Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 48


__ADS_3

Waktu terus berjalan, tanpa tersasa sudah tiga hari berlalu. Sherin semakin di sibukkan dengan pekerjaan baru setelah menempati tubuh baru. Pun dengan Iriana yang tak ingin kalah. Kejadian tiga hari lalu membuat Iriana di marahi oleh ayahnya.


Hal itu membuat kebencian pada Sherin semakin menumpuk.


Juga Ishana terus mendesak Iriana agar memperbaiki gaya bernyanyinya. Kesempatan emas, kata wanita yang menjadi manajer Iriana. Padahal Iriana sudah bekerja keras, tapi memang dasar suaranya yang tak mendukung.


“Sudahlah, jangan memaksakan diri,” akhirnya Ishana menyerah. Tapi Iriana tidak mau.


Ia sudah bertekad, tak akan menyerah begitu saja. Sherin masih termasuk lawan yang kecil. Iriana percaya bahwa dia bisa menyingkirkan adiknya itu.


“Kamu jangan meremehkan aku!” Iriana mendengus kasar.


Di tempat lain ada Sherin dan Ravin yang sedang berkeliling mall. Hubungan keduanya semakin dekat, Sherin menyadari kalau dia semakin nyaman berada di sisi Ravin. Rasanya seperti telah menemukan kembali perasaan yang hilang karena kebencian.


Entah karena malam itu, saat Sherin mabuk atau karena hal lain, Sherin juga merasakan perubahan pada diri Ravin. Ah, pokoknya seperti sedang ada musim semi di Indonesia walaupun negara tropis, ada bunga yang bermekaran di sekeliling Sherin. Apalagi hatinya.


“Makan yuk,” ajak Sherin, bergelayut di lengan Ravin.


“Ada apa?”


“Eh, kenapa?” Sherin tak paham.


“Ada apa tiba-tiba memeluk aku begini?”


Sherin melirik ke arah tangannya yang menggandeng lengan Ravin. Gadis itu berdecak lalu ia hempaskan membuat Ravin sedikit terhuyung ke samping.


“Ya sudah, aku tidak akan memeluk kamu lagi,” ketusnya. Lalu ia pergi dengan kesal sesekali menghentakkan kaki ke lantai.


Walaupun berubah tapi terkadang tetap menyebalkan.


“Rin, tunggu! Aku cuma bercanda,” Ravin terkekeh lalu dengan cepat mengejar Sherin yang sudah mulai menjauh.


Mereka tiba di restoran mall lantai bawah. Lalu memesan makanan. Sherin masih cemberut, bibirnya mengerucut tanpa mau menatap Ravin yang ada di hadapannya. Membuat Ravin tak nyaman di cuekin oleh Sherin.


“Aku cuma bercanda, kamu masih marah?”


“Tidak,” jawab Sherin. Tidak tapi raut wajahnya berkata lain.


“Ya sudah, kalau kamu mau memelukku juga tidak apa. Aku suka kok,” Ravin menyeringai.

__ADS_1


“Apaan sih!” Sherin mendengus, wajah serta telinganya jadi merah. Kenapa ya? Padahal tadi dia kesal karena di ledek Ravin waktu meluk tunangannya itu tapi sekarang jadi malu.


Sherin tak menatap wajah Ravin sampai makanan pesanan mereka datang.


“Tadi pagi Mama bilang siang ini kita harus ke rumah, ada yang mau di bicarakan,” ucap Ravin setelah menelan makanannya.


“Ada apa?”


Ravin angkat bahu. “Tidak tahu.”


Baru saja bilang tiba-tiba tubuh Ravin bergetar, ponsel di saku jaz berdering. Ravin mengambilnya dan mengangkat telepon dari Dina.


“Vin, tadi pagi Mama sudah suruh kamu pulang cepat, kenapa sampai sekarang belum pulang juga?” teriak Dina di sana.


“Sabar, Ma. Aku lagi makan siang,” Ravin mendengus.


“Buruan pulang!”


“Iya ... ”


Ravin mematikan sambungan telepon, lalu menaruh ponselnya kembali di saku jaz.


“Ya sudah, kita cepat-cepat makannya,” saran Sherin.


Tidak sampai lima belas menit keduanya sudah selesai makan. Usai membayar, Sherin dan Ravin segera menaiki mobil. Butuh dua puluh menit untuk mereka sampai di rumah Ravin.


Bersamaan keduanya masuk ke dalam, tiba-tiba saja dari arah ruang tengah seorang gadis berlari dan memeluk Ravin membuat Sherin melotot kaget.


“Sayang ... aku rindu,” ucap gadis itu.


“Eh, Cal— ”


Tiba-tiba gadis itu menyela. “Aku kangen banget, kamu nggak kangen aku?” gadis itu mempererat pelukannya, membuat Ravin tak nyaman.


Sementara Sherin, sekarang wajahnya berubah suram. Menatap tajam ke arah gadis yang datang tiba-tiba dan tanpa melihat ada dirinya, dengan posesif gadis itu memeluk Ravin.


Perasaan apa ini? Kenapa rasanya ingin marah melihat pelukan itu? Lagian dia siapa? Datang-datang memeluk tunangan orang lain. Tanpa sadar tubuhnnya membatu dengan tangan terkepal kuat.


“Cal, lepas!” desak Ravin berusaha melepas tapi gadis itu tak mau. Pelukan semakin erat.

__ADS_1


“Tidak mau! Kita sudah lama tidak bertemu, apa kamu nggak kangen aku?” ucapan gadis itu membuat Ravin mengernyit.


“Maaf, kamu siapa? Kenapa main peluk-peluk tunangan orang?” Sherin mencoba melepas pelukan di antara keduanya, hatinya panas melihat pemandangan itu.


Tapi sayang, gadis itu semakin memeluk Ravin erat. “Kamu yang siapa? Kami sedang melepas rindu tapi kamu seenaknya mengganggu.”


Sherin mengembuskan napas kasar. Tak suka Ravin di peluk gadis lain. Sekali lagi dia mencoba melepas pelukan itu. Dan berhasil, ketika pelukan terlepas, gantian Sherin yang memeluk Ravin. Pria itu sampai kebingungan.


“Dia tunangan ku! Siapa kamu sebenarnya berani peluk-peluk?” Sherin menatap tajam gadis asing itu.


“Eh, ada apa ini ribut-ribut?” suara Dina yang baru saja keluar dari dapur membuat ketiganya menoleh.


“Nah, akhirnya kalian pulang,” Dina berkacak pinggang menatap ke arah Sherin dan Ravin. Sementara Sherin melotot tak percaya.


Kenapa mama Dina bisa sesantai itu saat ada gadis lain yang mencoba merebut Ravin darinya?


“Tante, aku lagi melepas rindu sama Sayangku tapi malah di halang dia!” tunjuk gadis itu pada Sherin.


“Hah? Tante?” Dina membeo, tak paham apa yang terjadi.


“Ma, ini kenap— ” lagi-lagi ucapan Ravin terpotong saat gadis yang belum di ketahui namanya itu mencoba melepaskan pelukan Sherin darinya.


“Apaan sih?” bentak Sherin tak suka. Ravin tunangannya, dia yang berhak memeluk Ravin lalu siapa gadis ini?


Bikin kesal saja, tapi yang membuat kesal adalah mama Dina yang tak mencegah. Malah diam saja seperti sedang menonton pertunjukan. Apalagi Ravin yang terlihat kebingungan, pria itu tak menolak ketika gadis itu memeluknya.


“Aku mau peluk Sayangku! Kenapa kamu halangi?” dengan kuat mencoba melepaskan pelukan Sherin pada Ravin.


Keadaan ini terlihat seperti dua orang wanita yang sedang rebutan satu pria. Yang satu mempertahankan tunangannya agar tak di sentuh gadis lain sementara yang satu memaksa ingin memeluk tunangan orang lain.


Sherin menggertakkan giginya. “Sudah ku bilang dia tunangan ku! Kamu tidak berhak memeluknya, apa tidak dengar?” bentak Sherin dengan napas memburu. Kembali dia memeluk Ravin dengan erat.


Hingga, suasana rumah tiba-tiba hening. Hanya ada suara jangkrik di luar yang saling bersahutan.


Krik! Krik! Krik!


Sherin menatap tajam gadis yang terlihat lebih muda darinya. Kesal sekali! Tapi ada yang aneh, kenapa semuanya jadi diam?


Bahkan Sherin bisa merasakan Ravin yang terkejut hingga tubuhnya membeku, sementara mama Dina malah menahan tawa. Lalu gadis itu menutup mulutnya, seperti sedang menahan tawa juga.

__ADS_1


__ADS_2