Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 37


__ADS_3

Tidak sampai setengah jam Ravin sudah datang, satpam yang sudah di beri izin membiarkan Ravin masuk segera membuka gerbang. Mobil memasuki halaman rumah mewah yang baru pertama kali dia lihat, tak menyangka ternyata ini adalah rumah milik Prisha.


Hujan mulai reda, menyisakan gerimis kecil. Ravin keluar dari mobil, berjalan di jalan yang di genangi air, lalu mengetuk pintu rumah yang tertutup rapat. Selang beberapa menit pintu terbuka, dia melihat Sherin.


“Ah, sudah sampai.” Senyum Sherin mengembang.


Ravin mengangguk sebagai jawaban, keduanya tiba-tiba merasa canggung. “Mau pulang sekarang?” tanya Ravin.


Sherin menoleh ke belakang sebentar lalu berbalik lagi, tak lama ia mengangguk. Lagi pula tujuannya menunggu Ravin adalah karena ingin di jemput, jadi langsung pulang saja.


“Ya sudah, ayo,” ajak Ravin, mereka masih berdiri di depan pintu, Sherin tak mempersilakan Ravin untuk masuk meski pria itu ingin melihat ke dalam.


“Sebentar, saya mau panggil seseorang.” Sherin bergegas pergi, masuk ke dalam dan meninggalkan Ravin seorang diri.


Pandangan Ravin berkeliling, rumah tiga lantai yang terlihat mewah ternyata adalah milik Prisha, tak sekalipun Ravin mencari tahu dimana alamat rumah ini, padahal Ravin sering diam-diam memperhatikan Prisha.


Kebetulan Sherin yang membuat Ravin mengetahui rumah ini.


“Ravin, kita pulang tapi antarkan dulu gadis ini kerumahnya, sudah malam dan tidak ada yang jemput. Kasihan dia, takutnya orang tuanya akan mencari,” kata Sherin mengagetkan Ravin.


“Dia siapa?”


“Temannya Kael.”


Ravin berkerut. “Siapa Kael?”


“Dia adik Prisha.”


Kenyataan yang membuat Ravin kembali terkejut. Prisha punya adik? Kenapa dia tidak tahu?


Sebenarnya berapa banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Prisha sampai adik lelakinya saja dia tidak tahu ternyata ada. Prisha terlalu pintar menyembunyikan identitas keluarga sampai banyak yang tidak tahu bahwa wanita yang baru meninggal itu mempunyai seorang adik.


“Ayo, pulang.”


Mereka bertiga segera masuk mobil, Ravin yang menyetir, Sherin duduk di samping Ravin dan Cahaya duduk di belakang. Di perjalanan yang ke lima menit, Sherin baru mengeluarkan suara.


“Rumah kamu di mana?” tanya Sherin pada Cahaya.


“Sebenarnya lumayan jauh dari sini, apa lebih baik aku turun saja? Aku akan telepon supir rumah untuk menjemput,” jawab Cahaya, ia merasa tidak enak karena merepotkan orang lain.


“Tak apa, cepat beri tahu aku. Kami akan mengantarmu sampai rumah dengan selamat.”

__ADS_1


Cahaya mengangguk, ia tersenyum dan bilang, “Terima kasih.”


“Sama-sama.”


Ravin melirik sekilas, ia sedikit tak menyangka ternyata Sherin mau membantu orang lain. Sisi lain dari Sherin yang baru ia ketahui hari ini. Mobil terus melaju memecah jalanan kota, hujan sudah reda begitu juga gerimisnya, tapi hawa dingin tiba-tiba datang, membuat Ravin langsung mematikan AC.


dua puluh menit barulah mereka sampai di rumah Cahaya, dari gerbangnya saja terlihat bahwa Cahaya anak orang kaya. Lekas Cahaya kembali mengucapkan terima kasih dan masuk ke dalam rumah.


“Langsung pulang?” tanya Ravin, mobil kembali melaju meninggal rumah Cahaya.


“Em, aku bosan jika di rumah tak ada kerjaan. Apa bisa kita main dulu?” pinta Sherin.


“Bisa, main kemana?”


“Cukup jalan-jalan sambil beli jajanan, aku sudah lama ingin melakukan hal itu. Apalagi malam ini bulannya terang, hujannya sudah reda dan cocok buat kita berdua kencan.” Sherin terkekeh saat mengucapkan kata 'kencan'.


“Kencan?” Ravin menyunggingkan senyum, satu kata yang mampu menggelitik hati keduanya.


“Kalau bukan kencan memangnya apa? Kita sudah bertunangan, tinggal tunggu menikah lagi. Atau mau pacaran juga?” Sherin mengedipkan sebelah mata.


Ravin melihat sekilas lalu berpaling untuk fokus kembali ke jalanan. “Memangnya kamu mau menjalani hubungan ini dengan serius?”


Hidupnya jungkir balik hanya dalam satu malam, pertama memergoki kekasihnya sedang selingkuh di dalam kamar, kedua ia mati mengenaskan karena kecelakaan mobil, itupun sebab amarah karena kekasihnya, Rainer. Dan terakhir, jiwanya berpindah ke dalam tubuh seorang gadis gendut yang sebenarnya orang yang bertabrakan dengannya malam itu.


Selang beberapa minggu, Sherin mendapat kejutan lagi, ia di paksa kakek Haris untuk bertunangan dengan orang yang tidak di kenal. Apalagi dalam waktu dua bulan akan melangsungkan pernikahan. Hal yang tidak pernah ada di dalam benaknya.


Tapi, karena pertunangan ini, Sherin bertemu Ravin. Pria menyebalkan yang mau membantunya untuk kembali meniti karir. Sherin berada di ambang dilema.


Di satu sisi, hatinya masih ada nama Rainer, bajingan yang telah merusak kehidupannya. Tapi, di sisi lain Sherin pun mulai merasa nyaman berada di samping Ravin, kebersamaan yang tanpa mereka sadari membuat sesuatu tumbuh di hati keduanya.


Melihat Sherin tak menjawab, hanya memalingkan wajah ke arah luar jendela, membuat Ravin mengepalkan tangan. Ia sendiri juga bingung.


“Ah, tidak usah di pikirkan, lagian pernikahan masih lama dan kalau kamu mau membatalkan bisa bilang pada kakek,” ucap Ravin tiba-tiba.


Kini Sherin menoleh, ia tatap Ravin yang sedang fokus menyetir. “Tak semudah itu kalau mau membatalkan pertunangan ini, hanya tersisa satu bulan lebih, rencana pernikahan sudah mulai di susun, aku juga tak mau mengecewakan kakek.”


Sherin mengembus napas, sebenarnya keduanya sama-sama berada dalam kebingungan. Di hati masing-masing masih mempunyai nama yang belum hilang. Menyakitkan memang.


****


Mobil berhenti di depan sebuah restoran, Sherin tersadar dari lamunannya. Ia tatap sekeliling, restoran ini ramai pengunjung, terlihat mewah dari luar.

__ADS_1


“Kenapa berhenti di sini?”


“Aku belum makan malam, kamu temani aku mau?” Ravin mulai membuka safety belt, di ikuti oleh Sherin.


“Mau, aku juga merasa haus,” kata Sherin.


Keduanya keluar dari mobil, tiba-tiba Sherin berhenti, membuat Ravin menoleh ke arahnya. “Kenapa berhenti?”


Sherin mengusap lengannya yang terpampang, ia memakai dress lengan pendek, panjangnya pun hanya selutut, sepatu boots wanita sampai atas mata kaki, di luar terasa sangat dingin membuat Sherin sedikit gemetar.


“Dingin,” kata Sherin.


“Kamu ini bagaimana?! Sudah tahu di luar dingin masih berani pakai baju pendek.” Ravin mendengus, tapi ia segera kembali ke dalam mobil, mengambil hoodie yang jika di kenakan Sherin akan kebesaran.


“Pakai ini.”


Ravin memberikan hoodie itu kepada Sherin, Sherin menerima dengan kening berkerut.


“Apa tidak ada yang lain? Aku akan terlihat lucu kalau memakai ini.”


“Tidak ada, pakai atau kamu akan tetap kedinginan.” Ravin menggeleng tegas.


Sherin mengerucut, ia masuk ke dalam mobil untuk memakai hoodie yang jelas kebesaran di badan dia yang kecil, tapi terasa hangat, aroma parfum milik Ravin pun sampai masuk ke indra penciumannya.


Begitu Sherin keluar, Ravin hampir terpingkal melihatnya, sangat lucu di mata Ravin, di tambah bibir Sherin yang mengerucut, maju ke depan.


“Jangan tertawa!” kesal Sherin.


“Aku hanya merasa kamu lucu,” Ravin menahan senyum.


Sherin mengalihkan pandangan, wajahnya jadi merona, embusan angin malam menerpa wajahnya, kedua tangan di masukkan ke dalam saku hoodie, tak lagi kedinginan seperti tadi.


“Terima kasih, sampai rumah nanti aku kembalikan.”


Ravin menghela napas. Ia usap pucuk kepala Sherin membuat gadis itu terperanjat. “Sudahlah, ayo kita masuk. Aku sudah lapar.”


Sherin mengangguk, kakinya melangkah bersamaan dengan Ravin, Sherin sempat melihat ada beberapa tatapan aneh mengarah padanya. Bagaimana tidak? Sherin memakai dress dan sepatu boots tapi juga memakai hoodie kebesaran, terlihat lucu apalagi Sherin memakai kupluk hoodie di kepalanya.



Bonus foto pakaian yang Sherin pakai😉 bagus gak? Kalau bagus jangan lupa komen dan like nya ya. makasih dah mau mampir 😚😚

__ADS_1


__ADS_2