
Gaun berwarna biru laut terpasang indah di tubuh Sherin, penampilan berbeda serta aura berbeda terpancar dari dalam diri seorang gadis yang baru akan memulai kariernya. Polesan make up tipis tak membuat kecantikan Sherin berkurang.
Kulitnya putih dengan bibir tipis berwarna merah itu membuat Sherin tampak sangat muda. Walaupun memang usianya masih terbilang muda. Namun, jiwa Prisha yang ada di tubuh itu membuat aura seorang bintang keluar.
“Lima belas menit lagi,” Anika melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
Sherin tersenyum seraya mengangguk, ia sudah tak sabar lagi, kembali bernyanyi seperti dulu. Hobi yang tak akan pernah ia tinggalkan. Meski harus di mulai dari awal, dan dengan penampilan baru, tak membuat semangat Sherin luntur.
“Panitia bilang penonton sudah banyak yang datang, aku pikir hanya sedikit orang saja tapi hampir semua kursi habis terjual, ini permulaan yang bagus untuk seorang pendatang baru sepertimu,” ujar Anika.
“Jika bukan karena Enzi, mungkin aku tak akan bisa populer secepat ini,” Sherin terkekeh.
Yang membuat lagu ini adalah Enzi, lirik serta nadanya mampu menghipnotis bagi siapa saja yang mendengar, apalagi di tambah dengan suara emas milik Sherin.
Saat tiba waktunya, di bantu Meylin, Sherin naik ke atas panggung, berdiri di hadapan penonton yang jumlahnya sampai ratusan orang. Senyumnya kembali mengembang. Impiannya kini terwujud kembali.
Saat Sherin mulai bernyanyi, teriakan penonton terdengar antusias, suaranya begitu indah, mereka berpendapat Sherin adalah pengganti Prisha. Sherin akan membuat penggemarnya tidak lagi merasa kehilangan Prisha yang merupakan sang Diva.
Di balik panggung, sebuah ruangan dengan cahaya temaram. Ravin menarik sudut bibirnya, tak kecewa dengan penampilan Sherin sekarang.
“Astaga, tak kusangka suaranya bagus,” Wildan tercengang.
Konser ini selain bisa di nikmati langsung juga di siarkan di televisi. Minggu lalu Sherin mulai rekaman untuk spoiler lagu membuat banyak orang begitu penasaran.
Kritik dan pujian sudah di terima Sherin semenjak Ravin mengumumkan akan adanya artis pendatang baru yang masih bau kencur, alias belum memiliki nama dalam dunia keartisan. Sehingga Ravin terpaksa menekan komentar negatif itu.
Namun, kini usaha Ravin tak sia-sia, yang ada hanya pujian dari netizen.
“Kamu tak pernah bilang padaku kalau kamu sudah bertunangan dan ternyata orang itu adalah artismu sendiri,” protes Wildan.
__ADS_1
“Kamu tidak pernah tanya, lagian untuk apa aku bilang padamu kalau Sherin itu tunanganku?” kisah Ravin.
“Kalau dia masih jomlo, aku ingin berusaha—”
“Berusaha apa?” Ravin mendelik tajam, tahu apa yang akan Wildan sampaikan selanjutnya.
“Berusaha mencuri hati wanita secantik Sherin,” lanjut Wildan sambil menelan ludah kasar.
“Jangan macam-macam kamu! Dia milikku, lagian sebentar lagi kami akan menikah,” Ravin mendengkus, ia tak suka kalimat Wildan tadi.
“Oh ya? Bukannya kamu menyukai Prisha?” tebak Wildan dengan nada mengejek.
Ravin mengalihkan pandangan. “Menyukai pun percuma, dia sudah tidak ada,” ucapnya sambil menghela napas berat.
“Aku turut sedih melihat keadaan percintaanmu yang rumit, tapi bagus juga kalau kamu sudah mulai membuka hati untuk wanita lain. Cinta 'kan tak selamanya indah, buktinya kamu belum apa-apa sudah ditinggal mati.”
Wildan menepuk pundak atasannya sekaligus sahabat. Ia kasihan dengan Ravin yang menyukai Prisha diam-diam sedangkan wanita yang di sukai malah pacaran dengan orang lain. Pasti nyesek, pikir Wildan.
Ah, mengingat itu Ravin semakin kesal.
“Siapa yang tukang selingkuh?” Wildan tak mengerti.
“Siapa lagi kalau bukan si Brengsek Rainer?” dengus Ravin.
“Maksudmu Prisha di selingkuhi?” Wildan melotot, berita lama yang baru ia dengar.
“Sudahlah, kenapa malah jadi membahas orang yang sudah pulang?” Ravin mengambil segelas minuman di atas meja, sekali teguk langsung habis.
“Siapa yang pulang?” Wildan sepertinya sedang lemot, membuat Ravin melemparkan bantal sofa ke wajah Wildan.
__ADS_1
“Kamu! Pulang ke rahmatullah!!”
...⚫⚫⚫...
“Brengsek!” maki Iriana, barang-barang berserakan di dalam kamarnya, padahal kemarin dia baru mengamuk dan sekarang mengamuk lagi.
Televisi di kamar menyala, menayangkan video Sherin yang sedang bernyanyi. Berbagai saluran sudah Iriana ganti tapi ternyata semua isinya sama. Dalam sekejap, Sherin menjadi trending topik.
Bukan hanya di televisi, di media sosial, Sherin lah yang menjadi perbincangan.
Seharian Iriana mengurung diri di kamar, tak keluar meski sudah di paksa oleh Laras, bahkan perut yang kelaparan tak di pedulikan oleh Iriana. Sampai suara seseorang menghentikan makiannya.
“Sayang ... ” panggil Rainer.
Iriana merubah raut wajahnya, tak marah seperti tadi. Kini dia terlihat sedih, memandang nanar ke arah Rainer yang langsung mendekapnya erat.
“Kamu lihat 'kan? Dia selalu merebut apa yang harusnya menjadi milikku,” Iriana menangis, membalas pelukan Rainer.
“Iya, Sayang. Aku tahu, kamu tenang saja, kita bisa membalikkan keadaan, Sherin hanya akan sementara berada di atas, kamulah ratunya di dunia musik, ada aku di sampingmu,” Rainer menenangkan Iriana, wanita itu tak lagi menangis.
“Bagaimana caranya? Waktu itu aku juga sudah berusaha menggulingkan Prisha tapi tidak berhasil. Prisha tak populer lagi itupun karena dia sudah mati.”
“Kamu tenang dulu, bukannya pihak agensi memberikan kamu kesempatan emas? Mereka akan terus mendukungmu, dan aku juga. Lagu permintaan mereka sudah selesai aku buat, sekarang giliran kamu buktikan kemampuan mu,” Rainer mengusap kepala Iriana.
Seketika itu Iriana berbinar. Ia tatap wajah sang kekasih dengan penuh harap. “Benarkah?”
“Iya, Sayang, kamu tak perlu khawatir, kita tinggal tunggu keputusan agensi mengenai lagu yang baru aku buat. Sekarang kita pergi saja, ya. Kata Tante Laras kamu belum makan apa-apa sejak tadi siang.”
Rainer terus membujuk Iriana sampai membuat wanita itu akhirnya luluh dan mau keluar dari kamar. Dengan sabar Rainer menunggu Iriana yang sedang mandi dan ganti baju, penampilan Iriana yang sekarang berantakan sehingga Rainer menyuruh Iriana untuk berdandan.
__ADS_1
“Bereskan barang-barang di dalam, sebelum kami pulang kalian harus sudah menyelesaikannya,” titah Rainer pada pelayan rumah Arvin.
Mereka semua mengangguk patuh meski kesal karena Iriana terus mengamuk, membuat mereka harus sabar apalagi dengan keadaan kamar Iriana yang tak jauh berbeda dengan kandang kambing.