Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 29


__ADS_3

Irama jantung Kael berdetak dengan kencang, rasanya seperti dari lari maraton satu stadion. Berkali-kali Kael menghela napas demi menetralkan rasa terkejutnya.


“Siapa hantu? Gue?!” tunjuk gadis yang baru selesai menangis, sebenarnya belum tapi ia terpaksa berhenti karena kedatangan Kael yang tiba-tiba.


“Iya, lo persis kayak hantu,” celetuk Kael, tapi hal itu justru membuat gadis yang tidak di ketahui namanya itu semakin menangis kencang. Kael jadi panik.


“Lha, kok malah tambah nangis?” heran Kael sedikit bingung.


“Huwaa ... emang ya, semua laki itu sama. Nggak ada yang bener ...” tangisnya semakin kencang dan Kael semakin bingung di tambah panik.


Kael takut ada yang mendengar dan nanti dia yang kena sasarannya.


Kael berjongkok, mencoba menenangkan gadis itu. “Aduhh ... udah dong, kok malah tambah nangis. Gue minta maaf kalau omongan gue tadi nyakitin lo, tapi 'kan yang gue bilang itu jujur.”


Seketika tangis gadis itu berhenti, sambil sesenggukan ia berkata, “Tau nggak? Kejujuran lo yang bikin gue tambah nangis.”


Demi Tuhan Yang Maha Esa, Kael tidak mampu mencerna ucapan gadis itu. Inilah yang membuat Kael sulit memiliki teman, ia terlalu tidak peka. Apalagi dengan perasaan seorang perempuan yang sebenarnya menyukai dirinya, jika ia di tembak pasti jawabannya selalu penolakan.


“Kata kakak gue bohong tuh dosa, makanya gue bilang jujur,” ucap Kael sekenanya.


“Lo anak TK ya? Bisa-bisanya masih ingat pesan orang tua waktu umur lima tahun!” gadis itu sedikit kesal, hatinya yang sedang sedih kini perlahan hilang dan di ganti dengan keheranan.


“Lo yang anak TK, udah gede masih nangis. Lagian mata lo ketutup atau kebuka sih? Jelas-jelas gue anak SMA!” sentak Kael.


“Tapi otak lo yang anak TK, seragam doang yang SMA, tapi pikiran kayak anak kecil. Ternyata badan tinggi sama ganteng juga nggak ngejamin laki-laki keliatan keren,” Gadis itu mengusap air matanya dengan tangan.


Kael yang merasa sedikit risih dengan penampilan perempuan asing ini pun mengambil sapu tangan di saku celananya. Ia berikan pada gadis itu dan berkata, “Lo jelek banget, persis kayak hantu. Mending bersihin dulu nih.”


“Ah, iya. Thanks, tapi maaf kalau kotor, entar gue cuci dulu baru gue balikin,” ucapnya, ia menerima sapu tangan itu, dengan pelan mengusap wajahnya yang berantakan setelah nangis serta ingus yang meler.


Kael yang merasa pegal karena berjongkok terlalu lama pun akhirnya duduk di hadapan gadis itu, mereka duduk di atas rumput, Jadinya tidak akan mengotori pakaian.


Kael masih diam sambil mengamati gadis yang sedang membersihkan ingus, merasa di tatap, gadis itu memalingkan wajah.


“Ngapain lo ngeliatin gue kayak gitu?”

__ADS_1


“Nama lo siapa sih?” Kael menjawab dengan sebuah pertanyaan.


“Cahaya,” jawabnya, kini wajah Cahaya tak lagi berantakan seperti tadi, ini semua karena Kael, jadi Cahaya harus baik-baik kepada lelaki itu.


“Nama lo cantik, tapi kok muka lo nggak bercahaya kayak nama lo, ya,” Kael sedikit tertawa setelah mengucapkan kata-kata itu.


Sementara Cahaya malah menatap Kael kesal, sepertinya ia tidak bisa bersikap baik-baik pada Kael.


“Lo ngapain di sini nangis sendirian? Kalau orang lain dengar tuh rasanya kayak dengar suara kuntilanak nangis,” Kael masih duduk diam di posisinya, ia sedikit penasaran dengan Cahaya.


Jarang-jarang ia melihat perempuan menangis di sekolah, padahal tanpa Kael sadari banyak perempuan yang menangis karena ulahnya.


“Bukan urusan lo!”


“Nggak mau ngasih tahu juga nggak apa-apa, gue cuma penasaran, ya udah, gue mau pergi,” ucap Kael sambil mengangkat bahu. Ia pun segera berdiri namun tertahan karena Cahaya memegang celananya.


“Duduk dulu sih, temenin gue bentar. Lo pasti bolos 'kan?” terka Cahaya.


Kael pun duduk, ia di posisi sama seperti tadi, berhadapan dengan Cahaya. Di sekitar mereka ada bunga-bunga yang sengaja di tanam, ada pula kursi panjang yang terbuat dari kayu tapi anehnya dua orang ini lebih memilih duduk di atas rumput.


“Jelas banget, sekarang 'kan lagi jam pelajaran,” Cahaya memandang Kael sinis, yang di pandang hanya bisa tersenyum kikuk.


“Lo juga sama,” balas Kael.


Cahaya mengangguk. “Iya, kita sama-sama bolos,” ucapnya.


Terdiam beberapa saat, sampai lidah Kael terasa gatal ingin bertanya. Jarang-jarang Kael lancar mengobrol dengan orang asing. “Lo tadi sebenarnya kenapa sih?”


Cahaya membuang napas berat, ia tatap Kael dengan tatapan sedih, katanya, “gue patah hati.”


...⚫⚫⚫...


Malam harinya, di sebuah kamar bernuansa putih ada seseorang gadis yang sedang menatap benda tipis berwarna emas, berbentuk persegi yang besarnya tidak sebesar telapak tangannya.


“Aku nggak miskin lagi,” ucap gadis itu.

__ADS_1


Senyumnya terukir, ia peluk dan terus cium benda tipis itu. “Ravin baik banget, nggak nyesel aku terima dia jadi tunangan.”


“Sekarang, kalau mau pergi jauh tinggal naik taksi, nggak perlu naik ojek. Kalau mau makan di luar, bebas tinggal pilih tanpa harus liat isi dompet,” Sherin jadi terbayang dengan kehidupannya yang dulu.


Tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari ponsel, segera Sherin ambil ponselnya yang ada di atas tempat tidur— tidak jauh dari tempat Sherin tiduran.


“Panjang umur,” celetuk Sherin, ia pun membuka ponsel itu dengan kata sandi, di lihatnya sebuah pesan dari pengirim yang dia beri nama 'BigBoss'.


BigBoss: “Besok pagi datanglah ke kantor, ada yang harus kita bicarakan.”


Tidak di Kenal: “Kamu mau beri aku kejutan?” dari tulisannya jika di baca akan bernada, seperti berharap.


BigBoss: “Kamu terlalu berharap”.


Tidak di Kenal: “Iya, aku hanya bisa berharap apalagi soal cinta.” Sherin jadi curhat.


di tempat lain, Ravin sedang menahan senyum membaca pesan balasan dari Sherin. Tak berapa lama terdengar lagi bunyi notifikasi, segera Ravin membukanya.


Tidak di kenal: “Yank, makasih sih gold card-nya.”


BigBoss: “Jangan panggil aku dengan sebutan itu.”


Tidak di kenal: “Why? Aku 'kan tunanganmu.”


BigBoss: “Tunangan bukan berarti harus memanggil dengan sebutan yang sembarangan.”


Di sana Sherin terdiam membaca beberapa kata dari Ravin. Kata-katanya cukup nylekit.


Tidak di Kenal: “Jadi aku harus manggil kamu apa?”


BigBoss: “Apapun asal jangan panggil sayang, itu terlalu umum.”


Ah, Sherin jadi mengerti. Langsung ia balas dengan sedikit menahan tawa.


Tidak di Kenal: “Bebeb.”

__ADS_1


__ADS_2