Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 64


__ADS_3

Sore harinya, Iriana baru saja sampai di rumah. Lelah di tubuh sangat terasa, membuat Iriana lekas masuk kamar dan mandi lalu berbaring di atas ranjang. Namun, hatinya berbunga saat mengingat sebentar lagi dia ada konser, minggu depan. Dan itu beberapa hari lagi.


Ketika mata hampir terpejam, Iriana merasakan ponselnya bergetar. Ada nomor tak dikenal yang mengirimkan sebuah pesan. Iriana melotot melihat isi pesan yang ternyata sebuah foto.


“Hati-hati ... ” isi pesan di bawah foto.


Tangan Iriana bergetar, matanya memerah menatap foto itu. Iriana sangat mengenali punggung pria yang sedang merangkul seorang wanita. Dia Rainer, Iriana tahu itu. Dari punggung yang familiar, pakaian yang digunakan Rainer sama persis saat Rainer mengobrol dengannya di DY entertainment tadi pagi.


Iriana berusaha mengabaikan, tidak percaya dengan foto itu meski ragu. Perlahan, memejamkan mata. Ingin menghilangkan penat tapi tidak bisa sebab ia selalu terbayang akan foto itu. Dari mana orang itu tahu nomornya dan hubungannya dengan Rainer?


Iriana tak menanggapi pesan itu, hingga beberapa hari berlalu Iriana terus mendapatkan teror foto berisikan Rainer yang bepergian bersama wanita lain. Dan tibalah waktu yang di tunggu Iriana, dia naik ke atas panggung dengan balutan gaun merah terang. Menyanyikan lagu barunya di hadapan para penonton. Acara malam ini berjalan sukses.


“Meskipun tiket tak terjual habis tapi itu sudah lebih dari cukup. Keuntungan yang kita dapat juga lumayan,” ujar Ishana, berjabat tangan dengan Iriana dan mengucapkan selamat.


“Tentu! Itu karena kemampuanku bertambah. Setelah itu banyak orang yang akan memujiku, bahkan Sherin akan kalah dariku,” ucap Iriana dengan percaya diri.


Ishana hanya bisa menggeleng. “Oh ya, kamu lihat Rainer datang tidak?” tanya Iriana.


“Tidak.” Ishana menjawab singkat.


Iriana berdecak kesal, di lihatnya arloji yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dia mulai menelepon Rainer tapi tak juga terhubung, malah tidak aktif. Hingga kembali Iriana mendapatkan sebuah teror berupa foto.


Pengirimnya dari orang yang berbeda. Setiap foto itu di kirim ke ponsel Iriana maka nomor ponsel pengirim selalu ganti. Pernah dia menelepon dan malah nomor asing itu sudah tidak aktif.


Rasa amarah memenuhi dada Iriana, matanya memerah dengan rahang mengeras. Betapa tidak? Kali ini peneror itu mengirimkan sebuah foto yang menurutnya kelewat batas. Di tempat gelap, foto itu menunjukkan Rainer sedang melakukan 'itu' dengan seorang wanita.


“Bang**t!” umpat Iriana, ia langsung bangkit dari duduknya dan mengambil topi hitam serta masker. Dengan langkah cepat Iriana pergi dari tempat itu, mengabaikan panggilan dari manajer dan asistennya yang sejak tadi berteriak.


Dua jam sebelumnya ....


Rainer masih berada di ruangannya, ruang khusus yang sudah di sediakan oleh DY entertainment tempat dia bekerja. Ingat janjinya dengan Iriana yang memintanya untuk menonton konser, membuat Rainer ingin segera pergi setelah menyelesaikan pekerjaan.


Tapi niatnya ia urungkan saat tiba-tiba Grisel menelepon dan meminta bantuannya.


“Obat mual ku habis, bagaimana ini? Aku pasti sulit makan kalau mual-mual terus?” Grisel hampir menangis di sana, terdengar dari suaranya yang gemetar.


“Ya sudah kamu tinggal beli lagi saja, apa susahnya?”


“Tapi tubuhku mulai lemas, Rai. Perutku saja mulai mual-mual, bantu aku lagi ya? Sebentar saja ... ” tak berselang lama Rainer mendengar suara Grisel yang sedang muntah.


Pria itu tak tega, “Ya sudah, kamu diam di sana dan aku akan menjemput,” Final Rainer.

__ADS_1


Terjadi kebingungan ketika harus memilih salah satu dari mereka. Apalagi keduanya adalah kesayangan Rainer. Terlihat serakah memang, menginginkan dua wanita sekaligus, tapi Rainer tidak merasa seperti itu.


Rainer memacu kendaraannya menuju apartemen, tadi sebelum dia pergi Grisel mengirim pesan kalau dia ada di apartemen miliknya. Sesampainya di sana, dia melihat Grisel sedang menyajikan makanan di atas meja. Aromanya membuat Rainer dengan susah menelan saliva.


“Katanya kamu mual?” Rainer mencium pucuk kepala Grisel.


“Memang masih mual, tapi aku coba untuk menahannya. Aku masak lho buat makan malam kita berdua.” Grisel menunjuk meja makan.


“Lalu obatmu?”


“Kalau kamu lupa merknya, aku bawa kertas resepnya di tas, nanti kamu tebus di apotek ya? Aku tidak bisa ke sana karena bau obat. Perutku mual.” Grisel membujuk dan Rainer mengangguk.


“Kalau tidak bisa sekarang kita bisa menebus besok pagi. Asalkan aku bersamamu maka aku merasa lebih baik,” lanjut Grisel membuat Rainer seperti terbang ke atas awan.


Sebelum menebus obat Rainer dan Grisel makan malam bersama, Grisel terus tersenyum sembari memandang wajah Rainer yang sedang makan. Rainer menyadari itupun mengangkat alis.


“Kenapa melihatku begitu?”


“Kamu tampan,” celetuk Grisel.


Rainer tertawa. “Aku memang tampan, kalau tidak mana mungkin kamu mau denganku 'kan?”


Sementara Grisel sengaja mengeluarkan suara lenguhan. Hampir lima menit berlalu, tiba-tiba Rainer berhenti. “Kenapa berhenti?” tanya Grisel.


“Aku merasa sedikit ngantuk,” jawab Rainer sambil menguap.


Grisel tersenyum. “Kita tidur saja dulu, aku juga mau di peluk kamu, supaya nggak mual.”


Rainer mengangguk, dengan cepat menarik Grisel dan memeluk Grisel sembari berbaring. Perlahan kedua mata Rainer tertutup seiring elusan di kepala Grisel berikan yang mana membuat Rainer semakin nyaman.


Setelah merasa tidur Rainer nyenyak, Grisel melepaskan pelukan. Duduk sembari menatap wajah Rainer yang tenang. Dia tersenyum, “Aku tidak sabar menikah denganmu.”


Perlahan, Grisel menanggalkan pakaiannya dan hanya menyisakan bagian dalam. Ia juga membuka kemeja Rainer Lalu menarik selimut sampai batas perut, memotret dirinya sendiri tanpa memperlihatkan wajah. Tak lupa wajah Rainer yang tertidur pulas dia foto juga.


***


Dengan napas memburu Iriana memencet pasword apartemen Rainer. Pandangannya berkeliling mencari keberadaan pria itu. Seketika matanya nyalang saat melihat pintu kamar yang terbuka setengah dan juga terdengar suara aneh di sana.


Lekas Iriana masuk kamar dan kemarahannya semakin memuncak saat melihat ada seorang wanita yang berada di atas Rainer. Pakaiannya seksii dan berantakan. Walaupun ruangan temaram tapi Iriana melihat dengan jelas posisi mereka.


Adegan ini sama persis seperti saat Prisha memergoki kekasihnya selingkuh.

__ADS_1


“JALA**!!” maki Iriana dengan suara keras, wanita itu nampak terkejut.


Reflek wanita dengan pakaian berantakan itu turun dari tubuh Rainer. Iriana menghampiri wanita itu, menamparnya dengan kencang sampai membuat wanita itu meringis nyeri.


“Dasar Jala**, pelakor!! Berengsek! Sedang apa kau di sini?!”


Wanita itu mengusap pipinya yang terasa perih, pasti sekarang sudah memerah. “Saya sedang melayani tuan itu ... ” ucapnya santai.


Kemarahan Iriana semakin memuncak. “Di bayar berapa kamu sampai berani naik ke atas ranjang kekasih orang?! Hah!!”


“Itu privasi, Mbak. Saya hanya menjalankan tugas. Saya memuaskan dan mendapatkan bayaran, begitu peraturannya.” Wanita itu sewot, seakan dia merasa terganggu dengan kedatangan Iriana.


“Dasar Murahan tidak tahu malu! Dia kekasih orang lain!!”


“Itu bukan urusan saya, Mbak. Tugas saya hanya MELAYANI dan mendapatkan BAYARAN!! Dia kekasih orang lain atau bukan tidak ada hubungannya dengan saya!!”


“PERGI!!!” Bentak Iriana menunjuk ke arah pintu, napasnya memburu. Dadanya berdebar kencang.


“Tapi saya belum mendapatkan bayaran! Padahal tuan itu sudah satu kali *******.” Wanita itu menuntut bayaran.


“Memang Jalan* murahan! Sudah ketahuan masih berani minta bayaran!!” Iriana mengambil segepok uang berwarna merah dari tas dan melemparkan ke arah wanita itu.


“Saya memang murahan tapi bukan pelakor. Saya hanya melayani tanpa merebutnya dari kamu! Setelah mendapat bayaran maka saya akan pergi. Saya juga tahu diri ... ” wanita itu tersenyum puas setelah mendapatkan segepok uang.


“PERGI!!” Iriana kembali berteriak, sementara wanita itu menutup telinga sembari berjalan keluar.


Setelah keluar dari apartemen, wanita itu masuk ke dalam sebuah apartemen yang letaknya di dekat apartemen Rainer. Dua orang wanita dan dua orang pria menunggu di sana.


“Kerja bagus ... ” Sherin terlihat sangat puas.


“Kata-katamu cukup tajam, bahkan bisa membuatnya hampir pingsan karena bernapas terlalu cepat,” Sherin tertawa.


“Itu mudah,” wanita itu mengibaskan rambutnya ke belakang.


“Tapi, kamu benar-benar tidak membuatnya ******* kan?” ledek Sherin.


Wanita itu bergidik. “Meskipun saya wanita malam, tapi saya bisa mengendalikan diri. Saya juga tidak mungkin membuatnya ******* saat sedang tertidur, bukan?”


Sherin mengangguk, kemudian tertawa. “Bayaran sudah saya transfer ke rekening mu. Oh ya, mengenai uang pemberian Iriana kamu ambil saja, lumayan untuk tambahan membeli make up, dan mengobati pipimu yang merah.”


Wanita itu mengacungkan jempolnya, setelah berbincang cukup lama barulah dia pergi. Meninggalkan Sherin yang tersenyum puas.

__ADS_1


__ADS_2