedikit pakaian Grisel. Lalu mengoleskan gel dan mulai melakukan USG.
“Wah, selamat! Kamu benar-benar hamil,” ucap dokter Findy antusias. Kedua matanya berbinar lain dengan Grisel yang merasa ketakutan.
Apa yang ia harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Dia benar-benar hamil, anak Rainer. Grisel tak pernah menyangka. Kalau Rainer mendengar ini bagaimana reaksi pria itu?
“Sudah berapa bulan, Dok?” tanya Grisel dengan nada bergetar.
“Sebentar, kapan terakhir kali kamu datang bulan?”
Grisel nampak berpikir. Setelah di ingat-ingat ia memang sudah lama tidak datang bulan, dua bulan lamanya tak ada tanda-tanda akan datang bulan. Grisel pikir itu adalah efek kelelahan jadi dia tak mempermasalahkan.
“Usia kandungan kamu sudah masuk minggu ke-enam, jangan lupa tebus obat yang sudah saya tulis. Jangan terlalu kelelahan, jaga pola makan agar kamu tidak terlalu lemah. Di trimester pertama harus di jaga dengan baik kandungannya, satu bulan sekali datang lagi ke sini untuk periksa,” pesan dokter Findy tadi.
Grisel berjalan di lorong rumah sakit dengan lemas, berita kehamilan ini tidak membuatnya senang, melainkan takut. Bagaimana kalau Rainer tak mau menerima anak ini?
Langkah kaki Grisel membawanya menuju ruangan di mana ibunya sedang tertidur entah kapan akan bangun. Alat penunjang hidup melekat di tubuh sang ibu. Grisel terduduk lemas di kursi yang berada di samping ranjang ibunya.
Karena sudah tidak tahan air mata Grisel akhirnya tumpah. Berusaha menahan tangis malah membuatnya semakin tersiksa. Grisel terisak. “Maaf, Bu.”
Tubuh Grisel bergetar, kenapa hari ini dia merasa lemah sekali? Biasanya tak akan menangis tapi tidak kali ini.
“Aku takut.”
“Ibu kapan bangun? Temani Grisel, Bu. Bilang sama Grisel, aku harus gimana? Aku takut kalau Rainer tahu aku hamil dia malah nggak mau nerima anak ini. Lalu nasib kami gimana? Apalagi Rainer mau tunangan.”
Grisel mencurahkan semua isi hatinya, menumpahkan air mata di samping ibunya yang tidak sadarkan diri. Ia juga sadar kalau ini adalah salahnya juga. Tapi, Grisel tak tahu ini akan terjadi. Menyesal? Setengah iya dan setengah tidak.
__ADS_1
Kenapa dia harus mencintai Rainer? Pria yang pernah menolongnya dan berani menyerahkan diri untuk Rainer yang sudah punya kekasih? Grisel tak tahu kenapa hal ini terjadi padanya. Dia terus menangis, sehingga tidak menyadari kalau sepanjang hari ada yang terus mengikutinya.