Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 88


__ADS_3

Suasana hening untuk beberapa saat, bibir Tira terasa kelu hanya untuk mengeluarkan kata. Pemuda di hadapannya adalah putra kandungnya, dulu dia hanya bayi mungil yang hanya bisa menangis dan terus menangis. Lalu Tira tinggalkan bersama seorang kakak yang bahkan belum bisa mengurus dirinya sendiri.


Bagaimana dia bisa tidak mengenali putranya sendiri? Apakah karena tak pernah bertemu selama belasan tahun? Atau karena dia lupa kalau dia juga mempunyai seorang putra?


“Kenapa?”


Tira tersentak dan tersadar. Pemuda di hadapannya tidak menangis, tidak terharu karena bertemu ibu kandungnya. Tapi dia bertanya, kenapa dulu ibunya meninggalkan dirinya dan sang kakak? Apakah ibunya juga tidak sayang padanya? Jelas bukan karena itu alasan Tira meninggalkan mereka berdua.


“Maaf ... ”


“Aku tak butuh kata maaf tapi aku butuh penjelasan. Kenapa?”


Pertanyaan terus berputar di kepala Kael. Tak pernah bertemu ibunya sejak kecil sehingga Kael tak tahu bagaimana wajah sang ibu. Sekarang, dia bertemu. Tapi kenapa tak ada perasaan layaknya anak yang bertemu ibunya? Dia hanya merasa sesak dan penasaran.


“Apa karena kami merepotkan? Atau beban? Oh, atau Anda memang tidak menginginkan kami?” Kael berusaha menebak tapi Tira menggeleng.


“Sungguh bukan itu alasannya. Kalian bukanlah beban, kalian tidak pernah merepotkan aku. Aku menyayangi kalian.” Air mata Tira menetes, sulit menjelaskan apa alasan dulu dia meninggalkan anak-anaknya.


Mungkin jika mereka mendengarkan penjelasan darinya, mereka akan berpikir alasan itu tidak masuk akal.


“Lalu apa?!” Kael sedikit membentak. Sherin maju dan mengusap punggung pemuda itu. Di bawah pohon, Cahaya hanya mengamati mereka tanpa mendekat. Dia sadar diri.


“Aku hanya tidak bisa lagi tinggal di sana, rasanya sangat menyiksa karena orang-orang di sana selalu bicara buruk tentangku. Mereka tidak tahu seperti apa kehidupan ku untuk bertahan. Tapi, satu hal yang perlu kalian ingat, aku tidak menelantarkan kalian.”


“Setiap minggu aku selalu mengirim uang lewat tetangga, sampai saat kakakmu mulai bisa mencari uang sendiri, aku selalu mengirim uang.”


Kael dan Sherin terdiam, emosi rasanya mendengar alasan itu. “Setidaknya bawalah kami kemanapun Anda pergi. Anda pikir dengan uang kami hidup bahagia? Tanpa ibu, kami seperti anak yatim-piatu yang selalu membutuhkan belas kasih. Padahal kami masih punya ibu!”


Kael mengatakan itu dengan nada membentak, perasaannya jadi campur aduk.


Tira menggeleng. “Aku tidak bisa membawa kalian. Karena saat itu aku akan menikah, kalau aku membawa kalian mana mungkin kalian bisa makan tiga kali sehari.”


Sherin memijit pelipisnya pelan, jadi ibunya kabur karena akan menikahi pria lain? Demi uang dia tega menelantarkan anaknya meski setiap minggu selalu mengirim uang.


Tinggal di rumah hanya dengan bersama adik yang masih kecil itu tidak mudah. Prisha harus mengawasi adiknya saat bermain, belum membereskan rumah atau mencuci pakaian. Hingga Prisha tak punya kesempatan untuk sekolah.


Prisha hanya bisa minta tolong pada tetangga yang mau membantu, mengurus adiknya sebentar sementara dia mencuci baju dan piring serta membereskan rumah yang cukup berantakan. Untuk makanan, untungnya tetangga yang selalu memberi uang itu juga mau membawakan makanan tiga kali sehari.


“Setidaknya temui kami walaupun cuma satu kali dalam seminggu,” Kael mendengus sambil memalingkan wajah, tak ingin bertanya lagi karena pertanyaannya sudah terjawab.


Kael berbalik, hendak melangkah pergi di ikuti Sherin. Wanita paruh baya itu menangis meski tanpa suara. Menoleh ke arah makam lalu berbalik melihat punggung Kael yang semakin menjauh.


“Nak ... ” panggil Tira.


Kael bergeming dan tetap melanjutkan langkahnya. Tira menyusul mereka dengan sedikit berlari kemudian tanpa sengaja kakinya tersandung batu hingga terjatuh.


“Argh ... ” ringis Tira.


Kael dan Sherin kompak menoleh, terkejut melihat Tira yang terjatuh. Sementara Tira merasakan dadanya yang nyeri dan sesak, mencoba mengatur napas yang mulai naik turun dengan cepat.

__ADS_1


“Kael ... ” lirih Tira sebelum kesadarannya menghilang. Meskipun tak ingin peduli, nyatanya rasa kemanusiaan membuat Kael segera berlari dan melihat ibunya yang sudah tak sadarkan diri.


“Anda kenapa? Bangun?!” Kael menepuk-nepuk pipi Tira namun tak membuat Tira lekas membuka mata.


“Dia pingsan, lebih baik kita bawa ke rumah sakit ... ” saran Sherin.


Cahaya yang ikut terkejut lantas menghampiri Kael. “Iya, El, mendingan bawa ibu lo ke rumah sakit. Kasihan lihatnya.”


Kael mengangguk dan segera mengangkat Tira, menggendong dan segera pergi ke luar pemakaman.


“Akan aku pesankan taksi,” timpal Meylin.


Mereka semua menyusul Kael. Sherin ikut merasa khawatir, tiba-tiba Ravin menggenggam jemarinya yang sudah keluar keringat dingin. Pria itu mengajaknya masuk ke dalam mobil.


“Biar mereka yang urus, kita pulang saja.”


“Tapi—”


“Kamu lelah, kamu butuh istirahat!” tekan Ravin, Sherin tak bisa membantah.


Ketika taksi pesanan Meylin datang, barulah Ravin melajukan mobilnya meninggalkan pemakaman. Dalam benak pria itu banyak sekali pertanyaan, tapi melihat kondisi Sherin saat ini. Ravin tak ingin banyak bertanya. simpan saja dulu, siapa tahu Sherin sendiri yang akan cerita.


.


.


.


GODDESS OF THE SEA


Genre: Romantis Fantasi


blurb:


Antara cinta dan kekuasaan, mana yang akan dia pilih?


Aletha menyaksikan sendiri bagaimana makhluk yang menjadi musuh terbesar di sukunya membunuh ibunya dengan brutal. Dengan terpaksa Aletha meninggalkan tempat tinggalnya dengan menyimpan dendam dan berjanji akan membalas perbuatan mereka saat kekuatannya terkumpul.


Namun, bagaimana jika Aletha jatuh cinta dan menjalin hubungan yang di tentang alam? Mampukah dia mengambil alih kuasa dan membalaskan dendam keluarganya atau justru menentang takdir dan hidup damai bersama suaminya yang hanya seorang manusia biasa?


PROLOG:


Gemuruh petir terdengar begitu keras, hujan deras disertai angin kencang menyapu daratan disekitar pantai. Seolah alam sedang mengamuk, bahkan ombak menerjang dengan ketinggian tiga meter lebih.


Di lain tempat, tepatnya di lautan dalam. Sepasang mata yang tertutup kain bergerak-gerak, mencari tahu keadaan sekitar. Napasnya naik turun dengan cepat, dada berdebar dengan kencang. Merasakan bahaya mengintai di sekitar, dengan tubuh gemetar dia menajamkan pendengarannya.


Suara teriakan terdengar begitu jelas. Jeritan kesakitan, makian penuh amarah serta tangisan dari seorang anak kecil. Membuat telinganya menjadi sakit, kedua tangan tak mampu menutup pendengaran akibat di ikat terlalu kencang.


"Aletha!" pekikan itu membuat Aletha menoleh kanan dan kiri, meski tak mampu melihat tapi dia bisa merasakan.

__ADS_1


"Mater ... " (Ibu)


Aletha mampu merasakan tangan sang ibu yang kini menyentuh pundaknya, terasa juga getaran dari tangan sang ibu. Keadaan ini belum mampu Aletha pahami. Dia hanya bisa bertanya-tanya dalam benak tanpa mampu diutarakan.


"Vos have ut primum ire." (Kamu harus segera pergi)


Aletha dapat merasakan kalau saat ini ibunya sedang membuka ikatan yang telah mengikat kedua tangannya selama dia hidup.


"Quid accidit?" (Apa yang terjadi?)


Kembali Aletha merasakan ibunya tengah membuka ikatan dari kedua mata. Bertahun-tahun lamanya akhirnya dia bisa melihat, untuk pertama kali Aletha mencoba membuka kelopak mata. Sangat sulit, seperti ada lem yang membuat kelopak itu menempel.


"Noli nimis multa quaerere quaestiones, tutus sis. Mementote! Quidquid fit, mori non potes." (Jangan banyak bertanya, kamu harus selamat. Ingat! Apapun yang terjadi, kamu tidak boleh mati)


Aletha belum mengerti, perlahan dia mampu membuka mata. Aletha merasakan air menyapu kedua matanya, dihadapannya ada seorang wanita dengan luka di sekujur tubuh. Rambutnya coklat dan bergelombang, wajahnya cantik tapi ada beberapa luka goresan.


Aletha menajamkan penglihatan. "Esne mater mea?" (Kamu Ibuku?)


Tangan wanita yang adalah ibu Aletha mengusap pipinya, air mata menetes meski hilang karena bercampur air. Bibirnya yang gemetar tersenyum.


"Ita! Mater tua sum. Post haec tantum meminisse debes, mom te amat. Tutum habes, continuo hinc exi. Noli venire nisi paratus sis. Mom te amat."


(Ya! Aku ibumu. Setelah ini kamu hanya perlu ingat, ibu sayang padamu. Kamu harus selamat, segera pergi dari sini. Jangan kembali jika kamu belum siap. Ibu mencintaimu.)


Aletha mampu merasakan bibir lembut ibunya mencium kening. Menyalurkan perasaan hingga membuat Aletha takut kehilangan. Dia benar-benar belum mengerti apa yang sedang terjadi.


"Tapi ... " (Sed ...)


"Noli nimis multa quaerere quaestiones, festina!" (Jangan banyak tanya, cepat pergi! )


Sang ibu mendorong Aletha menjauh, membuat Aletha kini berada dibalik batu berukuran besar. Sikunya tanpa sengaja menyentuh ujung batu yang lancip hingga mengeluarkan darah.


"Akh ... " rintihnya, namun rintihan itu tertahan tatkala ia mendengar suara teriakan keras yang berada dari balik batu.


Kedua bola mata Aletha membulat, itu suara ibunya. Aletha menyaksikan sendiri bagaimana makhluk menyeramkan itu membunuh ibunya dengan menusukkan tiga kuku panjang ke perut sang ibu.


Tubuh Aletha gemetar, reflek mundur karena takut. Apa yang terjadi? Aletha menoleh ke samping kanan dan kiri. Kini air yang harusnya terlihat bening itu menjadi merah, darah telah bercampur dengan air.


Wajah Aletha pucat pasi. Seperti kata ibu, dia harus melarikan diri. Untuk pertama kalinya Aletha berenang dengan kecepatan tinggi, tanpa peduli dengan luka akibat tergores batu karang. Yang ada dalam benak hanya melarikan diri.


Sekilas, Aletha melihat tempat tinggalnya yang kini telah porak-poranda. Kehancuran terjadi di sana, berbagai makhluk laut mati dengan luka di sekujur tubuh. Aletha semakin takut. Dia terus berenang naik kepermukaan. Mencari tempat aman dan jauh dari jangkauan para makhluk mengerikan yang telah membunuh keluarganya.


"Respondeo. Mater, sollicita non debes." (Aku akan membalasnya. Ibu, kamu tidak perlu khawatir.)


Aletha berucap dalam hati, dia menoleh ke bawah. Tempat tinggalnya untuk terakhir kali sebelum kembali untuk membalaskan dendam. Setelah itu, Aletha melanjutkan berenang hingga benar-benar telah naik ke permukaan.


Awan hitam yang pertama kali dia lihat, bercampur kilat dan gemuruh petir yang terus terdengar. Hujan membasahi wajah Aletha, angin kencang dan ombak yang datang tiba-tiba membawa Aletha yang tak siap. Ombak terus membawa Aletha menjauh, napas Aletha naik turun dengan cepat.


Hingga Aletha merasakan tubuhnya menabrak benda yang sangat keras, rasa sakit itu membuat Aletha kehilangan kesadaran. Aletha memejamkan mata, bukan tertidur melainkan pingsan.

__ADS_1


__ADS_2