Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 36


__ADS_3

Begitu tiba di halaman, tepat di depan pintu Kael terkejut melihat beberapa orang wanita yang sangat ia kenali. Dia menelan ludah, firasat buruk tiba-tiba datang.


“Kalian sudah pulang?” tanya Kael, sedikit canggung.


“Memangnya kenapa? Kalau kami tidak pulang apa kamu akan berduaan dengan dia?” Sherin menunjuk Cahaya yang baru saja turun dari motor dan melepas helm.


“Maksudnya apa?”


“Aku baru tahu kalau kamu punya pacar,” ucap Sherin, yang lain mengangguk setuju.


“Dia bukan pacarku!” bantah Kael.


“Terus siapa?” Sherin penasaran.


Kael mendengus. “Bukan urusanmu! Memangnya kamu siapa ku? Lagian kamu ada apa di rumahku?”


Sherin nyengir sambil garuk kepala bagian belakang, ketika Kael masuk ke dalam rumah sambil menggandeng Cahaya, Sherin, Meylin serta Anika ikut masuk ke dalam.


“Aku pengen main, lagian kamu tumben bawa anak gadis ke rumah,” celetuk Sherin.


“Iya, aku juga heran. Padahal seingat aku, Kael nggak punya teman. Kok tiba-tiba sekarang dia dekat sama anak perempuan pula,” timpal Meylin.


Mereka semua duduk di sofa, sementara Kael pergi ke kamar untuk ganti pakaian. Ucapan Sherin dan Meylin tidak di hiraukan olehnya. Ketika Kael telah hilang di balik pintu, kontan Sherin dan Meylin menatap tajam pada Cahaya.


“Kalian berdua kenapa?” tanya Cahaya takut-takut, tatapan dua orang yang tidak dia kenal cukup menakutkan.


“Kamu siapanya Kael?” Sherin balik bertanya.


“Pacarnya mungkin, sudahlah, kalian berdua ini terlalu ikut campur urusan Kael. Lagian wajar 'kan kalau anak remaja sepertinya punya teman perempuan?” Anika yang bicara.


“Ini terlalu mencurigakan, selama ini Kael tidak pernah dekat sama siapapun, walaupun laki-laki,” Sherin masih keras kepala, jiwanya sebagai Prisha merasa harus melindungi sang adik dari orang yang berniat buruk meski dia seorang wanita sekalipun.


Jelas saja Meylin menyetujui ucapan Sherin, tak lama setelah itu ia baru sadar ada yang janggal. “Eh, dari mana kamu tahu kalau selama ini Kael tidak pernah punya teman?”


Meylin jadi curiga pada Sherin, matanya memicing. Sherin mengusap tengkuknya, ia ingin sekali bilang bahwa dia adalah Prisha, kakak dari Kael, tapi tentu tidak akan ada yang percaya.


“Hanya asal nebak,” Sherin bingung.


“Sekarang aku tidak percaya padamu.”


“Ya sudah, jangan percaya. Lagian apa yang aku bilang juga betul 'kan?”


Meylin mengangguk, tak lama setelah itu Kael keluar dari kamarnya dan menghampiri mereka bertiga. Di antaranya hanya Kael yang seorang laki-laki.

__ADS_1


“Kael, jawab yang benar! Dia pacarmu atau bukan?” desak Sherin.


“Aku bilang bukan,” Kael kesal.


“Lalu siapa?” Meylin dan Sherin bersama-sama.


“Orang. Aku tadi bertemu di sekolah, dia sedang nangis jadi ku bawa saja pulang. Dia sendiri dan cuaca di luar sepertinya mau hujan,” jelas Kael di angguki oleh Cahaya.


“Iya, Kael benar. Aku tadi habis menangis dan sendirian, belum di jemput. Jadi, Kael ajak aku ke rumahnya, ku pikir juga Kael akan mengantarku.”


Cahaya menunduk, ia menduga-duga tentang siapa saja perempuan yang ada di sini. Pun tak menyangka kalau ternyata Kael adalah orang kaya. Tapi, yang menarik perhatiannya adalah, di sini tidak ada ayah stau ibunya Kael.


“Gimana mau aku antar? Aku saja tidak tahu alamat rumahmu,” Kael berucap ketus.


Cahaya meringis, membenarkan perkataan Kael. “Lagian kamu tidak tanya,” ucapnya lirih.


Setelah mendapat penjelasan dari Kael dan Cahaya, Sherin bungkam dan tak curiga lagi. Tapi, ia malah menaruh sedikit harapan pada gadis yang masih remaja itu untuk menjadi teman Kael agar tidak lagi sendiri.


Sesuai perkiraan Sherin tadi, di luar rumah terdengar suara hujan turun dengan deras. Lampu rumah menyala terang, suasana menjadi gelap jika lampu mati karena keadaan di luar terlihat seperti malam hari.


Sekarang Sherin jadi bingung bagaimana caranya dia pulang. Hari semakin sore menjelang malam, namun belum ada tanda-tanda hujan akan berhenti.


“Jadi, bagaimana Cahaya akan pulang nanti?” Sherin bertanya, padahal ia sendiri bingung bagaimana cara agar dia bisa pulang. Minta antar supir rumah ini atau— telepon Ravin dan minta jemput?


Kini mereka duduk di karpet bulu yang berada di ruang tengah rumah Prisha. Televisi menyala dan suaranya terdengar samar di antara bunyi hujan yang jatuh di atas atap.


Mereka sendiri tahu bahwa bahaya menyalakan televisi di saat seperti ini dan di tambah suara guntur yang kadang berbunyi dengan cukup keras, tapi karena bosan dan tak ada kerjaan, mereka memberanikan diri.


“Kamu sendiri bagaimana akan pulang? Malah mengkhawatirkan orang lain,” sindir Kael. Sherin yang sedang makan kentang goreng itu terbatuk.


“Aku bisa menginap di sini.”


“Siapa kamu mau sembarangan menginap di sini? Memangnya aku sudah kasih izin?” Kael berucap ketus dengan mata memicing.


Sherin mendengus kasar, begini rupanya di tolak mentah-mentah oleh adik sendiri, meski sebenarnya Kael tidak tahu dia adalah kakaknya. “Ya sudah, aku tinggal telepon tunangan ku saja.”


“Tunangan?” Kael mengernyit.


“Iya, kenapa?”


Kael menggeleng. Terjadi hening selama beberapa saat, sampai Meylin mengajak mereka untuk makan malam bersama. Tentu Sherin senang, sedang Kael mencibir.


Entah kenapa Kael merasa senang meledek Sherin, tapi juga dia bukan tidak menyukai Sherin berada di rumah ini. Dalam hatinya ada perasaan yang mendorong Kael agar jangan bersikap kasar pada Sherin, tapi mulutnya tidak bisa dia tahan untuk tidak menyindir dan memojokkan Sherin.

__ADS_1


“Oh ya, sejak kapan kalian berdua kenal?” tanya Meylin di sela makan malam mereka yang di temani bunyi guntur disertai hujan yang belum kunjung reda.


“Belum lama, aku kenal dia karena merasa kasihan tentang curhatannya beberapa hari lalu,” jawab Kael.


“Ah, jadi dia yang kamu bicarakan?” tebak Meylin.


“Ho'oh.”


Sementara Cahaya merasa ada yang akan terjadi, ia mengusap kening yang tiba-tiba meneteskan keringat.


“Curhatan apa?” Sherin penasaran, dia merasa telah ketinggalan berita.


“Beberapa hari lalu, Kael cerita, tentang temannya yang bersedih karena melihat gebetannya berciuman dengan sesama jenis. Aku pikir dia Kael, tapi ternyata kamu ya?”


Merasa di sebut, Cahaya jadi merutuki Kael. Dia mengumpat dalam hati, tapi terpaksa tersenyum seraya mengangguk. Mengenai gebetan yang ciuman itu cukup memalukan untuk dia ingat, tapi sayangnya Kael sudah cerita ke orang lain.


“Ember,” dumel Cahaya dalam hati.


“Kasihan,” Sherin iba.


Waktu terus berputar, hari semakin malam. Angka jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam. Sherin jadi gelisah, hujan memang mulai reda, tapi ia belum pulang juga.


Dia sedang makan es krim di depan televisi, matanya memang menonton tapi tidak dengan pikirannya yang bercabang kemana-mana.


“Apa aku minta jemput Mas Ravin saja?”


Baru saja di pikirkan ponsel Sherin tiba-tiba berdering. Ada nama Ravin yang tertera di layar ponsel, dengan cepat Sherin menjawab.


“Halo.”


“Kamu di mana? Kata kakek kamu belum pulang.”


Sherin mengangguk, padahal Ravin tidak akan bisa melihatnya. “Iya, aku sedang di rumah almarhum Prisha, tapi aku juga lagi bingung gimana caranya pulang.”


“Di rumah Prisha?” Di sana Ravin terkejut bukan main. Bagaimana Sherin bisa pergi ke rumah Prisha? Bahkan dia saja yang merupakan pengagum Prisha tidak mengetahui dimana tempat tinggal sang bintang terkenal itu.


“Iya, apa kamu bisa jemput aku?” pinta Sherin.


“Kamu kirim lokasinya dan aku jemput kamu sekarang.”


Telepon mati, Sherin sampai mengerutkan dahi merasa heran karena Ravin setuju dengan cepat. Tidak biasanya yang akan mencari alasan untuk membiarkan Sherin pulang sendiri meski harus jalan kaki.


Seperti saat dia harus naik ojek dan panas-panasan karena Ravin menurunkannya di pinggir jalan.

__ADS_1


__ADS_2