
Akhirnya, Ravin memutuskan untuk membawa Sherin ke apartemen miliknya. Mengenai nenek Linda yang akan mengomel karena membawa cucunya menginap tanpa izin akan Ravin pikirkan besok pagi.
Sesampainya di parkiran, Ravin keluar mobil sambil menggendong Sherin. “Ugh, berat,” keluh Ravin.
“Bukannya tadi Bapak juga gendong Sherin? Kenapa baru bilang berat?” tanya Wildan, pria itu tengah mengikuti Ravin sampai di depan apartemen nanti. Alasan Ravin adalah dia akan sulit untuk memencet tombol lift dan butuh bantuan Wildan.
“Tadi masih terasa enteng, sekarang tenagaku habis dan ternyata dia lumayan berat,” Ravin mengembuskan napas.
“Mau saya bantu, Pak?” ceplos Wildan.
Ravin tentu saja melotot, mereka tengah berada di lift dan sedang naik menuju lantai empat belas. “Jangan sembarangan kamu!”
“Haha ... bercanda, Pak. Ternyata anda bucinnya lebih cepat dari perkiraan saya,” Wildan terkekeh, mereka bersahabat sejak kuliah, jadi Wildan tak takut saat meledak atasannya itu.
“Bucin?” lirih Ravin.
Sesampainya di depan apartemen, Wildan segera menekan password dan otomatis pintu akan terbuka. Karena sudah tak membutuhkan Wildan lagi maka Ravin segera mengusir sahabat sekaligus bawahannya itu.
“Habis manis sepah di buang, sudah di tolong tidak bilang makasih malah ngusir!” gerutu Wildan di sepanjang jalan.
*****
Ravin meletakkan Sherin di atas kasur king size miliknya, Sherin masih memegang erat jaz Ravin membuat pria itu sulit melepaskan diri. Perlahan dia mencoba membuat Sherin melepas genggamannya, tapi sayang hal itu justru membuat Sherin semakin erat memegangnya.
Kini Sherin malah menarik jaz Ravin sampai pria itu jatuh di atas tubuh Sherin. Ah, lagi-lagi jantung Ravin berdebar tak karuan, apalagi wajahnya kini sangat dekat dengan Sherin. Embusan napas Sherin yang beraroma manis menyapu wajahnya.
“Aku bisa gila,” ujar Ravin, pria itu hampir hilang fokus saat tubuhnya menempel pada sesuatu yang terasa kenyal dari balik baju Sherin.
Hendak bangkit tapi tidak bisa, Ravin malah melihat Sherin menangis seperti pagi tadi.
“Hiks, apa kurangnya aku?”
“Kurang berisi,” ceplos Ravin menanggapi omongan Sherin yang tengah mabuk.
“Jahat, kamu jahat!” Sherin memukul dada Ravin, tidak sakit tapi malah membuat Ravin terheran-heran.
“Aku mencintaimu— tapi itu dulu, hihihi ... sekarang aku malah membencimu ... ” Sherin cekikikan.
Ravin bergidik ngeri, ia mencoba bangkit namun gagal lagi, Sherin malah semakin mendekapnya erat setelah memukul dadanya, untung saja tadi Ravin sempat melepas sepatu dirinya dan milik Sherin jadi tak masalah saat dia tiduran di atas kasur empuk.
__ADS_1
“Lepas, Sherin ... ”
“Tidak mau ... ” Sherin membuka mata sambil berkaca-kaca, Ravin terperangah. “Jadi, kamu tidak tidur?”
“Jangan tinggalkan aku,” Sherin semakin ngawur, tangisannya semakin kencang tapi tiba-tiba berhenti lagi.
“Apa aku harus seperti wanita itu agar kamu tidak selingkuh?” Sherin menatap Ravin yang kebingungan.
Katanya orang mabuk itu jujur meskipun asal ceplos, sekarang Ravin melihat itu pada diri Sherin. Ia semakin bingung dengan kalimat-kalimat Sherin yang terlontar saat gadis ini sedang tidak menyadarinya. Bahkan sampai menangis.
“Siapa yang selingkuh?” tanya Ravin, mencoba mencari jawaban dari pertanyaannya.
“Kamu yang selingkuh. Aku tidak pernah selingkuh. Kamu jahat, apa aku harus seperti wanita itu?”
Kalimat ini bukan jawaban yang Ravin inginkan. Sherin bangkit, kemudian ia dengan cepat berdiri bertumpu pada lututnya di atas tubuh Ravin membuat pria itu tercengang.
“Sherin, kenapa ka— ” hah? Terlambat, Sherin malah sudah mencomot bibirnya begitu saja, Ravin tak sempat menghindar.
Pria itu bergeming, bingung ingin bagaimana. Apalagi ini adalah ciuman pertamanya dan ternyata Sherin yang dapat. Sherin melepas ciuman singkat itu, ia menatap sendu wajah Ravin.
“Apa kamu tidak menginginkan aku?” lirih Sherin, seakan perasannya kini terluka.
“Kalau mau kenapa malah bermain dengan wanita itu?! Kamu pikir aku siapa? Kamu sendiri yang bilang akan bersamaku selamanya, bulshit!” Sherin tiba-tiba marah, Ravin terkejut.
Wanita itu? Siapa? Ravin penasaran.
“Wanita itu siapa?”
“Kamu bodoh, ya? Ah, kamu memang bodoh, meninggalkan aku demi dia yang murahan. Aku yang bodoh, ah, sebenarnya aku atau kamu yang bodoh?” Sherin mengacak-acak rambutnya, kemudian ia merebahkan dirinya di atas tubuh Ravin.
Sumpah demi apapun, malam ini merupakan malam paling menyesakkan untuk Ravin. Berduaan dengan seorang wanita yang sedang mabuk dan dengan posisi seperti ini. Sungguh tidak baik untuknya.
“Sherin bangun ... ” pinta Ravin sedikit memohon, ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana, Ravin ingin menangis sekaligus menjerit.
“Tidak mau! Nanti kamu pergi! Ah, tapi tidak apa kalau kamu pergi. Aku 'kan tidak mencintaimu lagi. Pergi saja sana! Sama wanita murahan itu, jangan pedulikan aku,” sungut Sherin, Ravin semakin tidak tahan.
Sherin merupakan ujian untuknya, semua kalimat Sherin tidak bisa dia mengerti dan malah semakin membuatnya penasaran. Siapa yang di maksud Sherin? Apa wanita ini pernah pacaran sebelumnya?
“Sherin ... ” kesabaran Ravin hampir habis.
__ADS_1
“Iya, Sayang?” sahut Sherin, nada suaranya jadi imut di telinga Ravin.
Pria itu memalingkan wajah, telinga serta pipinya terasa panas. Ya ampun, panggilan dari Sherin membuat Ravin seperti melayang-layang ke awan.
“Apa jika aku memberikan tubuh ini kamu tidak akan meninggalkan aku?” celetuk Sherin.
Kedua bola mata Ravin membulat. Apalagi saat Sherin tiba-tiba kembali mencium bibirnya, singkat tapi menimbulkan efek besar pada kesehatan jantung Ravin. Bibir Sherin turun ke leher, Ravin semakin tidak tahan.
Kalau di teruskan, maka Ravin akan hilang kendali. Dengan cepat Ravin merubah posisinya. Dia di atas dan Sherin di bawah, tatapan Ravin pada Sherin terlihat seperti seorang yang sedang kelaparan.
“Kamu jangan menguji kesabaranku!” peringat Ravin tapi Sherin tidak peduli. Alkohol yang dosisnya sedikit tadi telah menguasai pikiran Sherin menjadi lebih liar.
“Asal kamu tidak meninggalkan aku ... ” sekarang kedua bola mata indah itu berkaca-kaca, Ravin tersentak dan segera sadar. Ia bangkit dan duduk di tepi ranjang, kenapa dia malah tidak tega?
Sherin mabuk, gadis itu tidak sadar dengan apa yang terjadi. Jika dia hilang kendali, maka sama saja Ravin seperti orang brengsek yang senang memanfaatkan keadaan.
Ah, pikiran gadis itu sedang tidak waras. Ravin harus menahan diri, baru saja ingin pergi ke kamar mandi, Ravin mendengar Sherin menahan mual.
“Hey, jangan—” belum sempat menyelesaikan ucapannya, Sherin keburu lari ke kamar mandi, Ravin mengikuti dan melihat Sherin sedang muntah.
Ravin semakin tidak tega, ia bantu Sherin dengan memijat tengkuknya. Setelah dua menit Sherin terduduk lemas di atas lantai, air mata menggenang di sudut mata Sherin, Ravin melihat keadaan Sherin yang sekarang begitu berantakan.
Akhirnya, Ravin dengan suka rela menolong Sherin dengan memandikan gadis itu walaupun sulit karena Sherin yang masih mabuk, padahal sudah muntah. Apalagi Ravin harus menahan nafsunya sebagai seorang pria saat melihat tubuh telanjang seorang wanita.
Beruntung otaknya masih bisa di kendalikan. Ravin memakaikan Sherin kemejanya, terlihat kebesaran di tubuh Sherin yang kecil tapi membuat Sherin terlihat lucu. Setelah Sherin tertidur, barulah Ravin membersihkan diri.
Di dalam kamar mandi, pria itu memukul tembok. Guyuran air shower membasahi tubuhnya, pikirannya terus melayang saat kejadian barusan. Astaga, dia memandikan seorang gadis untuk pertama kalinya, meski airnya terasa dingin tapi wajah serta telinga Ravin terasa panas.
“Aku benar-benar akan gila!”
.
.
.
bersambung
ada gak yg pernah ngalamin apa yang Ravin alamin? Ngurusin orang yang lagi mabuk, pasti repot tapi aku sendiri juga belum pernah ngalamin🤣🤣
__ADS_1
jangan lupa like dan komennya, makasih yang udah mau mampir. Semoga suka, Happy Reading😚😘