Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 87


__ADS_3

Wanita yang Sherin panggil dengan sebutan Tira itu semakin terkejut, dia menatap Sherin dengan bingung. Sementara Sherin tersenyum kecut, diamnya Tira membuat Sherin semakin yakin dialah wanita yang dulu telah meninggalkan dirinya dan Kael.


Meski telah berlalu bertahun-tahun, dia tetap tak bisa melupakan wajah ibunya. Sejak usia Kael satu tahun, Tira mulai tak peduli. Menginjak dua tahun, Tira tak kembali. Kemanakah wanita yang telah melahirkan Prisha saat itu?


Dalam pikiran bocah berusia sepuluh tahun, hanya ada satu pertanyaan. Kapan ibunya akan kembali? Dia merindukan meskipun sang ibu selalu tak acuh akan keberadaannya. Tapi, semakin lama rindu itu berganti benci.


Kini, wanita itu ada dihadapannya, sedang menangis di samping makam sang anak yang di tinggalkan bertahun-tahun lalu. Jadi, untuk apa dia ke sini sekarang?


“Kamu tahu dari mana?” tanya Tira dengan suara gemetar, kepalanya menunduk. Pakaian wanita itu terlihat lusuh, padahal seingat Sherin, ibu Prisha selalu memakai pakaian mahal.


“Bukan urusan Anda aku tahu dari mana. Aku hanya ingin bertanya, untuk apa Anda kesini?” Sherin balik tanya, nada bicara sangat dingin hingga membuat Tira merasa tertekan.


“Aku ... aku hanya mengunjungi makam anakku, apakah salah?”


Sherin tersenyum sinis. “Oh ... Anda masih menganggap dia anakmu? Lalu kemana Anda selama ini? Bertahun-tahun menghilang, lalu setelah dia mati Anda baru muncul?!”


Banyak pertanyaan di benak Sherin, tapi ia tak mau terlalu tahu. Hal itu hanya akan membuat hatinya bertambah nyeri. Tak berbeda dengan Sherin, Tira pun memiliki banyak pertanyaan. Siapa Sherin sampai tahu kalau dia adalah ibunya Prisha?


“Aku ... aku tidak bermaksud meninggalkan putriku sendirian,” ujar wanita itu.


Sherin berdecih. Tiba-tiba Kael menyela dan membuat Sherin terkejut.


“Kalian kenapa ribut-ribut? Apa kalian saling kenal?” tanya pemuda itu.


“Kael ... ” Sherin tak mampu berkata.

__ADS_1


“Anda siapa?” Kini Kael menoleh ke arah Tira.


“Bukan siapa-siapa, tidak penting!” timpal Sherin cepat-cepat, takut status wanita itu membuat Kael terkejut.


“Lalu kenapa dia kesini?” Kael semakin banyak bertanya.


“Aku hanya mengunjungi makam anakku.”


Mendengar itu Sherin melotot tajam ke arah Tira, sedang Kael semakin tak mengerti. Pemuda itu semakin mendekat, di susul Ravin, Anika dan Meylin dibelakangnya.


“Siapa putrimu? Apa dia di makamkan di sini?”


Sherin mencoba mengancam Tira lewat sorot mata, tapi sepertinya Tira tak paham. Wanita paruh baya itu malah tersenyum, dia berjongkok dan mengusap nisan yang tertulis nama Prisha.


Kael terpaku, mencoba mencerna ucapan Tira. Lalu, wanita paruh baya itu berdiri dan memandang mereka semua bergantian.


“Kalian juga mau mengunjungi dia?” tanyanya.


“Cukup! Anda sebaiknya diam!!” pangkas Sherin.


“Tunggu! Apa maksudnya Anda menyebut dia putrimu?”


“Kalian tahu? Prisha adalah putri kandungku, aku terkejut saat tahu dia meninggal karena kecelakaan. Tapi, aku baru sempat ke sini hari ini—”


“Diam!!” sentak Sherin, wanita itu terkejut sementara Kael merasa petir telah menyambarnya di siang bolong.

__ADS_1


“A— Anda ibunya kak Prisha?” tanya Kael terbata. Tira mengangguk antusias.


Kael seakan tak mampu menopang tubuhnya sendiri, kakinya terasa lemas hingga hampir saja dia terjatuh kalau Sherin tak menolongnya. Jelas saja reaksi tak biasa Kael membuat Tira heran.


“Ja ... jadi, kamu adalah ibuku?” tanya Kael lirih.


Ingin sekali Sherin mengusir wanita itu pergi, tapi itu akan membuat orang-orang di sana heran dengan sikapnya yang aneh.


“Ibumu? Memangnya kau siapa?” rupanya Tira pun tak mengenal putranya sendiri, Kael.


“Apa Anda tidak mengenalnya? Dia adalah putramu sendiri. Adik kandungnya Prisha!” jelas Sherin di akhir kalimat.


“Apa?! Putraku?! Dia putraku, Kael?” bola mata Tira terbuka lebar, setitik air matanya lolos dan dia menatap Kael dengan tatapan haru dan rasa bersalah.


“El, sebaiknya kita pulang. Jangan terlalu lama di sini, sebentar lagi mungkin akan terjadi hujan.” Sherin membantu Kael berdiri, belum satu langkah mereka pergi, tapi Kael menolak.


“Tunggu! Aku ingin menanyakan sesuatu padanya ... ”


Sherin menggeleng cepat. “Tidak usah! Buat apa bertanya padanya? Biarkan saja dia menghabiskan sisa hidupnya dengan rasa bersalah karena telah menelantarkan anaknya.” Kalimat Sherin tajam, namun Kael tak mau mendengarkan Sherin.


Pemuda itu tetap berdiri dengan memandang seorang wanita paruh baya yang tengah menangis. Dia ibunya, ibu kandung yang pertama kali di lihat setelah tujuh belas tahun lamanya.


Pemuda itu mendekat maju, Sherin yang tak bisa menghalangi hanya bisa memijit pelipisnya. Dia pusing, Ravin mendekat lalu mencoba menenangkan Sherin meski banyak pertanyaan di benaknya akan kejadian ini.


“Aku hanya akan bertanya satu hal. Ku mohon jawab dengan jujur dan jelas! Saat itu, kenapa kau pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali?”

__ADS_1


__ADS_2