Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 85


__ADS_3

Perjalanan dilanjutkan, Tiga hari di zurich dan di hari keempat mereka pindah ke kota lain. Moritz. Sherin dan Ravin mengenakan mantel agar tubuh mereka tak kedinginan. Sherin sangat antusias, dalam bayangannya dia dan Ravin akan mengunjungi banyak tempat.


Seharusnya memang begitu, tapi niat itu jadi urung saat Sherin mendapat telepon dari Anika. Senyum yang tadi mengembang luntur saat tahu apa tujuan Anika menelponnya.


“Lusa adalah hari peringatan kematian Prisha yang keseratus hari. Apa kamu mau menghadirinya atau akan tetap di sana sampai bulan madu kalian selesai?”


Tenggorokan Sheren terasa tercekat, sampai sulit untuk menelan makanan. Sherin meletakkan sendok lalu mengambil gelas dan mengisinya dengan air kemudian meneguknya hingga habis.


“Kenapa tidak memberitahu aku lebih awal?”


“Sebelum kamu menikah aku sudah bilang, sebentar lagi akan tiba hari peringatan kematian Prisha yang ke seratus hari. Kamu lupa?” Anika mendengus di sana.


Sementara Sherin melirik Ravin yang juga sedang menatapnya. Keduanya sekarang ada di sebuah restoran. Makan malam romantis, begitu seharusnya tapi jika saja Anika tak menelepon. Sherin mengangkat alis, bertanya dengan Ravin menggunakan kode.


“Terserah kamu saja,” Ravin meletakkan sendok, dia sudah selesai makan.


Sherin mengembus napas pelan. “Besok pagi kami akan pulang, aku akan pergi ke makam Prisha lusa ... ”


“Kamu yakin?” tanya Anika memastikan, takut Sherin keberatan.


Meski kenyataannya memang begitu, tapi Sherin sendiri tidak mau terlalu bahagia sementara di sana, lusa adalah tepat seratus hari tubuh aslinya di kubur. Dengan lesu Sherin dan Ravin pulang ke hotel, harusnya mereka di sini sampai tiga hari ke depan. Tapi pulang adalah keputusan Sherin sendiri.


“Kalau tidak mau pulang, kita di sini saja.” Ravin mengusap rambut Sherin, sementara wanita itu hanya tersenyum.


“Aku sudah putuskan, besok pagi kita pulang. Kamu sudah pesan tiket?”


“Aku sudah bilang pada Wildan. Lebih baik kamu tidur, besok kita akan melakukan perjalanan panjang ... ”


Sherin mengangguk, dia menenggelamkan wajahnya di dada Ravin. Pria itu mengusap rambut Sherin, semakin lama Ravin juga ikut mengantuk. Keduanya tidur berpelukan sampai tidak terasa pagi tiba.

__ADS_1


Cahaya matahari membuat Sherin membuka mata, udara pagi ini cukup dingin. Dia mengeratkan pelukan, ingin tidur lagi tapi tiba-tiba ingat kalau pagi ini mereka akan pulang ke tanah air.


Terpaksa Sherin bangkit, dengan menahan dingin Sherin pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri. Sementara itu, di luar Ravin baru membuka mata. Pria itu menguap. Menyadari Sherin tak ada di sampingnya, Ravin mengedarkan pandangan. Suara gemercik air membuat Ravin lega.


Sherin keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk melilit ditubuhnya, matanya beradu pandang dengan Ravin yang saat itu tengah duduk di ranjang.


Ravin tersenyum licik. “Sampai rumah, kamu harus bayar ganti rugi,” ucap Ravin.


Sherin mengernyit bingung. “Ganti rugi apa? Memangnya aku punya hutang sama kamu?”


“Iya. Hutang tiga malam. Tadi malam, nanti malam dan besok malam. Harus kamu bayar lunas!”


Saat itu rasanya Sherin ingin melempar Ravin dengan handuk, tapi dia sadar sekarang dia tak mengenakan pakaian. Tanpa peduli dengan suaminya, Sherin melanjutkan kegiatannya.


Tepat pukul tujuh pagi pesawat yang ditumpangi Sherin dan Ravin take off, selama di perjalanan Sherin tak bisa tenang. Pikirannya tertuju akan hari esok. Entah kenapa dia merasa akan terjadi sesuatu tapi dia tak bisa menebak.


Setibanya di tanah air, Sherin dan Ravin sudah di tunggu supir di Bandara. Tujuh belas jam perjalanan, ketika sampai di sana sudah larut malam. Perbedaan zona waktu Indonesia dan Swiss cukup jauh.


“Kamu pulang saja, pasti lelah,” ujar Ravin, menepuk pundak sahabatnya.


“Sudah tahu begitu tapi masih memaksa aku menunggu kalian,” dengus Wildan.


Ravin tak merespon, dia membantu Sherin berjalan menuju kamar. Saat itu rasanya Sherin ingin segera pergi tidur, namun Ravin menahannya dan menyuruh Sherin lekas membersihkan diri dulu.


Keesokan paginya rumah yang ditinggali keluarga Ravin itu heboh. Dina tak menyangka suami istri itu akan pulang cepat sementara Calysta protes karena tak di belikan oleh-oleh.


“Kalau tahu kalian mau pulang cepat, aku pasti sudah ingatkan supaya nggak lupa bawa oleh-oleh ... ”


“Kami pulang mendadak, Cal ... ” geram Ravin.

__ADS_1


Calysta memalingkan wajah ke samping, siang harinya Sherin kedatangan tamu yang adalah ayahnya sendiri, Arvin.


Terlihat wajah Arvin pucat, pria itu meraih pergelangan tangan Sherin dan mengucap maaf.


“Papa minta maaf ... ” ucap Arvin.


Kini Sherin paham. Pasti hal tes DNA waktu itu sudah keluar. Dengan senyum kecut Sherin menjawab, “Minta maaf buat apa? Buat kelakuan Anda padaku selama ini?” tanyanya sinis.


Mulut Arvin terkunci rapat, tak dapat menyangkal hal itu. Dua hari yang lalu, dokter menelepon dan mengatakan hasil dari tes DNA sudah keluar.


Dengan yakin Arvin bilang pada diri sendiri bahwa dugaannya benar, namun hasil tes mengatakan hal sebaliknya. Tangannya gemetar begitu membaca apa yang tertulis di sana.


Dia dan Sherin memiliki hubungan darah. Sampai rumah, Arvin melempar kertas itu ke hadapan Laras. Tentu Laras kaget luar biasa.


“Kamu yang mengatakan kalau Sherin bukanlah putriku, tapi ini apa?!”


Laras sudah gemetar. “I— ini pasti palsu!” kolah wanita itu.


“Palsu bagaimana? Orang-orang suruhan ku mengawasi rumah sakit itu selama seminggu ini, tidak mungkin tertukar atau palsu. Sekarang aku tahu! Pasti kamu juga yang membuat aku membenci Sherin dan ibunya.”


Saat itu Laras tak bisa menyangkal. Dia mendapat peringatan dari Arvin. Malam harinya, pria itu pergi ke kediaman Ravin untuk meminta maaf. Namun, jawaban dari Dina membuatnya kecewa.


“Mereka sedang pergi bulan madu, mereka kembali setelah satu minggu ... ”


“Ah, kalau begitu aku akan kembali saat mereka sudah pulang.”


“Apa yang mau kamu sampaikan? Biar aku yang menyampaikan ke Sherin kalau mereka sudah pulang,” tawar Dina dengan wajah datar.


Arvin menggeleng. “Tidak usah, aku akan menunggu mereka. Kabari saja kalau mereka sudah pulang, aku akan kembali lagi saat itu juga ... ”

__ADS_1


Setelah itu Arvin pergi dengan kecewa, tak bisa bertemu putrinya karena mereka sedang bulan madu. Hingga mendapatkan kabar dari orang suruhannya yang di suruh menjaga kediaman Ravin mengatakan Sherin pulang, Arvin bersiap-siap mengunjungi rumah itu kembali.


Kini mereka sedang berhadapan, di mana Arvin menyesali perbuatannya namun Sherin bergeming. Tak merasa terharu sedikitpun. Dalam hatinya mengutuk, menyadari kalau sebenarnya dia dan Iriana mempunyai hubungan darah. Mengingat itu rasanya kesal sekali.


__ADS_2