
Resmi menyandang status pengangguran, Sherin menghabiskan waktunya bersama Dina saat siang hingga sore hari. Selain ingin menambah keahlian dalam memasak, Sherin juga sering ikut bersama Dina saat mertuanya itu bertemu teman arisan.
Memang, semenjak Sherin keluar dari pekerjaannya, ia banyak waktu untuk beristirahat sehingga Sherin berharap seorang anak segera hadir dalam kehidupannya dan Ravin.
Hingga beberapa bulan berlalu, satu bulan menjelang aniversary pernikahan Sherin dan Ravin yang ke-satu. Dina berencana ingin merayakan ulang tahun pernikahan anak dan menantunya itu.
“Padahal Sherin sudah bilang tidak perlu dirayakan dengan meriah, kita buat acara kecil-kecilan aja,” ujar Sherin.
Mereka sedang berada di pusat perbelanjaan. Kulkas di rumah Sherin sudah kosong, jadi menelepon Dina untuk minta menemani Sherin belanja. Kebetulan saat itu Dina juga sedang butuh teman mengobrol.
Keduanya sepakat untuk bertemu di tempat biasa dan di jam yang sudah Sherin tentukan. Sampai akhirnya dua jam berlalu, namun keduanya masih belum keluar dari tempat belanja.
“Mana boleh! Pokoknya harus di rayakan, kalau bisa kita bakal sewa gedung buat acaranya,” tegas Dina.
“Memangnya aku sama Mas Ravin mau nikah lagi, Ma? Nggak perlu lah, kita bikin acaranya di rumah saja.” Sherin masih mencoba membujuk Dina.
Keduanya berjalan ke tempat buah-buahan, tas belanja sudah di isi sayuran dan beberapa perlengkapan untuk membuat kue. Sherin mengajak Dina ke tempat buah naga, lalu memilih beberapa untuk di taruh di dalam kulkas.
Dina memasang wajah masam, mengikuti langkah menantunya dan ikut memilih buah naga. “Ya udah, deh, Mama juga nggak bisa memaksa kalian. Tapi tetap di rayakan, ya? Jangan enggak!”
“Iya, Mama Sayang ... ”
Usai memilih buah naga, Sherin pindah tempat untuk mencari buah mangga.
“Kenapa pilih buah mangga, Rin?” tanya Dina.
“Lagi pengen aja, Ma. Kayaknya enak, asem-asem gitu,” Sherin sudah membayangkan bagaimana rasanya buah mangga yang ia pilih barusan.
“Rin, nanti anterin Mama pulang dulu, ya? Mama kan nggak bawa mobil, nelepon sopir juga kelamaan,” pinta Dina ketika mereka sudah selesai belanja dan sedang berjalan keluar dari pusat perbelanjaan.
“Iya, Ma.”
Sherin bergegas menuju parkiran, Dina sudah menunggu di pinggir jalan. Lekas Dina masuk ketika mobil Sherin berhenti tepat di depannya. Setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu, sampailah mereka di rumah keluarga Ravin.
“Tak mau mampir dulu, Rin?” tanya Dina sembari membuka sabuk pengaman.
Sherin menggeleng cepat. “Mas Ravin sebentar lagi pulang, aku belum masak. Lagian sudah sore, Ma. Aku juga belum mandi.”
“Kalau gitu Mama masuk, ya? Oh iya, kapan-kapan jangan lupa telepon Mama buat nyiapin persiapan acaranya, ya?”
__ADS_1
“Iya, Ma.”
Setelah berpamitan pada Dina, Sherin segera pergi. Sepulang dari sana ia harus segera masak lalu mandi. Biasanya, setelah mandi dan Ravin belum pulang, Sherin akan melakukan live di salah satu aplikasi dan menyapa penggemarnya.
Memang Sherin berhenti dari pekerjaannya, tapi bukan berarti mengubur hobi dan cita-cita lamanya. Sherin tetap bisa bernyanyi dan menyapa penggemarnya melalui cara lain. Tak harus dengan menjadi artis terkenal dengan naik ke atas panggung.
Tepat pukul empat sore Sherin sampai rumah. Rumah yang selalu sepi jika hanya ada dia sendiri, tapi saat ada Ravin, rumah tak terlalu sepi seperti sekarang ini.
Sherin bergegas ke dapur, sebelum memulai pekerjaan ia mengikat asal rambutnya dan memakai apron. Mulailah acara memasak Sherin. Tangannya cukup lihai memotong sayuran. Padahal sejak kecil ia tak suka pegang pisau.
Akan tetap sekarang berbeda, takut berdarah karena pisau itu hanya cerita lama Sherin. Bahkan sekarang ia sering mengiris tangannya sendiri menggunakan pisau, apalagi saat baru belajar ilmu potong memotong.
Namun, sepertinya kali ini akan berbeda pula. Ketika Sherin hendak memotong bawang putih, Sherin merasa mual.
“Eughh!” Sherin menundukkan wajahnya di atas wastafel, memuntahkan isi perutnya yang tersisa.
“Bau banget, sumpah!” Sherin sampai mengibaskan tangannya di udara, langsung membuang bawang putih yang menjadi sumber masalah.
Rupanya bukan hanya bawang putih, bahkan daging segar yang baru ia beli tadi juga baunya sangat tidak enak. Kembali Sherin mual-mual sampai akhirnya terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa.
“Kamu kenapa?” tanya Ravin khawatir.
Ravin terperangah. “Bau gimana, Yang? Aku masih wangi, kok.” Ravin sampai mencium bagian ketiaknya sendiri. Tidak bau seperti yang Sherin tuduhkan, namun sayangnya Sherin tetap menggeleng.
“Kamu bau! Mendingan kamu cepat mandi ... ” rengek Sherin, matanya sampai berkaca-kaca membuat Ravin serba salah.
Sedih melihat istrinya dan ingin memeluk tapi Sherin terus menghalangi, akhirnya pria itu menurut juga untuk mandi terlebih dahulu. Setelah itu, kembali Ravin menghampiri Sherin yang masih berada di dapur.
“Kenapa masih di sini?” tanya Ravin heran.
“Aku ... aku belum masak ... ” ungkap Sherin dengan nada yang terdengar sedih, raut wajahnya sangat kecewa.
“Tidak apa, kita bisa makan di luar,” ucap Ravin menenangkan Sherin.
Ravin mendekati Sherin lagi, namun Sherin mundur. Hal itu semakin membuat Ravin heran. “Kenapa malah mundur? Apa aku masih bau? Tapi aku sudah mandi,” protesnya.
“Kamu pakai parfum apa?” Sherin menutup hidungnya, kakinya mundur semakin jauh seiring Ravin terus berjalan mendekat.
“Aku pakai parfum yang biasanya. Kamu kenapa, sih?” Ravin setengah kesal.
__ADS_1
“Nggak tahu! Kamu bau banget. Ganti baju sana, jangan pakai parfum!” tegas Sherin.
Ravin menggerutu karena Sherin terus memaksa, akhirnya pria itu mau mengganti bajunya ketika Sherin sudah berkaca-kaca. Dengan memakai celana dan baju rumahan, Ravin langsung mengajak Sherin makan di luar karena Sherin belum masak makan malam.
Hanya karena satu alasan, yaitu bawang putih. Sherin tak bisa melanjutkan acara masaknya.
“Kamu aneh banget malam ini, apa mau periksa ke dokter?” tanya Ravin ketika mereka sedang berada di sebuah restoran.
Sherin mendelik seraya menggeleng. ia menatap Ravin kesal lalu berkata, “Aku nggak sakit! Buat apa ke dokter? Mungkin aku cuma kelelahan jadi kamu ngerasa aneh.”
“Tapi kamu tadi muntah-muntah. Memangnya kamu dari makan apa?”
“Aku tidak makan yang aneh-aneh. Tapi kamu tak perlu khawatir, aku baik-baik saja.”
Obrolan terhenti saat pesanan sampai, Sherin makan dengan lahap karena perutnya lapar. Tapi, sampai rumah Sherin kembali muntah-muntah. Sehingga isi perut Sherin keluar lagi dan membuat Sherin lemas.
Ravin khawatir tapi Sherin terus bilang tidak kenapa-napa.
Keanehan Sherin terus berlanjut, di mulai dari mual di pagi hari lalu keinginan makan sesuatu saat tengah malam.
“Kita ke dokter saja, ya? Aku khawatir kamu sudah seminggu lebih kayak gini.” Ravin terus memaksa Sherin.
Sherin menggeleng lemah. “Bukannya kamu ada rapat pagi ini? Nanti biar aku ke dokter sendiri, kamu pergi kerja saja.”
“Tapi—”
“Aku tidak apa-apa. Nanti aku telepon Mama buat antarkan aku ke dokter.”
Ravin menghela napas, dia menyerah dan akhirnya pergi meninggalkan Sherin yang tengah bersandar di tempat tidur. Kepalanya sedikit pening, Sherin pikir mungkin dia memang harus ke dokter.
Tanpa menelepon mertuanya, Sherin pergi sendiri ke tempat dokter Findy. Harusnya bukan ke sana, tapi entah kenapa kaki Sherin malah melangkah ke tempat Findy— dokter kandungan.
.
.
.
maaf, ya baru up. kemarin aku agak gk enak badan, jadi gak ada mood buat nulis. 1 chapter lagi tamat, tapi setelah tamat aku ada bonus chapter sekitar 3 buat kelarin semuanya. makasih 🤧🤧
__ADS_1