
“Sialan!” maki Ravin, pria itu mengepalkan kedua tangannya. Kedua mata Ravin nyalang menatap layar yang memperlihatkan detik-detik Sherin di culik.
Ingin marah tapi tak ada gunanya. Untung saja di sepanjang jalan cukup banyak CCTV, jadi mereka bisa melihat kemana arah mobil itu akan pergi. Hingga mobil yang membawa Sherin meninggalkan tempat. Hugo memperhatikan dengan seksama.
“Coba putar ulang, di detik ke tiga puluh. Lalu perbesar gambarnya,” titah Hugo.
Pria yang bertugas membuka rekaman itu mengangguk, lekas melakukan perintah Hugo. Jarinya bergerak dengan lihai, sampai Hugo menyuruhnya untuk berhenti.
“Itu, kita bisa lihat nomor plat mobilnya,” ujar Hugo, langsung mengambil ponsel dan memotret nomor plat mobol hitam itu.
“Buat apa?” tanya Ravin.
“Bodoh! Dengan itu kita bisa melacak kemana saja arah mobil itu pergi!”
Ravin diam, dia ragu. “Maksudmu kita akan libatkan polisi?”
Hugo mengangguk mantap. “Lebih baik seperti itu, jika terbukti Sherin sedang mereka sekap kita bisa langsung memenjarakan mereka. Kita bisa minta mereka untuk menghukum berat penculik itu.”
Ravin yang belum bisa berpikir jernih itu hanya mengangguk pasrah. Sebelum pergi ke kantor polisi, Hugo meminta rekaman ketika Sherin di culik di parkiran. Lalu menyimpan gambar nomor plat mobil penculik itu.
Ravin masih gelisah, apalagi ketika mereka terus melihat CCTV yang memperlihatkan mobil itu melaju kencang menuju arah hutan yang cukup jauh dari kota. Kekhawatiran terus memenuhi dada Ravin bahkan ketika mereka sedang menuju kantor polisi.
“Jangan khawatir, kita pasti bisa menemukan Sherin. Kamu berdo'a saja supaya Sherin baik-baik saja,” Hugo menenangkan.
“Kau yakin dengan melapor polisi kita bisa menemukan Sherin?”
“Kau jangan suka meremehkan polisi, kadang mereka lebih pintar dari yang kita bayangkan.” Hugo tersenyum miring.
Supir yang membawa Sherin tadi pagi mengantar Ravin dan Hugo menuju kantor polisi terdekat. Tidak butuh waktu lama mereka sampai, Hugo yang merupakan seorang detektif terkenal tentu banyak di kenal polisi, jadi dia dengan mudah meminta bantuan pada pihak kepolisian.
__ADS_1
Setelah menceritakan kejadiannya, Hugo memberikan rekaman CCTV itu dan juga gambar plat nomor mobol milik penculik. Dengan cepat polisi menemukan meskipun ada sedikit kendala.
Posisi mobil itu terakhir kali di lihat melalui CCTV adalah hutan, terus melaju masuk lebih dalam ke tempat yang tidak terjangkau oleh CCTV karena tak ada rumah penduduk di sana. Hanya hutan yang jika di malam hari terlihat sangat gelap juga banyak Bintang seperti ular dan lainnya.
Mereka segera pergi ke sana, mobil paling depan adalah mobil polisi sementara mobil Ravin ada di urutan nomor dua. Dua mobil polisi lainnya ada di belakang mereka.
“Tempatnya lumayan jauh, semoga sebelum malam kita bisa menemukan Sherin,” ujar Hugo, semakin membuat Ravin panik.
“Menyetir lah dengan cepat! Jangan lambat!”
“Kamu ini bodoh atau tolol?! Jelas-jelas di depan kita ada polisi, kita tidak bisa menyalip. Kalau kita menyalip sekalipun kita tak mungkin bisa menemukan Sherin!”
“****!!” umpat Ravin, berdecak kesal.
“Kalau begitu cobalah kau retas ponsel Sherin!”
Ravin rasanya ingin mencakar jok di depannya tapi dia tahan. Setelah itu tak ada lagi percakapan di antara mereka.
Memasuki hutan lebih dalam, mereka seperti menemukan jalan buntu. Tak ada aspal yang menunjukkan jalan masih terus ada. Beruntung hari masih siang menjelang sore, langit belum gelap hingga akhirnya mereka berpencar.
“Kita bagi tiga kelompok, Hugo, Ravin dan dua polisi akan bersama. Dua lagi ada lima orang dan kita harus cepat menemukan korban sebelum matahari terbenam,” ujar salah satu polisi.
Di hutan yang sunyi ini mereka bersama-sama mencari satu orang yang menjadi korban. Sayangnya sinyal di sana tidak ada, jadi tak bisa menghubungi siapapun. Ravin, Hugo dan dua polisi lainnya berjalan bersamaan, sampai ketika mereka melihat ada sebuah gubuk kecil reyot yang tak terawat.
Cukup jauh dari tempat mobil mereka di parkir. “Rumah itu satu-satunya rumah yang kita lihat sepanjang jalan, aku berharap kita bisa menemukan Sherin di sana,” kata Hugo.
Dari sana mereka saja sudah curiga, apalagi ada sebuah mobil berwarna hitam dengan nomor plat kendaraan yang sama dengan nomor plat kendaraan milik penculik yang menculik Sherin. Sedang terparkir tepat di depan gubuk itu.
Dengan langkah cepat tapi tak menimbulkan suara, mereka menuju ke sana. Terdengar tawa seorang wanita dari dalam membuat mereka semakin yakin di sanalah Sherin berada. Mereka saling berpandangan sebelum mendobrak pintu.
__ADS_1
Brak!!
Satu tendangan dari Hugo langsung menghancurkan dauh pintu itu. Kedua bola mata Ravin membulat penuh, kala netranya melihat keadaan Sherin yang cukup mengenaskan.
“SHERIN!!” teriak Ravin, orang-orang di dalam sana terkejut termasuk Sherin.
Dengan cepat dua polisi menangkap dua penculik itu, langsung di borgol membuat dua penculik itu sulit melarikan diri.
“Ra— Ravin, a— akhirnya kamu datang,” ucap Sherin lirih di tengah rasa sakit.
Sementara Iriana pucat pasi, tubuhnya gemetar dengan tangan masih memegang cambuk. Melihat itu Ravin rasanya ingin membunuh Iriana, tanpa aba-aba Ravin mengambil pistol milik salah satu polisi.
“Hey! Jangan—” polisi yang sedang memegang salah satu penculik itu terkejut, tak bisa menghadang Ravin yang kini sudah mengarahkan pistol itu ke arah Iriana.
“JANGAN—”
DOR!!
Satu tembakan tepat mengenai telapak tangan Iriana yang memegang cambuk, membuat wanita itu berteriak histeris.
“Argh ... ” cambuk langsung terjatuh, darah mengucur dari telapak tangan Iriana setelah timah panas itu menembus tangannya.
Iriana memegangi tangan kanannya itu, mengerang dengan keras karena baru kali ini mendapat sebuah tembakan. Tanpa kata, Ravin melempar pistol itu dan langsung Hugo raih, sementara Ravin lekas berlari menghampiri Sherin yang kini tergeletak dengan kesadaran yang semakin menurun.
“Aku sudah datang,” suara Ravin terdengar gemetar, tak tega melihat keadaan Sherin yang babak belur.
“A— aku sudah berusaha untuk kabur tapi Iriana terus memukuli ku, ” lirih Sherin, mengusik pendengaran Ravin hingga membuat dada Ravin sesak.
“Ku mohon bertahanlah.”
__ADS_1