Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 74


__ADS_3

Keesokan paginya, ruang rawat yang dipakai Sherin cukup ramai. Ada Calysta dan calon mertua Sherin, Dina. Sementara ayahnya Ravin sudah pergi ketempat kakek Haris bersama dengan kakek Faris.


“Sudah, Kak. Lebih baik Kakak pergi kerja! Di sini ada aku sama mama,” Calysta mendorong Ravin ke arah pintu, sementara Ravin enggan.


“Aku kerja di sini saja.”


“Kurang afdol, lagian yang sakit mbak Sherin tapi Kakak yang nggak mau kerja. Aneh.”


Ravin terpaksa keluar dari ruang perawatan itu karena Calysta terus mendorongnya. Dengan berat hati Ravin pergi bekerja dan meninggalkan Sherin yang sedang mengobrol dengan Dina.


“Mama nggak habis pikir, otak kakakmu itu ada dimana. Masa sama adik sendiri jahat banget,” Dina menggerutu, ia berikan sepotong apel yang sudah di kupas kepada Sherin.


“Dia mau balas dendam,” Sherin memakan buah apelnya. Rasanya manis tapi sayang Sherin tak bisa menikmati, pasalnya bibir dia akan terasa sakit jika di senggol sedikit.


“Ya walaupun mau balas dendam harus mikir. Apa tak ada cara lain selain memukuli kamu sampai kamu babak belur begini? Apa dia lupa kalau kamu sebentar lagi mau nikah? 'Kan sayang kalau kamu nikah tapi badan banyak luka kayak gini.”


Sherin terdiam beberapa saat, dia menelan apelnya kemudian mengangkat bahu.


“Otak dia itu kayak otak udang, isinya kotoran semua! Jadi maklum aja, Ma, kalau Iriana berpikir begini cara balas dendam yang benar,” celetuk Calysta, gadis itu duduk di samping Sherin. Tangannya ikut mengambil buah apel di atas piring.


“Beruntung Mama nggak punya anak kayak dia,” Dina mendengus.


Mereka mengobrol cukup lama, sampai saat waktunya makan siang Calysta dan Dina keluar untuk mencari makan siang. Kini hanya tinggal Sherin sendiri di dalam, terasa membosankan dan dia sudah tidak ingin berada di sini.


Ingat 'kan kalau Sherin tak menyukai aroma rumah sakit? Kini yang ke-dua kalinya dia masuk ke tempat ini. Bau obat-obatan itu sangat mengganggu indera penciumannya.


Saat sedang mengembuskan napas berkali-kali, tiba-tiba pintu terbuka dan ada Anika serta Meylin. Keduanya masuk dengan Meylin membawa parsel berisi buah-buahan.


“Aku pikir kalian lupa padaku,” ujar Sherin.


“Kami tak mungkin lupa, kalau kami lupa padamu lalu siapa yang akan menggaji kami?” tutur Anika membuat Sherin mencebik.


“Perusahaan!”


“Mereka tak ingin kami makan gaji buta, kalau kamu sepi job, maka penghasilan kita berkurang. Jadi, kamu harus cepat sembuh agar kita bisa cari uang yang banyak,” Anika duduk di kursi samping brankar, tempat yang tadi di gunakan mama Dina untuk duduk.


“Oh ya, setelah ini mau bagaimana? Apa membiarkan Iriana begitu saja? Aku sangat tahu pasti pertunangan Iriana hancur karena ulahmu 'kan?” tebak Anika.


“Tahu dari mana?”

__ADS_1


“Gosip,” kata Anika, sementara Sherin memicing.


“Harusnya di balas. Dia itu sudah tidak waras, balas dendamnya keterlaluan! Padahal kamu itu adiknya,” ujar Meylin, gadis itu sampai mengigit kuku jarinya saking gemesnya dengan tingkah Iriana.


“Iya harus di balas,” Sherin mengangguk.


“Bagaimana caranya?” tanya Anika penasaran.


Sherin berdehem sebelum memulai pembicaraan serius. “Dulu aku pernah minta kalian untuk memberikan aku ponsel Prisha 'kan? Nah, sekarang boleh 'kan aku pinjam ponsel itu?”


“Memang apa hubungannya dengan kamu dan Iriana?”


“Ck! Pinjamkan saja, nanti kalian juga tahu,” Sherin mengangkat tangan, meminta ponsel itu dari Anika.


Sementara Anika menghela napas, dia ambil sebuah ponsel dari tasnya dan di berikan pada Sherin.


“Apa kamu selalu membawanya?” Sherin terlihat senang, dia mulai mengutak-atik ponsel itu supaya menyala.


“Iya, barang Prisha yang paling dia sayang selalu aku bawa,” Anika tersenyum kecut, Sherin hanya mengangguk. Dia tentu tahu, ponsel ini adalah salah satu barang kesayangannya.


Beruntungnya ponsel itu menyala. Maklum, barang mahal tak akan mudah rusak. Harapannya hanya satu, foto dan video itu masih ada. Kata Anika dulu ponsel ini pernah di sita polisi, entah bagaimana bisa di kembalikan.


Sherin mendesah berat, batrai ponsel ini hampir habis. “Apa kamu punya charger yang sama seperti ini?” tanyanya pada Anika.


Sherin buka aplikasi video, jantungnya berdebar takut video itu sudah di hapus. Tapi, helaan napas lega Sherin keluarkan saat semua hal-hal penting di ponselnya tidak di hapus.


“Kalian lihat ini ... ” Sherin menunjukkan sebuah video, Anika serta Meylin hanya bisa terperangah.


“I— ini ... ” tenggorokan Anika terasa tercekat, dia tak mampu berkata-kata.


“Menjijikkan sekali,” ujar Meylin.


Sementara Sherin tersenyum. “Kalau kita sebar ini ke media sosial apa yang akan terjadi?”


“Kau ingin menghancurkan kariernya?” tebak Anika.


“Haha ... sebelum dia masuk penjara, dia harus menderita dulu. Untuk itu, kita bisa pakai kekuatan netizen,” Sherin tersenyum puas.


***

__ADS_1


Setengah jam berlalu, Anika dan Meylin sudah kembali pulang. Sepuluh menit sebelumnya Calysta dan Dina sudah kembali dari kantin rumah sakit. Sekarang di sana ada seorang dokter pria yang masih terlihat muda sedang menjelaskan keadaan Sherin sekarang.


“Hanya tinggal menyembuhkan luka memar, tiga hari lagi kamu sudah bisa pulang.”


“Apa tidak kelamaan, Dok? Besok saya juga siap untuk pulang,” Sherin merasa keberatan.


Dokter itu menggeleng. “Meskipun hanya luka memar, tapi kamu masih harus di infus. Tenaga mu belum pulih, bukankah lebih baik di sini lebih lama dari pada pulang tapi belum sembuh?”


Sherin ingin menolak tapi buru-buru Dina cegah. “Tentu, Dokter. Kita ikuti saran dokter saja, tiga hari lagi kita baru pulang.”


Dalam hatinya, Sherin ngedumel. Ia sungguh tak menyukai rumah sakit. Satu hari berada di sini saja sudah sangat membosankan, apalagi di tambah jadi tiga hari?


Tiga hari kemudian ...


Sherin akhirnya bisa menghirup udara luar, ia tarik napas dan embuskan. Rasanya, ah ... melegakan di banding harus menghirup oksigen di rumah sakit yang baunya kurang enak.


Kakek juga sudah bisa pulang, kini mereka semua sedang berkumpul diruang tengah. Televisi menyala dan berbagai makanan ringan tersaji di atas meja.


“Untung saja luka Sherin hampir hilang, aku takut nanti waktu pernikahan malah jadi belang-belang karena warna biru itu,” ujar Dina.


“Memang kapan pernikahannya, Ma?” tanya Sherin, pasalnya sudah sejak beberapa hari yang lalu Dina selalu membahas tentang pernikahan.


“Tiga hari lagi, jadi besok malam kita mulai siap-siap buat menginap di hotel. kamu sama Ravin tenang saja, semua undangan sudah tersebar dan kita hanya tinggal menunggu waktu pernikahan saja.”


Sherin terperangah. Tiga hari lagi? Secepat itu?


Di tempat lain, ada Iriana yang baru keluar dari rumah sakit. Dia menaiki kursi roda, Laras yang mendorong. Wajahnya tak bersahabat, tatapan mata Iriana terus mengarah ke lantai.


Ada dua polisi yang sedang mengikuti mereka, hal itu membuat Iriana semakin tidak nyaman.


Tiba-tiba saja dari arah depan sana ada botol bekas air mineral mengenai kepala Iriana. Jelas wanita itu meringis, merasakan kepalanya yang sakit setelah di lempari.


“Lihat! Dia wanita yang menjadi selingkuhan pacarnya dewi Prisha.”


“Dia pasti sedang ketakutan,” timpal para pasien yang sudah hampir sembuh.


“Aku pikir dia itu lugu, suaranya memang tidak sebagus Prisha tapi dia berusaha untuk bisa seperti Prisha. Tapi ternyata tingkahnya memalukan. Bahkan, memiliki pacar pun harus yang sama seperti Prisha.”


Iriana ingin menangis, sementara ibunya, Laras memarahi mereka yang telah melempari Iriana dengan telur serta botol.

__ADS_1


“Ma, aku nggak mau di penjara.”


“Tenang, Sayang. Mama bakal bujuk papa supaya mau bantu masalah kamu. Kamu nggak akan di penjara,” mendengar itu Iriana bisa menghela napas lega.


__ADS_2