
“Aku nggak mau dipenjara!” sentak Iriana kala polisi mendorong kursi roda dengan paksa. Kini pakaian Iriana kotor karena dilempari telur oleh orang-orang yang ada di rumah sakit.
“Pak! Jangan tangkap anakku, dia tak bersalah! Apa Bapak tidak lihat dia masih sakit? harusnya yang ditangkap itu Sherin!!” Laras mencoba menghalangi jalan mereka, tapi satu polisi lainnya menarik Laras agar menjauh dan tidak menghambat tugas mereka.
“Maaf, Bu. Tapi kami hanya menjalankan tugas dan dari laporan yang diterima kami harus membawa putri ibu untuk di interogasi. Silakan datang dengan pengacara besok pagi, tapi dimohon jangan menghalangi jalan kami.”
“Aku tidak mau dipenjara! lepaskan aku!! Mamah … aku nggak mau dipenjara.”
“Lebih baik Anda diam! Ini masih di rumah sakit! Suara Anda bisa menganggu ketenangan pasien lain,” tegur salah satu polisi.
Setelah itu Iriana benar-benar dibawa pergi oleh kedua polisi itu, bahkan kedua tangan Iriana sudah diborgol. Laras terduduk di lantai rumah sakit, menangis bahkan menjerit.
“Anakku nggak bersalah! Jangan tangkap dia!!” teriak Laras, lalu ia bangkit dan segera diusap air mata kemudian pergi. Ia harus mencari suaminya, pasti pria itu juga tak mau putrinya dipenjara.
***
Sudah semalam Sherin dan keluarganya pindah ke hotel untuk sementara. Besok adalah hari yang paling ditunggu, pernikahannya dengan Ravin akan dilangsungkan.
Sherin memeluk guling dengan erat, matanya terpejam tapi tidak dengan pikirannya yang sedang berkelana.
“Ah, nggak bisa tidur,” keluh Sherin.
Entah karena kasurnya yang tak nyaman atau karena Sherin sedang gugup, sejak tadi Sherin mencoba untuk memejamkan mata namun tak juga terpejam. Padahal sudah larut malam.
“Argh …! Aku mau tidur,” Sherin berguling-guling, sesekali memukul kepalanya.
“Kenapa jadi gugup gini?” gumam Sherin, tatapannya mengarah pada jendela yang tirainya terbuka. Pemandangan kota malam hari benar-benar indah, cahaya lampu dari gedung-gedung tinggi menjadi pemandangan tersendiri.
Sherin menarik sudut bibirnya, “Padahal aku sudah tua, tapi kenapa rasanya seperti anak remaja?” ucapnya senyam-senyum sendiri.
Ketika sedang menikmati pemandangan dari atas kasur tiba-tiba ponselnya berdering. Sherin meraba sekitarnya, melihat ponsel yang terus bergetar. Ada nama Ravin di sana, Sherin tertegun lalu matanya melihat jam di ponsel.
“Jam dua belas,” gumamnya. Bimbang mau mengangkat atau tidak, hingga akhirnya dia memencet tombol hijau.
“Sherin … ” panggil Ravin diujung telepon.
“Hmm?”
“Kenapa belum tidur?”
__ADS_1
“Belum mengantuk, padahal aku sangat ingin tidur,” keluh Sherin, dia menghitung bintang di atas langit meski lupa sudah menghitung sampai berapa.
“Lebih baik kamu tidur, besok bisa kesiangan.”
“Tetap tidak bisa.”
Hening selama beberapa saat, hingga Ravin kembali bersuara, “Kalau begitu kamu keluar,” perintahnya.
Kening Sherin berkerut. “Kamu ada diluar?”
“Iya, cepat keluarlah!”
“Iya iya.” Sherin bangkit, kemudian dengan cepat berjalan ke arah pintu, ketika dibuka ia dibuat kaget oleh Ravin yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar.
Ravin dengan cepat menutup pintu dan menguncinya, Sherin masih bersandar didaun pintu, ia tak bisa bergerak karena Ravin berada tepat di depannya. Salah satu tangan Ravin berada ditembok, pria itu menoleh ke arah Sherin.
Deg.
Sherin terpaku, tubuhnya seakan menjadi kaku karena tatapan Ravin. Tatapan pria itu tajam, Sherin segera memalingkan wajah.
“Kenapa melihatku begitu?” tanya Sherin gugup.
Ravin menarik dagu Sherin dengan pelan, membuat Sherin terpaksa menoleh. Tanpa aba-aba Ravin memajukan wajahnya dan langsung melahap bibir kenyal milik Sherin.
“Engh … ” Sherin memukul dada Ravin, meminta melepaskan ciuman. Ia sudah kehabisan napas.
“Kamu—”
Sherin tak jadi melanjutkan kata-katanya, dia kembali terpaku oleh tindakan Ravin. Pria itu secara tiba-tiba mencium keningnya cukup lama.
“Apa sudah mengantuk?”
“Hah?” Sherin tak paham.
“Apa sekarang kamu sudah mengantuk?” tanya Ravin sekali lagi.
“Mengantuk bagaimana?”
“Aku sudah memberi penawar di sini, tidaklah kamu merasa ingin tidur?”
__ADS_1
Sherin masih belum mengerti, Ravin menunjuk bibirnya dengan jari telunjuk. Keduanya saling pandang, kembali terbawa suasana membuat Ravin menyatukan kembali bibir mereka untuk yang kedua kali.
Setelah dirasa cukup, Ravin melepas ciuman itu. Pria itu mengelap bibir Sherin yang basah akibat ulahnya. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.
“Sekarang tidurlah, jangan begadang. Besok kita punya acara penting,” ucap Ravin sambil mengelus kepala Sherin.
Pukul satu malam itu barulah Sherin bisa tertidur dengan pulas. Pertemuan dengan Ravin benar-benar bisa membuat Sherin mengantuk, bermimpi indah hingga suara ketukan pintu membuat Sherin terganggu.
Ketukan pintu terus terdengar, Sherin berdecak kesal lalu dia bangkit. Setelah dibuka Sherin dibuat terkejut karena ada Calysta, Dina dan tiga orang yang belum Sherin ketahui namanya.
“Oh … jadi gini kelakuan calon pengantin? Tidurnya nyenyak banget sampai pintu kamar diketuk dari tadi tapi nggak dibuka juga.” Calysta berkacak pinggang.
“Eh … kalian kenapa kesini pagi-pagi banget?”
“Mbak lupa? Hari ini Mbak Sherin mau nikah, sekarang sudah waktunya Mbak Sherin di make up. Tapi kenapa baru bangun? apa alarm nggak bunyi? atau … ” Calysta menjeda ucapannya.
“Apa?”
“Lagi ngumpulin tenaga buat entar malem. Hahaha … ” Calysta tertawa kencang, Sherin dan Dina hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Sherin mengajak orang-orang itu masuk ke dalam kamar, dia melirik jam di dinding. Masih pukul empat pagi tapi di suruh siap-siap. Padahal Sherin masih mengantuk, dia hanya tidur tiga jam. Dina mendorong Sherin untuk masuk ke dalam kamar mandi.
“Kamu harus wangi, mandi bukan mandi biasa. Harus berendam lebih lama. Nanti ada orang yang bantu kamu gosok badan, pokoknya kamu harus perfect hari ini.”
“Tapi, Ma—” Sherin ingin menolak.
“Nggak ada tapi-tapi. Kamu sudah cukup tidurnya, bisa dilanjut nanti malam. Sekarang kamu harus siap-siap, nanti jam delapan acara intinya dimulai.”
Sherin hanya bisa pasrah saat MUA itu melaksanakan tugas. Setelah mandi Sherin mulai memakai gaun pengantin juga wajahnya dipoles secantik mungkin. Hampir tiga jam lamanya MUA itu me-make up Sherin, bahkan sesekali Sherin menguap karena kantuk menyerang.
“Sudah selesai. Cantik sekali calon pengantin,” puji salah satu dari mereka.
“Nggak pakai make up saja sudah cantik, apalagi sekarang?” timpal yang lain.
“Menantu siapa dulu?” Dina ikut memuji kecantikan Sherin. Selain Sherin, Dina juga di make up, begitu pun dengan Calysta.
“Aku juga nggak kalah cantik,” celetuk Calysta.
Pukul setengah delapan, Sherin di dampingi oleh Calysta dan Dina berjalan menuju tempat acaranya dimulai. Tiba di sana, semua mata tertuju pada kedatangan Sherin termasuk sang calon suami.
__ADS_1
Kecantikan Sherin hari ini seakan menghipnotis mereka untuk tidak berpaling dari arah Sherin. Ravin sampai menelan salivanya dengan susah payah. Dengan anggun, Sherin berjalan perlahan hingga sampai di mana dia dan Ravin akan mengucapkan janji suci.
Sherin menatap pria itu lekat, begitupun sebaliknya. Pagi ini, status keduanya akan berubah. Harapannya hanya satu, acara berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan. Iriana sudah di penjara, tinggal menunggu keputusan hakim. Pun ayahnya datang meski terpaksa.