
“Namanya detektif Hugo. Dia detektif yang terkenal dan sulit di hubungi. Kamu beruntung karena kenal denganku, Hugo adalah teman lamaku,” ujar Ravin kala itu, sebelum meninggalkan rumah kakek.
Sherin sudah tidak sabar, setelah mengganti pakaiannya Sherin langsung membuka ponsel. Menyimpan kartu berisi nama beserta nomor ponsel ke dalam kontak ponselnya.
Setelah selesai, Sherin segera menelepon. Butuh beberapa menit untuk di angkat, mungkin karena nomor baru. Setelah di angkat, tanpa basa-basi Sherin memperkenalkan diri dan menyampaikan tujuan dia menelepon Hugo.
Mereka sepakat untuk bertemu besok malam, Sherin yang menentukan tempatnya. Usai ber-teleponan Sherin merebahkan dirinya di atas ranjang empuk. Ia sangat menantikan pertunjukan saat pertunangan Iriana nanti.
Sepanjang malam senyumnya terus mengembang, selain bermimpi indah juga ada bayangan Ravin yang menari di kepalanya. Tanpa merasa terganggu, Sherin tidur semakin nyenyak.
...⚫⚫⚫...
Iriana sudah menelepon Rainer, mengajak kekasihnya ke sebuah restoran untuk membahas hal penting. Di restoran yang sama seperti saat Sherin sedang melakukan konser pertamanya. Saat itu juga Iriana bertemu grisel.
Keduanya sudah duduk sambil berhadapan. Menunggu pesanan datang, Rainer bertanya ada hal apa Iriana ingin bertemu dengannya secara tiba-tiba.
Iriana memegang tangan kekasihnya di atas meja. Menggenggam erat. “Ada hal penting yang mau aku omongin,” ucap wanita itu serius.
“Hal apa? Penting banget?” Iriana hanya mengangguk.
“Aku sudah minta kakek buat bikin pesta pertunangan kita,” katanya. Membuat Rainer mematung sesaat.
“P— pertunangan?” kemudian terbelalak, reflek Rainer melepas genggaman Iriana membuat wanita itu mendesah kasar.
“Sudah aku duga kalau kamu akan terkejut, tapi itu kenyataannya.”
“Tapi kenapa? Maksudku kenapa harus buru-buru?” Rainer mengambil segelas air minum dan langsung meneguknya hingga habis.
“Kenapa? Kamu tak suka?” Iriana balik bertanya. Rainer menggeleng. Bukan begitu maksudnya.
“Bukan begitu, aku mau bertunangan sama kamu tapi kenapa tiba-tiba? Tidak meminta pendapatku dulu?”
__ADS_1
Protes Rainer di anggap masuk akal, Iriana membuang napasnya kasar. Sudah menduga kalimat apa yang akan ia dengar dali mulut Rainer.
“Itu karena kamu mendekati Sherin, aku tak mau kamu suka padanya. Kamu milikku, cuma milikku dan bukan orang lain. Aku marah sekali saat lihat fotomu berpegangan tangan dengan Sherin.”
Rainer terbatuk-batuk, ia baru tahu ternyata ada yang memotret dirinya dengan Sherin malam itu. Pasti Iriana salah paham, begitu isi pikiran Rainer saat ini.
Bagaimanapun juga mereka tak boleh bertunangan dulu. Selain statusnya yang belum lama di tinggal Prisha, Rainer takut hal itu akan memperburuk karier Iriana. Apalagi sebentar lagi Iriana akan merilis album baru, tak lama lagi. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mengadakan konser.
“Tapi karier kamu gimana?”
“Itu tidak akan mempengaruhi aku, yang aku inginkan sekarang adalah kita harus punya alasan untuk selalu bersama. Aku ingin hubungan kita terikat lebih dalam, jangan hanya sebatas kekasih yang selalu bersembunyi dari publik.”
“Tapi itu tidak mungkin!” Rainer berusaha menolak.
Iriana mendelik tak suka. “Tak mungkin bagaimana? Lagipula sudah hampir tiga bulan Prisha mati dan sudah banyak orang yang lupa padanya. Apa kamu masih mencintai wanita itu makanya menolak bertunangan dengan aku?” tuduh Iriana, napasnya memburu, menahan rasa kesal di hatinya.
“Bukan gitu,” Rainer mengacak-acak rambutnya, bingung bagaimana cara menjelaskan.
“Pokoknya aku mau kita tunangan. Tidak sampai sebulan lagi, aku sudah meminta kakek mempersiapkan segalanya,” jelas Iriana, lalu dia pergi meninggalkan Rainer sendiri tanpa menunggu makanan pesanan mereka tiba.
Tanpa keduanya sadari ada seseorang yang menguping di balik tembok. Tubuhnya bergetar, cairan bening luruh seketika, nampan di depan dada dia dekap dengan erat.
Rasa sakit itu seakan menusuk jantungnya, ucapan Iriana begitu jelas terdengar di telinga. Grisel tak mampu berdiri di atas kakinya, seluruh sendinya melemas ketika mendengar ucapan Iriana yang bilang ingin bertunangan dengan Rainer.
Ia pun mencoba berdiri, menghapus air mata di pipi. Lalu berjalan ke arah Rainer yang masih memandang kepergian Iriana.
“Harusnya kamu senang 'kan?”
Rainer menoleh terkejut melihat Grisel di hadapannya. Wanita ini menangis, Rainer segera bangkit dan wajahnya terlihat khawatir.
“Kamu kenapa?” tanyanya tanpa membalas pertanyaan Grisel.
__ADS_1
Rainer ingin menghapus air mata itu tapi langsung ditepis Grisel. Wajahnya memerah, menahan rasa cemburu yang menyiksanya.
“Kalian mau tunangan lalu menikah, berarti aku tak di butuhkan lagi 'kan?”
“Apa maksudmu?” bentak Rainer tak suka. Tak suka Grisel bicara begitu.
“Lebih baik kita sudahi saja, aku lelah. Aku takut jatuh terlalu dalam, sekarang saja statusku tak pantas di ketahui orang.”
Rainer mengeraskan rahangnya, matanya nyalang menatap Grisel. Ia pegang pundak wanita itu dan mencengkram cukup kuat sampai Grisel meringis.
“Kamu mau kita putus cuma karena Iriana bilang kami mau tunangan?! Tidak!! Aku tidak akan melepaskan kamu,” Rainer membentak Grisel, sementara wanita itu sudah berkaca-kaca.
Selain sedih karena di bentak Rainer, ia juga merasakan sakit akibat cengkraman Rainer di pundaknya.
“Sakit ... ” lirih Grisel.
“Lebih sakit mana? Pundakmu atau hatiku yang kamu hancurkan?! Aku tidak mau kita pisah!!”
Mereka tidak sadar kalau banyak orang yang menonton. Menyaksikan drama percintaan di antara Rainer dan Grisel. Bisik-bisik dari pengunjung sampai ke telinga Grisel, membuat telinganya berdengung.
“Tapi aku juga tidak mau terus berada dalam bayangan. Dimanfaatkan hanya untuk memuaskan nafsumu saja. Aku lebih sakit, Rai ... ” tangis Grisel pecah. Rainer pun tersentak dan tersadar, ia lepas cengkramannya. Termenung beberapa saat.
“Lalu kenapa sampai sekarang kamu bertahan di sisiku?”
“Karena aku mencintaimu ... ” Grisel berteriak sampai mengagetkan pengunjung lain. Mereka semua yang menonton hanya bisa geleng-geleng kepala.
Seperti tidak ada pria lain di dunia ini. Kenapa coba memilih pria yang jelas tak setia? Hanya karena cinta, mereka jadi buta. Padahal populasi laki-laki lebih banyak dari pada perempuan, tapi kembali lagi pada diri masing-masing. Terserah mereka mau milih siapa dan melabuhkan hatinya kepada siapa.
Lebih baik melanjutkan makan dari pada mendengarkan perdebatan unfaedah.
Rainer menyeringai. “Kalau begitu kita tidak usah pisah,” ucapnya.
__ADS_1
Lalu tanpa aba-aba menarik tangan Grisel keluar restoran. Grisel tak mau tapi Rainer memaksa. Pria itu membawa wanitanya ke apartemen, ingin memberi pelajaran karena sudah bicara yang tidak-tidak