
Waktu persidangan untuk kasus Iriana telah tiba. Wanita yang menjadi pelaku itu duduk di kursi yang berhadapan dengan hakim. Iriana meremas jemarinya, rasa gugup dan takut seketika memenuhi dada.
Harapannya hanya satu, dia bisa dibebaskan hari itu juga.
Pengacara sudah bersiap, persidangan di mulai dalam waktu yang cukup lama. Saksi dan bukti menjadikan tuduhan Sherin terhadap Iriana benar adanya. Apalagi yang menjadi saksi itu polisi sendiri.
Meski Arvin bilang ingin membantu, nyatanya hanya dengan membayar seorang pengacara profesional yang mahal pun tak mampu membebaskan putrinya dari tuduhan penganiayaan dan penculikan.
Tangan Laras gemetar ketika mendengar hakim akan memutuskan bagaimana kelanjutan kasus Iriana. “Mas, apa Iriana tak bisa bebas?” tanya Laras pada suaminya.
“Aku sendiri tidak tahu, kamu tahu sendiri tadi para penculik itu juga mengaku kalau Iriana membayar mereka. Bukan hanya penculik sebagai bukti tapi juga rekaman pembicaraan mereka.” Arvin bersedekap.
Selain bukti visum dan saksi dari polisi. Juga rekaman kamera pengawas, para penculik itu ternyata memiliki rekaman pembicaraan mereka dengan Iriana ketika melakukan kesepakatan. Mereka mendapatkan uang jika rencana berhasil.
“Aku pikir para penculik itu tidak akan mengaku kalau mereka ada kerjasama dengan Iriana,” kata Sherin.
“Tentu mereka tak mau disalahkan sendiri, pekerjaan mereka juga berisiko, jadi harus ada persiapan seperti alat perekam jika terjadi hal yang tak diinginkan seperti mereka berdua ini.” Ravin memandang ke arah depan, decakan kecil terdengar keluar dari mulut pria itu.
Beruntungnya, sidang ini hanya dilakukan satu kali. Tangan Iriana semakin dingin saat Hakim akan mengucapkan hukuman apa yang dia dapat.
Pasal berlapis, yaitu penculikan dan penganiayaan membuat Iriana dijatuhi hukuman sebelas tahun penjara. Saat itu palu diketuk dan sidang telah selesai, bahu Iriana melemas seperti tak punya tenaga sementara Sherin berdecak kesal.
“Kenapa sebelas tahun?” protes Sherin tapi dengan suara lirih.
Ravin yang di sampingnya itu menoleh, menatap bingung pada Sherin. “Memangnya kenapa kalau sebelas tahun? Apa terlalu berat?”
Sherin menggeleng. “Malahan terlalu ringan. Harusnya dapat hukuman lebih dari lima belas tahun,” keluh wanita itu.
“Itu maunya kamu, tapi yang membuat keputusan tetap hakim. Setelah ini kita bisa bernapas lega karena tak ada lagi pengganggu,” ujar Ravin yang diangguki oleh Sherin.
***
Sherin menghirup udara luar dengan hati yang begitu lega. Kini balas dendamnya kepada Iriana sudah tercapai, meski Iriana tak tahu kenapa dia dendam sekali dengan Iriana, tapi yang jelas jiwanya sebagai Prisha merasa sangat lega.
__ADS_1
Bukan hanya Iriana, tapi juga Rainer. Tanpa melakukan banyak hal, kini pria itu telah hancur. Rainer telah dipecat dari DY entertainment beberapa waktu lalu karena citranya yang buruk. Bukan hanya citra dan reputasi dimata publik, tapi ternyata Rainer telah mendapatkan gelar musisi karena menggunakan uang.
DY entertainment telah ditipu oleh Rainer, pria itu membayar orang untuk membuatkan sebuah lagu untuknya dan diserahkan pada agensi. Entah kemana pria itu sekarang, Sherin tidak ingin tahu. Justru pikirannya sekarang melayang pada Grisel, bagaimana nasib wanita yang tengah hamil itu?
“Sherin!”
Sherin menoleh dan mendapati Laras datang dengan derai air mata, dibelakang wanita tua itu ada Arvin. Laras mendekati Sherin dan menarik kerah pakaian Sherin.
“Apa yang kau lakukan?! Lepas!!” Sherin menarik tangan Laras agar melepaskan cengkraman itu.
“Kenapa kamu tega sekali dengan kakakmu? Dia itu kakakmu tapi malah kamu penjarakan!!” teriak Laras, memancing orang-orang agar mendengar pertengkaran mereka.
“Dia bukan kakakku! Aku tak sudi punya kakak seperti dirinya. Oh iya, kamu jangan lupa kalau dia itu telah melukaiku. Menyiksaku hingga tubuhku memar, jadi apakah aku harus diam saja?”
“Iriana tak bermaksud—”
“Tidak bermaksud tapi kenapa malah merencanakan penculikan itu dengan matang? Atau Iriana memang tidak waras? Dia gila makanya tak bermaksud melukaiku meski kenyataannya dia menyiksaku?!” bentak Sherin.
“Aku lupa harusnya kamu juga ikut putrimu dan tinggal di jeruji besi.”
Laras tertegun. “A-apa maksudmu?”
Sherin tersenyum kemudian berbisik di telinga Laras. “Kamu yang membunuh ibuku.”
Deg.
Laras terpaku. “A-apa yang kamu katakan? Tidak mungkin aku melakukan itu,” kilah Laras.
Sherin tersenyum tipis. “Memang kamu tidak membunuh dengan tanganmu sendiri, tapi bukannya dengan menjadi selingkuhan suami Ibuku dan memfitnah, dengan mengatakan aku bukanlah putri kandung Arvin sudah membuat Ibuku menderita hingga sakit lalu meninggal?”
Setelah mengucapkan itu, Sherin berlalu bersama Ravin. Setelah bepikir cukup lama, Sherin dapat menyimpulkan kejanggalan yang terus mengganjal di benaknya. Ibu Sherin memang mempunyai penyakit, tapi itu semakin parah saat Laras datang ke rumah mereka.
Bukannya kata kakek, Laras dan Arvin menikah belum lama setelah kematian ibunya? Dari sana Sherin mengerti kalau sebelum ibunya meninggal, Laras dan Arvin sudah menjalin hubungan. Kini tinggal satu pertanyaan yang mengganjal di benaknya dan hampir terjawab.
__ADS_1
Mengapa sikap Arvin pada Sherin tidak seperti kebanyakan ayah pada umumnya. Rupanya jawaban itu sudah di dapat saat di rumah sakit. Arvin mengira, Sherin bukanlah putrinya hingga membuat Arvin membenci dirinya. Hal itu juga yang membuat Arvin ikut membenci ibunya Sherin.
Lalu mengenai kematian anak pertama kakek Haris, pasti berhubungan dengan Arvin. Dia belum bisa menyimpulkan semuanya.
“Apa yang kamu bisikkan tadi ke ibu mertua?” tanya Ravin ketika mereka sudah di dalam mobil.
“Bukan apa-apa, tidak penting,” kata Sherin.
Ravin menyipitkan mata, tak percaya tapi juga tidak lagi bertanya. “Setelah ini mau kemana?” tanya pria itu sambil memakai sabuk pengaman.
“Pulang! Aku mau berpikir kemana kita akan bulan madu,” memikirkan itu sudah membuat Sherin tersenyum sendiri.
“Ah, aku lupa soal itu. Memangnya mau bulan madu kemana?” Ravin mulai menyalakan mesin lalu melajukan mobilnya.
“Enaknya kemana? Swiss? Cappadocia? Maldives atau Dubai?” Sherin memikirkan tempat-tempat yang menurutnya indah.
Lain dengan Ravin yang merasa bulan madu ke luar negeri hanya akan menghabiskan waktu di perjalanan. “Bagaimana kalau Bali?”
Pertanyaan dari Ravin membuat bibir Sherin mengerucut. “Kenapa tidak pilih ke luar negeri?” protesnya.
“Luar negeri terlalu jauh, sementara kita cuma punya satu minggu untuk liburan.”
Sherin berpikir sejenak, dia membenarkan ucapan Ravin juga. Tapi ada rasa tak rela saat Ravin memutuskan untuk bulan madu di dalam negeri. Dia inginnya ke luar negeri.
“Luar negeri saja, ya?” pinta Sherin sambil mengedipkan sebelah mata.
“Bedanya dalam dan luar negeri apa? Bukannya kalau bulan madu kita itu hanya akan berduaan di dalam kamar?”
Mendengar itu Sherin memukul lengan suaminya, sementara Ravin terkekeh.
“Memangnya kalau jadi anak, kamu mau dia made in mana? Dubai? Swiss?” Ravin malah mlenceng jauh dari topik.
“Bukannya sama saja walaupun kita bulan madu ke luar negeri anak kita tetap made in kasur?”
__ADS_1