
Gaun indah telah terpasang di tubuh Sherin, pilihan Ravin selalu cocok untuk dirinya. Padahal pria itu tak tahu berapa ukuran tubuh Sherin. Gadis itu berputar di depan cermin, senyumnya mengembang merasa puas akan perubahan yang terjadi pada dirinya.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu. “Non, Tuan Ravin sudah menunggu di bawah,” seru seorang pelayan.
“Iya, saya keluar sekarang.”
Sekali lagi Sherin menatap dirinya di cermin, merasa tak ada yang kurang segera keluar dari kamar. Belok kiri untuk menuruni anak tangga, di bawah dia melihat Ravin sedang berdiri memandang ke arahnya.
Ravin terpaku, matanya terus mengamati Sherin yang sudah sampai di bawah. Satu kata untuk Sherin, 'Cantik', Ravin seakan tak ingin mengalihkan pandangan.
“Kenapa melihat aku seperti itu?”
“Hah? Kenapa?” Ravin linglung.
Sherin menggelengkan kepalanya. “Sudahlah, kita pergi sekarang.”
Setelah meminta izin pada nenek Linda, Sherin dan Ravin langsung pergi ke hotel tempat di adakannya sebuah pesta. Sesampainya di sana, Sherin dan Ravin sudah di sambut hangat oleh penyelenggara pesta, para tamu sudah hadir dan jumlahnya banyak.
Sherin melingkarkan tangannya di lengan Ravin, jika di lihat mereka seperti pasangan yang serasi. Yang satu cantik dan satu tampan, saling melengkapi. Di tambah pakaian mereka yang juga sangat serasi.
Sepanjang jalan Sherin terus tersenyum, pasalnya banyak kamera di mana-mana. “Jam berapa kita pulang?” tanya Sherin.
“Kita baru sampai dan kamu sudah tanya kita pulang jam berapa?” Ravin menyipitkan matanya.
“Aku tidak terlalu suka berada di sini,” alasan Sherin, tapi dari dulu juga dia tak terlalu menyukai pesta. Hidupnya hanya seputar pekerjaan, sepulang kerja lalu tidur. Besoknya kerja lagi dan terus seperti itu.
“Ke depannya kamu akan selalu seperti ini.”
“Ck! Merepotkan bagiku,” Sherin bicara sedikit berbisik, ia menoleh ke arah kamera lalu melambai.
Ravin menggeleng, beginilah kehidupan para selebriti, kadang apa yang di perlihatkan tak sesuai realita. Meski tak ingin tersenyum, namun demi image, mereka terpaksa melakukannya.
Sudah setengah jam berada di sini, Ravin dan Sherin kini terpisah. Keduanya sama-sama sibuk untuk meladeni orang-orang yang banyak pertanyaan. Apalagi Sherin kini mendapat banyak tawaran dalam pekerjaan. Di jamin dalam waktu singkat Sherin akan punya banyak uang.
Sesekali Ravin melirik Sherin yang di kelilingi banyak pria, entah itu muda atau tua, tampan atau jelek, tak sedikit dari mereka yang menyukai Sherin. Tangan Ravin yang sedang menggenggam gelas pun di eratkan, rasanya begitu kesal melihat Sherin di kelilingi pria-pria yang menawarkan Sherin sebuah kerja sama.
“Pak!”
“Pak Ravin,” panggil salah satu kenalan Ravin.
Ravin tersentak, ia menoleh. “Ah, iya. Maaf saya melamun.”
“Tidak apa, saya tahu anda sedang melihat Nona Sherin. Anda pasti cemburu, saya dengar kalian sudah bertunangan?” terka pria itu.
Sementara Ravin tertegun, cemburu? Ah, mana mungkin, Ravin menepis fakta itu. “Haha ... mana ada saya cemburu, saya hanya ingin memastikan supaya dia baik-baik saja. Kami memang sudah bertunangan.”
__ADS_1
“Oya? Kapan pernikahan akan di langsungkan?”
“Bulan depan.”
“Rupanya sebentar lagi, saya ucapkan selamat. Tak ada yang menyangka ternyata tunangan anda adalah artis baru di perusahaan anda. Jangan lupa untuk undang saya,” pria itu menepuk pundak Ravin.
“Tentu.”
Obrolan terus berlanjut, Ravin tak lagi melirik ke arah Sherin. Justru, kini sebaliknya Sherin yang terus mencuri pandang ke arah Ravin. Bibir gadis itu mengerucut, merasa Ravin tak mempedulikannya.
“Apa dia lupa aku juga ada di sini?” gumam Sherin.
Ia masih di kelilingi beberapa orang pria, sedikit risih sebenarnya tapi ini demi pekerjaan dan uang. Sherin terpaksa melakukannya. Sekali lagi dia mencoba untuk tersenyum saat ada yang mengajaknya untuk bersulang.
Di tangan Sherin ada gelas berisi jus, bukan alkohol karena Sherin tak terlalu menyukainya. Meski beberapa kali ada orang yang menawari, namun Sherin menolak secara halus.
“Maaf, saya alergi alkohol,” begitu katanya.
“Ah, sayang sekali. Padahal menyenangkan jika anda bisa minum alkohol,” ujar salah satu pria yang belum lama datang dan mengajaknya mengobrol.
Sherin hanya balas dengan tersenyum. Setelah beberapa menit akhirnya dia bebas dan tidak di kerubungi lagi. Tapi, kebebasan yang dia rasa menjadi sirna saat seseorang yang paling ia benci datang menemuinya.
“Malam, Nona Cantik,” sapa Rainer dengan senyuman penuh arti.
Sherin menghela napas lalu memutar bola matanya. “Apa?!” ketus Sherin.
“Tidak, bersama hantu,” Sherin ingin pergi, tapi langkahnya terhenti saat pergelangan tangannya di tahan.
Ia menatap nyalang ke arah Rainer. “Lepas!” ucap Sherin lirih tapi sangat dingin. Rainer tertegun, ia lepas cengkramannya dan mencoba tetap tersenyum.
“Ah, maaf. Tidak sengaja,” ujarnya seolah merasa bersalah.
Sherin rasanya ingin muntah. Ia muak melihat wajah Rainer. “Aku tak butuh maafmu, lagian kamu datang sendiri? Dimana kakakku? Oh ya, dia 'kan tak dapat undangan, ups ... ” Sherin menutup mulutnya.
“Oh iya, aku juga lupa, kalian 'kan walaupun punya hubungan resmi tapi tidak di bocorkan ke publik karena Prisha belum lama meninggal,” Sherin tersenyum sinis, sementara Rainer merubah raut wajahnya setelah mendengar kata-kata Sherin.
Lekas Sherin pergi di tempat itu, hatinya bertambah kesal setelah kedatangan Rainer. Rasanya buruk sekali setelah bertemu pria itu. Sherin duduk di kursi yang lebih sepi, kekesalannya terus bertambah saat Ravin belum juga selesai mengobrol.
Tanpa sadar Sherin salah mengambil gelas, di hadapannya tersedia tiga gelas berisi wine dengan kadar alkoholnya sedang tapi bisa memabukkan jika tidak terbiasa meminumnya.
“Kok pahit?” Sherin mengecap, rasa ini tidak asing.
“Wine?” Sherin terperangah, terkejut melihat gelas di tangannya. Ia menelan ludah kasar, tadi dia sudah meneguk lebih dari tiga tegukan, bisa di lihat dari gelas yang di pegang isinya hampir habis.
“Habis sudah,” Sherin mulai merasakan efeknya, saking jarangnya minum alkohol ia sampai tidak bisa jika meminum walaupun hanya satu tegukan.
__ADS_1
Dulu, saat sebagai Prisha, pernah sekali dia mencoba minum lebih dari satu gelas dan ternyata efeknya lumayan. Prisha sampai muntah sebelum tidur dan esoknya akan demam, setelah di periksa dokter ternyata Prisha alergi alkohol.
Sekarang, Sherin tidak tahu apakah dampaknya akan seperti dulu atau dia hanya akan mabuk biasa. Yang pasti sekarang kepala Sherin sudah berdenyut. Ia pijit pelipisnya untuk mengurangi rasa pusing yang menyerang.
Di tempat lain ada Ravin yang sedang kebingungan, ia melirik ke sana kemari untuk mencari keberadaan Sherin. Baru sebentar lengah sudah hilang, kemana gadis itu?
Obrolannya sudah selesai dan malam semakin larut, sudah waktunya bagi Ravin untuk mengantar Sherin pulang. Setelah berkeliling cukup lama akhirnya Ravin melihat Sherin sedang menidurkan kepalanya di atas meja. Segera ia menghampiri.
“Sherin ... ” panggil Ravin tapi Sherin bergeming.
“Sherin,” ulangnya, tapi masih sama. Ravin mengerutkan dahi, karena penasaran Ravin memutar arah dan ia lihat Sherin tengah tertidur.
“Kenapa bisa—” ucapannya terhenti saat netranya melihat sebuah gelas wine yang isinya tinggal sedikit lagi, lalu kepalanya menggeleng.
“Pantas saja, sudah tahu tidak bisa minum malah tetap minum, untung belum di lihat laki-laki lain kalau aku keduluan bisa gawat,” gerutu Ravin.
Ia ambil ponsel di saku jaznya dan menelepon Wildan. Menyuruh sang asisten untuk datang dalam waktu sepuluh menit. Sempat protes karena di beri waktu yang singkat padahal Wildan sudah hampir menuju alam mimpi.
Hampir lima belas menit barulah Wildan sampai, Ravin berdecak kesal. “Telat lima menit.”
Wildan menjawab dengan napas yang sedikit ngos-ngosan. “Pak, jarak rumah saya dan hotel ini jauh, saya sudah berusaha ngebut.”
“Sudahlah, kamu tolong saya antar Sherin pulang.”
“Lho? Memangnya Sherin kenapa, Pak?”
“Mabuk.”
Kontan Wildan melihat ke arah gelas yang tadi isinya di minum Sherin. “Belum minum satu gelas sudah mabuk?”
“Banyak tanya! Cepat buka pintu mobil, biar saya gendong Sherin. Oh ya, kamu bilang juga sama penyelenggara acara kalau saya pulang duluan, alasannya terserah kamu.”
Ravin mengangkat Sherin, menggendongnya menuju mobil. Banyak yang melihat, ada yang iri dan heran bercampur kagum. Ravin tak peduli, sesampainya di mobil, Ravin letakkan Sherin di kursi belakang. Ia ingin beranjak tapi malah jaznya di genggam oleh Sherin.
“Nggak mau lepas, Pak?” goda Wildan, ia baru masuk mobil ke bagian kemudi.
“Sudah! Jalan saja,” titah Ravin sembari mendengus.
“Kemana, Pak?”
“Ya pulang!” Ravin kesal sendiri. Mana dia sulit bergerak, Sherin kini mendekapnya dengan erat.
“Yang jelas pulang kemana, Pak? Ke rumah kakek Sherin, ke rumah orang tua Bapak atau kemana?” yang jelas supir juga butuh kepastian.
Ravin berpikir sejenak, lalu ia melirik arloji di pergelangan tangan. Sudah pukul sepuluh malam, kalau dia bawa Sherin pulang ke rumah kakek Haris, takutnya nenek dan kakek akan bertanya-tanya ada, apa dengan Sherin?
__ADS_1
Mana mungkin Ravin bilang Sherin mabuk. Tapi, kalau dia bawa pulang ke rumah orang tuanya ... itu juga tidak mungkin. Jadi, dia harus bawa Sherin kemana?