Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 22


__ADS_3

Pagi harinya, langit biru tanpa awan mendung, menjadikan cuaca cerah seperti perasaan seorang gadis yang masih bergelung di dalam selimut. Senyumnya terukir indah di sela rasa kantuk yang mulai menghilang.


Burung-burung berkicau, saling bersahutan di antara tetesan embun pagi. Sedetik kemudian, ia bangkit dan menyingkirkan selimut yang barusan menggelung tubuhnya.


“Harus cepat,” ujar gadis yang bernama Sherin, dengan semangat ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Lima belas menit berselang, Sherin sudah keluar dan mulai memakai pakaian. Ia memperhatikan bentuk tubuhnya di pantulan cermin. Senyumnya kembali terukir.


“Aku kurus ... ” Sherin bersorak senang, melihat bentuk tubuhnya yang kini hampir sesuai dengan apa yang ia inginkan.


Berat badan memang berkurang tapi di beberapa bagian malah terlihat lebih menonjol. Ini yang Sherin inginkan, bukan menjadi gadis gendut yang tidak terawat. Sherin sekarang memakai pakaian yang ia beli ketika bersama Ravin, Sherin menyukai pakaian ini.


Di liriknya koper besar yang ada di samping ranjang, semua sudah siap dan tinggal pergi. Sherin dengan semangat menuruni anak tangga menuju meja makan. Sebelum pergi, ia harus mengisi perut.


Tiba di sana, yang lain sudah pada makan duluan. Sherin mendengus dan semakin sadar diri bahwa ia memang tidak di inginkan di rumah ini.


“Mau makan apa, Non?” tanya bu Tuti begitu Sherin sudah duduk.


“Roti aja, Bu,” jawab Sherin, bu Tuti mengangguk sebagai jawaban.


Sarapan pagi dalam diam, Sherin memakan sarapannya dengan rasa hambar walaupun roti sudah di olesi coklat. Tiba-tiba selera makannya hilang.


Ketika sudah habis, Sherin langsung beranjak pergi. Namun, langkahnya terhenti saat namanya di panggil.


“Sherin ... ”


Sherin berbalik, menatap pada ayahnya yang kini memandangnya dengan tatapan datar. Tidak seperti ayah pada umumnya, tidak ada tatapan kasih sayang sama sekali.

__ADS_1


“Mau kemana kamu?”


“Mau kemana itu urusanku,” ketus Sherin.


“Sherin!! Jangan kurang ajar kamu! Papah sering lihat kalau belakangan kamu suka keluyuran, hari ini diam di rumah. Jangan membuat masalah di luar dan jangan suka keluyuran,” tekan Arvin, Sherin berdecih.


“Rupanya kamu masih mau memperhatikan aku, aku pikir kamu sama sekali tidak peduli padaku,” ucap Sherin, membuat emosi Arvin semakin naik.


“Aku mengingatkan kamu, agar kamu tidak mencoreng nama baik keluarga,” kilah Arvin. Sherin semakin muak.


“Aku tidak peduli, mau nama baikmu hancur atau keluarga hancur pun aku tidak peduli.”


Sherin pergi setelah mengucapkan hal itu, pagi-pagi sudah di ajak ribut. Keadaan yang sama sekali tidak disukai Sherin atau Prisha.


Sherin pergi ke kamarnya, ia mengambil koper dan ketika di depan pintu Sherin bertemu bu Tuti.


“Mau kemana, Non?” bu Tuti terlihat heran apalagi ketika menemukan sebuah koper berukuran lumayan besar di samping Sherin.


Jelas saja bu Tuti terkejut mendengarnya. “Emangnya mau kemana, Non? Kan di sini rumahnya Non Sherin,” cemas bu Tuti.


“Aku tak punya rumah, sejak dulu sampai sekarang aku tidak mempunyai rumah. Aku di sini hanya menumpang dan masa kontrak ku sudah habis. Intinya aku mau pergi dari sini, Bu.”


“Lah? Terus kalau Non Sherin pergi, ibu sama siapa?” bu Tuti semakin sedih.


“'Kan ada pelayan lain, Bu.”


Sherin kembali melanjutkan langkahnya, menuruni anak tangga satu persatu. Suara hentakan koper terdengar cukup kuat, sampai membuat Iriana yang tidak bekerja itu penasaran.

__ADS_1


“Mau kemana kamu pagi-pagi begini sudah bawa koper?” tanya Iriana dari bawa tangga, wajahnya saat ini sedang di pakaikan masker dan ia sedikit tidak leluasa untuk bicara.


“Mau nyari selingkuhan, hehehe ... ” Sherin nyengir menyebalkan di mata Iriana.


Tak peduli dengan masker yang mau mengering, Iriana berteriak. “Pah!! Papah!!!”


Tak berselang lama, seorang pria separuh baya dan wanita yang usianya sama muncul membuat Sherin kesal setengah mati. Iriana ini mulutnya tidak bisa di kontrol sedikit, pikir Sherin.


“Kenapa kamu teriak-teriak?” tanya Arvin pada Iriana.


“Pah, Sherin mau pergi bahkan sampai bawa koper. Dia bahkan tidak bilang pada kita,” jawab Iriana, ia menunjuk Sherin yang sudah berada di lantai bawah.


Spontan Arvin mengikuti arah pandangan Iriana, matanya menajam saat itu juga. Ia berkata pada Sherin, “Mau kemana kamu sampai bawa koper sebesar itu?” tanyanya dengan nada tinggi.


Sherin melirik kesal pada Iriana yang menjadi tukang ngadu. “Aku 'kan sudah bilang kemarin kalau aku ingin pindah ke rumah nenek ... ” dengan malas Sherin menjelaskan.


“Untuk apa kamu pindah? Rumahmu di sini, lebih baik tidak usah pergi, kamu itu cuma bisa jadi beban mereka yang mengasuh mu ... ” kata jahat itu terlontar begitu saja dari mulut Arvin.


Tiba-tiba suasana mendadak beku, Sherin diam mendengarkan dengan tangan mengepal menahan amarah. Ia tidak sakit hati dengan perkataan Arvin, namun perkataan Arvin begitu menusuk harga dirinya. Arvin seolah bilang bahwa ia hanya manusia yang seperti benalu. Bisanya merugikan orang lain. Mengambil keuntungan untuk diri sendiri padahal nyatanya Sherin tidak begitu.


“Karena aku adalah beban bagimu, maka lebih baik aku pergi! Tak ada gunanya bagiku bertahan hidup di sini,” tegas Sherin, ia benar-benar merasa marah saat ini.


Sebelumnya tidak ada yang pernah berani bertingkah di hadapannya, namun kini berbeda. Malahan ia yang menjadi lebih lemah di bandingkan dengan saat menjadi Prisha dulu.


“Diam di situ! Jangan pergi,” bentak Arvin, entah kenapa ia tidak membiarkan Sherin pergi padahal hal itu bisa mengurangi bebannya.


Sherin tidak peduli, dengan kesal ia menarik koper dan bejalan keluar. Ia hanya ingin bebas dari sini, ia tidak ingin selalu bertemu Iriana.

__ADS_1


Arvin terus memanggil nama Sherin agar kembali, tapi Sherin tetap bersikeras. Sampai di depan pintu, Sherin tak sengaja menabrak sebuah tubuh tinggi yang membuat Sherin mengangkat kepala.


“Ravin?” seolah hanya mimpi, Sherin tak bergerak sedikitpun. Ia berada tepat di bawah wajah Ravin, Sherin mengamati wajah tampan itu dalam diam. Terlalu dekat sampai embusan napas Ravin mengenai wajah Sherin, tiba-tiba saja debaran jantung Sherin berpacu lebih cepat.


__ADS_2