Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 68


__ADS_3

Plak!


Iriana menoleh ke samping, merasakan pipinya yang perih setelah di tampar Arvin.


“Apa yang Papa lakukan?” tanya Iriana dengan nada membentak.


“Memberikan kamu pelajaran!”


Kedua mata Iriana berkaca-kaca, baru kali ini di tampar Arvin dan itu membuatnya sakit hati. Padahal kejadian semalam pun dia tidak tahu akan terjadi. Harusnya dia bahagia tapi malah jadi sebaliknya.


“Aku tidak salah!”


“Tapi kamu sudah mempermalukan aku!” tegas Arvin.


Pagi ini rumah Arvin ramai, kakek nenek juga ada begitupun dengan Sherin. Untungnya Sherin tak tidur di tempat yang dulu, bi Tuti sudah mempersiapkan kamar tidur yang lebih layak.


“Aku tidak tahu kalau akan terjadi hal seperti tadi malam.”


“Tetap saja ini salahmu! Harusnya kamu cari pria yang lebih setia dan tidak akan mempermalukan keluarga ini. Untung saja berita ini tak menyebar dan tidak membuat usahaku hancur.”


Sarapan pagi ini terasa tegang, Iriana baru datang ke meja makan tapi sudah dapat tamparan dari ayahnya. Sementara Sherin tak peduli, Sherin tetap melanjutkan sarapan paginya sambil menonton drama ayah dan anak itu.


“Pasti ini ulah Sherin!” tuduh Iriana dengan menunjuk Sherin menggunakan jari telunjuknya.


“Aku?” tunjuk Sherin pada dirinya sendiri.


Tatapan Sherin polos, seperti tidak tahu apa-apa. Iriana melihat itupun berdecih.


“Memang aku salah apa?”


“Pasti kamu yang menyuruh wanita itu mengaku-ngaku hamil anak Rainer 'kan?”


“Apa kamu ada bukti sampai menuduh aku begitu?” kesal Sherin, selera makannya jadi hilang.


Iriana diam, dia tak punya bukti apa-apa selain tuduhan.


“Tidak punya 'kan? Jadi jangan asal tuduh,” sinis Sherin, ia ambil gelas lalu mengisinya dengan air dan meminumnya dengan sekali tegukan.


Sherin beranjak, meninggalkan meja makan dengan mood yang buruk. Tuduhan Iriana benar tapi biarlah mereka tidak tahu. Anggap saja kejadian kemarin adalah murni ketidak sengajaan.


Iriana mencak-mencak, menganggap memang Sherin lah pelakunya. Selain Prisha, tak ada yang begitu berani mengusik dirinya. Sekarang hanya Sherin yang memiliki keberanian itu.


Menuju siang hari Iriana terus mencoba menghubungi Rainer tapi tak juga terhubung. Dari semalam rasanya dia ingin marah dan melampiaskan kepada semua orang.


Iriana tidak tahu, di tempat lain Rainer baru saja menarik paksa Grisel dari rumah sakit dan membawanya ke apartemen. Rainer hempaskan tangan Grisel hingga Grisel terhuyung kebelakang. Beruntung Grisel terjatuh di sofa dan tidak membuat Grisel celaka.


“Apa maumu sebenarnya?” Rainer mengapit pipi Grisel dengan dua jarinya. Cukup kuat sampai membuat Grisel meringis kesakitan.


“Sakit!”

__ADS_1


“Tahu sakit? Itu tidak sebanding dengan rasa maluku!”


“Aku hanya mencoba membatalkan pertunangan kalian! Aku sedang hamil, butuh kamu tapi kamu malah tunangan dengan orang lain,” kilah Grisel, tak mengakui kesalahan.


Kata Sherin, dia tidak salah. Hanya meminta keadilan dengan keadaannya sekarang. Rainer harus menikahinya dan bukan menikah dengan Iriana.


“Tapi tidak di depan orang ramai!” bentak Rainer.


“Lalu kenapa? Tidak salah kan? Mereka pun hanya diam saja semalam.”


Rainer mengacak rambutnya, pagi ini dia tidak melihat ada berita heboh mengenai pertunangan seorang artis dan musisi yang kacau karena ada wanita asing yang mengaku tengah hamil anak musisi tersebut.


Dari satu Rainer bisa bernapas lega, setidaknya dia tidak akan kehilangan pekerjaan. Tapi, masalahnya belum selesai sebelum meminta penjelasan dari Grisel.


“Kau tahu? Jika semalam banyak wartawan maka aku akan kehilangan pekerjaan! Lalu dari mana aku akan memberimu kemewahan?”


Grisel terkejut. Ia bangkit dan mendongak, menatap Rainer yang lebih tinggi. Grisel tersenyum dan berkata, “Kita bisa mulai dari awalkan? Aku tidak butuh kemewahan, aku hanya butuh kamu di sampingku. Menemani aku supaya tidak sendiri.”


“Kamu tidak butuh kemewahan tapi butuh biaya untuk bertahan hidup.”


“Banyak pekerjaan yang bisa di cari.”


“Tidak semudah itu!”


Grisel menunduk. “Aku cinta kamu, aku cuma mau kamu nikahin aku. Jangan menikah dengan orang lain,” pinta Grisel, kembali dia meneteskan air mata.


Rainer diam, lalu menyeringai. “Mau menikah denganku kan?”


“Baik, aku bisa menikahimu. Tapi, kamu jangan menyesal.”


Grisel menggeleng. “Kamu mau nikahin aku saja aku senang, makasih, Rai ... ” Grisel segera memeluk Rainer erat, sementara Rainer hanya tersenyum dengan seringai tipis.


***


“Iya, siang ini aku ke sana. Setelah makan siang aku pasti sampai,” ucap Sherin, menjawab perintah dari seseorang di ujung telepon.


“Ya sudah, aku siap-siap dulu.” Sherin mematikan sambungan telepon, dia mulai bergegas mengganti pakaian dan berdandan.


Setelah puas istirahat pagi ini, Sherin mendapat telepon dari Anika dan menyuruhnya untuk segera datang ke Star entertainment. Ada hal penting yang ingin di bicarakan, tentu Sherin menyetujui.


Menyangkut pekerjaan dan uang, Sherin tidak ingin terlambat satu menit pun.


Sherin keluar kamar, kembali mendapat telepon dari Anika. Manajernya itu sudah menunggu di ruangannya.


“Tunggu setengah jam lagi, kalau macet bisa saja aku terlambat. Tahu sendiri ini hari sabtu, banyak orang yang ingin liburan dan masih banyak yang bekerja.”


Sherin tak menyadari kalau semenjak Sherin keluar kamar Iriana mendengar dan mengikuti kemanapun Sherin pergi.


Iriana sudah pusing memikirkan masalahnya dengan Rainer. Begitu kecewa dan sakit hatinya karena kejadian semalam, bahkan sampai sekarang Rainer belum menghubunginya.

__ADS_1


“Aku butuh bantuanmu,” kata Iriana ketika dia menelepon seseorang. Iriana naik ke dalam mobil, mengikuti Sherin yang mulai melaju di antar supir.


“Soal biaya jangan khawatir, kamu lupa keluargaku adalah orang kaya?” Iriana menyetir sendiri, dia mengikuti Sherin dan jarak yang cukup jauh sehingga Sherin tidak akan curiga.


“Jangan sampai gagal,” Iriana berpesan.


Sherin melirik arlojinya, sudah waktunya makan siang. Harusnya tadi dia makan di rumah saja, tapi karena perintah dari Anika, Sherin sampai lupa untuk mengisi perut.


“Pak, nanti berhenti di restoran, ya,” pinta Sherin.


“Iya, Nona.”


Lima menit kemudian mobil berhenti di sebuah restoran yang terlihat biasa saja. Sherin keluar dari mobil, hendak masuk ke restoran tapi matanya justru tertuju pada objek di seberang sana.


Seorang manusia lebih tepatnya, kedua mata Sherin berbinar. Dia sampai lupa dengan Kael, sang adik tersayang. Tapi sekarang Kael tidak sendiri, melainkan bersama seorang gadis. Yang Sherin ingat, gadis itu adalah gadis yang pernah dia antar pulang sampai rumahnya.


“Aku harus ke sana sebentar, kangen juga dengan anak itu,” gumam Sherin.


Sherin menyebrang jalan yang terlihat cukup sepi kendaraan. Di sana Kael dan Cahaya sedang mengobrol di depan restoran, sebelah restoran itu ada toko kue yang katanya sedang viral.


“Kael ... ” panggil Sherin.


“Lo— ”


“Sherin,” dengus Sherin, menebak bahwa Kael lupa padanya.


“Ah iya, kenapa?”


“Kangen kamu,” celetuk Sherin, ia pun duduk di antara keduanya.


Meja depan restoran itu ada tiga kursi. Sherin menempati salah satunya.


Sementara Kael melotot sedang Cahaya terkejut, keduanya terbatuk. “Jangan salah paham,” kesal Sherin.


Sherin memesan makan siang di restoran itu, dia makan bersama Cahaya dan Kael. Rupanya dua anak ini libur sekolah, Kael menemui Cahaya yang sedang bekerja di toko kue sebelah.


“Aku harus pergi,” ucap Sherin, melihat arloji.


Hampir setengah jam dari waktu yang di janjikan dengan Anika. Masih ada beberapa menit dan untungnya perusahaan milik Ravin itu tidak begitu jauh dari sini.


“Ya udah, pergi sana!” usir Kael dengan mengibaskan tangannya.


Bibir Sherin mengerucut, pasti Kael merasa dia mengganggu waktu berduaan Kael dengan Cahaya. Padahal dia kakaknya, tapi sayang Kael tidak tahu itu.


Sherin pergi, menyeberang jalan dan tidak melihat ada mobil yang tadi dia pakai dan terparkir di pinggir jalan. Sherin menatap sekeliling, rupanya mobil itu ada di tempat parkir yang sudah di sediakan.


“Harus jalan lagi,” keluh Sherin, perlahan dia mulai mendekat ke arah parkiran khusus untuk mobil. Banyak mobil yang terparkir di sana.


Parkiran ini lumayan sepi, hanya ada mobil berbaris depan belakang. Sedang mobil yang di pakai Sherin berada di ujung, berjarak beberapa mobil dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


Saat hendak melewati sebuah mobil hitam grand max, tiba-tiba ada yang membekap hidung Sherin dengan sebuah kain. Sherin terkejut dan secara tidak sengaja menghirup aroma yang ada di kain itu membuat kesadaran Sherin perlahan menurun.


__ADS_2