Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 24


__ADS_3

Sharin termenung ketika di dalam mobil, memikirkan ucapan dokter Dhafi tadi. Bekas luka di wajahnya bisa sembuh tidak sampai satu bulan, senang? Tentu ia senang. Bagaimanapun juga itu yang Sherin inginkan.


“Aku akan pergi ke kantor, kamu silakan pulang sendiri naik taksi,” celetuk Ravin, Sherin yang mendengar itu menoleh.


Ia merengut tidak suka, berpikir kalau Ravin ini ternyata suka menurunkan orang di pinggir jalan. Cuaca di luar panas dan bisa membakar kulitnya. Apalagi Sherin tidak bawa uang, ralat, tidak punya uang.


“Aku ikut kamu,” pinta Sherin.


“Kenapa? Kamu pikir aku mau jalan-jalan? Aku tidak mau!” tolak Ravin.


Sherin semakin merengut, kini ia benar-benar tidak berdaya karena kemiskinannya. “Bagaimana aku bisa pulang kalau aku tidak bawa uang? Ayolah, aku ikut kamu. Aku tau kamu bukan pergi jalan-jalan, tapi bekerja. Aku bisa berjanji kalau aku tidak akan mengganggumu,” ucap Sherin jujur, tatapannya memelas membuat Ravin tidak tega.


Ravin memutar bola matanya malas lalu berkata, “Kamu ini anak orang kaya kenapa bisa tidak punya uang?”


“Anak orang kaya itu hanya sebutan, aku ini anak yang tidak di inginkan. Coba kalau kamu lihat kamarku yang ada di rumah Arvin, pasti kamu tidak mau masuk,” curhatnya.


“Kamu tidak sopan memanggil papamu dengan nama.”


Sherin berdecih, “Siapa yang sudi punya papa seperti dia?!”


Ravin tidak menanggapi ucapan Sherin, ia masih fokus pada jalanan di depannya sampai mobil berhenti tepat di parkiran khusus. Mereka keluar dari mobil, Sherin yang mengamati sekeliling itu langsung terperangah.


“I— ini bukannya Star Entertainment?” tanya Sherin.


“Kamu tahu?” heran Ravin, ia pikir Sherin ini terlalu kampungan walau tinggal di rumah orang kaya. Rupanya tidak terlalu, ia yang berpikir berlebihan.


“Siapa yang tidak kenal Star Entertainment, perusahaan ini setara dengan DY Entertainment, bahkan saat itu Prisha punya niatan untuk pindah ke perusahaan ini. Tapi, sayangnya dia tidak punya kesempatan,” ucapnya dengan raut wajah berbinar.


Yang Sherin katakan itu benar adanya, Star Entertainment adalah tujuan Prisha selanjutnya. Prisha ingin mencoba hal baru di tempat lain, melanjutkan karier yang tidak selalu di satu tempat.


Perkataan Sherin menimbulkan kerutan di dahi Ravin, mengenai Prisha yang ingin pindah ke perusahaannya.


“Bagaimana kamu tahu?” tanya Ravin curiga.


Sherin yang baru sadar dengan ucapannya itu langsung menutup mulut. “Aku hanya asal menebak, maksudnya kontrak Prisha dengan DY Entertainment 'kan hampir habis, mungkin saja setelah ini Prisha ingin mencari pengalaman di tempat lain. Star Entertainment salah satunya,” jelas Sherin dengan gugup.


Walaupun masih curiga Ravin tak bertanya lagi. Tanpa menunggu Sherin, Ravin langsung berjalan memasuki gedung yang memiliki delapan belas lantai. Sherin yang baru pertama kali menyusuri tempat ini langsung terpukau, berbeda dengan DY Entertainment, kantor ini terlihat lebih mewah nan elegan.


“Perusahaan ini kamu sendiri yang merintisnya?” tanya Sherin di sela perjalanan mereka menuju ruangan Ravin berada.


“Memang aku yang mendirikan perusahaan ini, namun aku tidak mungkin bisa merintisnya sendirian. Kemampuanku tak sehebat itu,” jawab Ravin.


“Bukannya keluarga mu punya perusahaan sendiri? Kenapa kamu harus repot-repot membangun Star Entertainment?” Sherin jadi penasaran, se-tahunya keluarga Ravin punya perusahaan sendiri tapi anehnya Ravin malah bersusah payah untuk membangun Star entertainment.


“Kamu tahu apa sih? Bagiku punya usaha sendiri itu lebih menguntungkan daripada ikut orang lain, lebih enak menjadi bosnya dari pada anak buah,” ucap Ravin, kini mereka telah sampai di depan ruangan Ravin. Ada sekretaris yang menunggu di depan pintu.


“Emangnya aku tanya? Aku cuma penasaran dan kalau kamu tak melanjutkan perusahaan keluarga lalu siapa?”


Begitu masuk ke dalam Sherin kembali terpukau, ruang kerja Ravin begitu besar dan mewah. Tata letak barang-barang sangat rapi.


“Aku masih punya adik yang bisa menggantikan aku,” kata Ravin, ia pun duduk di kursi kebesarannya dan mulai membuka laptop.

__ADS_1


“Adik? Tapi, aku tak pernah melihatnya,” Sherin bertanya sambil berkeliling ruangan.


Ia suka dengan tempat ini.


“Sudahlah, kamu ternyata sangat cerewet. Aku punya banyak pekerjaan dan kamu jangan sampai menggangguku,” titah Ravin yang di balas anggukan kepala oleh Sherin.


Sherin duduk di sofa yang tersedia, matanya masih mengamati seluruh isi ruangan ini. Ada rak buku besar yang berisi dokumen-dokumen serta buku-buku tebal lainnya.


Tiba-tiba terpikir sebuah ide, Sherin termenung. Jika ia bekerja di sini apa karirnya bisa di mulai kembali?


Ada Ravin sang tunangan yang bisa membantunya. Sherin pun butuh uang untuk biaya hidupnya saat ini. Senyum Sherin mengembang kembali.


“Mas!” panggil Sherin pada Ravin, pria itu menghentikan pekerjaannya sesaat.


“Kenapa lagi? Sudah kubilang jangan mengganggu,” desis Ravin.


Sherin berdiri, ia berjalan dan duduk di hadapan Ravin. Menatap pria itu serius.


“Apa aku bisa bekerja di sini?”


Jelas saja Ravin terkejut. “Bekerja di sini? Bekerja apa?” tanya Ravin dengan kening berkerut.


“Penyanyi,” jawab Sherin langsung mengundang tawa Ravin.


“Penyanyi? Kamu ingin jadi artis? Apa kamu serius?” Ravin tergelak, ia berusaha menahan tawa dan hal itu membuat Sherin kesal dengan bibir mengerucut.


“Kamu meremehkan aku,” kesal Sherin.


Sherin menyeringai, dengan percaya diri ia mengangguk. “Apa kamu punya gitar?” tanyanya langsung, tak perlu memerlukan waktu untuk membuktikan diri bahwa ia mampu bekerja di sini, kembali memulai karier dan menjadi bintang bersinar.


“Kamu yakin?” tekan Ravin.


Sherin mengangguk mantap, ia benar-benar bersemangat ketika mendapatkan lampu hijau dari Ravin.


“Di balik pintu ada ruang istirahat, kamu masuk dan ambil gitar di atas meja dekat ranjang,” titah Ravin, Sherin langsung mengambil barang yang ia butuhkan.


Lagi Sherin di buat terperangah, ruang istirahat di tempat kerja Ravin tak kalah besar dari kamar Ravin yang ada di rumah mama Dina. Ranjang kingsize yang sangat nyaman di tiduri, AC kamar yang menyala, kamar mandi yang besar di tambah pemandangan dari luar jendela begitu indah di pandang mata.


Sherin keluar dari ruang istirahat dengan membawa sebuah gitar, ia kembali duduk di hadapan Ravin. Mundur sedikit untuk memberikan ruang.


“Hanya Rindu,” Sherin mulai memetik gitar.


“Saat ku sendiri kulihat photo dan video


Bersamamu yang tlah lama kusimpan


Hancur hati ini melihat semua gambar diri


Yang tak bisa ku ulang kembali


Kuingin saat ini engkau ada di disini

__ADS_1


Tertawa bersamaku seperti dulu lagi


Walau hanya sebentar Tuhan tolong kabulkanlah


Bukannya diri ini tak terima kenyataan


Hati Ini hanya rindu


Segala cara telah kucoba


Agar aku bisa tanpa dirimu oh


Namun semua berbeda


Sulitku menghapus kenangan bersamamu


Kuingin saat ini engkau ada di disini


Tertawa bersamaku seperti dulu lagi


Walau hanya sebentar Tuhan tolong kabulkanlah


Bukannya diri ini tak terima kenyataan


Hati Ini hanya rindu oh


Hanya rindu


Kuingin saat ini engkau ada di disini


Tertawa bersamaku seperti dulu lagi


Walau hanya sebentar Tuhan tolong kabulkanlah


Bukannya diri ini tak terima kenyataan


Oh bukannya diri ini tak terima kenyataan


Hati Ini hanya rindu oh


Hati Ini hanya rindu hm


Kurindu senyummu Ibu.”


Tanpa sadar Sherin mengeluarkan air mata, segera ia usap. Lagu itu berakhir sempurna dengan suara Sherin yang indah di dengar. Bahkan Ravin sampai merasa tak percaya, ia terpaku seakan masih mendengar Sherin bernyanyi.


“Bagaimana?” tanya Sherin penuh harap.


Ravin memandang Sherin dalam, dari tatapannya mengandung banyak arti. Ravin baru tahu kalau Sherin punya suara sebagus ini. Hal ini merupakan kejutan untuknya, lalu seberapa banyak kejutan lagi yang Sherin simpan? Ravin ingin melihatnya.


“Sekali lagi aku tanya, kamu serius mau menjadi penyanyi? Masuk ke dalam dunia hiburan yang keras? Merelakan masa bersenang-senang untuk mencari penggemar dan menaikkan popularitas serta tidak tertekan jika di musuhi artis lain?”

__ADS_1


__ADS_2