
Arvin hendak memegang tangan putrinya, namun langsung Sherin tepis. Tatapannya datar, tak terharu sedikit pun. Mungkin bagi pemilik asli tubuh ini akan merasa bahagia, akhirnya sang ayah mengakui. Tapi, tidak dengan Sherin yang sekarang.
Hidup sebagai Prisha yang selalu berjuang seorang diri tanpa orang tua membuat hatinya keras. Belum lagi kekasih yang selingkuh dengan musuhnya, membuat hatinya semakin keras. Sudah mengacuhkan putrinya selama belasan tahun dan tiba-tiba datang untuk minta maaf?
Sherin rasanya ingin tertawa, sungguh ia merasa Arvin sangat tidak tahu malu.
“Kamu tidak ingin memaafkan Papa?” tanya Arvin.
Sherin masih bergeming, kini dia bersedekap. “Buat apa aku memaafkan Anda setelah apa yang Anda lakukan selama ini padaku?”
“Papa sungguh tidak tahu kalau Laras selalu meracuni pikiran Papa. Papa menyesal.”
“Hanya dengan beberapa kata dari orang luar dan Anda mempercayainya, itu membuatku sulit percaya pada Anda kalau mungkin saja setelah ini sikap Anda akan tetap sama seperti dulu.”
Arvin segera menggeleng. “Tidak! Papa tidak akan percaya lagi jika ada orang yang memfitnah kamu.”
Sherin tersenyum sinis, terdengar suara decakan dari mulutnya. Sementara Dina yang ada di sana hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Lalu, bagaimana jika apa yang orang lain katakan itu benar? Kamu akan tetap mempercayaiku?”
Arvin di buat bingung, sepertinya jawaban yang akan keluar dari mulutnya akan selalu salah. Itu artinya Sherin belum memaafkan dirinya. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Arvin memutuskan untuk tidak memaksa Sherin agar memaafkan dirinya.
“Tidak papa kalau sekarang kamu belum mau memaafkan Papa, tapi Papa harap kamu mau memberikan Papa maaf. Kalau begitu, Papa pergi dulu. Kalau ada apa-apa kamu bisa minta bantuan Papa.”
Selain anggukan kepala sebagai jawaban, sepertinya Sherin tak ingin bicara dengan Arvin lagi. Pria itu mengembuskan napas, lalu segera berbalik dan pergi.
Dina menghampiri putrinya dan mengusap punggung Sherin beberapa kali. “Dia papamu lho.”
“Siapa yang sudi punya Papa sepertinya?” Sherin tersenyum masam lalu beranjak pergi, hari ini suasana hatinya sedang buruk. Tentu karena kedatangan Arvin.
Keesokan harinyaya, pagi-pagi Sherin sudah bersiap dengan pakaian serba hitam. Tak beda jauh dengan Ravin, pria itu juga memakai kemeja hitam dan celana jeans. Keduanya turun menuju lantai bawah, rupanya Anika dan Meylin sudah menunggu di sana.
“Calysta bilang kau pulang tapi tidak membawa oleh-oleh,” celetuk Anika.
“Kami tak sempat membeli oleh-oleh, kalau tidak buru-buru mungkin hari ini kami akan belanja.” Sherin mendengus lalu berjalan pergi menuju mobil.
__ADS_1
Anika dan Meylin menyusul sementara Ravin sudah masuk ke dalam mobil. “Di sana nanti akan ada banyak orang.” Anika mengimbangi langkah kaki Sherin.
“Maksud kamu?” tanya Sherin bingung.
“Dengar, ya. Meskipun ini terdengar agak kejam, tapi ini demi masa depan kamu. Segala hal yang akan kamu lakukan di makam nanti akan tersorot kamera. Kalau kamu terlihat bersungguh-sungguh mendoakan Prisha, maka banyak orang yang akan menyukai kamu.”
“Ah, memanfaatkan kematian Prisha demi karier?” terka Sherin langsung di angguki oleh Anika.
Sherin masuk ke dalam mobil yang sudah ada Ravin di dalamnya, sementara Anika dan Meylin pergi dengan mobil yang lain. Sesampainya di pemakaman, apa yang Anika katakan memang benar. Rupanya, meski Prisha sudah lama pergi, banyak orang yang belum melupakan mendiang sang diva.
Bertahun-tahun bekerja di dunia hiburan, fans dari Prisha bukan hanya jutaan melainkan sampai puluhan juta. Setiap album yang dikeluarkan selalu terjual habis. Suara emasnya seperti hanya ada satu di abad ini.
Sherin mengeluarkan kacamata hitamnya dan langsung memakainya begitu keluar dari mobil. Bersama dengan Ravin, mereka pergi ke tempat Prisha di makamkan, di belakang mereka ada Meylin dan Anika.
Beruntungnya tak lama setelah mereka datang, banyak orang yang pergi. Itu karena mereka sudah cukup lama di sini. Tak sedikit kamera yang menyoroti pengunjung di sini, tak sedikit juga artis lain yang datang.
Sherin tak mengenali mereka, dalam benaknya pasti mereka kesini hanya untuk mencari ketenaran. “Ternyata ada yang lebih parah dariku,” gumam Sherin tapi di dengar oleh Anika.
Setengah jam kemudian pemakaman semakin sepi, dua remaja yang Sherin kenali kini menghampiri mereka. Sherin tahu, pasti Kael masih merasa terpukul atas kepergian kakaknya. Hanya saja dia ingin sekali bilang kalau kakaknya masih ada.
“Kenapa kalian datang belakangan?” tanya Sherin.
“Kau tak lihat tadi di sini ramai orang? Memangnya aku siapa berani sekali datang ke makam artis terkenal?” Kael tersenyum miris, sudut matanya memerah, jelas sekali pemuda itu sudah menahan tangis sejak tadi.
Sherin tak menanggapi, tak lama setelah itu ada seseorang wanita dengan pakaian hitam dan kain yang menutupi kepala, melewati mereka dan duduk bersimpuh di samping pemakaman Prisha.
Terdengar isak tangis dari arah tersebut. Jadi, posisi Sherin dan yang lainnya sekarang tak berada tepat di samping makam Prisha. Mereka sudah dari sana dan menabur bunga, jadi sekarang tengah berkumpul di bawah pohon untuk menghindari sinar matahari.
“Siapa wanita itu tiba-tiba datang dan menangis?” tanya Kael penasaran.
“Entahlah, fans berat kakakmu mungkin,” timpal Meylin.
“Mana ada fans sampai segitunya? Apa orang tidak waras?” semakin aneh saja pemikiran Anika.
__ADS_1
“Entah, tapi kenapa aku seperti pernah mendengar suaranya?” gumam Sherin, mencoba mengingat dimana dia pernah mendengar suara itu.
“Huhu ... maafkan ibu ... ” ucap wanita itu, duduk memeluk nisan yang tertulis nama Prisha Aditri.
Deg.
Sherin terpaku, kata 'ibu' seketika mengingatkannya dengan seorang wanita yang dulu tiba-tiba menghilang dengan meninggalkan seorang bayi yang berusia dua tahun kurang.
“Kenapa dia memanggil dirinya ibu?” tanya Kael semakin penasaran.
“Mungkin benar orang tidak waras.” Meylin setuju dengan ucapan Anika tadi.
“Bukan!”
Ucapan Sherin membuat mereka semua menoleh, menatap bingung Sherin yang kini matanya memerah. Tangan Sherin mengepal, matanya menatap lurus ke arah wanita yang masih menangis.
Angin berembus pelan, menerbangi dedaunan kering yang berjatuhan dari atas pohon. Pemakaman saat itu tak lagi seramai tadi, hanya ada mereka dan wanita yang sedang menangis.
“Bukan bagaimana?” tanya Anika tak mengerti.
Sherin tak menjawab, saat itu juga dia menghampiri wanita tersebut dan memanggil dengan sebuah nama.
“Tira ... ”
Wanita tersebut menoleh, terkejut dan lantas berdiri. Tangannya menghapus air mata yang mengalir. Sementara Sherin memandang wanita itu dengan tatapan benci.
“Siapa kamu? Bagaimana bisa tahu namaku?”
“Aku? Aku hanya orang lain dan kamu tidak perlu tahu. Sedangkan kamu, adalah wanita yang telah meninggalkan putrinya dan seorang anak yang usianya masih sangat kecil, benar?”
Wanita paruh baya itu mematung, lalu dia tersadar kembali. “Apa maksudmu?!”
“Kamu ibunya Prisha, benar?”
__ADS_1