Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 57


__ADS_3

Malam itu juga Hugo mendatangi alamat yang di berikan Sherin. Agar tak ada yang curiga, Hugo pun menyewa apartemen di sebelah apartemen milik Rainer. Untuk beberapa hari ke depan, dia akan bolak-balik dari rumah ke apartemen yang di sewa.


Masalah harga Hugo tidak peduli, karena yang membayar adalah Ravin. Setelah pembayaran selesai, Hugo menyeret koper kecil yang di bawanya dari rumah menuju lift, hendak ke apartemen barunya.


Sebelum masuk, tak lupa Hugo memasang CCTV mini, di taruh di sebuah bunga kertas yang tepat berada di samping pintu apartemen Rainer. Setelah itu, barulah Hugo masuk ke dalam kamarnya.


“Ayo mulai,” Hugo membereskan barang-barangnya, tidak banyak. Hanya ada dua setel pakaian ganti, sisanya adalah keperluan kerja.


Ada laptop, tablet, charger dan alat-alat lainnya. Hugo duduk di sofa dengan secangkir kopi hitam, malam ini ia akan begadang, terbukti ketika membuka tablet Hugo melihat ada seorang wanita keluar dari apartemen Rainer.


“Benar dia,” Hugo memastikan bahwa wanita itu adalah orang yang di minta Sherin untuk di ikuti. Dengan CCTV mini itu Hugo bisa melihat juga mendengar apa yang mereka bicarakan.


“Aku tidak enak badan, maaf ya, untuk malam ini aku tak bisa menemanimu. Aku ingin beristirahat,” ujar wanita yang bernama Grisel.


“Sayang sekali, padahal dari kemarin kita tidak melakukannya.”


Kalimat Rainer terdengar ambigu, tapi Hugo mengerti maksudnya. Pria itu hampir tersedak kopi panas yang dia minum, ia menatap tablet sambil bergidik.


“Laki-laki bajingan!” umpat Hugo, kesal sendiri.


“*Besok 'kan bisa, lagian kamu mau menikah dengan Iriana apa masih membutuhkan aku?”


“Aku sudah menjelaskan, aku tidak akan melepaskan kamu. Aku cinta kamu, tapi aku tidak bisa menolak permintaan Iriana*.”


Mendengar itu Hugo ingin muntah, baru kali ini ia menangani hal yang membuatnya ingin memaki. Kopi di gelas hampir habis, Hugo meneguk satu kali hingga tersisa ampas. Ia letakkan gelas di atas meja lalu kembali fokus pada tablet yang dipegangnya.


“Tetap saja aku tidak terima. Sudahlah, aku merasa tubuhku semakin lemah. Kita bahas besok lagi.” Grisel hendak pergi tapi Rainer segera mencegah.

__ADS_1


Tanpa aba-aba Rainer mencium bibir Grisel dengan rakus membuat Hugo terlonjak kaget dengan kedua bola mata melebar.


“Anying!”


Hugo melempar tabletnya ke sofa, dadanya berdegup kencang. Bukan karena malu tapi kesal setengah mati. Punya dosa apa dia tiba-tiba melihat pemandangan menjijikkan itu?


Setelah beberapa saat barulah Hugo kembali melihat tablet. Beruntung dua orang itu sudah saling melepas bibir. Hugo bernapas lega, tak lama setelah itu terlihat Grisel berjalan pergi menjauh.


Dengan segera Hugo menyiapkan alat. Yaitu, topi hitam dan jaket kulit berwarna hitam juga. Ponsel yang baru di charger dia taruh di saku, kemudian keluar dari apartemen untuk membuntuti wanita itu.


Grisel naik taksi maka Hugo naik mobilnya sendiri. Agar tak ada yang curiga, Hugo mengikuti dari jarak yang tak begitu dekat. Hampir setengah jam barulah taksi itu berhenti, Hugo ikut berhenti dan memarkirkan mobilnya di dekat bangunan yang sudah tua.


Kemudian dia mengikuti Grisel tanpa menimbulkan suara sehingga Grisel tak menyadari kalau sejak tadi ada yang mengikutinya. Mereka masuk ke gang kecil, sedikit becek membuat Hugo harus berhati-hati.


Hampir berada di ujung, Hugo melihat Grisel masuk kedalam sebuah rumah minimalis. Hugo yakin itu adalah rumah Grisel atau kosan? Ia pun memotret beberapa gambar lalu dia catat alamat tempat ini. Kemudian dia kirim kenomor Sherin, setelah itu ia kembali pulang ke apartemen. Tugas malam ini selesai.


...⚫⚫⚫...


“Hoek!” Grisel kembali mengeluarkan isi perutnya, walaupun hanya cairan bening sebab dia belum sarapan.


Ingin makan tapi kembali merasa mual. Grisel tidak tahan, sudah seminggu dia mengalami hal ini, itu membuatnya tersiksa.


“Aku ini kenapa?” Grisel mengusap mulutnya dengan handuk, lalu menatap dirinya di cermin.


Wajahnya semakin pucat, terlihat lebih gemuk dari hari biasanya padahal ia hanya makan sedikit. “Lapar tapi harus makan apa?” Grisel mengusap perutnya.


Perih. Minta di isi tapi Grisel sudah berusaha namun tetap tidak mau masuk. Yang ada dia jadi mual dan kembali muntah. Akhirnya dia membuat teh hangat agar perutnya mendingan, pusing di kepala sudah tidak seberapa ketika hari menjelang siang.

__ADS_1


Kemudian Grisel mengambil ponsel di atas nakas lalu menelepon temannya. “Halo, Yu. Aku minta tolong bilangin sama atasan kalau aku nggak kerja hari ini, aku nggak enak badan. Bilang maaf juga nggak sempet bikin surat.”


“Iya, kamu tenang aja. Aku bakal bilangin, kamu jaga kesehatan biar besok bisa balik kerja.”


Grisel berterima kasih, setelah sambungan telepon terputus, Grisel ambil dompet dan jaket. Kalau tidak beli makan di luar maka Grisel tidak akan makan-makan entah sampai kapan.


Grisel keluar dari rumahnya. Bukan, maksudnya kosan kecil yang berada di ujung gang. Bekerja di sebuah restoran terkenal tak membuat Grisel punya simpanan uang yang banyak. Pasalnya, Grisel juga harus membiayai pengobatan ibunya. Beruntung kadang Rainer memberinya uang untuk jajan, kata Rainer untuk belanja tapi Grisel gunakan untuk biaya ibunya di rumah sakit.


Grisel berkeliling sepanjang jalan, mencari pedagang kaki lima. Lalu dia bertemu dengan tukang bubur, Grisel ingin itu.


“Bang, buburnya satu.”


“Siap, Neng. Pakai sambel?”


“Iya. Kasih lengkap aja.”


Penjual itu mengangguk, bubur di panci hampir habis sebab hari sudah hampir siang. Pasti sudah banyak yang beli, beruntung Grisel bisa mendapatkan bubur ayam itu.


Setelah membeli, Grisel kembali ke rumah. Perutnya benar-benar lapar, dia makan dengan lahap tanpa mual seperti biasa. Ketika perutnya kenyang, Grisel kembali rebahan di kasur, hari ini ia ingin beristirahat total.


Ingatannya tertuju pada Rainer. Dia merindukan pria itu. Meski sedih mendengar Rainer ingin bertunangan, Grisel sebenarnya tak ingin putus dengan Rainer. Kata-katanya di restoran itu hanya karena emosi, Grisel sangat menyayangi Rainer.


“Telepon, ah.” Grisel ambil ponsel lalu menghubungi Rainer.


Tak lama kemudian panggilan terhubung, tapi Grisel tak jadi bicara saat mendengar suara seorang wanita di ujung telepon.


“Halo.”

__ADS_1


Senyum Grisel yang tadi mengembang kini luntur di ganti raut wajah masam. Grisel tahu itu adalah Iriana. Sedang apa mereka? Kenapa Iriana yang mengangkat telepon. Tiba-tiba dada Grisel terasa nyeri. Ujung matanya berair.


“Ah, maaf. Saya dari restoran XX yang ingin mengantarkan makanan ke alamat yang punya nomor ini. Tapi, saya lupa alamatnya di mana, jadi saya terpaksa menelepon. Sekali lagi maaf kalau sudah mengganggu.”


__ADS_2