Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 59


__ADS_3

Hugo segera pergi dari ruangan Findy setelah memaksa dokter itu memberitahu mengenai keadaan Grisel. Membuat dokter Findy merasa kesal karena telah melanggar kode etik sebagai dokter.


“Walaupun kita kenalan tapi aku tidak boleh melanggar sumpahku sebagai dokter,” ucap Findy kala Hugo tiba-tiba datang dan memaksanya buka mulut.


“Ini perintah Ravin, ada hubungannya juga dengan tunangan sahabatmu.”


Findy mendelik. “Lalu hubungannya denganku apa? Ada perbedaan antara hubungan persahabatan dengan pekerjaan.”


“Hanya memintamu memberitahu kondisi dia saja,” Hugo terus mendesak.


“Tidak akan aku beri tahu!” Findy mendengus.


Hugo berdecak kesal, ia terus mendesak Findy agar bicara hingga akhirnya dokter itu terpaksa buka mulut. Memberitahu kondisi Grisel yang kini tengah berbadan dua. Jelas itu informasi yang sangat penting, Hugo segera pergi ke parkiran dan masuk ke dalam mobil.


Hugo menelpon Sherin. “Halo,” sapa Sherin di ujung sana.


“Nona, aku punya informasi penting. Wanita yang kamu suruh aku ikuti saat ini sedang hamil, usianya sudah enam minggu, dia juga punya seorang ibu yang sedang koma di rumah sakit XX.” Hugo melaporkan apa yang dia ketahui.


“Apa? Hamil?!”


“Benar. Aku tutup teleponnya, setelah ini aku masih harus mencari tahu tentang wanita itu. Jangan lupa bonusnya,” kata Hugo langsung menutup telepon tanpa menunggu respon dari Sherin.


Di tempat lain Sherin sedang berdecak kesal, akibat Hugo langsung mematikan sambungan telepon padahal dia ingin protes.


“Kamu kenapa?” tanya Ravin, menatap Sherin bingung.


“Hugo, dia minta bonus,” jawab Sherin.


“Bonus? Bukannya kemarin sudah aku kasih DP? Memangnya dia sudah dapat informasi apa sampai berani minta bonus?” Ravin mendelik kesal.


“Informasinya sangat bagus, aku merasa dia berhak mendapatkan bonus. Kamu mau tahu?” Sekarang Sherin tersenyum cerah.


Mereka berdua sedang mengobrol di kantor milik Ravin, siang ini Sherin ada pertemuan dengan perwakilan dari perusahaan lain yang menginginkan dia menjadi brand ambassador untuk suatu produk milik perusahaan tersebut. Jadilah Sherin mengikuti Ravin dengan datang ke perusahaan.

__ADS_1


“Informasi apa?” Ravin jadi kepo, ia meletakkan bolpoin di atas meja lalu menatap Sherin serius.


“Kamu tahu Grisel bukan? Wanita yang aku minta untuk Hugo selidiki juga ikuti. Wanita yang sering bersama Rainer itu sedang hamil,” kata Sherin membuat Ravin terkejut.


“Hamil?!”


Sherin mengangguk cepat. “Rencanaku bisa berjalan lebih mudah kalau aku beruntung begini.”


Sejujurnya Sherin lebih terkejut, ternyata sudah sampai sana hubungan Rainer dan Grisel. Dia pikir Rainer hanya melakukan 'itu' dengan Iriana saja tapi ternyata Rainer lebih bejat dari yang dia kira.


Mereka mengobrol terus sampai Sherin ingat apa tujuannya datang ke sini. “Oh ya, sebentar lagi aku harus pergi untuk bertemu seseorang di sebuah cafe.”


“Siapa?”


“Anika bilang ada sebuah perusahaan yang ingin memintaku menjadi brand ambassador produk mereka.”


Mendengar itu ada rasa tidak terima di hati Ravin, pasalnya dia baru ingat dengan rencana kerja sama dari sebuah perusahaan kosmetik. Meminta Sherin menjadi brand ambassador produk baru mereka. Pasti akan ada sebuah pemotretan dan yang Ravin takutkan adalah jika Sherin di paksa memakai pakaian kurang bahan.


Sepertinya dia lupa kalau Sherin bukan melakukan pemotretan untuk iklan pakaian dallam.


Tanpa aba-aba Ravin menarik pinggang Sherin hingga Sherin terduduk di pangkuan Ravin. Sherin terkejut dan berusaha bangkit tapi Ravin memeluk Sherin erat.


“Apa yang kamu lakukan?” pekik Sherin panik.


Ravin menatap Sherin dalam, lalu dia menyambar bibir Sherin yang kenyal itu. Sherin membola, tak membalas juga tak menolak. Masih memahami situasi karena terkejut.


Setelah terlepas, Ravin memeluk Sherin dengan erat. Menenggelamkan wajahnya di dada Sherin yang membuat nyaman. “Jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain, atau kalau di suruh pakai baju yang kurang bahan jangan mau.”


Permintaan Ravin sedikit aneh, Sherin mengerutkan dahinya. “Kamu pikir aku akan mengiklankan produk pakaian dallam?”


“Siapa tahu,” Ravin angkat bahu.


“Tidak mungkin! Palingan yang di foto itu wajahku saja,” protes Sherin.

__ADS_1


“Tetap saja! Yang paling penting jangan dekat dengan laki-laki lain.”


Sekali lagi Ravin menyambar bibir Sherin, kali ini lebih menuntut. Sherin mulai membuka mulutnya saat Ravin menggigit kecil bibirnya. Membuat Ravin dengan leluasa mengeksploitasi isi mulut Sherin, mengabsen gigi dan saling membelit lidah.


Mereka menikmati ciuman itu cukup lama, seperti tidak sadar, Ravin membuka kancing baju Sherin. Satu, dua dan ketika hampir membuka kancing ketiga, Sherin menghentikan.


“Kamu mau apa?” tanya Sherin dengan napas terengah-engah, ia harus menghirup oksigen yang banyak.


Ravin tersadar. Segera ia memalingkan wajah. “Maaf ... aku tidak sadar,” ucap pria itu.


“Kalau mau 'nganu' nanti setelah menikah,” Sherin mendengus lalu mengancingkan kembali pakaiannya.


“Memangnya kenapa kalau sekarang?” goda Ravin.


“Aku tidak mau nyicil anak duluan,” timpal Sherin membuat Ravin tercengang.


Pria itu gemas, memeluk Sherin dengan erat lalu kembali mencium bibir Sherin. Tidak lama tapi mereka tiba-tiba terkejut saat pintu tiba-tiba terbuka, sayangnya bibir mereka belum terlepas juga posisi mereka yang terlihat sangat tidak wajar.


“Ah, maaf kami tiba-tiba datang mengganggu,” celetuk Wildan dengan senyum kaku.


“Tuhan! Mataku yang masih polos ternoda,” celetuk Meylin. Langsung menutup mata dengan kedua tangan.


“Aku tidak melihat,” Anika memalingkan wajah, seperti melihat ke arah lain.


Sedangkan Sherin langsung melepaskan diri. Bangkit dari pangkuan Ravin dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajah. Lipstiknya pasti acak-acakan, di tambah ingin menghindar dari mereka karena malu sudah ketahuan.


.


.


.


bersambung

__ADS_1


segini dulu ya. Saya juga mau ngucapin minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Selamat hari raya idul fitri bagi yang merayakan🥰🤗🙏


__ADS_2