Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 32


__ADS_3

Sore ini Iriana berencana pergi ke apartemen Rainer, dari kemarin tidak ada kabar membuatnya sedikit was-was. Dengan berhati-hati Iriana pergi, sepanjang jalan mengamati sekeliling.


Begitu tiba di depan pintu apartemen, Iriana memencet tombol dan otomatis pintu langsung terbuka. Aroma ruangan di campur parfum khas milik Rainer menyeruak, memasuki indra penciuman nya.


Iriana yakin kalau Rainer pasti ada di sini.


Dengan cepat dia menuju kamar Rainer yang pintunya terbuka setengah. Iriana langsung masuk dan tentunya mengejutkan Rainer.


“Sayang?” Rainer terkejut.


Iriana menghampiri dan memeluk kekasihnya erat, dia rindu. “Kamu dari mana? Dari kemarin tidak ada kabar, kamu tahu 'kan kalau aku tidak bisa jauh-jauh dari kamu.”


Rainer yang sedang duduk bersandar pada headboard itu langsung mengelus pucuk kepala Iriana yang kini menempel di dadanya. Ia tidak menyangka kalau Iriana akan datang dengan tiba-tiba tanpa memberitahunya lebih dulu.


Beruntung pacar keduanya sudah pulang tadi pagi, jadi Iriana tidak akan memergokinya seperti saat Prisha yang datang di waktu yang tidak tepat dan menganggu malamnya dengan Iriana. Sehingga berakhir Prisha mati mengenaskan dalam kecelakaan mobil.


“Maaf, aku lupa. Kemarin aku demam dan tidak melihat ponsel karena pusing,” ucap Rainer lemah seakan ia merasa bersalah.


“Kamu demam?” Iriana mengangkat wajah, tangannya terulur mengusap kening Rainer yang biasa-biasa saja. Normal.


“Ia, pagi ini aku baru sembuh, aku menelepon dokter dan meminta obat. Kamu tak perlu khawatir,” Rainer tersenyum hangat membuat Iriana merasa lega.


“Syukurlah, coba kamu telepon aku saja biar aku yang mengurusmu. Aku takut kamu kenapa-napa.”


“Aku tidak ingin merepotkan mu, sayang. Kamu lihat sendiri 'kan kalau aku sudah sembuh?” Rainer mempererat pelukannya.


“Bukan cuma kamu yang tidak bisa jauh-jauh dari aku, tapi aku pun sama, tidak bisa jauh-jauh dari kamu,” lanjut Rainer.


Dapat mendengar kalimat itu membuat Iriana senang, rasa was-was tadi sudah lenyap di ganti dengan lega. Ia menghirup aroma Rainer dalam-dalam, lalu tiba-tiba ia mengernyit.


“Sayang, kenapa aku mencium aroma parfum wanita?” tanyanya sambil sesekali mengendus.


Rainer terkejut, ia sedikit gugup tapi berusaha terlihat normal. “Masa sih? Aku tidak tahu, mungkin kamu yang salah atau ini aroma dari parfum dokter yang telah merawatku.”


“Apa dokternya wanita?”

__ADS_1


Dengan ragu Rainer mengangguk. “Iya, maaf ya, Sayang. Aku tidak bermaksud apa-apa, kemarin itu kepalaku sangat sakit dan aku tidak memperhatikan nomor siapa yang aku telepon, jadi yang datang dokter wanita.”


Iriana mengerucut, ia tidak suka ada wanita lain yang dekat dengan Rainer. Cukup Prisha yang terakhir, tapi mendengar kata 'sakit' membuat Iriana bungkam. “Lain kali kamu telepon aku saja, aku bisa merawatmu.”


Rainer semakin memeluk Iriana erat. “Iya, Sayang. Aku janji kemarin itu yang terakhir kali.”


Rainer menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan Iriana dan detik berikutnya langsung melahap bibir merah yang di lapisi lipstik itu. Iriana yang sebenarnya masih kesal itu langsung luluh, ia mulai terbuai oleh permainan bibir dan lidah Rainer yang begitu lihai menjelajahi rongga mulutnya.


Di mulai dari gigi, lidah yang saling bertaut hingga menimbulkan bunyi decapan yang memabukkan untuk dua insan yang sedang kasmaran itu.


Ketika tautan bibir terlepas, napas keduanya tersengal, Rainer hendak melanjutkan dengan menciumi leher Iriana namun berhenti kala Iriana menutup mulutnya dengan tangan.


Rainer mengangkat kepala, ia bertanya kenapa Iriana menghentikan kegiatan yang sudah kepalang panas. “Sebentar, Sayang. Ada yang mau aku bicarakan,” kata Iriana.


Meski sedikit kecewa, Rainer tetap mendengarkan. “Aku ada kabar baik—” Iriana menghentikan ucapan, membuat Rainer jadi penasaran.


“Kabar baik apa?”


Iriana yang melihat kekasihnya penasaran itu langsung terkekeh. “Apa kamu tahu? Pihak agensi akan membuatkan aku single terbaru, dan sudah jelas kalau kamu yang akan menuliskan lagu itu.”


Rainer terseyum. “Aku senang kalau kamu juga senang. Selamat, Sayang, aku janji aku akan buatkan lagu yang terbaik.”


Karena hari ini Iriana merasa teramat senang, maka Iriana yang memimpin permainan. Rainer begitu menikmati setiap sentuhan yang Iriana beri. Meski peluh membanjiri, tapi hal itu tidak membuat Iriana lekas menyelesaikan hingga berjam-jam lamanya dan ketika lelah maka Rainer yang memimpin.


...⚫⚫⚫...


Malam tiba, Sherin baru saja menyelesaikan makan malamnya bersama kakek Haris dan nenek Linda. Seorang pelayan tiba-tiba datang dan bilang kalau Ravin ada di depan pintu.


“Kenapa tidak suruh Ravin masuk?” tanya kakek Haris.


“Maaf, Tuan. Tadi sudah saya suruh masuk tapi tuan Ravin nggak mau. Dia bilang, pengin ketemu sama non Sherin.”


“Kalau begitu, Sherin kamu cepat suruh Ravin masuk, di luar dingin dan takutnya nanti malah masuk angin,” nenek Linda berucap.


Sherin yang baru saja selesai minum itu mengangguk, ia beranjak meninggalkan kakek dan neneknya yang sedang mengobrol usai makan malam.

__ADS_1


Tiba di depan pintu, Sherin melihat Ravin berdiri membelakangi. Lalu, ia tepuk pundak lebar itu membuat sang empu sedikit tersentak.


“Tak ada angin tak ada hujan, tumben-tumbenan datang tanpa di undang,” celetuk Sherin.


“Kangen ya, Mas?” Sherin mengedipkan sebelah mata, berniat menggoda tapi bercanda.


“Memangnya aku tidak boleh menemui tunangan ku sendiri?” Ravin balik bertanya.


“Eh?” Sherin linglung.


“Lagian, kenapa kamu selalu merubah panggilan untukku. Kemarin 'Yank', lalu 'Bebeb', di kantor tadi 'Pak' dan sekarang 'Mas'. Sebenarnya kamu ingin memanggil aku dengan sebutan apa?” Ravin sedikit jengah.


Sherin menggaruk kepala, ia sendiri bingung ingin memanggil Ravin dengan sebutan apa. “Tak tahu, menurutmu panggilan apa yang cocok?” Sherin bertanya padahal pertanyaan Ravin tadi belum dia jawab.


“Kenapa malah tanya aku? Ya mana aku tahu,” Ravin mengendikkan bahu sambil mendengus.


“Sudahlah, itu tidak penting. Ada apa gerangan kamu tiba-tiba datang kemari?”


“Sudah ku bilang, aku ingin bertemu tunangan ku. Sekalian aku mau memberimu ini,” Ravin menyodorkan sebuah tas besar yang mana membuat Sherin melotot.


Sherin tahu apa isi dari tas itu. Segera ia menerimanya dan mengajak Ravin untuk duduk di kursi panjang dekat taman di halaman rumah.


“Mas, kamu beneran mau memberikan ini padaku?” Sherin masih tidak percaya.


“Iya, sebagai hadiah untuk single pertamamu. Lagian, biasanya seorang tunangan akan memberi hadiah dan aku sama sekali belum memberimu apa-apa, jadi sekalian aku beri kamu ini.” Ravin sedikit salah tingkah, refleks ia menggaruk kepala.


Sherin tertegun, ia menatap Ravin dan kemudian tatapan mereka bertemu. Ini adalah hadiah pertamanya dari Ravin, padahal Sherin tahu kalau Ravin tak menyukainya tapi tetap mau memberi hadiah tanpa di paksa.


Jadi, apa Ravin benar-benar menerima pertunangan ini?


“Terimakasih,” ucap Sherin dengan senyuman termanisnya, sejenak Ravin terpaku.


Di bawah sinar rembulan, netra Sherin terlihat bersinar. Menampilkan cahaya putih dari pantulan bulan di langit malam. Senyumannya nampak mempesona, membuat darah Ravin tiba-tiba berdesir di sertai detak jantung yang berpacu melebihi batas normal.


Angin berembus menerpa wajah keduanya, rambut bergoyang dan hawa dingin menyeruak, namun tidak membuat keduanya berpindah pandangan, masih saling tatap untuk beberapa saat, begitu dalam seakan menyalurkan perasaan yang tanpa mereka sadari tumbuh perlahan.

__ADS_1


__ADS_2