Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 54


__ADS_3

Sore tadi, setelah bel pulang sekolah berbunyi Kael ingin segera pulang ke rumah. Duduk santai sembari bermain game, di temani camilan dan es teh manis. Membayangkannya saja sudah membuat Kael kesulitan menelan salivanya.


Sedikit info, semenjak beberapa hari yang lalu, Kael mencoba hal baru. Selalu sendiri di rumah membuatnya sedikit bosan, walaupun di temani buku ternyata tak membuat rasa kesepian itu hilang. Kael awalnya bertanya pada Cahaya mengenai kegiatan yang bermanfaat tapi tak membosankan.


Cahaya merekomendasikan sebuah game online, selain bisa menghibur kala sendirian, bermain game itu juga bisa menghasilkan uang. Yaitu dengan cara menjual akun atau kalau sudah pro, bisa memainkan akun milik orang lain dan kita akan mendapatkan imbalan.


Sekarang Kael jadi kecanduan. Helm sudah di kepala, motor siap di jalankan tapi tatapannya tiba-tiba terpaku pada sosok Cahaya yang sedang berdebat dengan Dzaka. Perlahan Kael menghampiri dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan, tapi Kael tak bermaksud menguping.


“Gue nggak mau pulang bareng sama lo, Kak. Kenapa maksa banget sih?”


“Ca! Tadi Tante kamu telepon aku, katanya aku suruh antar kamu pulang sampai rumah dengan selamat.” Dzaka mencoba memegang tangan Cahaya tapi langsung di tepis oleh Cahaya.


“Tapi 'kan gue nggak mau, lagian terserah gue mau pulang bareng siapa. Itu hak gue! Lo nggak berhak maksa kayak gini,” teriak Cahaya.


Area parkir khusus kendaraan siswa-siswi terbilang cukup sepi karena hampir semua anak-anak sudah pulang. Jadi, tak mungkin ada yang mendengar kecuali Kael yang tak berniat menguping, hanya saja dia penasaran.


“Kamu mau pulang naik apa? Mendingan naik mobil aku saja, adem nggak akan kepanasan, AC nyala dan bikin nyaman,” Dzaka terus membujuk.


“Gue nggak mau ya nggak mau! Kenapa maksa banget sih!” Cahaya hampir menangis, melihat itu Kael pun menghampiri mereka.


“Kalau gitu bareng gue aja gimana?” tawar Kael membuat keduanya menoleh.


Air mata sudah hampir jatuh, Kael sedikit kasihan. “Ayo naik!” ajak Kael pada Cahaya.


“Beneran?”


“Ho'oh, buruan gihh naik, sekalian kita nyari angin. AC nggak bakal ngejamin hawa jadi adem, yang ada pengap karena di dalam mobil semuanya ketutup tanpa udara alami walaupun banyak polusi.”


Cahaya senang, akhirnya ia bisa terlepas dari Dzaka. Laki-laki yang waktu itu ia sukai dan ternyata sifatnya sangat mengesalkan. Benci sekali rasanya mengingat dia pernah jatuh cinta dengan Dzaka.


“Ca! Tapi aku di suruh Tante kamu,“ Dzaka mencoba menghalangi kepergian Cahaya yang sudah ada di atas motor.


“Gue pulang bareng Kael aja, bener apa kata Kael. Di mobil pengap, panas walaupun AC nyala,” alasan Cahaya.


Kemudian Kael memacu kendaraannya keluar dari gerbang. Dzaka tak bisa mengejar, sehingga dia pulang dengan tangan kosong, tanpa Cahaya yang awalnya ingin ia ajak jalan-jalan.


Sesampainya di rumah Cahaya, gadis itu lekas berterima kasih. Setelah mengembalikan helm, Cahaya segera masuk. Kael ingin pulang tapi tiba-tiba satpam datang dan mengajaknya berkenalan.


Tak lama setelah itu, terdengar suara ribut-ribut. Dari halaman, rumah Cahaya tak terlalu jauh, berbeda dengan rumah Kael. Jadi, suara teriakan akan terdengar dengan jelas.


“Bukannya Tante udah suruh kamu pulang bareng Dzaka?!”


“Iya, tapi aku nggak mau!”

__ADS_1


“Terus kamu pulang sama siapa?”


“Pacarku!”


Tante Cahaya nampak emosi, Kael dan satpam hanya bisa mendengarkan tanpa bisa melerai. Keadaan seperti ini sudah sering terjadi, bahkan tetangga sebelah sudah bosan mendengar keributan antara tante dan keponakan.


“Berapa kali Tante bilang kamu nggak boleh punya pacar?!”


“Berkali-kali! Tapi aku nggak peduli. Ini hidupku, terserah aku mau gimana ... ”


“Oh, oke. Kalau gitu biar Tante hentikan pengobatan ibu kamu,” di dalam sana tantenya Cahaya tersenyum sinis sementara Cahaya tak bisa berkata-kata lagi.


Kekesalan itu memuncak, membuat Cahaya tak betah di rumah. Ia pergi keluar walaupun belum ganti pakaian. Kaget melihat Kael masih di depan, padahal harusnya sudah pulang dari tadi.


“Lo kok masih di sini?”


Kael dapat melihat wajah Cahaya yang kini memerah. Pasti gadis itu ingin menangis.


“Harusnya sih udah pulang, tapi Pak Satpam ngajak ngobrol.”


“Oh ... ” Cahaya manggut-manggut mengerti.


“Lo ... Nggak papa?” tanya Kael lirih, takut menyinggung perasaan Cahaya.


Kael tahu Cahaya berbohong, rasa iba muncul tiba-tiba. Ketika mendengar pertengkaran itu, Kael tahu bahwa keadaan keluarga Cahaya tak baik-baik saja.


“Gini deh, gimana kalau kita keluar? Gue belum makan siang, sekarang laper. Mau nggak temenin gue? Pasti perut lo juga laper 'kan?”


“Nggak ngerepotin ini?” Cahaya merasa tak enak.


“Enggak! Kita jalan-jalan ke pantai juga. Di sana anginnya bikin seger, mau nggak?”


Cahaya mengangguk. Setelah pamit pada satpam Cahaya naik ke atas motor. Kael membawa Cahaya ke pantai dan makan sore di sana. Sebenarnya jadwal untuk makan siang tapi di ganti sore. Untuk pertama kalinya Kael jalan bareng perempuan, apalagi berdua.


...⚫⚫⚫...


“Kalian lama banget!” keluh Calysta.


Sementara Ravin dan Sherin dengan santainya duduk di dalam mobil. Calysta mengumpat dalam hati. Bisa-bisanya dia tertidur hampir satu jam karena menunggu kakak dan calon kakak iparnya.


“Kami tadi mencarimu, tapi tak ketemu tau-taunya sudah di mobil,” kata Ravin.


“Kalau bukan karena kalian aku nggak mungkin masuk mobil duluan!” Calysta mendengus. Ia menguap karena masih mengantuk.

__ADS_1


“Kita makan malam dulu baru mengantarkan Sherin pulang. Kalau tidak cepat-cepat nenek Linda bisa marah lagi,” ujar Ravin.


“Makannya di tempat ramai, aku nggak mau kalau makan di tempat dinner untuk berdua. Kalian harus ingat ada aku di sini, jangan jadikan aku seperti orang ketiga dalam hubungan kalian, aku ini adik bukan pelakor apalagi obat nyamuk.”


Sherin menahan tawa, sementara Ravin hanya geleng-geleng kepala. Mobil mulai melaju, sebenarnya tadi lama karena Sherin ingin melihat matahari terbenam. Mumpung Calysta tidak ada, Ravin memanfaatkan kesempatan untuk berduaan.


Sepanjang jalan Sherin diam, memikirkan sesuatu. Sampai malam semakin larut, setelah makan malam Ravin mengantar Sherin pulang. Ravin pamit pada nenek Linda. Ketika hendak masuk mobil ingin pulang ke rumah, Sherin menahan Ravin.


“Sebentar, aku mau mengembalikan barang milikmu,” Sherin berlari menuju lantai dua, ke kamarnya dan mengambil barang milik Ravin.


“Kalau aku tidak ingat mungkin sampai kita menikah aku tidak akan mengembalikan hoodie ini.”


Ravin menerima hoodie dari tangan Sherin. Sebenarnya tak masalah jika Sherin tak ingin mengembalikan. Lagi pula tak lama lagi mereka sah sebagai pasangan halal. Dan juga barang-barang dia bisa Sherin pakai kapan saja.


“Kalau belum mau di kembalikan juga tidak apa. Kamu bisa memeluk ini saat tidur, aromaku menempel di sini, jadi kamu akan tidur nyenyak sambil memimpikan aku,” ucap Ravin langsung mendapat pukulan dilengan dari Sherin.


Wajah wanita itu memerah. “Ini barangmu! Memangnya siapa yang mau memimpikan kamu?”


“Kamu lah, kalau bukan memangnya siapa lagi?” Ravin menaikkan sebelah alisnya, menggoda Sherin.


“Ck! Oh ya, apa kamu punya kenalan seorang detektif?”


Ravin mengernyit. “Detektif? Buat apa?”


“Buat apa itu urusan nanti. Tapi, apa kamu punya kenalan?” Sherin tak ingin memberi tahu rencananya.


“Ada.”


“Boleh aku minta nomornya?” pinta Sherin penuh harap. Ravin sampai memicingkan matanya kemudian dia tersenyum jahil.


“Boleh, tapi ada syaratnya.”


“Apa?”


“Cium aku dulu,” Ravin memajukan wajahnya, semakin dekat dengan Sherin.


“Eh?” Sherin terbelalak. Ia gelagapan karena wajah Ravin sangat dekat dengannya. Embusan napas yang hangat pria itu dapat Sherin rasakan. Kini, jantungnya kembali berdetak secara tidak normal.


Ia sangat membutuhkan nomor detektif itu, tapi syarat yang Ravin ajukan membuat Sherin bingung. Sudahlah! Turuti saja asal Ravin mau memberinya nomor ponsel sang detektif. Tak apa, lagi pula hanya ciuman, bukan yang lain.


Sherin sudah bersiap, ia ikut memajukan wajahnya. Matanya sudah terpejam ingin mencium pipi Ravin. Hingga tiba-tiba ...


“Woy! Awas di depan pintu ada setannya. Kalau mau mesra-mesraan jangan di situ, ingat belum halal! Apa kalian lupa kalau masih ada anak kecil? Aku masih polos, janganlah buat diriku dan mata suciku ternoda karena kalian!”

__ADS_1


__ADS_2